Judul : Sumenep Menyimpan Segudang Cerita
Penulis : Noevil Delta
Penerbit : Oksana Publishing
Tebal : 108 halaman
ISBN : 978-602-6769-38-1
Dimuat di: Tabloid Mata Sumenep 22 Februari 2016
Stereotipe miring tentang masyarakat Madura secara umum hingga saat ini belum sepenuhnya luntur. Ketika mendengar kata Madura, yang terbayang dibenak orang luar adalah karakter orangnya yang kasar, keras kepala, dan bodoh. Stigma itu membuat sebagian generasi muda Madura merasa minder. Seakan tak ada tokoh yang bisa dibanggakan dari tanah kelahirannya.
Mungkin dulu stereotipe tersebut tidak sepenuhnya salah, namun seiring perubahan waktu masyarakat Madura juga berubah. Atau karena orang-orang hebat dari Madura kurang mendapatkan publikasi. Sumenep, secara khusus, menyimpan segudang tokoh yang patut dibanggakan, tapi mungkin tak banyak yang mengetahuinya bahwa mereka putra pulau garam.
Halim Perdanakusuma, prajurit TNI angkatan udara yang dinobatkan pahlawan nasional adalah putra Sumenep. Namanya diabadikan menjadi nama pangkalan udara di Jakarta, dan Pemkab Sumenep mengabadikannya menjadi nama monumen. Ia lahir di Sampang pada 18 November 1922, namun Halim tumbuh dan besar di Sumenep (hlm. 32).
Halim mengawali pendidikannya di Hollandsoh Inlandsche School di Sumenep (1928-1935). Setelah itu melanjutkan sekolah ke Meer Uitgebreid Lagere Onderwijs di Surabaya. Setelah itu menempuh pendidikan di Mideelbaar Opleiding School Voo Inlandsche Ambutenaren. Pendidikan militernya Pendidikan Opsir Torpedo di Surabaya dan Royal Canadian Air Forces di Amerika Serikat.
Sepulangnya dari Amerika Serikat, ia diserahi tugas sebagai instruktur navigasi di Sekolah Penerbangan yang dipelopori Agustinus Sutjipto. Halim sempat pulang ke Madura pada 12 Mei 1946 dengan membawa pesawat. Ia meninggal dalam perjalanan udara untuk mendapatkan bantuan senjata dan logistik untuk keperluan perjuangan.
Sementara salah satu akademisi asal Sumenep yang patut dibanggakan adalah Prof. Mien Achmad Rifai, M.Sc. Ph.D. Ahli botani di Indonesia ini lahir di Gapura, Sumenep, pada 1 Januari 1940. Dari 100 lebih jenis tumbuhan baru yang berhasil ditemukan dalam penelitiannya ia menemukan tanaman sejenis pacar air yang hanya ditemukan di Sumenep (hlm. 23).
Berbagai pertemuan ilmiah di dalam dan luar negeri serta jabatan penting pernah diembannya. Buku dan artikel yang telah ditulis mencapai puluhan. Belasan penghargaan bergengsi telah diterima sebagai apresiasi atas kiprah dan pengabdiannya.
Pendekar hukum kebanggaan Sumenep adalah Artidjo Alkostar, Hakim Agung Mahkamah Agung RI. Sekalipun ia lahir di Situbondo, namun kedua orangtuanya berasal dari Sumenep. Sehingga, karakter beliau sangat dipengaruhi karakter Madura. Termasuk ketegasannya dalam menegakkan hukum.
Terpilihnya Artidjo sebagai hakim agung tidak lepas dari peran ulama di Madura. Sebelum beliau menerima jabatan tersebut terlebih dahulu konsultasi ke salah satu kiai di Madura. Kiai tersebut memberikan saran menerima jabatan tersebut, sehingga akhirnya Artidjo mengikuti fit and proper test dan dinyatakan lulus (hlm. 59).
Buku Sumenep menyimpan Segudang Cerita penting dibaca negeri muda untuk memperkenalkan beberapa tokoh nasional asal kabupaten ujung timur Pulau Madura ini. Bahasanya dikemas dengan sederhana dan babnya pendek-pendek, sehingga tak membosankan. Dilengkapi pula foto-foto.
Noevil Delta Dalam buku 108 halaman ini juga menjelaskan filosofi nama-nama desa, beberapa tradisi, dan infrastuktur peninggalan Belanda.
Tampilkan postingan dengan label madura. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label madura. Tampilkan semua postingan
Minggu, 06 Maret 2016
Sabtu, 27 Juni 2015
Sakera, Tatag, dan Madura
Judul: The History of Madura
Penulis: Samsul Maarif
Penerbit: Araska, Yogyakarta
Terbitan: Pertama, Januari 2015
Tebal: 224 halaman
ISBN: 978-602-300-072-2
Dimuat di: Mata Sumenep, 1 Juni 2015
Sakera menjadi icon orang Madura. Tak banyak literatur Belanda yang menjelaskan tentangnya karena anti diktator. Tokoh kelahiran Kelurahan Raci, Bangil, Pasuruan, itu berjuang melawan penjajah Belanda dengan berbekal sebuah celurit demi mempertahankan Pulau Madura.
Sebagai penghormatan, pakaiannya dilestarikan menjadi pakaian adat Madura. Namun yang lebih penting dari sekadar mengabadikan pakaian, nilai-nilai luhur dan karakter pribadinya perlu lebih ditonjolkan. Indonesia membutuhkan sosok seperti Sakera dalam ketegasan membela kebenaran.
Ungkapan populer hilang satu tumbuh seribu di atas adalah teriakan Sakera yang ditujukan terhadap pihak Belanda sebelum dihukum gantung di Pasuruan. Sakera dihukum gantung karena membela rakyat kecil dari kezaliman penjajah.
Perkelahian Sakera dengan Brodin, Markasan, dan Carik Rembang dengan menggunakan senjata celurit yang kemudian menjadi awal lahirnya budaya carok di Madura merupakan bentuk perlawanan terhadap kolonialisme, ketidakadilan, dan keberpihakan terhadap kebenaran.
Dalam konteks ini, carok harus dipahami sebagai dampak ketidakpercayaan masyarakat kepada aparat penegak hukum. Ketidakadilan menimbulkan kerusuhan massal, masyarakat mengambil inisiatif menjadi pengadilan jalanan (hlm. 170).
Melawan Belanda
Menurut cerita rakyat yang diterima Samsul Ma'arif, carok antara Sakera dan antek-antek Belanda itu bermula dari pabrik gula milik Belanda membutuhkan banyak lahan baru, dan membeli lahan perkebunan rakyat dengan cara licik. Tanah dibeli dengan harga murah dan melakukan teror terhadap pemilik tanah (hlm. 165).
Carik Rembang sebagai penguasa menggunakan jabatannya untuk mewujudkan keinginan Belanda dengan cara-cara kekerasan dan teror. Dari hasil pembebasan lahan untuk perusahaan Belanda, Carik Rembang diiming-imingi harta dan kekayaan.
Sakera berkali-kali menggagalkan upaya Carik Rembang. Pihak Belanda marah besar saat mendapat laporan dari Carik Rembang karena Sakera dinilai telah menghalang-halangi. Seorang jagoan bernama Markasan diutus untuk membunuh Sakera.
Saat Sakera berkunjung ke rumah ibunya, dia dikeroyok oleh Carik Rembang beserta Belanda. Karena ibu Sakera diancam akan dibunuh, dia akhirnya menyerah dan dipenjara di Bangil (hlm. 166).
Sakera sempat kabur dari penjara untuk membunuh Brodin yang menyelingkuhi istrinya, Marlene. Dia juga balas dendam dimulai dari Carik Rembang. Bahkan kepala polisi Bangil pun ditebas tangannya dengan celurit miliknya.
Dengan cara licik, Belanda menemui teman seperguruan Sakera bernama Aziz untuk mencari kelemahan Sakera. Aziz menjebak Sakera dengan mengadakan tayuban. Akhirnya dia dilumpuhkan dengan bambu apus di acara tayuban, ditangkap, dan dihukum gantung oleh Belanda (hlm. 167).
Karakter Tatag
Tindakan Sakera merupakan perbuatan tatag (berani), karakter asli orang Madura. Tatag adalah berani karena benar bukan karena dibayar, apalagi membela kepentingan segelintir orang atau kelompok tertentu. (Koran Madura, 24 Desember 2012).
Karakter tersebut terus mengalir dalam darah orang-orang Madura seperti sosok Trunojoyo, Syeikh Mathuro, Mahfud MD, dan Artidjo Alkostar. Namun tampilnya sosok berintegritas tinggi tersebut belum mampu menghapus stereotype bahwa orang Madura kasar, mudah tersinggung, tidak mempunyai sopan santun, dan keras kepala yang dikonstruk bangsa Eropa.
Buku The History of Madura dalam beberapa bagian menyebutkan karakter tatag orang Madura. Secara umum, buku setebal 224 halaman bertutur sejarah panjang Madura dari masa kerjaan, kolonialisme, sampai kemerdekaan. Penting untuk menjadi pengantar kajian maduralogi.
Penulis: Samsul Maarif
Penerbit: Araska, Yogyakarta
Terbitan: Pertama, Januari 2015
Tebal: 224 halaman
ISBN: 978-602-300-072-2
Dimuat di: Mata Sumenep, 1 Juni 2015
Sittung Sakera mate, saebu Sakera tombu pole
Satu Sakera mati, seribu Sakera (baru) lahir kembali
(Sakera)
Sakera menjadi icon orang Madura. Tak banyak literatur Belanda yang menjelaskan tentangnya karena anti diktator. Tokoh kelahiran Kelurahan Raci, Bangil, Pasuruan, itu berjuang melawan penjajah Belanda dengan berbekal sebuah celurit demi mempertahankan Pulau Madura.
Sebagai penghormatan, pakaiannya dilestarikan menjadi pakaian adat Madura. Namun yang lebih penting dari sekadar mengabadikan pakaian, nilai-nilai luhur dan karakter pribadinya perlu lebih ditonjolkan. Indonesia membutuhkan sosok seperti Sakera dalam ketegasan membela kebenaran.
Ungkapan populer hilang satu tumbuh seribu di atas adalah teriakan Sakera yang ditujukan terhadap pihak Belanda sebelum dihukum gantung di Pasuruan. Sakera dihukum gantung karena membela rakyat kecil dari kezaliman penjajah.
Perkelahian Sakera dengan Brodin, Markasan, dan Carik Rembang dengan menggunakan senjata celurit yang kemudian menjadi awal lahirnya budaya carok di Madura merupakan bentuk perlawanan terhadap kolonialisme, ketidakadilan, dan keberpihakan terhadap kebenaran.
Dalam konteks ini, carok harus dipahami sebagai dampak ketidakpercayaan masyarakat kepada aparat penegak hukum. Ketidakadilan menimbulkan kerusuhan massal, masyarakat mengambil inisiatif menjadi pengadilan jalanan (hlm. 170).
Melawan Belanda
Menurut cerita rakyat yang diterima Samsul Ma'arif, carok antara Sakera dan antek-antek Belanda itu bermula dari pabrik gula milik Belanda membutuhkan banyak lahan baru, dan membeli lahan perkebunan rakyat dengan cara licik. Tanah dibeli dengan harga murah dan melakukan teror terhadap pemilik tanah (hlm. 165).
Carik Rembang sebagai penguasa menggunakan jabatannya untuk mewujudkan keinginan Belanda dengan cara-cara kekerasan dan teror. Dari hasil pembebasan lahan untuk perusahaan Belanda, Carik Rembang diiming-imingi harta dan kekayaan.
Sakera berkali-kali menggagalkan upaya Carik Rembang. Pihak Belanda marah besar saat mendapat laporan dari Carik Rembang karena Sakera dinilai telah menghalang-halangi. Seorang jagoan bernama Markasan diutus untuk membunuh Sakera.
Saat Sakera berkunjung ke rumah ibunya, dia dikeroyok oleh Carik Rembang beserta Belanda. Karena ibu Sakera diancam akan dibunuh, dia akhirnya menyerah dan dipenjara di Bangil (hlm. 166).
Sakera sempat kabur dari penjara untuk membunuh Brodin yang menyelingkuhi istrinya, Marlene. Dia juga balas dendam dimulai dari Carik Rembang. Bahkan kepala polisi Bangil pun ditebas tangannya dengan celurit miliknya.
Dengan cara licik, Belanda menemui teman seperguruan Sakera bernama Aziz untuk mencari kelemahan Sakera. Aziz menjebak Sakera dengan mengadakan tayuban. Akhirnya dia dilumpuhkan dengan bambu apus di acara tayuban, ditangkap, dan dihukum gantung oleh Belanda (hlm. 167).
Karakter Tatag
Tindakan Sakera merupakan perbuatan tatag (berani), karakter asli orang Madura. Tatag adalah berani karena benar bukan karena dibayar, apalagi membela kepentingan segelintir orang atau kelompok tertentu. (Koran Madura, 24 Desember 2012).
Karakter tersebut terus mengalir dalam darah orang-orang Madura seperti sosok Trunojoyo, Syeikh Mathuro, Mahfud MD, dan Artidjo Alkostar. Namun tampilnya sosok berintegritas tinggi tersebut belum mampu menghapus stereotype bahwa orang Madura kasar, mudah tersinggung, tidak mempunyai sopan santun, dan keras kepala yang dikonstruk bangsa Eropa.
Buku The History of Madura dalam beberapa bagian menyebutkan karakter tatag orang Madura. Secara umum, buku setebal 224 halaman bertutur sejarah panjang Madura dari masa kerjaan, kolonialisme, sampai kemerdekaan. Penting untuk menjadi pengantar kajian maduralogi.
Rabu, 11 Juni 2014
Mahfud MD Orang Madura
Judul: Biografi Mahfud MD, Terus Mengalir
Penulis: Rita Triana Budiarti
Penerbit: Konstitusi Press, Jakarta.
Cetakan: Pertama, Maret 2013
Tebal: xxxii+614 halaman
ISBN: 978-602-18634-8-0
Dimuat di: Okezone.com
Sekalipun orang Madura selalu jadi bahan lelucon dan tertawaan karena stigma negatif yang sudah berkembang, tidak sedikit putra Madura yang telah berhasil mengisi jabatan negara tingkat nasional dan sukses meniti karir di ibu kota, bahkan luar negeri.
Dari sederet tokoh nasional dari Madura, Mahfud MD orang yang paling mudah dikenali sebagai orang Madura. Saat mendengar nama Mahfud MD yang terbayang adalah pulau garam, Madura. Setidaknya ada dua ciri yang membuat nama pria kelahiran Sampang itu mudah ditebak sebagai orang Madura.
Pertama, kata 'MD' dibelakang nama 'Mahfud'. Tidak jarang orang beranggapan, 'MD' adalah singkatan dari Madura. Penambahan kata 'MD' (Mahmudin, orang tua Mahfud) secara tidak sengaja oleh gurunya saat belajar di Pendidikan Guru Agama (PGA) untuk membedakan dengan siswa lain yang juga bernama Mahfud tampaknya juga menjadi berkah tersendiri buat suku Madura.
Kedua, logat bicara khas Madura yang masih sangat kental. Sekalipun Mahfud MD besar di Yogyakarta dan berkarir di Jakarta, logat bicara tanah kelahirannya tidak berubah. Ia tidak gengsi dan merasa malu mempertahankan logat bicara bahasa ibu di depan publik.
Buku Biografi Mahfud MD, Terus Mengalir, secara implisit Rita Triana Budiarti semakin meneguhkan Moh. Mahfud MD sebagai orang Madura. Selain dua ciri tersebut, banyak budaya, watak dan karakter orang Madura yang melekat pada diri Mahfud MD, yang tak banyak diketahui orang.
Anda yang ingin mengenali pribadi Mahfud MD secara lebih mendalam sekaligus mengetahui karakter orang Madura yang selalu dikesankan tempramen, kasar dan bodoh, seyogyanya membaca buku setebal 614 halaman itu.
Selain menapaktilas perjalanan hidup alumni pondok pesantren kecil di Kecamatan Waru Pamekasan, yang berhasil mengisi trias politica negeri ini, Anda yang suka dengan hukum dalam setiap lembarnya akan mendapat pelajaran ilmu hukum.
Tidak salah belajar dari pengalaman orang yang tak punya lobi dan upeti meraih kesuksesan diluar cita-citanya yang hanya ingin jadi guru. Namun, bukan lantas buku karya mantan wartawan majalah Gatra tersebut tanpa catat. Tiadanya indeks membuat buku ini kurang sempurna.
Karakter Madura
Mahfud MD memiliki karakter tatag, karakter yang mulai jarang dimiliki pemimpin negeri ini. Tatag yang diekspresikan Mahfud menggambarkan karakter asli orang Madura: berani karena benar bukan karena dibayar, apalagi membela kepentingan. Berani mempertanggungjawabkan apa yang diucapkan dan dikerjakan (Koran Madura, 24 Desember 2012).
Bukan hanya sekali Mahfud MD melontarkan statemen berani: akan berhenti dari jabatannya sebagai Ketua MK jika lembaga yang dipimpinannya terlibat korupsi. Ia buktikan bersihnya lembaga yang dimpinanya. Berbagai tuduhan yang dialamatkan pada lembaganya sampai dirinya purna tugas, 1 April 2013, tidak ada yang terbukti.
Opini Rafly Harun berjudul "MK Masih Bersih?" di harian Kompas, 25 Oktober 2010, dengan beberapa tuduhan yang meyakinkan publik, misalnya, kebenaran tulisan tersebut tidak terbukti. Untuk membuktikan kebenaran tuduhan itu dan hasilnya objektif, MK melakukan investigasi dengan menunjuk Rafly sebagai koordinator tim investasi didampingi pakar-pakar hukum. (hlm. 445-455).
Ungkapan Mahfud MD, MK institusi bersih dari KKN tampaknya bukan pepesan kosong. Hasil tim investigasi tidak menemukan pembenaran tuduhan Rafly yang dimuat di Kompas tersebut. Ia juga pernah menantang Mensesneg Sudi Silalahi saat menyebut MK pernah melanggar undang-undang dan Ketua MA Harifin Tumpa yang mengatakan tidak ada lembaga pemerintahan yang bersih. Namun, Sudi dan Harifin tampaknya hanya gertak sambal dan tidak bisa membuktikan ucapannya ketika ditantang Mahfud.
Sikap kontroversi dan tatag Mahfud tidak menurunkan kredibilitasnya sebagai seorang pemimpin bersih yang disegani, tapi malah membuat namanya semakin melejit dan digolongkan pemimpin bernyali. Pemimpin yang dibutuhkan negeri ini.
Sikap keras orang Madura yang sering dicitrakan negatif tampaknya juga jadi watak Mahfud MD. Tanpa tedeng aling-aling, sikap keras Mahfud mudah membuncak saat melihat ketidakadilan dan pelanggaran hukum. Tak segan melontarkan kritik, kepada siapapun. Namun sekaligus lemah lembut. Keras tapi ares, watak orang Madura.
Semasa menjadi pembantu Presiden Gus Dur sebagai Menteri Pertahanan, Mahfud MD orang yang bersikeras mencegah Gus Dur mengeluarkan dekrit saat hubungan Presiden dan DPR merenggang, sebelum akhirnya Gus Dur lengser (hlm. 298-301). Mahfud MD pula yang mengungkap borok korupsi mantan Bendahara Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin (hlm. 469-480).
"Kelemahan saya adalah suka ngomong, karena suka menyerempet lembaga dan pejabat lain. Tapi, kelebihan saya adalah suka ngomong, sehingga berani mengatakan hal-hal yang orang lain rikuh atau tak berani mengatakannya. Sebab, sering ada orang yang tak mau meneriakkan kebenaran hanya karena rikuh pada pejabat lain atau takut mengemukakannya," kata Mahfud (hlm. 435-436). Sebab itulah, mungkin, ia digemari pers dan beberapa kali menerima penghargaan dari media massa.
Mahfud MD berani bersikap keras dan tatag karena memang bersih. Tidak pernah neko-neko dengan proyek. Siti Khadijah, ibu Mahfud MD, mendidik putra-putrinya sejak kecil untuk selalu berbuat jujur dan tidak meminta-minta. Meminta bukan tidak boleh tapi tidak baik (juba’). Pola tingkah juba' (buruk) dan bagus (baik) inilah yang selalu ditekankan orang tua Mahfud pada anak-anaknya.
Penolakan Mahfud MD saat menjadi menteri menerima hibah tanah 6.000 m2, satu tas uang dan dua unit apartemen dari pengusaha apartemen Hanry Leo rupanya didasarkan pada pertimbangan juba' dan bagus yang diajarkan orangtuanya di kampung. Seandainya guru besar ilmu hukum itu hanya mempertingkan dari sisi ilmu hukum, hibah tersebut sudah pasti diterima karena pada saat itu belum ada undang-undang gratifikasi.
"Pajekjek ma' sodek, bile lendu ma' ta' agundek" peribahasa Madura yang selalu dipegang teguh Mahfud MD, sampai saat ini, sehingga tak gentar dengan tuduhan-tuhan yang kerap kali dialamatkan pada lembaga dan pribadinya.
Langganan:
Postingan (Atom)


