Judul: Pemimpin Cinta: Mengelola Sekolah, Guru, dan Siswa dengan Pendekatan Cinta
Penulis: Edi Sutarto
Penerbit: Kaifa (PT Mizan Pustaka)
Terbitan: I Februari 2015
Tebal: 377 halaman
ISBN: 978-979-433-873-5
Dimuat di: Malang Post, 23 Agustus 2015
Kemajuan sebuah pendidikan sangat ditentukan oleh tiga elemen, yaitu guru, wali, dan siswa. Sekalipun ketiganya memiliki tugas tak sama tapi harus sinergi dan saling menopang. Ibarat sebuah becak, jika di antara ketiganya ada yang tak kompak, jalannya akan terseok bahkan tak akan bisa mencapai tujuan.
Pembenahan tiga elemen tersebut program awal dan utama yang dilakukan Edi Sutarto setelah terpilih sebagai Direktur Sekolah Islam Athirah, Sulawesi Selatan, pada tahun 2011. Sekalipun yang diubah manusia dan karakternya, karena dilakukan dengan cinta dalam waktu cepat menuai keberhasilan.
Awal mula memimpin Sekolah Islam Athirah, 1 April 2011, Edi mengamati sekolah dan perilaku manusianya kurang mencerminkan visi sekolah sebagai lembaga pendidikan unggulan berciri Islam, berjiwa nasional, dan berwawasan global. Sampah berserakan, coretan vandalitas di mana-mana, dan orang-orang terlambat masuk kerja atau sekolah.
Dalam satu hari, di satuan pendidikan Sekolah Islam Athirah, siswa yang telat hadir ke sekolah sebanyak 92 orang dan durasi yang paling lama adalah telat tiga jam. Pada hari kedua 86 orang. Hari-hari berikutnya selama sebulan kondisinya tak membaik. Bahkan, mereka juga senang bolos (hlm. 214).
Konsep aksi perubahan untuk mengubah perilaku tersebut melalui melihat, mengerjakan, dan merasakan atau yang oleh Edi Sutarto diberi nama see-do-get. Prinsip konsep ini: Pertama , apa yang dilihat akan mempengaruhi apa yang akan dilakukan dan apa yang dilakukan akan menjadi apa yang didapatkan.
Kedua, untuk meraih kesuksesan siswa, sikap dan perilaku yang ditampilkan guru semestinya menunjukkan upaya penguatan. Ketiga, pemimpin di sekolah harus menjadi model dan teladan utama bagi guru, karyawan, dan siswa (hlm. 152).
Dari prinsip yang ketiga, Edi sebagai rule model. tak gengsi memungut sampah meski memakai jas dan dasi sejauh mata masih bisa menjangkau. Daripada menginstruksikan guru dan karyawan menegur siswa yang melakukan coretan vandalitas, ia lebih memilih mengajak teknisi dan terlibat langsung mengecat kembali. Saat ini, hal itu semua telah dilakukan dan menjadi kesadaran siswa sendiri.
Untuk memberi contoh kedisiplinan, sebelum pukul 06.30 WITa, Edi telah siap menyalami kedatangan orang-orang di sekolah. Tindakan tersebut lalu diikuti guru dan karyawan. Namun pada awalnya menuai resistensi dari para guru karena kebijakan harus sudah tiba di sekolah pada pukul 06.45 WITa dipandang sangat menzalimi.
Dalam satu semester sejak kebijakan tersebut diterapkan, tak ada lagi guru dan karyawan yang datang terlambat. Dan pada tahun kedua, para guru dan karyawan berkomitmen duduk bersama di ruang guru pukul 06.30 WITa. Selama lima belas menit menunggu masuk kelas, pada hari Senin-Kamis, mereka menghafal Al Qur'an, maksimal menghafal tiga ayat dalam satu hari. Pada hari Jumat tadabur terhadap ayat yang dihafal (hlm. 161).
Aktivitas menghafal Al Qur'an tersebut kemudian menjadi program unggulan sebagai strategi pembentukan karakter siswa. Targetnya, untuk siswa TK mampu membaca dan menghafal surat-surat pendek, SD mampu membaca dengan tartil dan menghafal juz 30, SMP menghafal dan mentadaburi juz 29, SMA menghafal dan mendataburi juz 28 (hlm. 224-225).
Kepada para wali siswa, Edi memberi pelatihan-pelatihan dan kegiatan yang menyentuh langsung untuk lebih peduli dan memberi perhatian special kepada putra-putrinya. Program yang sangat nyata yaitu Sehari Bersama Ayah dan Sehari Bersama Orangtua.
Perubahan tiga elemen tersebut dalam beberapa tahun kemudian sangat mempengaruhi kecerdasan intelektual dengan indikator dalam satu tahun pelajaran Sekolah Islam Athirah berhasil menyabet 81 lomba akademik dan non akademik dari tingkat kota hingga internasional.
Indikator kecerdasan spiritual siswa tercermin dari kesadaran menjalankan sunah Rasul berupa menjaga wudu, salah berjemaah, salat tahiyatul masjid, salat sunah sunah qabliyah dan bakdiyah, salah dhuha, salat tahajud, tadarus harian, sedekah, puasa Senin dan Kamis, dan puasa tiga hari pertengahan bulan.
Kuatnya kecerdasan emosional siswa dapat dirasakan dari kesadaran siswa menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan. Bahkan, pelaksanaan ujian tak perlu diawasi guru, sepenuhnya dipasrahkan kepada siswa.
Buku Pemimpin Cinta merangkum strategi, dinamika, dan prestasi buah dari seni kepemimpinan Edi Sutarto menjadi Direktur Sekolah Islam Athirah. Membaca buku setebal 377 halaman mengajak imajinasi pembaca menikmati setiap sudut ruangan sekolah Athirah.
Dari membaca buku terbitan Kaifa, pembaca memperoleh wawasan seperti melakukan studi komparatif langsung ke Sekolah Islam Athirah. Dilengkapi pula beberapa lampiran penilaian program yang bisa diadopsi di sekolah lain. Buku kaya pengetahuan yang perlu dibaca pengelola sekolah dan guru.
Tampilkan postingan dengan label parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label parenting. Tampilkan semua postingan
Kamis, 03 September 2015
Bejalar Manajemen Sekolah dari Athirah
Label:
parenting,
pendidikan
Senin, 24 Agustus 2015
Tradisi Pendidikan Orang Yahudi
Judul: Kupas Tuntas Rahasia Belajar Orang Yahudi
Penulis: Diandra Wicaksono
Penerbit: Diva Press, Yogyakarta
Terbitan: Pertama, Mei 2015
Tebal: 184 halaman
ISBN: 978-602-255-890-3
Dimuat di: Koran Madura, 21 Agustus 2015
Kecerdasan orang Yahudi memang bukan kebetulan apalagi mitos, tapi fakta yang dapat dibuktikan secara ilmiah. Orang Yahudi memiliki kecerdasan otak (IQ) tingkatan 140 atau sekitar enam kali dari tingkat kecerdasan golongan lain. Dengan kecerdasan tersebut mampu mengungguli 99,99% seluruh penduduk dunia (hlm. 17-18).
Insan-insan berkualitas keturunan Yahudi sekalipun secara kuantitas dalam posisi minoritas, namun mampu menyabet penghargaan bergengsi dan menguasai posisi strategis. Di Amerika Serikat penduduk Yahudi tak lebih dari 3%, tapi sejak tahun 1950 hingga sekarang telah berhasil menyabet 27% nobel dalam bidang sains (hlm. 52).
Penduduk Yahudi di Inggris pada tahun 2011 hanya 300 ribu orang, tapi berhasil menguasai parlemen Inggris yaitu sekitar 52 orang. Demikian juga di Prancis. Sekalipun secara kuantitas penduduk Yahudi tak lebih dari 1% tapi berhasil menduduki 18 kursi parlemen Prancis (hlm. 96).
Fakta tersebut tidak lepas dari kepedulian masyarakat Yahudi akan pentingnya pendidikan. Orang Yahudi memiliki beberapa tradisi belajar yang sangat menunjang terhadap lahirnya tunas-tunas bangsa beriptek tinggi, yang mungkin tak dimiliki bangsa lain. Trik belajar Orang Yahudi penting ditiru bangsa lain yang ingin menjadi raja iptek berikutnya.
Perhatian pendidikan orang Yahudi terlihat sejak memilih calon pendamping hidup. Orang Yahudi hanya mau menikah dengan orang Yahudi, khususnya keturunan kaum Ashkenazim, untuk memelihara gen cerdas yang tidak mampu ditandingi oleh bangsa-bangsa lain, atau setidaknya dengan orang bangsa lain tapi memiliki kecerdasan tinggi (hlm. 43).
Semasa hamil, ibu-ibu Yahudi memiliki tradisi mendengarkan dan bermain musik, serta mengerjakan soal matematika untuk merangsang calon buah hati agar kecerdasannya tumbuh pesat. Telah menjadi pemandangan umum perempuan Yahudi yang lagi hamil tak bosan membawa buku matematika dan mengerjakannya di mana pun berada (hlm. 33).
Selain memilih makanan yang mengandung protein tinggi, menjauh dari asap rokok dan minum-minuman keras. Telah menjadi kesepakatan tak tertulis di kalangan masyarakat Yahudi bahwa perokok apabila melihat ibu hamil di jalan raya, orang itu langsung mematikan rokoknya sekalipun tidak saling kenal (hlm. 38).
Anak-anak orang Yahudi sejak kecil (usia 5-13 tahun) sudah diwajibkan menguasai minimal tiga bahasa, yaitu bahasa Inggris, Arab, dan bahasa Hebrew (hlm. 55). Pelajaran wajib lainnya adalah matematika berbasis perniagaan, ilmu pengetahuan alam (IPA), olahraga, dan sains (hlm. 64-67).
Sebagaimana judulnya, Buku Kupas Tuntas Rahasia Belajar Orang Yahudi melacak rahasia pendidikan orang Yahudi. Diandra Wicaksono mencarikan jawaban kenapa orang Yahudi bisa memenangkan 29% hadiah nobel dalam bidang sastra, kedokteran, fisika, dan kimia pada paruh kedua abad 20?
Diandra menegaskan, tradisi orang Yahudi yang bisa ditiru terkait dengan pengasuhan dan pendidikan anak, tak terkait dengan keyakinan. Sehingga, pemeluk agama lain tak perlu alergi apalagi fobia untuk membaca buku terbitan Penerbit Diva Press setebal 184 halaman.
Namun, terdapat pengulangan susunan beberapa halaman seperti pada halaman 49, 50, 63, dan 64. Juga loncat halaman yang sangat fatal pada halaman 59 dan 60.
Penulis: Diandra Wicaksono
Penerbit: Diva Press, Yogyakarta
Terbitan: Pertama, Mei 2015
Tebal: 184 halaman
ISBN: 978-602-255-890-3
Dimuat di: Koran Madura, 21 Agustus 2015
Ilmu pengetahuan dan teknologi modern sebagian besar hasil karya orang-orang Yahudi. Sebut saja misalnya jejaring sosial Facebook dan Blackbarry, pendiriya yaitu Mark Zuckerberg. Selain dua orang itu masih banyak nama-nama lain yang memiliki peran penting dalam pengembangan iptek. Buku ini mengungkap tradisi pendidikan mereka.
Kecerdasan orang Yahudi memang bukan kebetulan apalagi mitos, tapi fakta yang dapat dibuktikan secara ilmiah. Orang Yahudi memiliki kecerdasan otak (IQ) tingkatan 140 atau sekitar enam kali dari tingkat kecerdasan golongan lain. Dengan kecerdasan tersebut mampu mengungguli 99,99% seluruh penduduk dunia (hlm. 17-18).
Insan-insan berkualitas keturunan Yahudi sekalipun secara kuantitas dalam posisi minoritas, namun mampu menyabet penghargaan bergengsi dan menguasai posisi strategis. Di Amerika Serikat penduduk Yahudi tak lebih dari 3%, tapi sejak tahun 1950 hingga sekarang telah berhasil menyabet 27% nobel dalam bidang sains (hlm. 52).
Penduduk Yahudi di Inggris pada tahun 2011 hanya 300 ribu orang, tapi berhasil menguasai parlemen Inggris yaitu sekitar 52 orang. Demikian juga di Prancis. Sekalipun secara kuantitas penduduk Yahudi tak lebih dari 1% tapi berhasil menduduki 18 kursi parlemen Prancis (hlm. 96).
Fakta tersebut tidak lepas dari kepedulian masyarakat Yahudi akan pentingnya pendidikan. Orang Yahudi memiliki beberapa tradisi belajar yang sangat menunjang terhadap lahirnya tunas-tunas bangsa beriptek tinggi, yang mungkin tak dimiliki bangsa lain. Trik belajar Orang Yahudi penting ditiru bangsa lain yang ingin menjadi raja iptek berikutnya.
Perhatian pendidikan orang Yahudi terlihat sejak memilih calon pendamping hidup. Orang Yahudi hanya mau menikah dengan orang Yahudi, khususnya keturunan kaum Ashkenazim, untuk memelihara gen cerdas yang tidak mampu ditandingi oleh bangsa-bangsa lain, atau setidaknya dengan orang bangsa lain tapi memiliki kecerdasan tinggi (hlm. 43).
Semasa hamil, ibu-ibu Yahudi memiliki tradisi mendengarkan dan bermain musik, serta mengerjakan soal matematika untuk merangsang calon buah hati agar kecerdasannya tumbuh pesat. Telah menjadi pemandangan umum perempuan Yahudi yang lagi hamil tak bosan membawa buku matematika dan mengerjakannya di mana pun berada (hlm. 33).
Selain memilih makanan yang mengandung protein tinggi, menjauh dari asap rokok dan minum-minuman keras. Telah menjadi kesepakatan tak tertulis di kalangan masyarakat Yahudi bahwa perokok apabila melihat ibu hamil di jalan raya, orang itu langsung mematikan rokoknya sekalipun tidak saling kenal (hlm. 38).
Anak-anak orang Yahudi sejak kecil (usia 5-13 tahun) sudah diwajibkan menguasai minimal tiga bahasa, yaitu bahasa Inggris, Arab, dan bahasa Hebrew (hlm. 55). Pelajaran wajib lainnya adalah matematika berbasis perniagaan, ilmu pengetahuan alam (IPA), olahraga, dan sains (hlm. 64-67).
Sebagaimana judulnya, Buku Kupas Tuntas Rahasia Belajar Orang Yahudi melacak rahasia pendidikan orang Yahudi. Diandra Wicaksono mencarikan jawaban kenapa orang Yahudi bisa memenangkan 29% hadiah nobel dalam bidang sastra, kedokteran, fisika, dan kimia pada paruh kedua abad 20?
Diandra menegaskan, tradisi orang Yahudi yang bisa ditiru terkait dengan pengasuhan dan pendidikan anak, tak terkait dengan keyakinan. Sehingga, pemeluk agama lain tak perlu alergi apalagi fobia untuk membaca buku terbitan Penerbit Diva Press setebal 184 halaman.
Namun, terdapat pengulangan susunan beberapa halaman seperti pada halaman 49, 50, 63, dan 64. Juga loncat halaman yang sangat fatal pada halaman 59 dan 60.
Label:
parenting,
pendidikan,
perempuan,
yahudi
Selasa, 05 Mei 2015
Meneladani Pribadi Ahli Surga
Judul: 10 Kisah Sahabat yang Dijamin Masuk Surga
Penulis: Nita Candra
Penerbit: Tiga Ananda
Terbitan: Pertama, Oktober 2014
Tebal: 80 halaman
ISBN: 978-979-045-795-9
Dimuat di: Kabar Madura, 30 April 2015
Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Az Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa'ad bin Abi Waqqash, Said bin Zaid, dan Abu Ubaidillah bin Jarrah, dikenal memiliki keimanan yang sangat kuat. Terdepan dalam membantu Nabi Muhammad SAW menyebarluaskan Islam.
Selain para nabi dan rasul, mereka telah mengantongi tiket masuk surga. Saat kelak manusia dibagi menjadi dua golongan, yaitu penghuni surga dan neraka, mereka dijamin selamat dari neraka. Hal itu berdasarkan sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Muslim (Shahih Muslim hadits nomor 3747).
Jika kita tak mungkin bisa meniru persis seperti nabi dan rasul yang terpelihara dari dosa dan mendapat bimbingan langsung dari Allah SWT, dari orang-orang saleh yang sebagian memiliki masa lalu kelam seperti Umar bin Khattab, kita bisa mengambil hikmah dan teladan dengan harapan temasuk dalam barisan ahli surga. Surga dunia hingga akhirat.
Mereka adalah pribadi-pribadi yang hidup sederhana, jujur, berhati-hati dengan makanan haram, berhati lembut, rendah hati, pelindung kaum lemah dan teraniaya, dermawan dalam membelanjakan kekayaan, dan pemberani dalam berjuang. Inilah keteladanan yang mulai tergerus dari dalam diri kita.
Abu Bakar, selain dikenal sebagai sosok yang jujur bijaksana, dan mencintai kebenaran, beliau sangat berhati-hati dengan makanan. Abu Bakar selalu menanyakan asal usul makanan dan minuman yang diterima sebelum dimakan.
Pernah suatu ketika, Abu Bakar langsung meminum susu pemberian hamba sahayanya tanpa terlebih dahulu menanyakan asal usulnya. Saat mengetahui susu tersebut dibeli dari upah hasil meramal, beliau langsung memuntahkan susu yang telah diminum dan beristighfar (hlm. 15).
Untuk menjaga akuntabilitas pemerintah, Umar bin Khattab membuat langkah baru dalam masa pemerintahnya. Beliau memisahkan kekuatan kekhalifahan (eksekutif) dengan jabatan penegak peradilan (yudikatif). Pada masa khalifah sebelumnya, Abu Bakar, para pejabat pemerintahan merangkap sebagai hakim (hlm. 22).
Sementara Ali bin Abi Thalib, selain dikenal sebagai sahabat dan menantu Nabi Muhammad yang tangguh dan cerdas, beliau pengemban amanah yang baik. Kekuatan saat menjadi khalifah keempat tidak dimanfaatkan untuk kesenangan pribadi dan memperkaya diri.
Suatu ketika, putri Ali bin Abi Thalib mengunjungi baitul mal dan meminta izin kepada penjaganya untuk meminjam kalung yang tersimpan di dalamnya. Saat mengetahui perhiasan tersebut dipinjam dari baitul mal untuk dipakai saat hari raya, belaiu langsung menegur sang penjaga baitul mal dan meminta untuk segera menariknya kembali (hlm. 39).
Berbeda dengan Abdurrahman bin Auf. Sahabat tajir tersebut selain turun langsung ke medan perang juga tidak segan-segan menyumbangkan kekayaan hasil perdagangan untuk jihad.
Selain uang dalam jumlah besar yang disumbangkan berkali-kali, Abdurrahman bin Auf juga menyumbangkan ratusan kuda untuk perjuangan jihad. Beliau menyumbangkan separuh kekayaannya kepada Nabi Muhammad demi kepentingan umat (hlm. 57).
Setali tiga uang juga dilakukan Thalhah bin Ubaidillah. Beliau termasuk sahabat yang kaya ketika itu, sekalipun tak mendapat ilmu kewirausahaan langsung dari Nabi Muhammad sebagaimana Abdurrahman bin Auf. "Aku tidak pernah melihat orang yang lebih dermawan daripada Thalhah," testimoni Jabir bin Abdullah (hlm. 48).
Kisah-kisah dalam buku 10 Kisah Sahabat yang Dijamin Masuk Surga amat sangat baik diceritakan kepada anak-anak yang dalam tahap pembentukan karakter. Dengan berharap kepada generasi bangsa memiliki pribadi seperti sahabat Nabi Muhammad, masih ada peluang untuk Indonesia jaya.
Buku tersebut dikemas dengan bahasa sederhana namun menarik. Selain dilengkapi dengan refleksi pada tiap kisah sahabat, juga disertai ilustrasi full color yang tak akan membuat pembaca pemula merasa jenuh dan bosan.
Penulis: Nita Candra
Penerbit: Tiga Ananda
Terbitan: Pertama, Oktober 2014
Tebal: 80 halaman
ISBN: 978-979-045-795-9
Dimuat di: Kabar Madura, 30 April 2015
Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Az Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa'ad bin Abi Waqqash, Said bin Zaid, dan Abu Ubaidillah bin Jarrah, dikenal memiliki keimanan yang sangat kuat. Terdepan dalam membantu Nabi Muhammad SAW menyebarluaskan Islam.
Selain para nabi dan rasul, mereka telah mengantongi tiket masuk surga. Saat kelak manusia dibagi menjadi dua golongan, yaitu penghuni surga dan neraka, mereka dijamin selamat dari neraka. Hal itu berdasarkan sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Muslim (Shahih Muslim hadits nomor 3747).
Jika kita tak mungkin bisa meniru persis seperti nabi dan rasul yang terpelihara dari dosa dan mendapat bimbingan langsung dari Allah SWT, dari orang-orang saleh yang sebagian memiliki masa lalu kelam seperti Umar bin Khattab, kita bisa mengambil hikmah dan teladan dengan harapan temasuk dalam barisan ahli surga. Surga dunia hingga akhirat.
Mereka adalah pribadi-pribadi yang hidup sederhana, jujur, berhati-hati dengan makanan haram, berhati lembut, rendah hati, pelindung kaum lemah dan teraniaya, dermawan dalam membelanjakan kekayaan, dan pemberani dalam berjuang. Inilah keteladanan yang mulai tergerus dari dalam diri kita.
Abu Bakar, selain dikenal sebagai sosok yang jujur bijaksana, dan mencintai kebenaran, beliau sangat berhati-hati dengan makanan. Abu Bakar selalu menanyakan asal usul makanan dan minuman yang diterima sebelum dimakan.
Pernah suatu ketika, Abu Bakar langsung meminum susu pemberian hamba sahayanya tanpa terlebih dahulu menanyakan asal usulnya. Saat mengetahui susu tersebut dibeli dari upah hasil meramal, beliau langsung memuntahkan susu yang telah diminum dan beristighfar (hlm. 15).
Untuk menjaga akuntabilitas pemerintah, Umar bin Khattab membuat langkah baru dalam masa pemerintahnya. Beliau memisahkan kekuatan kekhalifahan (eksekutif) dengan jabatan penegak peradilan (yudikatif). Pada masa khalifah sebelumnya, Abu Bakar, para pejabat pemerintahan merangkap sebagai hakim (hlm. 22).
Sementara Ali bin Abi Thalib, selain dikenal sebagai sahabat dan menantu Nabi Muhammad yang tangguh dan cerdas, beliau pengemban amanah yang baik. Kekuatan saat menjadi khalifah keempat tidak dimanfaatkan untuk kesenangan pribadi dan memperkaya diri.
Suatu ketika, putri Ali bin Abi Thalib mengunjungi baitul mal dan meminta izin kepada penjaganya untuk meminjam kalung yang tersimpan di dalamnya. Saat mengetahui perhiasan tersebut dipinjam dari baitul mal untuk dipakai saat hari raya, belaiu langsung menegur sang penjaga baitul mal dan meminta untuk segera menariknya kembali (hlm. 39).
Berbeda dengan Abdurrahman bin Auf. Sahabat tajir tersebut selain turun langsung ke medan perang juga tidak segan-segan menyumbangkan kekayaan hasil perdagangan untuk jihad.
Selain uang dalam jumlah besar yang disumbangkan berkali-kali, Abdurrahman bin Auf juga menyumbangkan ratusan kuda untuk perjuangan jihad. Beliau menyumbangkan separuh kekayaannya kepada Nabi Muhammad demi kepentingan umat (hlm. 57).
Setali tiga uang juga dilakukan Thalhah bin Ubaidillah. Beliau termasuk sahabat yang kaya ketika itu, sekalipun tak mendapat ilmu kewirausahaan langsung dari Nabi Muhammad sebagaimana Abdurrahman bin Auf. "Aku tidak pernah melihat orang yang lebih dermawan daripada Thalhah," testimoni Jabir bin Abdullah (hlm. 48).
Kisah-kisah dalam buku 10 Kisah Sahabat yang Dijamin Masuk Surga amat sangat baik diceritakan kepada anak-anak yang dalam tahap pembentukan karakter. Dengan berharap kepada generasi bangsa memiliki pribadi seperti sahabat Nabi Muhammad, masih ada peluang untuk Indonesia jaya.
Buku tersebut dikemas dengan bahasa sederhana namun menarik. Selain dilengkapi dengan refleksi pada tiap kisah sahabat, juga disertai ilustrasi full color yang tak akan membuat pembaca pemula merasa jenuh dan bosan.
Label:
islam,
kisah,
parenting,
pendidikan
Kamis, 19 Maret 2015
Tantangan Mendidik Anak di Era Digital
Judul: Parenting With Heart
Penulis: Elia Daryati dan Anna Farida
Penerbit: Kaifa
Terbitan: Kedua, Juli 2014
Tebal: 192 halaman
ISBN: 978-602-7870-31-4
Dimuat di: Majalah Wanita Puspa, Edisi 50, Maret 2015
Mendidik anak di era digital ini, memiliki tantangan tersendiri. Buah hati tidak bisa dididik sebagaimana kakek-nenek dulu mendidik ayah-bunda. Imam Ali bin Abi Thalib berkata, didiklah anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu.
Pola pengasuhan anak harus menyesuaikan perkembangan zaman, dan orangtua harus peka dengan hal ini. Orangtua saat ini tidak bakal lagi menemukan sepucuk surat cinta yang tersembunyi di kamar anak, dan mungkin juga mulai jarang mendengar anak teleponan. Sekarang sudah zaman online.
Pengawasan orangtua terhadap anak tidak cukup hanya memantau gerak gerik fisiknya. Mungkin aktivitasnya hanya di dalam rumah yang dianggap tidak membahayakan, namun interaksi dan pergaulannya tidak bisa dibatasi tingginya pagar rumah dengan hanya mengandalkan telepon pintar yang tersambung jaringan internet.
Pengalaman seorang ibu yang anaknya baru berumur 8 tahun sudah kecanduan film porno tidak perlu terulang lagi. Awalnya, anak mengaku menonton secara tidak sengaja saat menonton film kartun, karena selalu berulang akhirnya ketagihan. Kisah itu terungkap dari cerita adiknya yang berusia 4 tahun (hlm. 81).
Oleh karenanya, orangtua tidak bisa menutup diri dari perubahan. Untuk memantau pergaulan anak, orangtua perlu meluangkan waktu untuk mengenal kehidupan mayanya, mengetahui lingkungan teman-temannya, dan memantau laman yang diakses. Tapi tidak perlu sampai jadi stalker (pengintai) atau hacker (peretas) untuk memantau aktivitas online (hlm. 171).
Alih-alih mengawasi, jangan sampai orangtua lebih rajin online daripada anak. Termasuk juga waktu bersama keluarga jangan sampai digantikan oleh kesibukan jempol menyentuh layar gadget masing-masing, sebagaimana yang diilustrasikan dengan keluarga Pak Hutama.
Pada hari minggu, saat semua anggota keluarga libur dari aktivitas rutinnya, Pak Hutama sibuk dengan gadget-nya mengecek email dan membuka koran online. Di sebelahnya, Bu Hutama sibuk dengan notifikasi di sejumlah grup di Facebook.
Dua meter dari Bu Hutama, ada Neken (5 tahun), putri bungsunya yang sedang asyik dengan game memasak. Di hadapannya ada Bayu (12 tahun) yang tak henti berbalas kicauan di akun Twitter-nya. Di dapur sendiri, Nina sedang antusias menjajal fitur baru Kako Talk dengan teman-teman sekelasnya. Kesibukan masing-masing tersebut berlanjut di meja makan dan dalam mobil (hlm. 178).
Oleh karenanya, orangtua perlu membuat kesepakatan kapan boleh mengakses internet, dan orangtua boleh melihat apa yang anak lakukan. Artinya, orangtua boleh menjadi temannya di jejaring sosial tetapi tetap menjaga jarak.
Ajak mereka memahami bahwa dunia maya bukan dunia khayal semata, melainkan sebuah media komunikasi. Ada manusia "sungguhan" yang menggerakkan akun media sosial, dan manusia itu bisa baik dan bisa pula jahat (hlm. 172).
Buku Parenting With Heart memberikan panduan cara membesarkan, mengasuh, dan mendidik anak tanpa cemberut, omelan, apalagi pukulan, dengan melibatkan semua organ tubuh, termasuk hati.
Isi buku terbitan Kaifa setebal 192 halaman tersebut dibagi menjadi empat bagian; (1) konsep diri dalam mendidik anak, (2) kometmen orangtua dalam mengasuh, (3) cara membangun karakter baik dan membuang karakter buruk, (4) sikap menghadapi remaja.
Penulis: Elia Daryati dan Anna Farida
Penerbit: Kaifa
Terbitan: Kedua, Juli 2014
Tebal: 192 halaman
ISBN: 978-602-7870-31-4
Dimuat di: Majalah Wanita Puspa, Edisi 50, Maret 2015
Mendidik anak di era digital ini, memiliki tantangan tersendiri. Buah hati tidak bisa dididik sebagaimana kakek-nenek dulu mendidik ayah-bunda. Imam Ali bin Abi Thalib berkata, didiklah anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu.
Pola pengasuhan anak harus menyesuaikan perkembangan zaman, dan orangtua harus peka dengan hal ini. Orangtua saat ini tidak bakal lagi menemukan sepucuk surat cinta yang tersembunyi di kamar anak, dan mungkin juga mulai jarang mendengar anak teleponan. Sekarang sudah zaman online.
Pengawasan orangtua terhadap anak tidak cukup hanya memantau gerak gerik fisiknya. Mungkin aktivitasnya hanya di dalam rumah yang dianggap tidak membahayakan, namun interaksi dan pergaulannya tidak bisa dibatasi tingginya pagar rumah dengan hanya mengandalkan telepon pintar yang tersambung jaringan internet.
Pengalaman seorang ibu yang anaknya baru berumur 8 tahun sudah kecanduan film porno tidak perlu terulang lagi. Awalnya, anak mengaku menonton secara tidak sengaja saat menonton film kartun, karena selalu berulang akhirnya ketagihan. Kisah itu terungkap dari cerita adiknya yang berusia 4 tahun (hlm. 81).
Oleh karenanya, orangtua tidak bisa menutup diri dari perubahan. Untuk memantau pergaulan anak, orangtua perlu meluangkan waktu untuk mengenal kehidupan mayanya, mengetahui lingkungan teman-temannya, dan memantau laman yang diakses. Tapi tidak perlu sampai jadi stalker (pengintai) atau hacker (peretas) untuk memantau aktivitas online (hlm. 171).
Alih-alih mengawasi, jangan sampai orangtua lebih rajin online daripada anak. Termasuk juga waktu bersama keluarga jangan sampai digantikan oleh kesibukan jempol menyentuh layar gadget masing-masing, sebagaimana yang diilustrasikan dengan keluarga Pak Hutama.
Pada hari minggu, saat semua anggota keluarga libur dari aktivitas rutinnya, Pak Hutama sibuk dengan gadget-nya mengecek email dan membuka koran online. Di sebelahnya, Bu Hutama sibuk dengan notifikasi di sejumlah grup di Facebook.
Dua meter dari Bu Hutama, ada Neken (5 tahun), putri bungsunya yang sedang asyik dengan game memasak. Di hadapannya ada Bayu (12 tahun) yang tak henti berbalas kicauan di akun Twitter-nya. Di dapur sendiri, Nina sedang antusias menjajal fitur baru Kako Talk dengan teman-teman sekelasnya. Kesibukan masing-masing tersebut berlanjut di meja makan dan dalam mobil (hlm. 178).
Oleh karenanya, orangtua perlu membuat kesepakatan kapan boleh mengakses internet, dan orangtua boleh melihat apa yang anak lakukan. Artinya, orangtua boleh menjadi temannya di jejaring sosial tetapi tetap menjaga jarak.
Ajak mereka memahami bahwa dunia maya bukan dunia khayal semata, melainkan sebuah media komunikasi. Ada manusia "sungguhan" yang menggerakkan akun media sosial, dan manusia itu bisa baik dan bisa pula jahat (hlm. 172).
Buku Parenting With Heart memberikan panduan cara membesarkan, mengasuh, dan mendidik anak tanpa cemberut, omelan, apalagi pukulan, dengan melibatkan semua organ tubuh, termasuk hati.
Isi buku terbitan Kaifa setebal 192 halaman tersebut dibagi menjadi empat bagian; (1) konsep diri dalam mendidik anak, (2) kometmen orangtua dalam mengasuh, (3) cara membangun karakter baik dan membuang karakter buruk, (4) sikap menghadapi remaja.
Label:
parenting,
pendidikan
Minggu, 22 Februari 2015
Memetakan Potensi Buah Hati
Judul: Rahasia Ayah Edy Memetakan Potensi Unggul Anak
Penulis: Ayah Edy
Penerbit: Noura Books
Terbitan: Kelima, 2014
Tebal: 216 halaman
ISBN: 978-602-1606-38-4
Dimuat di: Radar Surabaya, Minggu 22 Februari 2015
Orangtua cenderung mendidik buah hatinya untuk menjadi seperti diri mereka atau setidaknya sesuai dengan keinginan mereka. Biasanya, anak dokter dididik menjadi dokter sekalipun sang buah hati tidak memiliki ketertarikan sama sekali pada dunia medis.
Maksud hati orangtua sebenarnya baik, yaitu demi masa depan buah hati. Namun caracara demikian tak bisa dibenarkan. Orangtua dalam mendidik anak, utamanya di era derasnya teknologi informasi ini, tidak bisa mengadopsi cara kakek-nenek mendidik ayah-bunda. Mendidik anak dengan “pemaksaan” harus segera diakhiri.
Sadari bahwa setiap anak lahir fitrah dengan membawa potensi unggul masing-masing. Orangtua seharusnya mendidik titipan Tuhan tersebut sesuai keinginan Tuhannya yang direpresentasikan melalui minat (passion) buah hati. Tugas orangtua adalah menemukan dan memetakan potensi unggul dalam diri anak.
Pemetaan potensi ibarat sebuah rute. Petunjuk agar tak tersesat dalam menggapai tujuan atau kesukesan. Orangtua yang mampu memetakan potensi anak berarti telah 50 persen mengantarkan sang buah hati mencapai pintu gerbang keberhasilan. Tanpa pemetaan potensi, sekolah jadi bebas dan memenekuni pelajaran yang tidak disukai.
Sayang, anak tidak lahir dengan stempel di dahinya: “bibit dokter”, “insinyur”, atau “arsitek”. Akibatnya, tak sedikit orangtua yang hanya bisa mengawal pertumbuhan fisik tapi tak mengetahui potensi buah hati. Dari sini riakriak kesalahpahaman anak dan orangtuanya bermula.
Buku Rahasia Ayah Edy Memetakan Potensi Unggul Anak membantu orangtua menemukan potensi unggul anak dan mengarahkannya agar sukses di masa depan. Pembaca buku setebal 194 halaman itu tak akan stres menghadapi anak yang memiliki minat yang berbeda dari keinginan orangtua, termasuk guru dalam menghadapi siswa “nakal”.
Langkah paling awal yang orangtua bisa lakukan untuk memetakan potensi anak adalah menyusun program stimulasi, yaitu memperkenalkan anak pada berbagai macam kegiatan profesi (hlm. 40). Perkenalan segala jenis macam profesi dengan cara menyenangkan dan tanpa intimidasi.
Cara memperkenalkannya bisa melalui buku tentang macam-macam profesi, menonton film, mengunjungi pameran dan museum, menyaksikan berbagai pertunjukan, dan memperkenalkan tokoh-tokoh dari berbagai bidang yang berbeda. Setelah stimulasi dalam jangka waktu yang cukup, berarti anak sudah mengenal sekian banyak ragam profesi.
Penulis: Ayah Edy
Penerbit: Noura Books
Terbitan: Kelima, 2014
Tebal: 216 halaman
ISBN: 978-602-1606-38-4
Dimuat di: Radar Surabaya, Minggu 22 Februari 2015
Orangtua cenderung mendidik buah hatinya untuk menjadi seperti diri mereka atau setidaknya sesuai dengan keinginan mereka. Biasanya, anak dokter dididik menjadi dokter sekalipun sang buah hati tidak memiliki ketertarikan sama sekali pada dunia medis.
Maksud hati orangtua sebenarnya baik, yaitu demi masa depan buah hati. Namun caracara demikian tak bisa dibenarkan. Orangtua dalam mendidik anak, utamanya di era derasnya teknologi informasi ini, tidak bisa mengadopsi cara kakek-nenek mendidik ayah-bunda. Mendidik anak dengan “pemaksaan” harus segera diakhiri.
Sadari bahwa setiap anak lahir fitrah dengan membawa potensi unggul masing-masing. Orangtua seharusnya mendidik titipan Tuhan tersebut sesuai keinginan Tuhannya yang direpresentasikan melalui minat (passion) buah hati. Tugas orangtua adalah menemukan dan memetakan potensi unggul dalam diri anak.
Pemetaan potensi ibarat sebuah rute. Petunjuk agar tak tersesat dalam menggapai tujuan atau kesukesan. Orangtua yang mampu memetakan potensi anak berarti telah 50 persen mengantarkan sang buah hati mencapai pintu gerbang keberhasilan. Tanpa pemetaan potensi, sekolah jadi bebas dan memenekuni pelajaran yang tidak disukai.
Sayang, anak tidak lahir dengan stempel di dahinya: “bibit dokter”, “insinyur”, atau “arsitek”. Akibatnya, tak sedikit orangtua yang hanya bisa mengawal pertumbuhan fisik tapi tak mengetahui potensi buah hati. Dari sini riakriak kesalahpahaman anak dan orangtuanya bermula.
Buku Rahasia Ayah Edy Memetakan Potensi Unggul Anak membantu orangtua menemukan potensi unggul anak dan mengarahkannya agar sukses di masa depan. Pembaca buku setebal 194 halaman itu tak akan stres menghadapi anak yang memiliki minat yang berbeda dari keinginan orangtua, termasuk guru dalam menghadapi siswa “nakal”.
Langkah paling awal yang orangtua bisa lakukan untuk memetakan potensi anak adalah menyusun program stimulasi, yaitu memperkenalkan anak pada berbagai macam kegiatan profesi (hlm. 40). Perkenalan segala jenis macam profesi dengan cara menyenangkan dan tanpa intimidasi.
Cara memperkenalkannya bisa melalui buku tentang macam-macam profesi, menonton film, mengunjungi pameran dan museum, menyaksikan berbagai pertunjukan, dan memperkenalkan tokoh-tokoh dari berbagai bidang yang berbeda. Setelah stimulasi dalam jangka waktu yang cukup, berarti anak sudah mengenal sekian banyak ragam profesi.
Selasa, 20 Januari 2015
Rumah Cinta Rasulullah
Judul: Bilik-Bilik Cinta Muhammad SAW
Penulis: Dr. Nizar Abazhah
Penerbit: Zaman
Terbitan: Pertama, 2014
Tebal: 332 halaman
ISBN: 978-602-1687-22-2
Dimuat di: Kabar Madura, Jumat 16 Januari 2015
Kehidupan Rasulullah yang dibidik sejarawan lebih banyak posisinya di ruang publik dibandingkan di ruang privat. Sejarah tentang beliau yang mengemuka selalu berkaitan dengan peperangan, kepemimpinan, dan kerasulan. Sedangkan kehidupan rumah tangganya tak banyak dibidik.
Padahal, kehidupan rumah tangga Rasulullah tak kalah menarik untuk dipaparkan ke publik. Beliau panutan segala hal, termasuk sebagai suami dari istri-istrinya dan bapak dari anak-anaknya. Setiap mukmin perlu mencontoh beliau dalam mengatur kehidupan rumah tangga.
Rasulullah berhasil menghadapi banyak istri dengan beragam latar belakang, agama, dan karakter. Tak pernah sekalipun beliau melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dalam mengatasi masalah yang melilit rumah tangganya.
Saudah, istri Nabi Muhammad yang kedua, pernah mengeluarkan kata-kata yang menyakiti beliau. Tapi, Nabi tidak bertindak reaktif. Tak tampak sama sekali beliau marah. Nabi hanya memberi peringatan bahwa ucapannya tak sopan dan tak layak dilontarkan dari orang seperti dia (hlm. 84).
Pada kesempatan lain, Aisyah dan Hafshah bersekongkol memutarbalikkan fakta tentang madu istri Nabi yang lain, yaitu Zainab bint Jahsy. Setelah Al Qur'an membuka kedok keduanya, beliau hanya mencela tanpa diiringi kekerasan fisik (hlm. 95-97).
Lemah lembut Rasulullah bukan berarti tak berdaya menghadapi perempuan. Sanksi tetap diberlakukan untuk memberikan efek jera. Sanksi yang dijatuhkan Rasulullah lebih kepada menyentuh psikologis ketimbang dengan cara-cara kasar. Sangat tak pantas orang yang pada malam hari dikumpuli pada siang hari dipukuli (hlm. 153).
Rumah tangga Rasulullah digambarkan dengan miniatur surga; baiti jannati (rumahku surgaku). Bukan karena bangunannya yang megah dilengkapi dengan berbagai fasilitas mewah. Namun, bangunan rumah tangga yang selalu dihiasi cinta, romantisme, saling pengertian, keterbukaan, dan kasih sayang.
Secara fisik, rumah Rasulullah amat tidak layak dengan posisinya sebagai kepala negara dan pemimpin agama. Isi rumah yang ditempati Ummu Habibah (Ramlah bint Abu Sufyan), misalnya, hanya sebuah tikar dan alas tidur (hlm. 139). Tapi penghuninya tetap merasakan kehangatan di dalamnya.
Rasulullah selalu romantis dan menuruti kemauan para istrinya, selama tak bertentangan dengan agama. Tak segan beliau meminta disisir (hlm. 91), meminum dari bejana tapat pada tempat bibir istrinya (hlm. 99), bahkan mandi berdua dalam satu bejana (hlm. 156).
Hiperseks
Buku Bilik-Bilik Cinta Muhammad SAW, bukan hanya penting dibaca untuk meneladani kehidupan Rasulullah dalam bergaul dengan istri dan buah hati. Dr. Nizar Abazhah sekaligun membantah tuduhan orientalis bahwa Rasulullah laki-laki hiperseks.
Perlu dipahami, termasuk juga oleh pihak yang memahami poligami secara literal-tekstual, dari 18 istri Nabi (11 perempuan merdeka, 2 budak, 5 bercerai sebelum pernah berkumpul), pernikahan Rasulullah bukan semata untuk menyalurkan hasrat biologis, tetapi lebih kepada misi pemberdayaan perempuan dan pengembangan dakwah.
Rasulullah menikah dengan Saudah untuk meringankan beban penderitaan sepeninggal suaminya dan menjaga fitnah dari kaumnya yang kafir yang sangat membencinya. Demikian pula dengan pernikahannya dengan Ummu Salamah; untuk meringankan beban hidupnya menanggung empat anak, bahkan satu di antaranya masih usia menyusui.
Hafshah dinikahi untuk diberdayakan setelah ditinggal mati suaminya dalam perang Uhud, semenatara umurnya masih 18 tahun. Setali tiga uang dengan pernikahan bersama Zainab bint Khuzaimah.
Satunya-satunya istri Rasulullah yang perawan hanyalah Aisyah bint Abu Bakar, selebihnya adalah janda bahkan telah memiliki anak. Lagian, beliau berpoligami saat usianya di atas kepala lima, yang secara biologis hasrat nafsunya sudah berkurang dan mentalnya matang.
Penulis: Dr. Nizar Abazhah
Penerbit: Zaman
Terbitan: Pertama, 2014
Tebal: 332 halaman
ISBN: 978-602-1687-22-2
Dimuat di: Kabar Madura, Jumat 16 Januari 2015
Kehidupan Rasulullah yang dibidik sejarawan lebih banyak posisinya di ruang publik dibandingkan di ruang privat. Sejarah tentang beliau yang mengemuka selalu berkaitan dengan peperangan, kepemimpinan, dan kerasulan. Sedangkan kehidupan rumah tangganya tak banyak dibidik.
Padahal, kehidupan rumah tangga Rasulullah tak kalah menarik untuk dipaparkan ke publik. Beliau panutan segala hal, termasuk sebagai suami dari istri-istrinya dan bapak dari anak-anaknya. Setiap mukmin perlu mencontoh beliau dalam mengatur kehidupan rumah tangga.
Rasulullah berhasil menghadapi banyak istri dengan beragam latar belakang, agama, dan karakter. Tak pernah sekalipun beliau melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dalam mengatasi masalah yang melilit rumah tangganya.
Saudah, istri Nabi Muhammad yang kedua, pernah mengeluarkan kata-kata yang menyakiti beliau. Tapi, Nabi tidak bertindak reaktif. Tak tampak sama sekali beliau marah. Nabi hanya memberi peringatan bahwa ucapannya tak sopan dan tak layak dilontarkan dari orang seperti dia (hlm. 84).
Pada kesempatan lain, Aisyah dan Hafshah bersekongkol memutarbalikkan fakta tentang madu istri Nabi yang lain, yaitu Zainab bint Jahsy. Setelah Al Qur'an membuka kedok keduanya, beliau hanya mencela tanpa diiringi kekerasan fisik (hlm. 95-97).
Lemah lembut Rasulullah bukan berarti tak berdaya menghadapi perempuan. Sanksi tetap diberlakukan untuk memberikan efek jera. Sanksi yang dijatuhkan Rasulullah lebih kepada menyentuh psikologis ketimbang dengan cara-cara kasar. Sangat tak pantas orang yang pada malam hari dikumpuli pada siang hari dipukuli (hlm. 153).
Rumah tangga Rasulullah digambarkan dengan miniatur surga; baiti jannati (rumahku surgaku). Bukan karena bangunannya yang megah dilengkapi dengan berbagai fasilitas mewah. Namun, bangunan rumah tangga yang selalu dihiasi cinta, romantisme, saling pengertian, keterbukaan, dan kasih sayang.
Secara fisik, rumah Rasulullah amat tidak layak dengan posisinya sebagai kepala negara dan pemimpin agama. Isi rumah yang ditempati Ummu Habibah (Ramlah bint Abu Sufyan), misalnya, hanya sebuah tikar dan alas tidur (hlm. 139). Tapi penghuninya tetap merasakan kehangatan di dalamnya.
Rasulullah selalu romantis dan menuruti kemauan para istrinya, selama tak bertentangan dengan agama. Tak segan beliau meminta disisir (hlm. 91), meminum dari bejana tapat pada tempat bibir istrinya (hlm. 99), bahkan mandi berdua dalam satu bejana (hlm. 156).
Hiperseks
Buku Bilik-Bilik Cinta Muhammad SAW, bukan hanya penting dibaca untuk meneladani kehidupan Rasulullah dalam bergaul dengan istri dan buah hati. Dr. Nizar Abazhah sekaligun membantah tuduhan orientalis bahwa Rasulullah laki-laki hiperseks.
Perlu dipahami, termasuk juga oleh pihak yang memahami poligami secara literal-tekstual, dari 18 istri Nabi (11 perempuan merdeka, 2 budak, 5 bercerai sebelum pernah berkumpul), pernikahan Rasulullah bukan semata untuk menyalurkan hasrat biologis, tetapi lebih kepada misi pemberdayaan perempuan dan pengembangan dakwah.
Rasulullah menikah dengan Saudah untuk meringankan beban penderitaan sepeninggal suaminya dan menjaga fitnah dari kaumnya yang kafir yang sangat membencinya. Demikian pula dengan pernikahannya dengan Ummu Salamah; untuk meringankan beban hidupnya menanggung empat anak, bahkan satu di antaranya masih usia menyusui.
Hafshah dinikahi untuk diberdayakan setelah ditinggal mati suaminya dalam perang Uhud, semenatara umurnya masih 18 tahun. Setali tiga uang dengan pernikahan bersama Zainab bint Khuzaimah.
Satunya-satunya istri Rasulullah yang perawan hanyalah Aisyah bint Abu Bakar, selebihnya adalah janda bahkan telah memiliki anak. Lagian, beliau berpoligami saat usianya di atas kepala lima, yang secara biologis hasrat nafsunya sudah berkurang dan mentalnya matang.
Label:
nabi muhammad,
parenting,
rasulullah,
sejarah
Senin, 01 Desember 2014
Mendidik Anak dengan Cinta
Judul : Anakku Tiket Surgaku
Penulis : Wuri Nugraeni, dkk
Penerbit : Tinta Medina, Solo
Terbitan : Pertama, Juli 2014
Tebal : 333 halaman
ISBN : 978-602-257-932-8
Dimuat di: Harian Bhirawa, 28 November 2014
Maraknya kriminalitas dan anarkisme yang dilakukan remaja saat ini bukan semata kesalahan mereka dan guru di sekolah, tapi juga ada tanggung jawab orangtua. Rasulullah bersabda anak adalah hasil usaha (didikan) orangtua (HR Turmudzi).
Anak yang baru lahir ibarat kanvas putih, orangtua bebas melukis sesuka hati. Bapak da ibu adalah guru pertama dan rumah sebagai sekolahnya. Maraknya kenakalan remaja di Indonesia, mungkin, karena ada yang salah dengan didikan orangtua. Buah hati secara tidak langsung dididik berperilaku demikian.
Semua orangtua pasti menginginkan momongan yang berkepribadian baik dan menjadi anak yang salih. Calon tumpuan masa depan bangsa. Namun tidak banyak yang tahu cara menghasilkan harapan tersebut. Menjadi orangtua memang tidak ada sekolahnya.
Untuk mewujudkan harapan itu, orangtua perlu mewarnai sikap demikian kepada anak sejak kecil. Tentu dengan memberikan contoh langsung. Orangtua yang bijak selalu meneladani. Ini mungkin yang selama ini tidak dilakukan orangtua atau selama ini dilakukan secara keliru.
Masa-masa pertumbuhan anak waktu yang tepat “mewarnai” dan mentradisikan sikap yang diharapkan menjadi karakternya kelak, karena pada saat yang bersamaan anak dalam fase pembentukan karakter. Kebiasaan-kebiasaan pada masa pertumbuhan sangat mempengaruhi pola tingkah di usia dewasa nanti.
Namun, mendidik anak usia dini bukan hal sepele dan sederhana. Ingat, mendidik anak kecil tak bisa mengadopsi cara-cara mendidik remaja. Anak-anak memiliki dunia tersendiri. Hal ini terkadang tidak disadari oleh orangtua, sehingga masih ada yang melakukan kekerasan psikis dan fisik saat buah hatinya melakukan kesalahan.
Anak ibarat sebuah bonsai. Pengawatan untuk mengarahkan pertumbuhan batang dan ranting bonsai jika terlalu keras akan patah. Sebaliknya, batang dan ranting akan tumbuh liar apabila kawatnya terlalu lembek. Artinya, cara penanganan khusus dalam mendidik anak.
Anak-anak butuh kasih sayang dan perhatian, sehingga orangtua dalam mendidik harus menyampaikan secara baik-baik dan asyik, serta yang tak kalah penting sabar. Sabar adalah kunci mendidik anak-anak. Buah hati terkadang bersikap frontal dengan keinginan orangtua, sehingga butuh strategi untuk membujuknya.
Barangkali di antara kita ada yang punya buah hati ketika diperintah melaksanakan salat malas atau suka menunda. Bukan saatnya lagi memperlihatkan wajah manyun apalagi garang sehingga anak terpaksa melaksanakan kewajiban sebagai pemeluk agama. Bayangkan jika posisi kita sebagai anak, tentu memprihatinkan.
Dalam menghadapi anak yang demikian, orangtua setiap menjelang waktu salat bisa selalu membuat suasana asyik, misal main tebak-tebakan sehingga anak berhenti dari aktivitas sebelumnya. Buatlah sehebuh mungkin agar anak merasakan bahwa salat adalah kegiatan yang tak kalah mengasyikkan ketimbang bermain (hlm. 60-61).
Untuk mengontrol gerakan salatnya sekaligus menghindari anak berbuat curang, lakukan secara berjamaah. Dengan salat berjamaah anak menyerap setiap ayat yang dibaca imam. Lama-lama hafal surat pendek. Ini salah satu cara mengajari anak menghafal Al Qur’an (hlm. 61).
Buku Anakku Tiket Surgaku berbagi kisah cara mendidik spritualitas anak dengan cinta. Mulai dari cara agar anak rajin salat, puasa, mengaji, dan berbagi kenikmatan dengan orang lain. Buku setebal 333 halaman penting dibaca untuk menyiapkan generasi rabbani.
Tutur bahasanya asyik, kocak dan diselingi candaan. Pembaca tak perlu khawatir akan bosan untuk menikmati kisah demi kisah tiap halaman, namun tidak sampai mengurangi substansi yang hendak disampaikan. Membaca buku terbitan Tinta Medina itu terasa menyimak cerita di depan sang penulis.
Semua kisah dalam buku tersebut tentang cara mendidik anak agar menjadi muslim dan muslimah yang taat, namun pengasuh atau orangtua penganut agama selain Islam juga bisa mengambil pelajaran teknik mendidik anak agar rajin beribadah dan selalu mendekatkan diri pada Tuhan.
Penulis : Wuri Nugraeni, dkk
Penerbit : Tinta Medina, Solo
Terbitan : Pertama, Juli 2014
Tebal : 333 halaman
ISBN : 978-602-257-932-8
Dimuat di: Harian Bhirawa, 28 November 2014
Maraknya kriminalitas dan anarkisme yang dilakukan remaja saat ini bukan semata kesalahan mereka dan guru di sekolah, tapi juga ada tanggung jawab orangtua. Rasulullah bersabda anak adalah hasil usaha (didikan) orangtua (HR Turmudzi).
Anak yang baru lahir ibarat kanvas putih, orangtua bebas melukis sesuka hati. Bapak da ibu adalah guru pertama dan rumah sebagai sekolahnya. Maraknya kenakalan remaja di Indonesia, mungkin, karena ada yang salah dengan didikan orangtua. Buah hati secara tidak langsung dididik berperilaku demikian.
Semua orangtua pasti menginginkan momongan yang berkepribadian baik dan menjadi anak yang salih. Calon tumpuan masa depan bangsa. Namun tidak banyak yang tahu cara menghasilkan harapan tersebut. Menjadi orangtua memang tidak ada sekolahnya.
Untuk mewujudkan harapan itu, orangtua perlu mewarnai sikap demikian kepada anak sejak kecil. Tentu dengan memberikan contoh langsung. Orangtua yang bijak selalu meneladani. Ini mungkin yang selama ini tidak dilakukan orangtua atau selama ini dilakukan secara keliru.
Masa-masa pertumbuhan anak waktu yang tepat “mewarnai” dan mentradisikan sikap yang diharapkan menjadi karakternya kelak, karena pada saat yang bersamaan anak dalam fase pembentukan karakter. Kebiasaan-kebiasaan pada masa pertumbuhan sangat mempengaruhi pola tingkah di usia dewasa nanti.
Namun, mendidik anak usia dini bukan hal sepele dan sederhana. Ingat, mendidik anak kecil tak bisa mengadopsi cara-cara mendidik remaja. Anak-anak memiliki dunia tersendiri. Hal ini terkadang tidak disadari oleh orangtua, sehingga masih ada yang melakukan kekerasan psikis dan fisik saat buah hatinya melakukan kesalahan.
Anak ibarat sebuah bonsai. Pengawatan untuk mengarahkan pertumbuhan batang dan ranting bonsai jika terlalu keras akan patah. Sebaliknya, batang dan ranting akan tumbuh liar apabila kawatnya terlalu lembek. Artinya, cara penanganan khusus dalam mendidik anak.
Anak-anak butuh kasih sayang dan perhatian, sehingga orangtua dalam mendidik harus menyampaikan secara baik-baik dan asyik, serta yang tak kalah penting sabar. Sabar adalah kunci mendidik anak-anak. Buah hati terkadang bersikap frontal dengan keinginan orangtua, sehingga butuh strategi untuk membujuknya.
Barangkali di antara kita ada yang punya buah hati ketika diperintah melaksanakan salat malas atau suka menunda. Bukan saatnya lagi memperlihatkan wajah manyun apalagi garang sehingga anak terpaksa melaksanakan kewajiban sebagai pemeluk agama. Bayangkan jika posisi kita sebagai anak, tentu memprihatinkan.
Dalam menghadapi anak yang demikian, orangtua setiap menjelang waktu salat bisa selalu membuat suasana asyik, misal main tebak-tebakan sehingga anak berhenti dari aktivitas sebelumnya. Buatlah sehebuh mungkin agar anak merasakan bahwa salat adalah kegiatan yang tak kalah mengasyikkan ketimbang bermain (hlm. 60-61).
Untuk mengontrol gerakan salatnya sekaligus menghindari anak berbuat curang, lakukan secara berjamaah. Dengan salat berjamaah anak menyerap setiap ayat yang dibaca imam. Lama-lama hafal surat pendek. Ini salah satu cara mengajari anak menghafal Al Qur’an (hlm. 61).
Buku Anakku Tiket Surgaku berbagi kisah cara mendidik spritualitas anak dengan cinta. Mulai dari cara agar anak rajin salat, puasa, mengaji, dan berbagi kenikmatan dengan orang lain. Buku setebal 333 halaman penting dibaca untuk menyiapkan generasi rabbani.
Tutur bahasanya asyik, kocak dan diselingi candaan. Pembaca tak perlu khawatir akan bosan untuk menikmati kisah demi kisah tiap halaman, namun tidak sampai mengurangi substansi yang hendak disampaikan. Membaca buku terbitan Tinta Medina itu terasa menyimak cerita di depan sang penulis.
Semua kisah dalam buku tersebut tentang cara mendidik anak agar menjadi muslim dan muslimah yang taat, namun pengasuh atau orangtua penganut agama selain Islam juga bisa mengambil pelajaran teknik mendidik anak agar rajin beribadah dan selalu mendekatkan diri pada Tuhan.
Label:
islam,
kiat,
parenting,
pendidikan,
tips
Langganan:
Postingan (Atom)






