Tampilkan postingan dengan label travelling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label travelling. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Agustus 2016

Kedok Pemburu Rente Haji

Judul : Orang Jawa Naik Haji + Umrah
Penulis : Danarto
Penerbit : Diva Press
Terbitan : Pertama, Agustus 2016
Tebal : 184 halaman
ISBN : 978-602-391-223-0
Dimuat: Radar Surabaya, 29 Agustus 2016

Terungkapnya kasus korupsi dana haji yang melibatkan mantan Menteri Agama RI Suryadharma Ali, puncuk gunung es dari praktik perburuan rente haji. Secara faktual, pemburuan rente haji telah berlangsung setidaknya sejak Orde Baru.

Jamaah haji Indonesia 1983, Danarto sudah menangkap sinyal itu, jangan-jangan pemburuan rente, istilah Danarto industri kejahatan, yang melahap uang jamaah haji yang awam telah terjadi di Departemen Agama (Kementerian Agama) pada saat itu.

Hal ini didasarkan pada pengalaman pribadinya saat menunaikan ibadah haji. Setibanya di Jeddah untuk melanjutkan perjalanan ke Madinah, Danarto bergabung dengan rombongan jamaah haji sejak dari Jakarta yang merupakan majelis taklim. Ketua rombongan merupakan pimpinan majelis taklim tersebut.

Setibanya di Madinah, ketua rombongan melalui orang lain menagih uang sebesar 750 riyal pada Danarto. Kedoknya untuk pembayaran dam atau kurban, ongkos bus ziarah, kuli, dan persenan untuk sopir. Padahal, biaya semuanya hanya sekitar 250 riyal. Anehnya lagi, jamaah yang melaksanakan haji ifrad tetap ditarik (hlm. 42).

Barangkali karena ketidaktahuannya, semua anggota rombongan yang berjumlah sekitar 40 orang sudah membayar kepada sang ketua rombongan sejak di Indonesia, saat menerima uang biaya hidup sebanyak 1750 riyal dari Depag Pondok Gede, Jakarta, kecuali Danarto.

Tak berhasil dengan kedok di atas, sang ketua rombongan membuat ulah baru, anggota rombongan harus membayar 350 riyal, 200 riyal di antaranya untuk untuk bayar kemah. Padahal, kemah di Arafah atau Mina, dan makan dua sehari semua gratis, sudah termasuk di dalam Ongkos Naik Haji (ONH) [hlm. 46].

Dan ternyata, laporan dari seorang jamaah, sang ketua rombongan di Jakarta telah memungut Rp 10.000/orang untuk pembayaran surat panggilan Depag tentang pemberitahuan tanggal keberangkatan jamaah ke tanah suci, yang sebenarnya sudah jadi kewajiban Depag.

Pungutan liar sang ketua rombongan ini salah satu penggalan cerita panjang dari catatan perjalanan ruhani Danarto saat menunaikan ibadah haji dan umrah. Buku yang terbit pertama kali pada tahun 1984 oleh Grafiti Pers tetap penting dibaca, baik sebagai wawasan oleh calon jamaah haji maupun nostalgia kenangan oleh orang yang pernah menunaikan ibadah haji. (MK)

Minggu, 28 Agustus 2016

Bukan Jalan-jalan Biasa

Judul : Menemukan Indonesia
Penulis : Pandji Pragiwaksono
Penerbit : Bentang
Terbitan : Pertama, Maret 2016
Tebal : 282 halaman
ISBN : 978-602-291-143-2
Dimuat di: Suluh Madura, Agustus 2016

Frasa My Trip My Adventure sangat booming. Buku catatan perjalanan dan panduan wisata menghiasi rak toko buku. Pembaca tetap memburunya meskipun itu-itu saja isinya. Membaca catatan perjalanan adalah cara lain berpelesir. Pandji Pragiwaksono dalam buku Menemukan Indonesia membawa imajinasi pembaca berwisata ke empat benua.

Buku ini menjadi istimewa karena tidak hanya menarasikan eksotisme panorama dan pariwisata luar negeri. Perjalanan Pandji dalam 365 hari di 20 kota di delapan negara di empat benua bukan jalan-jalan untuk berburu belanja atau mengusir penat. Ia membawa misi agung, yaitu mengenal atau memperkanalkan Indonesia di luar negeri.

Dalam catatan perjalanan ke Singapura, Pandji memperkanalkan masakan Indonesia di negara singa putih tersebut. Di food court ION Mall ada food stall Indonesia. Makan di sana serasa makan di tanah air. Menu yang tersedia di antaranya ayam panggang, telur dadar, dan kuah kari. Sekalipun di luar negeri harganya murah (hlm. 36).

Sementara kesan yang begitu membekas dari liburan Pandji di Sydney perjumpaan tak sengaja dengan perempuan berdarah Italia. Pramusaji sebuah restoran Italia di pelabuhan Curcular Quay itu menyapa Pandji menggunakan bahasa Indonesia. Dia fasih berbahasa Indonesia. Kepada sang pacar orang Padang dia belajar bahasa Indonesia (hlm. 72).

Pandji Pragiwaksono di Leiden, Belanda, mengunjungi Leiden University. Di universitas ini ada perpustakaan dengan koleksi sejarah Indonesia terlengkap. Di area depan kampus ada satu pojokan yang mengolesi tentang Indonesia. Dari buku-buku yang ditulis zaman dulu hingga album kaset Rhoma Irama (hlm. 179).

Pandji berusaha adil dalam menceritakan Indonesia di luar negeri. Tak ada yang ditutup-tutupi. Bukan hanya yang baik-baik yang diceritakan, yang "buruk" dari Indonesia juga diungkap. Seperti penginapan mes Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapura yang memprihantinkan. Kondisinya di bawah tanah. Lorongnya gelap. Mes itu bekas kuburan (hlm. 32).

Pada bagian akhir catatan perjalanan, Pandji memberikan refleksi mengenai Indonesia. Pandji membandingkan kondisi Indonesia dengan luar negeri. Memang terkesan menjelek-jelekkan Indonesia yang masih memprihantinkan dalam berbagai sektor. Namun, gambaran situasi di luar negeri bisa dijadikan studi untuk diduplikasi di Indonesia.

Pada tahun 2014 ada 27,7 juta orang yang datang untuk berbelanja ke Hong Kong. Sedangkan Indonesia cuma 9,44 juta orang. Indonesia kalah kepada Malaysia yang mencapai sekitar 25 juta. Secara geografis, Hong Kong dan Indonesia tak jauh beda. Hongkong sejak dulu menjadi pintu masuk perdagangan di kawasan Asia Pasifik seperti Surabaya. Awalnya, Hong Kong tidak punya apa-apa, namun kini menjadi tempat belanja favorit.

Pengamatan Pandji, kekuatan Hong Kong dibanding Indonesia adalah free trade, pajak yang rendah, dan karakter kuat yang tercitra dalam berbagai macam produk budaya. Indonesia sebenarnya mempunyai semua yang Hong Kong tawarkan kecuali free trade dan pajak rendah (hlm. 60). Ini salah satu faktor Hong Kong menjadi tempat “menghabiskan” uang.

Indonesia perlu belajar terhadap Gold Coast dalam mengelola infrastuktur. Di sana trotoarnya lebar, dan tidak seperti Indonesia yang keberadaannya sama dengan tidak ada (wujuduhu ka'adamihi) karena diserobot pedagang kaki lima, bangunan pertokoan, atau pengguna kendaraan.

Namun, ada juga dari negeri ini yang perlu dipelajari oleh negara lain. Pengalaman Pandji di Los Angeles, bioskop-bioskop di sana sangat jelek. Sebenarnya tidak hanya di sana. Di banyak negara yang Pandji kunjungi juga memprihatinkan. Dalam pengelolaan bioskop, mereka perlu belajar ke Indonesia.

Indonesia telah melewati masa Orde Baru yang otoriter. Sedangkan di Singapura masih berlangsung. Informasi yang Pandji dapatkan di sana, kalau ada warga ketahuan terlibat demonstrasi dipastikan tidak akan mendapat pekerjaan (hlm. 37).

Dalam buku setebal 282 halaman ini juga diselipkan penjelasan rukun traveling. Perlengkapan yang mesti disiapkan, khususnya untuk berlibur dalam jangka waktu lama seperti yang dilakukan Pandji bersama Mesakke Bangsaku Word Tour (MBWT). (TM)

Senin, 20 April 2015

Kisah Seru Muslimah Traveler

Judul: The Jilbab Traveler
Penulis: Asma Nadia, dkk
Penerbit: Asma Nadia Publishing House
Terbitan: Kelima, Agustus 2014
Tebal: 330 halaman
ISBN: 978-602-9055-13-9
Dimuat di: Malang Post, 28 Februari 2015

Ada yang beranggapan, sangat menderita menjadi seorang muslimah karena gerak geriknya terbatas, hanya terkungkung di dalam rumah. Perempuan Islam dikatakan tak mendapatkan perlakuan yang sama dengan laki-laki. Kiprahnya hanya di sektor domistik.

Namun, anggapan tersebut tak sepenuhnya benar. Setidaknya 16 muslimah telah membuktikan bahwa aurat dari ujung kepala hingga mata kaki bukan penghalang untuk keliling dunia. Bahkan, mereka mampu mempertahankan jilbabnya sekalipun di negara minoritas.

Tapi bukan tanpa tantangan mempertahankan identitas muslimah di negara minoritas muslim, seperti yang dialami De Veha di Canberra, Australia. Ia merasa dimata-matai petugas keamanan saat belanja di mall hanya karena memakai jilbab (hlm. 201). Traveler muslimah yang lain merasakan pemeriksaan lebih berbelit-belit di keimigrasian.

Demikian juga banyak reaksi dari wisatawan saat melihat kemunculan Tria Barmawi berpakaian serba tertutup dari atas sampai bawah saat menikmati keindahan pantai di Republik Dominika, Kepulauan Karibia. Penampilan Tria sangat mencolok karena para turis berbusana terbuka. Bahkan banyak wisatawan wanita yang berenang dan berjemur dalam keadaan topless. Namun, model pakaian Tria mendapat sanjungan dan decak kagum dari seorang pemilik toko di objek wisata tersebut. Tria diajak mampir ke tokonya oleh istri si pemilik toko, dan mengamati dari ujung kepala sampai ujung kaki. Dia mengira pakaian muslimah baju model baru, dan mengaku tertarik untuk membelinya (hlm. 14).

Tak semua muslimah yang pernah tinggal di negara minoritas muslim mengalami diskriminasi. Deby Haryanti Dewi, misalnya, yang mengikuti suaminya menyelesaikan studi S-3 di Belanda. Katanya, muslimah berjilbab di Belanda jauh lebih modis daripada jilbaber di Jerman (hlm. 33).

Demikian juga dengan di Yunani. Tidak ada masalah buat muslimah yang berjilbab, karena orang Yunani sudah terbiasa melihat banyak orang Arab yang berimigrasi dan pakaian serupa juga dikenakan para biarawati (hlm. 111). Apalagi di Timur Tengah, seperti di Suriah, sekalipun jilbab bukan kewajiban (hlm. 47).

Selain masalah pakaian, yang menjadi kendala muslimah traveler adalah tempat ibadah. Dede Mariyah sangat merasakan hal itu di Amerika. Karena jumlah masjid sangat terbatas dan tak ada azan, ada beberapa tempat yang bisa ditempati sholat, seperti taman kota, lobi ruang gedung, fitting room, bahkan pinggir jalan dan tempat parkir (hlm. 107).

Setali tiga uang juga dirasakan Hartati Nurwijaya di Yunani. Di negeri para filosof itu, tempat ibadah bagi kaum muslim cukup langka. Bahkan, di Bandara Internetnasional El Benizelos pun tak disediakan tempat untuk sholat. Biasanya, pendatang muslim melakukan sholat di ruang tunggu bandara (hlm. 110).

Permasalahan lain yang sering dihadapi orang Islam yang berada di negara minoritas yaitu makanan. Di Yunani, misalnya, tidak ada sertifikat halal yang tertera di label makanan apa pun. Hartati mengaku kesulitan mencari makanan halal, karena dewan dipotong tanpa mengindahkan syariat (hlm. 113). Demikian juga dengan pengalaman Asma Nadia di Korea (hlm. 74).

Tidak demikian dengan di Jerman. Beby Haryanti Dewi mengaku sangat mudah menjumpai bistro-bistro orang Timur Tengah yang baik untuk orang Islam. Namun tetap harus hati-hati dengan bistro milik orang Yahudi, sebab sering menjual kebab dari daging babi (hlm. 132).

Demikian juga dengan di Skotlandia. Kata Siwi Mars Wijayanti, toko bahan makanan halal hampir ada di setiap kota (hlm. 162). Di Paris, tutur Rosita Sihombing, komunitas muslim dan makanan halal bertebaran di beberapa titik (hlm. 171).

Sebanyak 18 bab dalam buku The Jilbab Traveler, selain berkisah pengalaman manis mengunjungi objek wisata di luar negeri, juga pengalaman pahit, terutama dengan posisinya sebagai muslimah, seperti memiliki makanan dan tempat ibadah.

Karena pengalaman adalah guru terbaik, penyuka jalan-jalan dan orang yang hendak mengunjungi negara-negara tersebut perlu membaca buku setebal 330 halaman itu. Sehingga, pengalaman pahit 16 penulis tak perlu terulang lagi. Cukup mereka mengecap pahit di negeri orang.

Sangat tidak lucu mengalami peristiwa memalukan seperti yang dialami bokap dan oma teman Beby Haryanti Dewi di Jerman. Akibat yang banyak memiliki wawasan tentang Jerman dan budaya masyarakatnya, mereka harus menderita dan menjadi perhatian banyak pasangan mata akibat tingkah anehnya.

Asma Nadia dengan dibantu Sitaresmi Sidharta memberikan beberapa tips pada tiap bagian akhir bab. Dilengkapi pula dengan kamus obrolan bahasa negara setempat yang biasa dipakai seperti menyapa, menanyakan nama dan suatu tempat.

Minggu, 14 Desember 2014

Cerita Tentang Ho[s]tel

Judul: The Hostel 2
Penulis: Ariy, dkk
Penerbit: B first (Grup Bentang Pustaka)
Terbitan: Juni 2014
Tebal: 212 halaman
ISBN: 978-602-1246-02-3
Dimuat di: Kabar Probolinggo, Kamis 11 Desember 2014

Bukan hanya uang dan daftar tempat wisata yang perlu dipersiapkan sebelum berpelesir. Untuk yang akan berlibur ke luar kota dan harus bermalam di luar rumah, utamanya yang uangnya terbatas, mengetahui seluk beluk tentang hotel, hostel, atau tempat penginapan lainnya harus dipersiapkan jauh-jauh hari sebelum berangkat.

Masalah penginapan tak bisa dianggap remeh, sekalipun tujuan utamanya bukan tidur tapi berlibur memanjakan mata dan menghilangkan kesumpekan. Namun kalau salah pilih tempat bermalam, sekalipun hanya disinggahi dari malam hingga pagi, kenikmatan berpelesir bisa terganggu bahkan berdampak fatal.

Saya pernah mengalami sendiri. Jika mengingat kenangan itu dan cerita yang pernah dialami teman saya di salah satu hotel berbintang di Surabaya, rasanya tak ingin berlibur lagi. Liburan bukan menghilangkan stres, tapi malah menambahkan daftar stres baru.

Ceritanya begini. Pada tahun 2013 lalu, kantor tempat saya bekerja menyelenggarakan rapat di Surabaya, lalu dilanjutkan mendaki gunung Bromo. Memasuki kawasan Bromo, dingin mulai terasa. Tiba di pintu masuk akses gunung Bromo malam hari, sekitar pukul 21.00. Saat keluar dari mobil, badan langsung menggigil.

Rencana awal, setibanya di Bromo, kami langsung menuju puncak Bromo untuk menyaksikan sunrise. Sehingga, jauh-jauh hari sebelum berangkat, panitia tak mempersiapkan tempat penginapan. Namun, rencana di luar dugaan. Kami tak mungkin langsung mendaki, jika tak ingin mati kedinginan menunggu sunrise, apalagi tak bawa tenda.

Penginapan pun dicari. Namun, harga tempat penginapan di sekitar gunung Bromo mahalnya minta ampun. Mobil yang membawa kami terus bergerak tak tentu arah dan sesekali tersesat untuk mencari tempat penginapan murah plus dekat Bromo. Niat untuk menyaksikan sunrise belum surut.

Lelah, lapar, dan dingin makin terasa, namun belum juga menjumpai tempat penginapan. Teman yang duduk di jok belakang menyerah. Jengkel. Ia mengeluarkan opsi pulang saja. Sebagian yang lain mengeluarkan ide istirahat di dalam mobil hingga matahari menjelang terbit. Mayoritas anggota rombongan menolak dua opsi itu.

Setelah lelah mencari tempat penginapan akhirnya dapat juga yang sesuai dengan ketebalan kantong berkat bantuan warga setempat. Kami tak bisa memejamkan mata sekalipun lelah. Kamarnya sempit, ranjang tempat dua orang ditempati tiga sampai empat orang, plus ruangannya bau. Tempatnya tak beraura, namun banyak orang yang masuk-keluar.

Pagi hari setelah turun dari Bromo, kami baru tahu kenapa tempat yang saya tinggali begitu ramai sekalipun tengah malam. Tempat yang saya tumpangi itu ternyata WC umum yang di dalamnya ada beberapa tempat tidur. Orang yang masuk-keluar untuk membuang sampah dalam perutnya.

Berbeda dengan yang dialami teman saya di hotel berbintang. Ia tak bisa mandi, karena tak ada gayung di kamar mandi. Yang ada hanya bathtube, WC duduk, dan peralatan mandi. Sebelumnya, ia tak pernah menginap di hotel. Ia cari penjual gayung di luar hotel untuk mandi, tapi tak dapat. Akhirnya ia bisa mandi berkat gelas yang ada di dalam kamar hotel.

Yang lebih gokil lagi, saat check out, resepsiones menyodorkan secarik kertas dan memintanya membayar sejumlah uang. Ia telah menghabisikan makanan ringan di minibar yang dikira termasuk fasilitas hotel. Ia sangat heran karena snack yang disantap harganya berlipat-lipat dibandingkan di luar hotel.

Pengalaman serupa rupanya tak hanya dialami saya dan teman saya di atas. Dan tak hanya terjadi di Indonesia rupanya. Demikian yang dirasakan 18 penulis The Ho[s]tel 2 diberbagai tempat penginapan, mulai kelas anak kos hingga tingkat bos.

Dari buku terbitan B first setebal 212 halaman itu, pembaca bisa belajar dari pengalaman orang lain dalam urusan penginapan. Hal ini selaras dengan kata orang bijak bahwa pengalaman adalah guru terbaik. Ditambah tiap akhir cerita diselipkan beberapa tips.

Misalnya terkait dengan pengalaman saya menginap di WC, Quratul Ayun yang pernah mengalami insiden lebih tragis di Bromo menyarankan jangan mudah percaya kepada teman baru. Kalau pada akhirnya harus berurusan dengan orang yang baru kenal, jangan lupa minta alamat, nomor ponsel, dan catat pelat nomor kendaraan (hlm. 89).

Buku itu lebih seru dari buku The Ho[s]tel 1 (September 2013) yang hanya ditulis Ariy dan Sony, karena ditulis banyak orang dengan pengalaman dan tema yang variatif. Dalam buku itu ada pengalaman serem, seru, gokil.