Judul: Buku Saku Iman dan Islam
Penulis: Imam Al-Birgawi
Penerbit: Zaman
Terbitan: Pertama, 2014
Tebal: 181 halaman
ISBN: 9-786021-687093
Dimuat di: Malang Post, 7 September 2014
Tidak lama lagi, umat Islam akan menunaikan rukun Islam yang kelima: haji. Di Indonesia dengan penduduk mayoritas muslim dan terbesar di Asia, ritual ini sangat diminati. Pendaftar calon jemaah haji selalu membeludak, sehingga harus menunggu giliran bertahun-tahun untuk bisa menunaikannya.
Pahala ibadah haji memang sangat menggiurkan, sebagaimana disebutkan dalam sumber otoritatif Islam: Al Qur'an dan hadis. Rasulullah mengatakan haji adalah salah satu amalan yang paling utama/afdol (HR. Bukhari No. 1519). Dalam hadis lain, Bukhari meriwayatkan: balasan haji mabrur tiada lain selain surga (HR. Bukhari No. 1773 dan Muslim No. 1349).
Namun, membeludaknya calon jemaah haji belum bisa menjadi indikator kesalehan rakyat Indonesia. Angka kriminalitas dan berbagai penyimpangan lain masih cukup tinggi, dan tidak jarang pelakunya adalah mereka yang telah menunaikan ibadah haji. Yang sangat mengejutkan, Menteri Agama RI yang mengurusi pelaksanaan ibadah haji ditetapkan sebagai tersangka dugaan korupsi dalam kasus tersebut.
Banyaknya warga negara Indonesia yang telah menunaikan ibadah haji --sebagian telah berkali-kali, mestinya bisa meningkatkan kesalehan pelakunya setelah pulang dari tanah suci Makkah. Ritual haji sarat dengan nilai-nilai sosial, karena sebagian besar ritualnya napak tilas perjalanan spritual nabi Ibrahim dan Ismail.
Tawaf
Tawaf adalah bagian terpenting dari ritual haji. Saat bertawaf mengelilingi Ka'bah ada pakaian khas: ihram. Pakaian ihram bagi laki-laki adalah dua potong kain, sepotong untuk menutupi bagian tubuh dari dada ke bawah dan sepotong lagi diselendangkan. Bagi perempuan, pakaian ihram terdiri atas baju putih, sarung kaki putih, dan tutup kepala putih.
Ihram menyimbolkan keterlepasan diri dari segala bentuk keduniaan. Kain ihram tak ada bedanya dengan kain kafan, yang akan membungkus jasad di kala maut menjemput. Kain ihram menyamakan semua manusia, sehingga tidak ada beda antara raja dan peminta-minta. Mengenakan pakaian ihram berarti menyingkirkan kemasyhuran, kekayaan, kehormatan, kesombongan, nafsu, dan menafikan kebutuhan (hlm. 160).
Setelah itu, berhati-hatilah agar tidak menyakiti siapa pun dan apa pun, baik dengan perkataan maupun tindakan. Jangan mematut diri dengan mencukur rambut, memotong kuku, menutup kepala, atau berganti pakaian. Suami dan istri harus saling berusaha dan menahan hasrat biologis (hlm. 161).
Sesuatu yang haram saat berlangsung pelaksanaan ritual haji mestinya dilestarikan hingga di tanah air. Ini perlu direnungi jemaah haji setiap akan bertindak dan berucap di manapun dan kapan pun, karena kesalehan pasca naik haji salah satu indikator diterima tidaknya ibadah haji. Salah satu tanda haji mabrur yaitu ibadah dan perilakunya meningkat dan lebih baik dari sebelum haji.
Syekh Al-Syibli mengatakan, jemaah haji yang bertawaf mengelilingi Ka'bah, tapi tak menjahui segala hal yang selama ini menyertai, tak meninggalkan dirinya yang dulu, keterikatan pada dunia tetap, dan belum mendekat kepada Allah, sebenarnya orang itu pada hakikatnya tidak bertawaf (hlm. 174).
Apabila semua jemaah haji menyadari hal ini, niscaya tatanan kehidupan di negeri ini mulai sempurna. Kesadaran ini akan menyatukan segala kekuatan untuk mencegah kemunculan para tiran yang menentang hak-hak yang telah ditetapkan Allah (hlm. 129).
Imam Al Birgawi dalam Buku Saku Iman dan Islam mengajak pembaca merenungi keimanan yang tertanam dalam hati dan ritual keislaman. Bahasanya cukup sederhana dan pembahasan tiap babnya ringkas, tapi bak sepercik api yang mampu membakar keraguan di dada.
Di bagian akhir dalam buku setebal 181 halaman terbitan Zaman itu, dengan agak panjang-lebar, penulis menjelaskan filosofi haji. Penting diketahui oleh umat Islam yang akan maupun yang telah menunaikan ibadah haji agar biaya besar yang dikeluarkan tak sia-sia.
Semoga pembaca tak termasuk jemaah haji dalam hadits nabi: para penguasa dan para raja pergi haji dengan tujuan bersenang-senang, orang kaya dengan tujuan berdagang, orang miskin dengan tujuan meminta-minta, dan ulama dengan tujuan mencari kemasyhuran.Amin!
Tampilkan postingan dengan label islami. insporasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label islami. insporasi. Tampilkan semua postingan
Minggu, 14 September 2014
Refleksi untuk Jemaah Haji
Label:
haji,
iman,
islam,
islami.,
islami. insporasi
Kamis, 13 Februari 2014
Hidup Mulia di Usia Remaja
Judul : Yang Muda yang Bahagia
Penulis : Wajihudin Alantaqi
Penerbit: Marja, Bandung
Terbitan: Pertama, September 2013
Tebal : 166 halaman
ISBN : 979245723-2
Dimuat di: Nabawia.com
Peranan pemuda tak bisa diremehkan sekalipun masih ada sebagian orang yang meragukan kiprahnya. Peringatan sumpah pemuda pada tiap tanggal 10 November bukti kiprah pemuda dalam perjuangan bangsa. Proklamator sekaligus Presiden pertama RI Soekarno mengatakan hanya membutuhkan 10 orang pemuda untuk mengubah dunia.
Kemerdekaan yang kita nikmati saat ini tidak lepas dari ambil bagian anak muda dalam mengusir penjajah. Jika masih meragukan keterlibatan pemuda dalam perjuangan, euforia reformasi yang sedang berjalan juga karena perjuangannya. Mereka rela mengorbankan jiwa dan raga demi masa depan bangsa yang lebih baik. Dalam diri pemuda memang terdapat idealisme dan keberanian melawan segala bentuk penindasan.
Jika menoleh ke sejarah umat terdahulu di luar sana, remaja-remajanya juga melakukan hal serupa. Di antara mereka ada Nabi Ibrahim, Nabi Daud, Nabi Yusuf, ashabul ukhdud, ashabul kahfi, dan para sahabat Rasulullah. Mereka pribadi-pribadi unggul dan kuat sejak muda dalam berjuang mewujudkan perubahan yang sangat dibutuhkan zamannya (hlm. 16-23).
Bagaimana dengan remaja masa kini? Menyaksikan pola tingkah anak muda yang diekspos di televisi dan surat kabar begitu mengkhawatirkan. Keterlibatannya dalam perilaku tak terhormat begitu memprihatinkan. Memang tidak semua remaja demikian, namun yang demikian lebih dominan dan menonjol ketimbang remaja yang berdedikasi dan berprestasi.
Seks bebas, narkoba, miras, tauran dan segala macam perbuatan tidak terhormat lainnya mulai menjadi budaya dan dianggap gaul dikalangan remaja. Hal itu terjadi salah satunya disebabkan kesalahan cara pandang hidup. Masa muda dianggap kesempatan untuk bersenang-senang dan foya-foya (hlm. 13-14).
Menikmati kebahagiaan memang bukan hal yang salah selama dalam koridor yang benar dan tak menyalahi norma. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Pada saat yang bersamaan datangnya kematian tidak terpikirkan. Padahal tidak ada yang tahu dengan rahasia Ilahi. Sehingga dalam keseharian tidak banyak aktivitas yang diorientasikan kepada kehidupan setelah mati. Oleh karenanya, penting mengingat kematian sejak remaja untuk menghindari sikap berlebih-lebihan dalam hidup dan memotivasi diri berbuat yang terbaik untuk publik (hal. 82-83).
Pergantian tahun memontem untuk refleksi (muhasabah) atas aktivitas selama satu tahun. Malam pergantian tahun bukan diperingati dengan hura-hura, apalagi dengan melakukan perbuatan yang dapat menghilangkan keperjakaan/keperawanan sebagaimana telah menjadi rahasia umum. Sangat tak rasional menjadikan hal itu sebagai kenangan-kenangan.
Masa remaja adalah masa transisi dari anak-anak menuju dewasa. Karena mulai saat dikategorikan sebagai orang baligh segala ketentuan syariat mulai berlaku. Demikian juga dengan undanga-undanga negara. Perbuatan-perbuatan yang dianggap gaul anak muda, sebagain besar, selain melanggar norma agama juga melanggar hukum. Ketika perilaku tersebut menyeret ke balik jeruji besi polisi dan penjara akhirat masihkah dikatakan perbaikan mulia?
Wajihudin Alantaqi melalui buku Yang Muda yang Bahagia memberikan tuntutan hidup mulia nan bahagia bagi para remaja. Dalam buku terbitan Marja setebal 166 itu dieksplorasi bagaimana mestinya remaja bertindak dan bersikap.
Penulis : Wajihudin Alantaqi
Penerbit: Marja, Bandung
Terbitan: Pertama, September 2013
Tebal : 166 halaman
ISBN : 979245723-2
Dimuat di: Nabawia.com
Peranan pemuda tak bisa diremehkan sekalipun masih ada sebagian orang yang meragukan kiprahnya. Peringatan sumpah pemuda pada tiap tanggal 10 November bukti kiprah pemuda dalam perjuangan bangsa. Proklamator sekaligus Presiden pertama RI Soekarno mengatakan hanya membutuhkan 10 orang pemuda untuk mengubah dunia.
Kemerdekaan yang kita nikmati saat ini tidak lepas dari ambil bagian anak muda dalam mengusir penjajah. Jika masih meragukan keterlibatan pemuda dalam perjuangan, euforia reformasi yang sedang berjalan juga karena perjuangannya. Mereka rela mengorbankan jiwa dan raga demi masa depan bangsa yang lebih baik. Dalam diri pemuda memang terdapat idealisme dan keberanian melawan segala bentuk penindasan.
Jika menoleh ke sejarah umat terdahulu di luar sana, remaja-remajanya juga melakukan hal serupa. Di antara mereka ada Nabi Ibrahim, Nabi Daud, Nabi Yusuf, ashabul ukhdud, ashabul kahfi, dan para sahabat Rasulullah. Mereka pribadi-pribadi unggul dan kuat sejak muda dalam berjuang mewujudkan perubahan yang sangat dibutuhkan zamannya (hlm. 16-23).
Bagaimana dengan remaja masa kini? Menyaksikan pola tingkah anak muda yang diekspos di televisi dan surat kabar begitu mengkhawatirkan. Keterlibatannya dalam perilaku tak terhormat begitu memprihatinkan. Memang tidak semua remaja demikian, namun yang demikian lebih dominan dan menonjol ketimbang remaja yang berdedikasi dan berprestasi.
Seks bebas, narkoba, miras, tauran dan segala macam perbuatan tidak terhormat lainnya mulai menjadi budaya dan dianggap gaul dikalangan remaja. Hal itu terjadi salah satunya disebabkan kesalahan cara pandang hidup. Masa muda dianggap kesempatan untuk bersenang-senang dan foya-foya (hlm. 13-14).
Menikmati kebahagiaan memang bukan hal yang salah selama dalam koridor yang benar dan tak menyalahi norma. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Pada saat yang bersamaan datangnya kematian tidak terpikirkan. Padahal tidak ada yang tahu dengan rahasia Ilahi. Sehingga dalam keseharian tidak banyak aktivitas yang diorientasikan kepada kehidupan setelah mati. Oleh karenanya, penting mengingat kematian sejak remaja untuk menghindari sikap berlebih-lebihan dalam hidup dan memotivasi diri berbuat yang terbaik untuk publik (hal. 82-83).
Pergantian tahun memontem untuk refleksi (muhasabah) atas aktivitas selama satu tahun. Malam pergantian tahun bukan diperingati dengan hura-hura, apalagi dengan melakukan perbuatan yang dapat menghilangkan keperjakaan/keperawanan sebagaimana telah menjadi rahasia umum. Sangat tak rasional menjadikan hal itu sebagai kenangan-kenangan.
Masa remaja adalah masa transisi dari anak-anak menuju dewasa. Karena mulai saat dikategorikan sebagai orang baligh segala ketentuan syariat mulai berlaku. Demikian juga dengan undanga-undanga negara. Perbuatan-perbuatan yang dianggap gaul anak muda, sebagain besar, selain melanggar norma agama juga melanggar hukum. Ketika perilaku tersebut menyeret ke balik jeruji besi polisi dan penjara akhirat masihkah dikatakan perbaikan mulia?
Wajihudin Alantaqi melalui buku Yang Muda yang Bahagia memberikan tuntutan hidup mulia nan bahagia bagi para remaja. Dalam buku terbitan Marja setebal 166 itu dieksplorasi bagaimana mestinya remaja bertindak dan bersikap.
Label:
islami. insporasi,
pemuda,
remaja
Langganan:
Postingan (Atom)

