Judul : Otak Ideal: Makin Berumur, Makin Brilian
Penulis : Toshinori Kato, MD, PhD
Penerbit : Qanita
Terbitan : Pertama, September 2015
Tebal : X+214 halaman
ISBN : 978-602-1637-80-7
Dimuat: Koran Jakarta 15 Januari 2016
Setiap manusia selalu ingin hidup nyaman, walau kadang harus diperoleh secara tak etis. Padahal, kadang zona tidak nyaman memberi banyak pelajaran berarti. Salah satunya dapat meningkatkan fungsi otak. Pengalaman langsung menjadi guru terbaik terbentuknya otak brilian.
Spesialis otak, Toshinori Kato, mengklasifikasi zona otak berdasarkan fungsi dan tempatnya. Mereka adalah zona otak berpikir, emosi/perasaan, komunikasi, pemahaman, motorik, pendengaran, penglihatan, dan zona otak ingatan.
Zona-zona otak tersebut pada bayi belum berkembang. Proses pertumbuhan bayi yang diiringi dengan meningkatkan informasi mengembangkan dan menyambungkan antarzona otak. Cara efektif mengembangkan kecerdasan otak dengan terus menerus menambah pengalaman dan pengetahuan baru.
Untuk memupuk berbagai pengalaman dan pengetahuan baru di dalam otak, disarankan mencoba berbagai pengalaman baru dalam kehidupan sehari-hari, sekalipun sepele (hlm 9). Gengsi yang terlalu tinggi akan mempersempit pilihan gerak sehingga kesempatan menggunakan otak akan berkurang. Akibatnya, perkembangan otak tidak dapat berjalan maksimal (hlm 10).
Sekalipun terasa sederhana, berlibur sebagaimana direncanakan orang lain efektif untuk meningkatkan zona otak berpikir. Dengan menyerahkan perencanaan kepada orang lain, seseorang dapat pergi ke tempat yang sama sekali bukan tujuan. Dia juga dapat melakukan aktivitas di luar dugaan. Hal-hal di luar dugaan itu akan merangsang zona otak yang masih tidur (hlm 55).
Sedangkan mengubah gaya seperti rambut dan pakaian dapat meningkatkan zona otak perasaan. Pengalaman menjalani sesuatu yang berbeda sangat penting bagi perkembangan diri. Namun, hanya pengalaman yang dapat menggoyahkan perasaan atau emosi mampu mengembangkan zona otak perasaan (hlm 73).
Untuk meningkatkan zona otak komunikasi, disarankan mencoba memasak untuk orang lain. Ini secara tidak langsung sedang mempertimbangkan dan memperhatikan perasaan orang lain. Ketika seseorang memikirkan perasaan dan tanggapan orang lain, sebuah komunikasi terjalin, meski tanpa bicara. Ini juga melahirkan cara berpikir yang terstruktur dalam rangka mempererat hubungan antara diri dan orang lain (hlm 83).
Selain itu, ada beberapa jenis pekerjaan yang dapat meningkatkan zona otak berpikir seperti bidang manajemen dan akademik. Profesi yang dapat meningkatkan zona otak emosi sejenis aktor dan aktris. Jenis pekerjaan yang member ruang agar zona otak komunikasi semakin berkembang berkaitan dengan marketing. Pekerjaan yang dapat meningkatkan kemampuan zona otak pemahaman seperti pengacara, penulis, dan editor.
Sementara profesi yang mempermudah meningkatkan zona otak motorik adalah atlet dan seniman. Pekerjaan yang dapat meningkatkan zona otak pendengaran meliputi pemusik, operator telepon, guru, dan pengusaha. Aktivitas yang menggunakan zona otak penglihatan terdiri dari pembalap, pelukis, dan desainer. Sedang pekerjaan yang dapat meningkatkan zona otak ingatan seperti penerjemah, sejarawan, dan wartawan.
Buku Otak Ideal: Makin Berumur, Makin Brilian tidak seperti pelatihan otak biasa tentang menjaga dan meningkatkan daya ingat yang mulai menurun. Pengarang lebih menitikberatkan cara mengubah otak sesuai keinginan. Ada juga kiat-kiat praktis beserta ulasan singkat cara kerja setiap zona otak. Buku juga menyediakan 66 tips sederhana cara meningkatkan delapan zona otak tersebut.
Tampilkan postingan dengan label dokter. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dokter. Tampilkan semua postingan
Minggu, 17 Januari 2016
Upaya Mempertahankan Kecerdasan Otak
Label:
dokter,
kecerdasan
Senin, 13 Juli 2015
Pengabdian Dokter di Pedalaman
Judul: Dokter Rakyat
Penulis: dr. Andre Setiawan
Penerbit: Kompas
Terbitan: Pertama, 2015
Tebal: 186 halaman
ISBN: 978-979-709-920-6
Dimuat di: Tribun Jogja, Minggu 12 Juli 2015
Ikrar dokter untuk selalu mengabdi membulatkan hati dr. Andre Setiawan Suryadi dan istrinya, dr. Miranti Iskandar, mengikuti Program Dokter PTT (Pegawai Tidak Tetap) setelah menyelesaikan pendidikan dokter pada tahun 2011. Program Dokter PTT adalah salah satu program Kementerian Kesehatan untuk memajukan kesehatan nasional dengan menempatkan dokter-dokter di daerah terpencil yang masih sangat minim pelayanan kesehatan.
Dr. Andre memilih Kabupaten Bajawa, Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur, sebagai tempat tujuan PTT. Ia pun ditempatkan di Riung, kecamatan paling jauh dari Kabupaten Ngada. Daerah tersebut masih memiliki suplai listrik 12 jam. Listrik hanya menyala dari pukul 18.00 hingga pukul 06.00.
Kondisi Puskesmas Riung laksana penjara membuat PNS enggan ditempatkan di sana. Kering, panas, dan jauh dari pusat kota, puskesmasnya pun menjadi puskesmas terburuk dari 10 puskesmas di Kabupaten Ngada. Sementara masyarakatnya belum sepenuhnya sadar akan pentingnya kesehatan. Lini pertama pengobatan adalah dukun, kalau tidak sembuh baru ke bidan/mantri, dan bila tidak dapat diatasi lagi mereka akan segera berobat ke puskesmas. Biasanya penyakitnya sudah dalam keadaan berat (hlm. 97).
Rata-rata anak di sana memiliki perut yang agak buncit, dan sering menggaruk-garuk pantat pada malam hari. Ibu-ibu dalam membesarkan anaknya awam pendidikan gizi, tidak mengetahui makanan yang baik dan yang tidak untuk menunjang kebutuhan gizi anak. Selama beberapa tahun, tingkat kematian ibu dan anak-anak di Kecamatan Riung cukup tinggi. Kurang gizi dan kesadaran keluarga untuk melahirkan di puskesmas menjadi salah satu penyebabnya. Memang ibu-ibu lebih senang proses kelahiran berlangsung di rumah dengan bantuan dukun beranak (hlm. 161).
Pengabdian dr. Andre selama satu tahun membawa perubahan besar terhadap Puskesmas Riung. Pada 20 April 2011 Poli Bedah diresmikan di Puskesmas Riung, poli bedah pertama di puskesmas yang ada di Kabupaten Ngada. Sehingga pasien yang membutuhkan tindakan bedah tak lagi dilakukan di ruang UGD.
Buku Dokter Rakyat selain berkisah suka-duka pengabdian seorang dokter dengan segala keterbatasan di pedalaman juga mengungkap eksotisme alam tempat yang ditinggali. Buku sangat penting untuk dokter atau calon dokter yang akan mengikuti jejak dr. Andre untuk memajukan kesehatan nasional.
Penulis: dr. Andre Setiawan
Penerbit: Kompas
Terbitan: Pertama, 2015
Tebal: 186 halaman
ISBN: 978-979-709-920-6
Dimuat di: Tribun Jogja, Minggu 12 Juli 2015
Ikrar dokter untuk selalu mengabdi membulatkan hati dr. Andre Setiawan Suryadi dan istrinya, dr. Miranti Iskandar, mengikuti Program Dokter PTT (Pegawai Tidak Tetap) setelah menyelesaikan pendidikan dokter pada tahun 2011. Program Dokter PTT adalah salah satu program Kementerian Kesehatan untuk memajukan kesehatan nasional dengan menempatkan dokter-dokter di daerah terpencil yang masih sangat minim pelayanan kesehatan.
Dr. Andre memilih Kabupaten Bajawa, Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur, sebagai tempat tujuan PTT. Ia pun ditempatkan di Riung, kecamatan paling jauh dari Kabupaten Ngada. Daerah tersebut masih memiliki suplai listrik 12 jam. Listrik hanya menyala dari pukul 18.00 hingga pukul 06.00.
Kondisi Puskesmas Riung laksana penjara membuat PNS enggan ditempatkan di sana. Kering, panas, dan jauh dari pusat kota, puskesmasnya pun menjadi puskesmas terburuk dari 10 puskesmas di Kabupaten Ngada. Sementara masyarakatnya belum sepenuhnya sadar akan pentingnya kesehatan. Lini pertama pengobatan adalah dukun, kalau tidak sembuh baru ke bidan/mantri, dan bila tidak dapat diatasi lagi mereka akan segera berobat ke puskesmas. Biasanya penyakitnya sudah dalam keadaan berat (hlm. 97).
Rata-rata anak di sana memiliki perut yang agak buncit, dan sering menggaruk-garuk pantat pada malam hari. Ibu-ibu dalam membesarkan anaknya awam pendidikan gizi, tidak mengetahui makanan yang baik dan yang tidak untuk menunjang kebutuhan gizi anak. Selama beberapa tahun, tingkat kematian ibu dan anak-anak di Kecamatan Riung cukup tinggi. Kurang gizi dan kesadaran keluarga untuk melahirkan di puskesmas menjadi salah satu penyebabnya. Memang ibu-ibu lebih senang proses kelahiran berlangsung di rumah dengan bantuan dukun beranak (hlm. 161).
Pengabdian dr. Andre selama satu tahun membawa perubahan besar terhadap Puskesmas Riung. Pada 20 April 2011 Poli Bedah diresmikan di Puskesmas Riung, poli bedah pertama di puskesmas yang ada di Kabupaten Ngada. Sehingga pasien yang membutuhkan tindakan bedah tak lagi dilakukan di ruang UGD.
Buku Dokter Rakyat selain berkisah suka-duka pengabdian seorang dokter dengan segala keterbatasan di pedalaman juga mengungkap eksotisme alam tempat yang ditinggali. Buku sangat penting untuk dokter atau calon dokter yang akan mengikuti jejak dr. Andre untuk memajukan kesehatan nasional.
Minggu, 01 Desember 2013
Rahasia menjadi Dokter Kreatif
Judul: I am Doctorpreneur
Penulis: dr. Yusuf Alam Romadhon, M. Kes
Penerbit: Metagraf, Solo
Terbitan: Pertama, Juli 2013
Tebal: 136 halaman
ISBN: 978-602-9212-82-2
Dimuat di: Tribun Jogja
Saya pernah menyebarkan kuisioner kepada siswa SMK. Dari 25 siswa dalam satu kelas, profesi yang paling diminati setelah guru/dosen adalah dokter. 9 siswa bercita-cita ingin menjadi dosen, 6 siswa ingin menjadi dokter, sedangkan dari 10 siswa lainnya ada yang ingin menjadi penulis, pengusaha, pemain sepak bola, pebalap, mekanik dan lain-lain.
Survie kecil-kecilan tersebut menandakan bahwa profesi dokter masih cukup diminati, sekalipun biaya studi yang harus dikeluarkan tidak sedikit. Masih banyak orang yang menaruh harapan kepada profesi mulya ini untuk mengatasi segala hal menjadi lebih mudah, terumata yang berhubungan dengan mencari pekerjaan dan membangun karier.
Hal ini dikokohkan dengan mitos-mitos seputar profesi kedokteran. Kuatnya kepercayaan bahwa dokter lebih mudah mencari pekerjaan, mendatangkan uang, memiliki mobil keren, rumah mewah, gadget terbaru, dan mitos-mitos lainnya membuat calon dokter terkadang tidak leluasa dalam mengembangkan diri (hlm. 25-35). Mereka terlanjur terbuai dengan mitos tersebut.
Buku I am Doctorpreneur menyadarkan kita bahwa mitos tersebut tidak sepenuhnya benar. Di era milenium seperti saat ini mengakses pekerjaan bukan hal mudah, termasuk menjadi dokter. Selain dibutuhkan waktu minimal 3,5 untuk menyelesaikan sarjana kedokteran, masih butuh waktu 1,5 tahun lagi untuk pendidikan co-ass dan ujian kompetensi dokter untuk sekedar mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) praktik.
Pada era sebelum tahun 1990-an menjadi dokter PNS memang lebih mudah dibandingkan saat ini. Hampir pasti setiap dokter yang lulus praktik diangkat menjadi PNS. Namun, pasca itu, pemerintah hanya mampu mengangkat menjadi PTT, itupun hanya selama 3 tahun dan setelah itu harus mandiri. Di era reformasi dan sesudahnya, tuntutan kemandirian dokter lebih kuat lagi karena banyaknya calon dokter (hlm. 46).
Tidak sebandingnya rasio jumlah formasi tenaga dokter PNS yang dibutuhkan dengan jumlah pendaftar membuat dokter harus betul-betul mandiri. Saat dokter sudah berusaha keras menyelesaikan kuliah dan mengikuti ujian kompetensi untuk mendapat izin praktik dengan biaya mahal namun belum juga lulus jadi PNS, apa yang bisa dilakukan di tengah menunggu ketidakkepastian? Apakah hanya akan berpangku tangan menjadi penganggur intelektual dan menjadi beban negara?
Di tengah peliknya mendapatkan pekerjaan, dr. Yusuf Alam Romadhon, M.Kes mengajak para dokter menjadi tenaga kesehatan yang kreatif dan mandiri. Tidak bergantung kepada pemerintah untuk diangkat menjadi PNS.
Doctorpreneur adalah seni menjadi dokter kreatif dan mandiri yang ditawarkan dokter pengusaha itu. Secara sederhana doctorpreneur bisa diartikan dengan kapitalisasi bidang kesehatan tanpa mengurangi misi sosial (hlm. 74). Artinya, selain membantu orang lain sehat, dokter juga bisa menarik keuntungan tanpa membebani pasien.
Peluang menarik keuntungan yang bisa dilakukan dokter tidak melulu dalam wujud klinik dengan modal besar, dan terbatas pada penyembuhan orang sakit. Jika kebutuhan masyarakat diidentifikasi menjadi kelompok khusus banyak sekali cara-cara sederhana namun menguntungkan yang bisa dilakukan seorang dokter.
Dokter yang cakupan bidang garap bisnisnya menyasar ibu hamil dan menyusui misalnya, promosi kesehatan yang bisa lakukan mengedukasi ibu hamil tentang pendidikan kesehatan kehamilan dan pendidikan pengasuhan bayi.
Pada saat yang bersamaan dokter bisa mengadakan event organizer, bisnis buku kesehatan, rumah produksi dan atau klinik sebagai komunikasi marketing perusahaan (hlm. 75).
Dari keuntungan bisnis sederhana semacam ini dokter bisa merambah ke bisnis yang lebih besar. dr. Rosyid Ridho, teman dr. Yusuf Alam Romadhon, misalnya, mengonversi praktik solo menjadi rawat inap setelah jumlah kunjungan pasien tiap hari mencapai 100 orang, dan pada akhirnya rumah sakit.
Selain kisah pribadi penulis dan beberapa temannya merintis usaha kesehatan, dalam buku terbitan Metagraf ini juga dilengkapi tabel perencanaan bisnis yang bisa dicoba. Namun, penulis tidak banyak mengeksplor isi tabel tersebut. Dan bagi yang masih awam ilmu bisnis, dalam beberapa bagian penulis memberikan tips seputar dunia bisnis.
Buku setebal 136 halaman itu penting untuk menjadi dasar dimasukannya mata kuliah kewirausahaan di fakultas kedokteran, sehingga dokter muda lebih kreatif dan mandiri.
Penulis: dr. Yusuf Alam Romadhon, M. Kes
Penerbit: Metagraf, Solo
Terbitan: Pertama, Juli 2013
Tebal: 136 halaman
ISBN: 978-602-9212-82-2
Dimuat di: Tribun Jogja
Saya pernah menyebarkan kuisioner kepada siswa SMK. Dari 25 siswa dalam satu kelas, profesi yang paling diminati setelah guru/dosen adalah dokter. 9 siswa bercita-cita ingin menjadi dosen, 6 siswa ingin menjadi dokter, sedangkan dari 10 siswa lainnya ada yang ingin menjadi penulis, pengusaha, pemain sepak bola, pebalap, mekanik dan lain-lain.
Survie kecil-kecilan tersebut menandakan bahwa profesi dokter masih cukup diminati, sekalipun biaya studi yang harus dikeluarkan tidak sedikit. Masih banyak orang yang menaruh harapan kepada profesi mulya ini untuk mengatasi segala hal menjadi lebih mudah, terumata yang berhubungan dengan mencari pekerjaan dan membangun karier.
Hal ini dikokohkan dengan mitos-mitos seputar profesi kedokteran. Kuatnya kepercayaan bahwa dokter lebih mudah mencari pekerjaan, mendatangkan uang, memiliki mobil keren, rumah mewah, gadget terbaru, dan mitos-mitos lainnya membuat calon dokter terkadang tidak leluasa dalam mengembangkan diri (hlm. 25-35). Mereka terlanjur terbuai dengan mitos tersebut.
Buku I am Doctorpreneur menyadarkan kita bahwa mitos tersebut tidak sepenuhnya benar. Di era milenium seperti saat ini mengakses pekerjaan bukan hal mudah, termasuk menjadi dokter. Selain dibutuhkan waktu minimal 3,5 untuk menyelesaikan sarjana kedokteran, masih butuh waktu 1,5 tahun lagi untuk pendidikan co-ass dan ujian kompetensi dokter untuk sekedar mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) praktik.
Pada era sebelum tahun 1990-an menjadi dokter PNS memang lebih mudah dibandingkan saat ini. Hampir pasti setiap dokter yang lulus praktik diangkat menjadi PNS. Namun, pasca itu, pemerintah hanya mampu mengangkat menjadi PTT, itupun hanya selama 3 tahun dan setelah itu harus mandiri. Di era reformasi dan sesudahnya, tuntutan kemandirian dokter lebih kuat lagi karena banyaknya calon dokter (hlm. 46).
Tidak sebandingnya rasio jumlah formasi tenaga dokter PNS yang dibutuhkan dengan jumlah pendaftar membuat dokter harus betul-betul mandiri. Saat dokter sudah berusaha keras menyelesaikan kuliah dan mengikuti ujian kompetensi untuk mendapat izin praktik dengan biaya mahal namun belum juga lulus jadi PNS, apa yang bisa dilakukan di tengah menunggu ketidakkepastian? Apakah hanya akan berpangku tangan menjadi penganggur intelektual dan menjadi beban negara?
Di tengah peliknya mendapatkan pekerjaan, dr. Yusuf Alam Romadhon, M.Kes mengajak para dokter menjadi tenaga kesehatan yang kreatif dan mandiri. Tidak bergantung kepada pemerintah untuk diangkat menjadi PNS.
Doctorpreneur adalah seni menjadi dokter kreatif dan mandiri yang ditawarkan dokter pengusaha itu. Secara sederhana doctorpreneur bisa diartikan dengan kapitalisasi bidang kesehatan tanpa mengurangi misi sosial (hlm. 74). Artinya, selain membantu orang lain sehat, dokter juga bisa menarik keuntungan tanpa membebani pasien.
Peluang menarik keuntungan yang bisa dilakukan dokter tidak melulu dalam wujud klinik dengan modal besar, dan terbatas pada penyembuhan orang sakit. Jika kebutuhan masyarakat diidentifikasi menjadi kelompok khusus banyak sekali cara-cara sederhana namun menguntungkan yang bisa dilakukan seorang dokter.
Dokter yang cakupan bidang garap bisnisnya menyasar ibu hamil dan menyusui misalnya, promosi kesehatan yang bisa lakukan mengedukasi ibu hamil tentang pendidikan kesehatan kehamilan dan pendidikan pengasuhan bayi.
Pada saat yang bersamaan dokter bisa mengadakan event organizer, bisnis buku kesehatan, rumah produksi dan atau klinik sebagai komunikasi marketing perusahaan (hlm. 75).
Dari keuntungan bisnis sederhana semacam ini dokter bisa merambah ke bisnis yang lebih besar. dr. Rosyid Ridho, teman dr. Yusuf Alam Romadhon, misalnya, mengonversi praktik solo menjadi rawat inap setelah jumlah kunjungan pasien tiap hari mencapai 100 orang, dan pada akhirnya rumah sakit.
Selain kisah pribadi penulis dan beberapa temannya merintis usaha kesehatan, dalam buku terbitan Metagraf ini juga dilengkapi tabel perencanaan bisnis yang bisa dicoba. Namun, penulis tidak banyak mengeksplor isi tabel tersebut. Dan bagi yang masih awam ilmu bisnis, dalam beberapa bagian penulis memberikan tips seputar dunia bisnis.
Buku setebal 136 halaman itu penting untuk menjadi dasar dimasukannya mata kuliah kewirausahaan di fakultas kedokteran, sehingga dokter muda lebih kreatif dan mandiri.
Langganan:
Postingan (Atom)


