Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 April 2017

Menguji Kebenaran Informasi

Judul : Ibn Khaldun
Penulis : Syed Farid Alatas
Penerbit : Mizan
Terbitan : Pertama, Januari 2017
Tebal : 208 halaman
ISBN : 978-602-441-003-2
Dimuat di: Kabar Madura, 10 April 2017

Tingginya angka pengguna internet di Indonesia tampaknya tidak dibarengi dengan pengetahuan etika berinternet (netiket). Indikasinya, informasi palsu atau bohong (hoax) menghiasi dunia maya. Tidak sedikit pengguna internet (netizen) yang 'termakan' hoax akibat begitu masif penyebarannya.

Untuk menguji kebenaran sebuah informasi, menurut Ibn Khaldun, pertama yang harus dipastikan terlebih dahulu apakah kejadian yang dilaporkan memang mungkin atau mustahil terjadi (hlm. 64). Apabila ada sebagian tertentu dari informasi yang tidak masuk akal, keakuratan sebuah informasi patut dipertanyakan.

Ibn Khaldun menyajikan contoh laporan bahwa Nabi Musa memiliki 600.00 atau lebih prajurit dalam pasukan Israel di gurun. Kata Ibn Khaldun, sejarawan tidak mempertimbangkan apakah Mesir dan Suriah sanggup memiliki pasukan sebesar itu. Ibn Khladun juga menaksir bahwa pasukukan sebanyak itu terlalu besar untuk berbaris dan bertempur sebagai sebuah kesatuan (hlm. 49).

Contoh lain tentang absurditas informasi sejarah adalah tentang raja-raja Tubba’ dari Yaman. Pemimpin Tubba’ terakhir, As’ad Abu Karib, dilaporkan memerintahkan menyerangan ke Turki, Persia, Bizantium, dan Cina untuk merampas harta dan wilayah. Ibn Khaldun mengkritik bahwa mustahil seorang pemimpin yang ada di semenanjung Arab dapat ke Turki tanpa melewati daerah-daerah Persia dan Bizantium dan tanpa berperang dengan mereka (hlm. 50).

Ibn Khaldun mengidentifikasi, ada tujuh sumber utama kesalahan penulisan sejarah sehingga karya historis sering dikitari oleh ketidakbenaran (hlm. 62-63). Pertama, keberpihakan terhadap pendapat dan aliran tertentu (al-syiat li al-ara wa al-mazhahib).

Kedua, kepercayaan terhadap narasumber (al-tsiqah bi al-naqilin). Selain statemen narasumber perlu dipadukan dengan data lain untuk menguji kebenaran informasi yang disampaikan, perlu juga dilakukan “kritik perawi” (al-jarh wa al-ta’dil) sebagaimana menguji kesahehan sebuah sabda Nabi Muhammad.

Ketiga, kebohongan dalam informasi tidak terhindarkan karena kurangnya kesadaran penyampai informasi tentang tujuan suatu kejadian. Laporan yang hanya berdasarkan dugaan dan tafsir pribadi akan berdampak pada lemahnya kualitas laporan. Akibatnya, kebohongan bertebaran.

Keempat, anggapan yang tak berdasar terhadap kebenaran suatu peristiwa. Ini sering terjadi dan terutama akibat ketergantungan pada narasumber tanpa melakukan kroscek dan klarifikasi.

Kelima, pengabaian kesesuaian antara keadaan dan konteks kejadian yang sebenarnya (tathbiq al-ahwal ala al-waqa’i). Banyak penyampai informasi melaporkan keadaan sebagiamana ia melihatnya, tetapi ia tidak mampu menempatkan kejadian itu dalam konteks yang tepat.

Keenam, pamrih. Banyak media penyampai informasi ingin mendapatkan perhatian/keuntungan dari laporan informasinya sehingga informasi yang disampaikan yang tidak dapat dipercaya. Ketujuh, penyebab ketidakjujuran dalam penulisan informasi adalah pengabaian kondisi masyarakat.

Buku ini memperkenalkan pemikiran Ibn Khaldun. Pemikiran “ilmu masyarakat manusia” dan metodologi penulisan sejarah penting dipelajari tidak hanya bagi pembaca yang sedang belajar Sosiologi. Ibn Khaldun, menurut Geogre Sarton, pelopor bagi Machiavelli, Bodin, Vico, Comte, dan Curnot.

Pada bagian akhir, Syed Farid Alatas, profesor Sosiologi di National University of Singapura, itu menyajikan daftar karya terbaik tentang terjemah atas karya Ibn Khaldun, serta karya-karya ilmiah yang mengulas Ibn Khaldun

Jumat, 20 Januari 2017

Historiografi Televisi Indonesia

Judul: :Televisi Indonesia di Bawah Kapitalisme Global
Penulis : Ade Armando
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Terbitan : Pertama, 2016
Tebal : 288 halaman
ISBN : 978-602-412-099-3
Dimuat di: Majalah Auleea, Edisi 31 Januari 2017

Televisi yang kita tonton telah mengalami banyak perubahan, baik dari sisi teknologi, konten, maupun regulasi. Buku ini menyajikan narasi menarik, dan mungkin tak banyak orang tahu, di balik kayar TV yang kita tonton.

Stasiun TV pertama di Indonesia ialah TVRI, stasiun TV publik yang lahir pada 1962. Sebenarnya, gagasan pendirian stasiun TV telah dilontarkan sejak 1952 oleh Menteri Penerangan Maladi pada Presiden Soekarno. Sekalipun Soekarno tertarik dengan gagasan pendirian stasiun TV yang berorientasi politik tersebut namun gagal dilaksanakan karena pertimbangan biaya.

TVRI didirikan saat Presiden Soekarno sedang berambisi membangun sebuah citra Indonesia di mata dunia. TVRI mengudara pertama kali dengan siaran Asian Games di mana Indonesia menjadi tuan rumah. Liputan tersebut sebagai sarana untuk menciptakan rasa kebangsaan dan persatuan nasional yang telah kacau oleh ide federasi.

Pendirian TVRI yang tergesa-gesa (pembangunan infrastruktur hanya dalam waktu 13 bulan) pada saat itu fokus untuk penyelenggaraan Asian Games. Sepanjang Asian Games, TVRI mengudara satu setengah jam, setelahnya hanya mengudara 30 menit per hari dalam 5 hari seminggu (Sabtu-Minggu libur).

Pada 1964 TVRI mulai membentuk pusat pemberitaan dan menyajikan program berita secara rutin, bahkan melakukan siaran langsung seperti pertandingan sepak bola Indonesia melawan Swedia (hlm. 91).

Dalam 15 tahun pertama Orde Baru, TVRI masih diberi kelonggaran sebagai stasiun pemerintah dengan isi siaran yang berorientasi menyajikan hiburan dan dimungkinkan lebih mandiri dengan memperoleh pemasukan dana dari iklan. TVRI Berjaya pada masa ini. Pada 17 tahun berikutnya, TVRI menjadi media propaganda pemerintah dan pemasukan dari iklan dihentikan (hlm. 95). Sejak 1981, iklan TVRI ditiadakan untuk kelancaran program pemerintah dan menghindari akibat samping seperti mendorong perilaku konsumtif (hlm. 100).

Di tengah kesulitan TVRI yang kehilangan 55% pendapatannya, Soeharto justru membuka ruang kehadiran TV swasta. Adanya kepentingan untuk mendorong percepatan pertumbuhan kelompok masyarakat kaya diperlukan infrastruktur budaya yang mendukung gaya hidup tersebut, sementara TVRI sudah tak lagi menerima iklan. Kehadiran TV swasta tak terelakkan sekalipun tanpa cetak biru yang jelas. Pada saat yang sama TVRI makin tersudut.

Swastanisasi pertelevisian Indonesia dimulai atas inisiatif pengusaha lokal yang memiliki akses khusus kepada Presiden (hlm. 147). TV swasta yang mengudara pertama kali ialah RCTI pada 1987. Stasiun milik Peter Sondakh itu baru mendapat izin dari Soeharto setelah bermitra bisnis dengan Bambang Trihatmodho, putra Soeharto dan pemilik Bimantara Citra.

Pada 17 Januari 1990, pemerintah mengeluarkan Siaran Saluran Terbatas (SST) pada SCTV, yang didirikan Sudwikatmono (sepupu Soeharto). Dua stasiun TV swasta ini tidak bersaingan karena jangkauan siarannya terbatas. RCTI di Jakarta sedangkan SCTV di Surabaya.

Delapan bulan kemudian, 16 Agustus 1990, putri sulung Soeharto, Siti Hardiyanti Rukmana, mendirikan TPI yang berpusat di Jakarta. Stasiun TV ini mengcaukan peraturan pemerintah yang telah diberlakukan pada RCTI dan SCTV. Menurut Ade Armando, ada tiga masalah serius. Pertama, TPI diizinkan beriklan 20% dari jam siaran, sementara RCTI 15%. Kedua, tidak ada ketetapan yang jelas berapa persentase penghasilan TPI yang harus diberikan pada TVRI, sementara bagi RCTI sudah jelas (12,5%). Ketiga, karena mendompleng pada sarana transmisi TVRI, siaran TPI dapat menjangkau khalayak seluruh Indonesia (hlm. 156).

Perlakuan tidak adil ini membuat RCTI tidak tinggal diam. Pada Agustus 1990, RCTI berubah dari siaran SST menjadi Siaran Saluran Umum (SSU). Tak lama kemudian disusul oleh SCTV.

Setelah Orde Baru tumbang, pada Oktober 1999, Menteri Penerangan menetapkan izin lima stasiun baru, yaitu TransTV, DVN TV, Global TV, PR TV, dan Metro TV. Saat ini, stasiun TV nasional yang telah mendapatkan izin siaran menjadi 15 stasiun, yaitu Kompas TV, RCTI, ANTV, Indosiar, Trans 7, TV One, Rajawali TV, Net TV, RCTI, SCTV, MNC TV, Metro TV, Global TV, Trans TV, dan Berita Satu.

Menurut Ade Armando, stasiun TV di atas meleburkan masyarakat Indonesia ke dalam pusaran kapitalisme global. Sayang bukan sebagai produsen, tapi sebagai konsumen yang ramah terhadap produk-produk yang dikirim industri negara-negara maju.

Buku Televisi Indonesia di Bawah Kapitalisme Global yang diadaptasi dari disertasi ini membuat pembaca bersikap kritis terhadap produk industri TV dan tidak gampang dieksploitasi dan ‘dibodohi’ oleh penguasa modal di balik tayangan TV. (TM)

Senin, 19 Desember 2016

Literasi Masyarakat Jahiliyah

Judul : Sejarah Kenabian
Penulis : Aksin Wijaya
Penerbit : Mizan
Terbitan : Pertama, Juni 2016
Tebal : 552 halaman
ISBN : 978-974-433-959-6
Dimuat di: Mata Madura, 8-18 Desember 2016

Makkah pra kenabian Muhammad dikenal dengan zaman jahiliyah. Istilah ini tidak bermakna masyarakat Makkah buta literasi. Menurut Muhammad Izzat Darwasah, masyarakat Makkah pra kenabian disebut jahiliyah bukan dalam arti jahiliyah dalam membaca dan tulis-menulis, tapi lebih kepada jahiliyah tauhid. Dalam literasi mereka sudah maju dengan beberapa indikasi.

Kemampuan baca tulis mereka tersirat dalam Al Qur’an. Ayat-ayat makkiyah menyebut beberapa alat baca dan tulis seperti qirthas, waraqun, shuhuf, dan qalam. Menurut Darwazah, tidak mungkin Al Qur’an menyinggung dan menggunakan istilah-istilah tersebut jika sasarannya tidak mampu memahami maksudnya. Dengan demikian, masyarakat jahiliyah sudah mempunyai kemampuan baca-tulis (hlm. 215-216).

Selain itu, permintaan masyarakat jahiliyah kepada Nabi Muhammad untuk mendatangkan kitab suci dalam bentuk tulisan sehingga mereka mampu membaca dan memahaminya mengindikasikan mereka telah memiliki peradaban literasi. Dan secara faktual, kemampuan baca-tulis mereka dibuktikan dengan karya-karya syair yang digantungkan di Ka’bah (hlm. 213).

Syair-syair yang ditulis pada masa itu sejalan dengan redaksi dan dimensi sastra Al Qur’an, sehingga masyarakat Makkah yang memiliki kemampuan syair menyebut Al Qur’an sebagai syair dan Nabi Muhammad sebagai penyair. Secara faktual, kata Darwazah, beberapa surah Al Qur’an makkiyah mempunyai kemiripan dengan syair dan sajak Arab (hlm. 204).

Kesamaan bahasa yang digunakan masyarakat Makkah dengan Al Qur’an yang bersifat melemahkan kepada masyarakat Arab tidak bertentangan dengan semangat Islam. Menurutnya, i’jaz Al Qur’an tidak berhubungan dengan kebahasaan, tapi pesan Al Qur’an yang bersifat spiritual (hlm. 202).

Masyarakat Makkah pra kenabian meyakini adanya pengaruh setan dan jin dibalik gubahan syairnya. Atas kesamaan susunan Al Qur’an yang dibacanakan Nabi Muhammad dengan karya mereka, yaitu sama-sama berbentuk sajak yang beresonansi dan berimbang, mereka menuduh Nabi Muhammad sebagai peramal dan dukun yang mendapat bisikan setan dan jin.

Muhammad Izzat Darwazah menelusuri peradaban masyarakat jahiliyah secara umum langsung kepada Al Qur’an. Ini yang membedakan perspektif dia dengan sejarawan lain yang hanya berpijak pada sumber sejarah murni. Dari karya-karya tafsir dan sejarah Darwazah, pembaca mengetahui sejarah sekaligus Al Qur’an. Sayang, karya-karyanya yang berjumlah puluhan mulai langka.

Buku Sejarah Kenabian: Dalam Perspektif Tafsir Nuzuli, Aksin Wijaya mendeskripsikan secara objektif pemikiran sejarawan-mufasir itu tentang sejarah kenabian. Buku ini ditulis secara serius dengan catatan kaki sebanyak 1050, namun mudah dicerna dan dipahami. (MK)

Selasa, 29 November 2016

Dialektika Nabi dan Masyarakat Arab

Judul : Sejarah Kenabian
Penulis : Aksin Wijaya
Penerbit : Mizan
Terbitan : Pertama, Juni 2016
Tebal : 552 halaman
ISBN : 978-974-433-959-6
Dimuat di: Duta Masyarakat 27 November 2016

Nabi Muhammad merupakan rasul terakhir, dan risalahnya kelanjutan dari utusan-utusan sebelumnya. Namun, tradisi masyarakat Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) yang mendominasi Madinah tidak diterima begitu saja, dan tidak semua tradisi masyarakat non-Ahli Kitab yang mendominasi Makkah dibuang begitu saja. Islam menyeleksi secara kritis tradisi masyarakat Arab.

Nabi Muhammad memulai dakwahnya di Makkah dengan audiens yang dikenal dengan istilah jahiliyah dan ummi. Istilah ini tidak dalam artian buta literasi, namun lebih kepada bodoh dalam tauhid dan belum pernah membaca kitab suci. Agama mereka mayoritas musyrik, dan sedikit sekali yang beragama Ahli Kitab.

Masyarakat Makkah pra Islam sebenarnya sudah mengenal konsep Tuhan, bahkan sudah mengetahui dan mengakui keberadaan Allah sebagai Tuhan, karena Nabi Ibrahim dan Ismail merupakan nenek moyangnya. Mereka sudah biasa mengerjakan salat di Ka’bah, puasa, zakat, haji, dan i’tikaf. Namun dalam praktiknya, mereka menyekutukan Allah dengan malaikat, jin, dan patung. Orang yang perama kali mengenalkan kemusyrikan dalam bentuk menyembah berhala adalah Amr bin Luhay (hlm. 262-263).

Risalah Nabi Muhammad pada satu sisi menolak dan meluruskan keyakinan mereka yang musyrik dengan menyeru kembali ke agama monoteis Nabi Ibrahim dan Ismail, namun pada sisi yang lain juga menerima dan melanjutkan tradisi yang benar seperti pelaksanaan salat, puasa, zakat, haji, dan i’tikaf.

Di kalangan keluarga Nabi Muhammad sendiri, muncul tiga respons terhadap risalah yang dibawa Nabi Muhammad: kelompok yang menerima dakwah seperti Siti Khadijah dan Ali, individu yang tidak menerima tapi tidak memusuhi seperti Abu Thalib, dan kelompok yang menolak dakwah dan memusihi seperti Mughirah bin Hisyam al-Mahzumi atau yang popular dengan Abu Jahal.

Kelompok yang menentang dakwah Nabi Muhammad berasal dari para pembesar dan orang-orang kaya Makkah. Menurut Izzat Darwazah, penolakan dan permusuhan para pembesar Arab terhadap dakwah Nabi Muhammad karena tiga faktor: (1) menyangkut posisi mereka sebagai elite Makkah dipatuhi, sedangkan dakwah Islam mengajarkan kesetaraan, (2) karakter dakwah Nabi Muhammad yang menghancurkan tradisi yang berbau syirik, fanatisme, pertumpahan darah, ekspolitasi anak, perempuan dan budak, (3) implikasi dari permusuhan dan jalan yang bersebrangan antara pembesar Makkah dan Nabi Muhammad (hlm. 352).

Berbeda dengan masyarakat jahiliyah Makkah yang memerangi Nabi Muhammad dan pengikutnya, respons masyarakat Ahli Kitab Makkah terhadap dakwah Nabi Muhammad, sangat apresiatif dan tidak ada tanda-tanda kekerasan. Menurut Izzat Darwazah, sikap seperti itu muncul lantaran adanya kesamaan antara Al Qur’an dan kitab suci mereka, dan kesamaan itu mendorong mereka untuk memercayai kebenaran risalah kenabian Muhammad dan Al Qur’an (hlm. 382).

Hijrah
Setelah sekitar 13 tahun berdakwah di Makkah, Nabi Muhammad pindah berdakwah di Madinah. Yatsrib (sebelum berganti nama menjadi Madinah) banyak dihuni imigran (Yahudi Israil al-Musta’ribah) dan mayoritas beragama Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani). Di sini Nabi Muhammad menghadapi Ahli Kitab dan orang munafik yang menentang sejak awal kedatangannya.

Selain menentang dakwah Nabi Muhammad yang menolak klaim mereka bahwa kaum Yahudi berada dalam penunjuk berkaitan dengan keyakinan “Uzair adalah Anak Allah”, demikian juga dengan keyakinan masyarakat Nasrani mengklaim terkait “Isa adalah Anak Allah”, Ahli Kitab songmbong, ingkar janji, dan menebar permusuhan secara terang-terangan. Beberapa kali terjadi peperangan. Karena gerakan mereka mengkhawatirkan, Nabi Muhammad mengambil tindakan pengusiran dengan tujuan menakut-nakuti dan menghukum agar tidak ditiru yang lain.

Sejarah kenabian yang dipaparkan Aksin Wijaya ini perspektif Muhammad Izzat Darwazah, cendekiawan multi disiplin ilmu kelahiran Palestina yang karya-karyanya mulai langka. Untuk menyelidiki sejarah kenabian, Izzat Darwazah melacak langsung kepada Al Qur’an. Al Qur’an dijadikan tafsir sejarah kenabian. Ini bedanya dengan kitab-kitab tarikh lainnya yang bersumber pada teks klasik yang bersifat profan.

Untuk mengumpuklan data, metode yang Izzat Darwazah lakukan dengan menyusun Al Qur’an sesuai urutan turunnya, sebuah metode tafsir yang diperkenalkan Theodor Nӧldeke. Alih-alih mengadopsi metode tafsir Nӧldeke, Izzat Darwazah memberikan banyak kiritik terhadap orientalis tersebut dan cendekiawan muslim lainnya.

Selasa, 30 Agustus 2016

Narasi Nabi Sulaiman dalam Al Kitab dan Al Qur'an

Judul : Sulaiman: The Word's Greatest Kingdom History
Penulis : Manshur 'Abdul Hakim
Penerbit : Mizania
Terbitan : Maret 2016
Tebal : 233 halaman
ISBN : 978-602-1337-76-9
Dimuat di: Radar Madura Minggu 21 Agustus 2016

Nabi Sulaiman diceritakan dalam banyak kitab suci. Al Qur'an mengabadikan kisahnya dalam tujuh surah. Kitab suci umat Islam ini mengulang nama Sulaiman sebanyak 17 kali. Di antara narasi hidup Nabi Sulaiman adalah kisahnya dengan Ratu Balqis.

Kisah panjang lebar Nabi Sulaiman dengan Ratu Saba' terdapat dalam Surah Al-Naml (27): 20-44 dan Kitab Raja-Raja 1. Namun, narasi Nabi Sulaiman versi Al Qur'an dan Al Kitab tidak sama.


Dalam Perjanjian Lama disebutkan bahwa Ratu Saba' (tanpa disebutkan namanya) menemui Raja Sulaiman --bangsa Yahudi hanya mengakui Sulaiman a.s. sebagai raja, bukan nabi-- setelah mendengar berita tentang dia dan kebijaksanaannya. Ratu Saba' menemui Raja Sulaiman di Jerusalem untuk membuktikan kebijaksanaannya.

"Ia (ratu negeri Syeba) datang ke Yerusalem dengan pasukan pengiring yang sangat besar, dengan unta-unta yang membawa rempah-rempah, sangat banyak emas dan batu permata yang mahal-mahal. Setelah ia sampai kepada Salomo (Nabi Sulaiman), dikatakan segala yang ada dalam hatinya kepadanya.” (Kitab Raja-Raja I [10]: 2).

Penelusuran Mansyur 'Abdul Hakim, tidak ada isyarat apa pun dalam kitab suci itu tentang hubungan Nabi Sulaiman dengan Ratu Saba'. Juga tidak disebutkan unek-unek Ratu Saba' kepada Nabi Sulaiman. Hanya disebutkan bahwa Nabi Sulaiman memiliki 700 istri dan 300 selir (hlm. 103).

Dalam Al Qur'an diceritakan Ratu Saba' menemui Nabi Sulaiman setelah Nabi Sulaiman berkirim surat via burung Hud-hud. Perintah Nabi Sulaiman kepada burung Hud-hud diabadikan dalam QS. Al-Naml (27): 28.

"Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkan kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikan apa yang mereka bicarakan."

Ahli tafsir mengilustrasikan, Hud-hud membawa surat itu dan datang ke istana Ratu Balqis dan menjatuhkan surat itu kepadanya ketika dia sedang sendiri. Kemudian Hud-hud berhenti sebentar, menunggu jawaban sang ratu atas surat tersebut. Ratu kemudian mengumpulkan para pejabat, menteri, dan semua tokoh di negerinya dalam sebuah musyawarah (hlm. 88-89).

Dalam surat itu Nabi Sulaiman memerintahkan Ratu Balqis datang kepadanya. Nabi Sulaiman mengajak masuk Islam dan datang kepada dirinya dengan patuh. Namun, Ratu Balqis hanya mengirim utusan membawa hadiah-hadiah mewah kepada Nabi Sulaiman.

Dalam Kitab Raja-Raja 1 (10): 10 disebutkan bahwa hadiah-hadiah mewah yang dibawa terdiri dari 120 talenta emas, rempah-rempah yang sangat banyak, kayu cendana, dan batu permata yang mahal-mahal.

"Raja mengerjakan kayu cendana itu menjadi langkan untuk rumah Tuhan dan untuk istana raja, dan juga menjadi kecapi dan gambus untuk para penyanyi." (Kitab Raja-Raja 1 [10]: 11)

Namun, Al Qur'an menyebutkan Nabi Sulaiman menolak mentah-mentah hadiah itu. "Kembalilah kepada mereka! Sungguh, kami pasti akan mendatangi mereka dengan bala tentara yang mereka tidak mampu melawannya, dan akan kami usir mereka dari negeri itu (Saba') secara terhina dan mereka akan menjadi (tawanan) yang hina dina." (Al Naml [27]: 37)

Sebelum Ratu Balqis datang sendiri, Nabi Sulaiman meminta di antara prajuritnya membawa singgasana Ratu Balqis. Abdullah ibn Syaddad mengatakan, saat itu Ratu Balqis berada pada jarak satu farsakh dari istana Nabi Sulaiman (hlm. 93).

Buku Sulaiman: The Word's Greatest Kingdom History menjadi menarik karena tidak hanya memberi wawasan sejarah Nabi Sulaiman dari dua kitab suci. Manshur 'Abdul Hakim menggali benda-benda peninggalan sang raja dan ratu yang masih tersisa dilengkapi dengan gambarnya. Jejak arkeologis Nabi Sulaiman dan Ratu Saba' bisa menjadi wisata sejarah baru.

Minggu, 03 April 2016

Historiografi Sastra Indonesia

Judul : Kitab Sejarah Sastra Indonesia
Penulis : Yant Mujiyanto dan Amir Fuady
Penerbit : Penerbit Ombak, Yogyakarta
Terbitan : Pertama, 2014
Tebal : 305 halaman
ISBN : 602-258-212-0
Dimuat di: Harian Nasional 26-27 Maret 2016  


Membincang sejarah sastra tidak hanya berbicara kejadian atau peristiwa masa lalu secara kronologis. Tapi, juga mengupas seluk beluk kehidupan sastra: meliputi tokoh-tokoh sastra, sastrawan-sastrawati, para ahli sastra, proses dan hasil kreativitas. Buku ini melacak sejarah sastra Indonesia mulai dekade 1920-an, sekalipun embrionya jauh sebelum itu.

Para pemerhati sastra sepakat bahwa kesusastraan Indonesia modern dimulai sekitar 1920. Kelahiran sastra Indonesia modern ditandai dengan ditinggalkannya bentuk puisi lama (pantun dan syair), meskipun rima dan irama lama masih digunakan (hlm. 26).

Perjalanan sastra Indonesia terbagi dalam beberapa angkatan/periode. Angkatan pertama adalah Balai Pustaka (1920-1933). Ciri-ciri tema sastra angkatan ini berbicara tentang pertentangan adat muda dan tua serta kawin paksa, dan bebas dari unsur politik dan agama. Gaya bercerita prosanya masih terpengaruh sastra Melayu yang mendayu-dayu (hlm. 42). Hal ini kita temui pada karya-karya Marah Rusli, seperti Siti Nurbaya dan Memang Jodoh.

Karya Angkatan Pujangga Baru (1933-1942) hadir dengan semangat baru. Tema-temanya menampilkan semangat nasionalisme Indonesia. Banyak terpengaruh Angkatan 1880 di Belanda, sehingga puisi-puisinya banyak yang berbentuk soneta (hlm. 48). Pada angkatan ini para pengarang dan penyair tak lagi didominasi Sumatra sebagaimana angkatan Balai Pustaka.

Pada Angkatan Masa Jepang (1942-1945) sastra Indonesia mengalami perkembangan pesat karena bahasa Belanda tak lagi boleh digunakan. Namun sensor Jepang begitu mencengkeram, sehingga banyak pengarang yang terpaksa menyimpan dulu karyanya atau menulis dengan menggunakan simbol, sehingga lahirlah sastra simbolik (hlm. 58). Sastrawan Angkatan 45 mendorong kemerdekaan dan perjuangan revolusi fisik melalui berbagai bentuk karya tulis. Bahkan, tema-tema kemerdekaan sangat mempengaruhi penggunaan bahasa, sehingga pada saat itu tidak ada lagi irama lamban dan mendayu-dayu. Sastrawan angkatan ini dimotori oleh Chairul Anwar.

Pada dekade 50-an sastra Indonesia mengalami booming cerpen. Di Angkatan Generasi Kisah (1953-1961) ini pokok cerita berkisah sekitar kehidupan sehari-hari, sehingga mutunya tidak terlalu tinggi. Penilaian para kritikus, dominasi ideologi Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) PKI melumpuhkan kreativitas pengarang yang sebelumnya telah menunjukkan kemampuan yang tinggi (hlm. 83).

Dominasi dan tekanan kiri melahirkan Generasi Manifes Kebudayaan (1961-1970). Sastra Angkatan 66 ini menekankan tegaknya keadilan dan kebenaran berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Bersama Orde Baru yang dikomandani Jenderal Soeharto, sastra ikut menumbangkan Orde Lama, mengikis habis Lekra dan PKI (hlm. 171).

Dengan lenyapnya PKI, para pengarang yang pada 1964 hilang dari peredaran mulai kembali aktif menulis. Semangat eksperimen dalam berekspresi seperti jamur di musim penghujan. Pada dekade 70-an-80-an muncul para pembaharu sastra Indonesia dengan karya-karyanya yang unik dan segar seperti Sutardji Calzoum Bachri. Karakteristik sastra Angkatan 80 ada inovasi dalam ide dan teknik ungkapan, serta memberikan penghayatan yang lebih intens pada masalah agama, filsafat, hukum, sosial, dll (hlm. 108).

Dalam 70 tahun perjalanan sastra Indonesia, penulis dipenuhi laki-laki. Pada Generasi Sastra Mutakhir (1990-sekarang) ini banyak sekali muncul pengarang perempuan seperti Ayu Utami, Linda Christianti, Dewi Lestari, dan Helvy Tiana Rosa. Tema karya-karya era reformasi anti penindasan, pro keadaan dan kesetaraan.

Buku Kitab Sejarah Sastra Indonesia tak hanya menarasikan perjalanan sastra dari angkatan/periode ke angkatan/periode, tapi juga karya-karya terpenting sastrawan yang memberikan warna sastra Indonesia. Sepintas juga dijelaskan tren sastra Indonesia mutakhir. Sayang salah ketik dan tanda baca bertebaran nyaris di tiap halaman.

Senin, 11 Januari 2016

Historiografi Poligami di Jawa

Judul : Sejarah Poligami
Penulis : Justito Adiprasetio
Penerbit : Ombak
Terbitan : Pertama, 2015
Tebal : xiii+156 halaman
ISBN : 602-258-334-9
Dimuat di: Majalah Gatra, 17-23 Desember 2015

Sebuah peta pergeseran praktek dan wacana poligami di Jawa dari masa ke masa. Membongkar perubahan wacana poligami karena dominasi budaya, pendidikan, regulasi, dan kuasa.

Praktik poligami (baca: poligini) telah berlangsung sebelum bangsa ini berdiri. Wacananya dari masa ke masa mengalami pergeseran. Buku ini mengkaji bagaimana poligami mulai dibicarakan dari masa pra kolonial, kolonial, dan pasca kolonial.

Justito Adiprasetio membuka wacana poligami dari abad ke-13. Pada masa Hindu, tidak ada pembeda antara perkawinan dengan satu pasangan (monogami) maupun jamak (poligami). Artinya, pada masa itu belum ada dikotomi monogami-poligami. Keduanya lebur dalam kategori pernikahan.

Undang-Undang Majapahit sekalipun mengatur perihal perkawinan, namun pasal-pasalnya tidak membicarakan praktik poligami, apalagi sampai mengatur atau bahkan melarang. Poligami berlangsung secara bebas dan bukan sesuatu yang tabu seperti saat ini. Butir-butir pasal UU Majapahit hanya mengatur pembagian warisan terkait kasta tertinggi yang memiliki empat orang istri.

Sebagaimana motif perkawinan pada waktu itu sebagai strategi kuasa, maka poligami menjadi bagian di dalamnya. Perkawinan Raden Wijaya dengan putri-putri Kertanegara mengindikasikan poligami dipraktikkan sebagai bagian dari politik perkawinan untuk melanggengkan kuasa (hlm. 65).

Sementara Islam yang mengalami infiltrasi di Jawa pada tahun 1400 membicarakan poligami. Bedanya dengan Hindu dalam praktik poligami, Islam tidak mengenal sistem kasta dengan hak-hak istimewa yang melekat. Selain itu, Islam membatasi pernikahan hanya empat istri. Islam tidak memisahkan antara posisi istri (permaisuri) dan selir sebagaimana dalam tradisi Hindu.

Namun, poligami tetap dijadikan sebagai strategi politik yang didasari atas agama, seperti Raden Patah yang memiliki tiga orang istri untuk memperkuat dakwah Islam. Ketiga perkawanannya dapat memiliki posisi penting dalam kerajaan. Istri pertama putri Sunan Ampel, istri kedua putri Randu Sanga, dan istri ketiga putri bupati Jipang (75-76).

Dengan menjadikan pernikahan sebagai strategi kuasa, bukan sebagai pemadatan cinta, maka orangtua (baca: bapak) memiliki otoritas penuh untuk memilihkan calon pasangan putrinya. Perempuan tidak memiliki kebebasan memilih dan menentukan pasangan hidupnya. Prinsip orangtua Jawa: twiting resna merga kulina, cinta datang karena terbiasa.

Seiring datangnya kolonial yang membawa modernisme, praktik poligami yang dianggap tradisional mulai dipersoalkan dan akhirnya ditentang. Dalam kerangka moralitas Eropa, poligami memang identik dengan ketidakberadaban. Etika Kristen yang monogami tetap menjadi pegangan orang Eropa yang datang ke Jawa.

Pemerintah Belanda pada akhirnya melarang para bupati atau gubernur berpoligami sejak mendeteksi korupsi yang diduga karena akibat poligami. Praktik poligami juga dituduh sebagai penyebab minimnya pajak, kurangnya jumlah tenaga, dan rendahnya pertumbuhan penduduk (hlm. 88).

Persinggungan budaya dan pengaruh pendidikan Eropa memperluas wacana anti poligami. Dibukanya pendidikan Barat bagi sebagian besar rakyat Jawa menjadi awal berpikir rasional dan modern perempuan Jawa. Sejak saat itu perempuan mulai mengimajinasikan emansipasi dan poligami dibicarakan sebagai penyebab dari ketertindasan kaum hawa.

Kartini adalah hasil produk ini. Selain lantang menolak poligami, ia lantang menolak witing tresna jalaran saka kulina. Kartini menganggap bahwa setiap perkawinan membutuhkan cinta. Artinya, cinta adalah motif yang kemudian tujuan akhirnya adalah perkawinan, bukan sebaliknya.

Kemerdekaan Indonesia memperkokoh gerakan anti poligami. Bagi Orde Baru, poligami adalah ancaman terhadap konsep keluarga dalam sistem negara integral. Pasca reformasi, poligami semakin populer dibincangkan hingga di media massa, namun lebih banyak diberitakan negatif.

Buku ini mengkaji sejarah poligami di Jawa dengan metode arkeologi. Menarik mencermati perubahan-perubahan wacana poligami dalam buku yang diadaptasi dari tesis penulisnya. Namun terlalu banyak salah ketik dan pengulangan kata dalam buku ini.

Selasa, 22 September 2015

Kerancuan Ajaran Wahabi

Judul: Sejarah Wahabi & Salafi
Penulis: Khaled Abou El Fadl
Penerbit: Serambi
Terbitan: Pertama, Februari 2015
Tebal: 142 halaman
ISBN: 978-602-290-019-1
Dimuat di: Kabar Madura, 16 September 2015

Wahabi adalah gerakan keagamaan Islam yang dikembangkan oleh seorang teolog muslim abad ke-18, yaitu Muhammad ibn Abdul Wahab (w. 1206 H./1792 M.). Gerakan ini mengundang perhatian banyak negara muslim karena metode dakwahnya ekstrem dan ajarannya rancu.

Ciri Wahabi memperlihatkan kebencian yang luar biasa terhadap semua bentuk intelektualisme, mistitisme, dan sektarianisme di dalam Islam, dengan memandang semua itu sebagai inovasi yang menyimpang yang telah masuk ke dalam Islam karena adanya pengaruh-pengaruh dari luar Islam (hlm. 9).

Ibn Abdul Wahab meyakini, ajaran tasawuf, doktrin perantara (tawasul), rasionalisme, ajaran Syiah, serta banyak praktik lain merusak Islam. Dan perusak Islam (baca: pelaku bidah) halal darahnya dengan mengacu pada kejadian ketika Abu Bakar membakar orang-orang munafik hingga mati. Argumen ini yang digunakan bahwa para pendukungnya dibenarkan menyiksa lawan-lawan mereka (hlm. 23).

Ia mengajak kembali kepada sumber primer Islam, yaitu Al Qur'an dan hadits. Namun di balik jargon dan cita-cita kembali pada Al Qur'an dan hadits, ajaran Wahabi pada tataran praktis rancu. Inkonsistensi ideologis tersebut hingga saat ini belum bisa didamaikan atau dipecahkan.

Pertama, semangat Ibn Abdul Wahab menjaga kemurnian Islam dari praktik budaya luar yang dinilai telah mencemari Islam, justru terjebak pada budaya Arab --lebih tepatnya, budaya Badui Arab. Yaitu, daerah di wilayah Najd di negara Saudi. Ia telah membuat blunder antara budaya Arab dengan ajaran Islam yang universal (hlm. 20).

Menurut Khaled Abou El Fadl, pada abad 18 saat Wahabi mulai diperkenalkan, Najd termasuk wilayah paling tribal, kurang berkembang, dan dihuni oleh kelompok masyarakat yang kurang beragam. Budaya masyarakat setempat yang diagung-agungkan Ibn Abdul Wahab dan diklaim sebagai ajaran Islam yang murni (hlm. 34).

Kedua, Ibn Abdul Wahab menolak tunduk pada mazhab pemikiran yurisprudensi yang sudah mapan. Hal itu dinilai sebagai perbuatan bidah. Namun, Ibn Abdul Wahab pada akhirnya menegaskan bahkan memerintah taqlid dalam bentuk yang berbeda.

Kata Abou El Fadl, Wahabi melarang praktik taqlid sejauh terkait dengan ahli hukum yang tidak disukainya, namun memerintahkan umat Islam mengikuti pemikiran Wahabi secara buta dan tidak kritis (hlm. 29).

Ketiga, Ibn Abdul Wahab sangat fanatik membenci kaum nonmuslim. Ia menegaskan bahwa umat Islam harus tidak bersahabat, menjalin aliansi, atau meniru kaum non muslim atau kaum muslim pelaku bidah (hlm. 15).

Namun pada sisi yang lain, Wahabi menjali aliansi dengan dengan Kerajaan Arab Saudi dan Inggris dalam memerangi Turki untuk mengubah wajah Semenanjung Arab (hlm. 37).

Buku Sejarah Wahabi & Salafi penting dibaca, khususnya kaum nahdliyin. Dalam konteks Indonesia, gerakan Wahabi di Arab Saudi melahirkan berdirinya Nahdlatul Ulama pada 31 Januari 1926.

Khaled Abou El Fadl cukup menguasai sejarah dan perkembangan Wahabi. Dari buku terbitan Serambi setebal 142 halaman itu pembaca bisa mewaspadai gerakan Wahabi masa kini yang telah merasuk di segala lini.

Minggu, 20 September 2015

Menghadirkan Sejarah Indonesia Lebih Islami

Judul: K. H. R. As'ad Syamsul Arifin
Penulis: Ahmad Sufiatur Rahman
Penerbit: Tinta Medina, Solo
Terbitan: Pertama, Mei 2015
Tebal: XXXVIII+210 halaman
ISBN: 978-602-72129-7-8
Dimuat di: Rakyat Sumbar, 12 September 2015

Jika hanya mengandalkan kekuatan tenaga dan senjata yang dimiliki para pejuang Indonesia, sulit sekali melawan apalagi mengalahkan penjajah. Andalan senjata para gerilyawan masih tradisional sementara senjata musuh sudah cangguh dan modern. Beruntung ada kekuatan supranatural yang membantu memukul mundur Belanda. Itulah ilmu kanuragan.

Namun peran ilmu kanuragan tidak banyak tercover --untuk mengatakan tidak ada sama sekali-- dalam buku sejarah. Secara ilmiah memang tidak logis tapi empiris. Perjuangan ulama dalam mengusir kolonialisme tidak hanya dalam bentuk produksi fatwa sebagai motivasi agama dan terjun langsung memimpin perang, tapi juga memberikan amalan kekebalan kepada para pelaku sejarah agar terhindar dari serangan dan mampu menyerang dengan kekuatan luar biasa.

Fakta tersebut sangat nyata dalam perjuangan K. H. R. As'ad Syamsul Arifin dalam merebut senjata di gudang mesiu Desa Dabasan, Bondowoso, Jawa Timur, pada tahun 1947. Kiai As'ad dan para Pelopor berhasil "mencuri" senjata modern Belanda berkat mengamalkan ilmu kanuragan yang diberikan Kiai As'ad.

Beberapa santri pernah melihat dengan mata telanjang Kiai As'ad menghilang. Kiai As'ad memang dikenal memiliki ilmu mecah diri. Bahkan, pesawat yang hendak mengebom Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah meledak terlebih dahulu karena pesantren dikelilingi pagar gaib, berupa pasir yang telah di-jaza' (dijampi-jampi) dengan asma', hizib, dan aurad oleh santri yang telah menjalani riyadhah. Ilmu tersebut oleh Kiai As'ad digunakan untuk memperjuangan kemerdekaan Indonesia.

Sebelum Kiai As'ad dan Pelopor berangkat mengambil senjata Belanda, mereka oleh Kiai As'ad diberi azimat di dalam air yang dipercikkan ke tubuh mereka agar kebal peluru (hlm. 109). Perantara azimat tersebut, mereka selamat selama perjalanan, sekalipun sempat diserang warga. Di antara mereka hanya mengalami robek pakaian akibat sabetan celurit (hlm. 129).

Setibanya di tempat gudang mesiu, Kiai As'ad memberi azimat kepada orang-orang yang akan masuk ke dalam gudang agar mudah menyelinap karena gudang dalam penjagaan ketat pasukan Belanda, termasuk memberi minyak "kidung kencana" agar kebal terhadap senjata api dan senjata tajam (hlm. 135).

Berkat pemberian sepotong lidi dari Kiai As'ad, anggota Pelopor lolos dari pasukan Belanda yang mondar-mandir dan melongo saat terdengar bunyi gemerisik daun kering yang terinjak Pelopor. Kiai As'ad juga memberi azimat untuk membuka kunci gembok gudang mesiu, sekaligus untuk menidurkan pasukan Belanda yang berjaga (hlm. 136).

Selain Kiai As'ad, ilmu kanuragan juga pernah dilakukan para kiai ketika melindungi gedung RRI (Radio Republik Indonesia) di Surabaya yang masih utuh ketika digempur pesawat pengebom Inggris (hlm. 118). Sayangnya, penulisan sejarah Indonesia terlalu sekuler, sehingga kekuatan supranatural melalui berbagai pendekatan dan riyadhah kepada Pemilik Jagad Raya oleh ulama tak tercover dalam buku sejarah.

Ahmad Sufiatur Rahman dalam buku K. H. R. As'ad Syamsul Arifin, Kesantria Kuda Putih Santri Pejuang, menghadirkan sejarah "pencurian" senjata secara lebih islami dengan bahasa yang enak dibaca. Jauh dari kata-kata kaku dan membosankan layaknya buku sejarah pada umumnya, karena dikemas dalam bentuk fiksi tanpa menghilangkan fakta yang sesungguhnya.

Untuk memperkuat karakter dan dan memperkaya ilustrasi, penulis menyusuri medan berat 100 desa yang dilintasi Kiai As'ad dan para Pelopor saat mengambil senjata Belanda. Penulis merasakan letihnya perjalanan, aroma kayu basah, dan bunyi tonggerek hutan. Namun penulis menyadari perjalanannya tidak akan persis sama dengan Kiai As’ad. Perjalanan Kiai As'ad lebih rumit dan sulit dari sekadar tapak tilas, karena dalam kondisi perang.

Rabu, 05 Agustus 2015

Peran Kiai As'ad dalam Perebutan Senjata Belanda

Judul: K. H. R. As'ad Syamsul Arifin, Kesantria Kuda Putih Santri Pejuang
Penulis: Ahmad Sufiatur Rahman
Penerbit: Tinta Medina, Solo
Terbitan: Pertama, Mei 2015
Tebal: XXXVIII+210 halaman
ISBN: 978-602-72129-7-8
Dimuat di: NU Online

Pada tahun 2014, Wakil Gubernur Syaifullah Yusuf membuka tapak tilas dalam rangka menyusuri jalur perjuangan KH. R. As'ad Syamsul Arifin melintasi 100 desa untuk berebut senjata Belanda di gudang mesiu Desa Dabasan Bondowoso pada tahun 1947. Tak kurang dari 4000 peserta mengikuti kegiatan tersebut.

Pada 2002, Gus Dur membuka acara tersebut. Diikuti sekitar 5000 santri Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo.

Memang Kiai As'ad memiliki peran penting dalam merebut senjata Belanda. Beliau turun langsung berbaur dengan bromocorah yang menjadi binaannya (disebut Pelopor) memimpin perebutan senjata sambil berpuasa pada 20 Juli 1947 untuk mendukung perlawanan gerilyawan atas agresi militer Belanda.

Para Pelopor sebenarnya meminta Kiai As'ad untuk tidak turun langsung ke dalam hutan. Mereka khawatir terkena serangan Belanda. Namun, beliau bukan tipe orang yang suka duduk manis di atas kursi melihat orang lain bekerja. Beliau bersikeras ikut serta merebut senjata dan siap berperang melawan Belanda.

Kiai As'ad menyadari cinta tanah air bagian dari iman, dan pentingnya sebuah tanah air untuk mengamalkan ajaran agama. Agama tanpa tanah air sulit untuk direalisasikan. Sementara tanah air tanpa agama akan amburadul. Keduanya ibarat sebuah mata uang, sisi yang satu dengan yang lain tak bisa dipisahkan.

"Perang itu harus niat menegakkan agama dan 'arebbuk negere (merebut negara), jangan hanya 'arebbuk negere! Kalau hanya 'arebbuk negere, hanya mengejar dunia, akhiratnya hilang! Niatlah menegakkan agama dan membela negara sehingga kalau kalian mati, akan mati syahid dan masuk surga" (hlm. 138).

Demikian motivasi yang Kiai As'ad tanamkan kepada para Pelopor. Dengan motivasi itu, para Pelopor semangat menyusuri jalan cadas nan berbatu menanjak melintasi 100 desa, dan tak takut mati untuk memperoleh senjata demi mempertahankan tanah air sebagai bentuk pengamalan orang beriman.

"Kalian tidak boleh mundur. Kalau mati, akan syahid dan masuk surga. Namun, jika lari ke belakang, kalian akan meninggal dalam keadaan kafir," dawuh Kiai As'ad kepada para Pelopor sebelum berangkat merampas senjata Belanda (hlm. 107).

Misi mengambil senjata tak mengalami hambatan berarti, namun satu anggota Pelopor tewas. Anggota Pelopor berhasil mengambil 24 senjata api dan amunisi, termasuk senapan jenis bren, sten gun, lee enfield, mortir, light machine gun, serenteng peluru tajam, dan granat (hlm. 136-137).

Sementara pesantren Salafiyah Syafiiyah menjadi tempat berlindung dan menyusun strategi para gerilyawan. Sehingga, pasukan Belanda menggerebek pesantren untuk mencari gerilyawan dan senjata. Bahkan, pesantren hendak dibom karena dinilai membahayakan tapi pesawatnya meledak terlebih dahulu di udara, sementara gerilyawan berhasil kabur dari pesantren termasuk Kiai As'ad.

Namun, ada penyusup dan yang dipandu oleh orang dalam Pesantren Sukorejo sendiri yang berkhianat. Penggerebekan pesantren menjadi ajang fitnah di media dan Kiai As'ad dituduh melakukan makar pada NKRI dan terlibat dalam DI/TII. Akhirnya Kiai As'ad menjadi tahanan politik selama enam bulan. Kiai As'ad kembali ke Sukorejo tahun 1954.

Buku K. H. R. As'ad Syamsul Arifin, Kesantria Kuda Putih Santri Pejuang membawa imajinasi pembaca menyusuri perjuangan Kiai As'ad mulai merebut senjata Belanda hingga kembali ke Sukorejo setelah dipenjara. Penting dibaca negeri muda di tengah lunturnya rasa memiliki terhadap tanah air.

Berbeda dengan buku Kharisma Kiai As'ad di Mata Umat (LKiS, 2013) dan Sang Pelopor (Pena Salsabila, 2014) yang penulisnya menggunakan pendekatan non fiksi sehingga harus menggunakan bahasa ilmiah, Ahmad Sufiatur Rahman menulis dalam bentuk fiksi sejarah. Buku setebal 210 halaman jauh dari membosankan layaknya buku sejarah pada umumnya.

Minggu, 05 Juli 2015

Istanbul di Mata Pamuk

Judul: Istanbul; Kenangan Sebuah Kota
Penulis: Orhan Pamuk
Penerbit: Serambi
Terbitan: Pertama, April 2015
Tebal: 561 halaman
ISBN: 978-602-290-036-8
Dimuat di: Koran Madura

Turki salah satu kota destinasi wisata. Sedikitnya ada 11 situs yang diakui sebagai Warisan Dunia oleh UNESCO yang tersebar di negara seluas 750.000 kilometer tersebut. Salah satu objek wisata favorit berlokasi di Istanbul, seperti bangunan blue mosque dan jembatan Bosphotus.

Istanbul selalu menjadi dambaan wisatawan yang berpelesir ke Turki. Kemurungannya ditutupi oleh gemerlap Bosphorus. Jika Istambul berkisah tentang kekalahan, kehancuran, kehilangan, kesedihan, dan kemiskinan, Bosphorus berkisah tentang kehidupan, kesenangan dan kebahagiaan (hlm. 67).

Namun, berabad-abad sebelum abad ke delapan belas, kota ini hanya terdiri dari beberapa desa nelayan Yunani, dan Bosphorus hanya sebagai jalur air, sebuah tempat yang indah dan, selama dua ratus tahun terakhir, sebuah lokasi yang tepat untuk istana-istana musim panas (hlm. 67).

Tapi kebangkitan Republik Turki dan nasionalisme Turki di abad kedua puluh memusnahkan bangunan yang dibangun keluarga besar Usmani. Kemolekan Istanbul sedikit tercemari. Andai saja warisan masa lalu dipertahankan, Istanbul akan makin mempesona.

Yali–puri tepi laut yang sangat indah menghadap ke laut, dipandang sebagai model identitas dan arsitektur yang sudah usang sehingga tak lagi bisa dinikmati. Pamuk hanya bisa menyaksikan keindahan yali-yali dari lukisan yang diproduksi Melling dalam Memoirs of Bosphorus.

Dari lukisan-lukisan Melling, Pamuk merasa bahagia sekaligus sedih. Terpesona melihat masa lalu yang penuh kejayaan, sedih mengetahui yang digambarkan dalam lukisan akan kejayaan masa lalu sebagian telah tidak bisa dinikmati.

Pamuk menceritakan kegirangan kenangan masa kecil menikmati keindahan Istanbul, dan kesedihan melihat kotanya saat ini yang sudah berubah secara detail dalam Istanbul; Kenangan Sebuah Kota. Pembaca diajak menyusuri Istanbul hingga bagian paling dalam.

Pamuk begitu lihai meracik sebuah cerita tentang sesuatu yang sederhana menjadi jauh dari membosankan. Dalam menikmati kemegahan dan keindahan kotanya saat ini selalu dihubungkan dengan kondisi masa lalu. Pamuk seakan menjadi penghubung peradaban masa lalu dengan masa kini.

Sebagaimana karya-karya Pamuk lainnya, buku setebal 561 halaman terbitan Serambi diwarnai dengan bahasan dan pesona terhadap sastra dan lukisan. Nyaris dalam setiap halaman, pembaca disuguhi lukisan Istanbul dari masa lalu. Sebuah buku yang sangat penting dibaca penyuka pelesir dan penikmat sejarah.

Selasa, 20 Januari 2015

Rumah Cinta Rasulullah

Judul: Bilik-Bilik Cinta Muhammad SAW
Penulis: Dr. Nizar Abazhah
Penerbit: Zaman
Terbitan: Pertama, 2014
Tebal: 332 halaman
ISBN: 978-602-1687-22-2
Dimuat di: Kabar Madura, Jumat 16 Januari 2015

Kehidupan Rasulullah yang dibidik sejarawan lebih banyak posisinya di ruang publik dibandingkan di ruang privat. Sejarah tentang beliau yang mengemuka selalu berkaitan dengan peperangan, kepemimpinan, dan kerasulan. Sedangkan kehidupan rumah tangganya tak banyak dibidik.

Padahal, kehidupan rumah tangga Rasulullah tak kalah menarik untuk dipaparkan ke publik. Beliau panutan segala hal, termasuk sebagai suami dari istri-istrinya dan bapak dari anak-anaknya. Setiap mukmin perlu mencontoh beliau dalam mengatur kehidupan rumah tangga.

Rasulullah berhasil menghadapi banyak istri dengan beragam latar belakang, agama, dan karakter. Tak pernah sekalipun beliau melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dalam mengatasi masalah yang melilit rumah tangganya.

Saudah, istri Nabi Muhammad yang kedua, pernah mengeluarkan kata-kata yang menyakiti beliau. Tapi, Nabi tidak bertindak reaktif. Tak tampak sama sekali beliau marah. Nabi hanya memberi peringatan bahwa ucapannya tak sopan dan tak layak dilontarkan dari orang seperti dia (hlm. 84).

Pada kesempatan lain, Aisyah dan Hafshah bersekongkol memutarbalikkan fakta tentang madu istri Nabi yang lain, yaitu Zainab bint Jahsy. Setelah Al Qur'an membuka kedok keduanya, beliau hanya mencela tanpa diiringi kekerasan fisik (hlm. 95-97).

Lemah lembut Rasulullah bukan berarti tak berdaya menghadapi perempuan. Sanksi tetap diberlakukan untuk memberikan efek jera. Sanksi yang dijatuhkan Rasulullah lebih kepada menyentuh psikologis ketimbang dengan cara-cara kasar. Sangat tak pantas orang yang pada malam hari dikumpuli pada siang hari dipukuli (hlm. 153).

Rumah tangga Rasulullah digambarkan dengan miniatur surga; baiti jannati (rumahku surgaku). Bukan karena bangunannya yang megah dilengkapi dengan berbagai fasilitas mewah. Namun, bangunan rumah tangga yang selalu dihiasi cinta, romantisme, saling pengertian, keterbukaan, dan kasih sayang.

Secara fisik, rumah Rasulullah amat tidak layak dengan posisinya sebagai kepala negara dan pemimpin agama. Isi rumah yang ditempati Ummu Habibah (Ramlah bint Abu Sufyan), misalnya, hanya sebuah tikar dan alas tidur (hlm. 139). Tapi penghuninya tetap merasakan kehangatan di dalamnya.

Rasulullah selalu romantis dan menuruti kemauan para istrinya, selama tak bertentangan dengan agama. Tak segan beliau meminta disisir (hlm. 91), meminum dari bejana tapat pada tempat bibir istrinya (hlm. 99), bahkan mandi berdua dalam satu bejana (hlm. 156).

Hiperseks
Buku Bilik-Bilik Cinta Muhammad SAW, bukan hanya penting dibaca untuk meneladani kehidupan Rasulullah dalam bergaul dengan istri dan buah hati. Dr. Nizar Abazhah sekaligun membantah tuduhan orientalis bahwa Rasulullah laki-laki hiperseks.

Perlu dipahami, termasuk juga oleh pihak yang memahami poligami secara literal-tekstual, dari 18 istri Nabi (11 perempuan merdeka, 2 budak, 5 bercerai sebelum pernah berkumpul), pernikahan Rasulullah bukan semata untuk menyalurkan hasrat biologis, tetapi lebih kepada misi pemberdayaan perempuan dan pengembangan dakwah.

Rasulullah menikah dengan Saudah untuk meringankan beban penderitaan sepeninggal suaminya dan menjaga fitnah dari kaumnya yang kafir yang sangat membencinya. Demikian pula dengan pernikahannya dengan Ummu Salamah; untuk meringankan beban hidupnya menanggung empat anak, bahkan satu di antaranya masih usia menyusui.

Hafshah dinikahi untuk diberdayakan setelah ditinggal mati suaminya dalam perang Uhud, semenatara umurnya masih 18 tahun. Setali tiga uang dengan pernikahan bersama Zainab bint Khuzaimah.

Satunya-satunya istri Rasulullah yang perawan hanyalah Aisyah bint Abu Bakar, selebihnya adalah janda bahkan telah memiliki anak. Lagian, beliau berpoligami saat usianya di atas kepala lima, yang secara biologis hasrat nafsunya sudah berkurang dan mentalnya matang.

Rabu, 29 Januari 2014

Menyingkap Berkah Ka'bah

Judul: Sejarah Ka'bah
Penulis: Prof Dr. Ali Husni al-Kharbuthli
Penerbit: Turos Pustaka
Terbitan: Ketiga, September 2013
Tebal: 364 halaman
ISBN: 978-602-99414-9-4
Dimuat di: NU Online

Orang yang mengetahui sejarah Ka'bah tak akan membantah bahwa dari sembilan keajaiban dunia, Baitullah (rumah Allah) adalah tempat yang paling ajaib. Bangunan berukuran 12,84 meter (sisi timur laut), 12,11 meter (sisi barat daya), 11, 28 meter (sisi barat laut), dan 11,53 meter (sisi tenggara) itu, menyedot perhatian banyak orang. Bahkan pemerintah negara-negara Muslim mencurahkan perhatian khusus, dan sudah berlangsung dari masa ke masa.

Lembah tandus, sempit --tidak lebih dari 700 langkah pada awalnya-- dengan dikelilingi gunung cadas dan tidak ditumbuhi pepohonan, sebelum kedatangan Nabi Ibrahim dan Ismail jauh dari hiruk pikuk manusia. Tak ada aktivitas manusia, bahkan burung-burung pun enggan hinggap di lembah tersebut karena memang untuk mendapatkan air saja sangat sulit.

Saat ini, tanah tandus itu gemerlap. Menyaksikan kemegahan Mekah sekarang sulit membayangkan kesulitan Siti Hajar saat mondar-mandir mencari air untuk sekadar diminum, setelah bekal untuk Ismail habis. Kini, lembah tersebut menjadi kota padat, setiap harinya didatangi banyak umat manusia dari berbagai belahan dunia.

Kota Mekah setiap tahunnya didatangi sekitar 7-8 juta orang (hlm. 117). Jumlah kunjungan tiap tahunnya terus mengalami tren peningkatan, sehingga harus dibatasi. Rasanya belum ada satu pun kota di dunia yang menyamai Mekah dan Madinah dalam kunjungan orang asing tiap tahunnya.

Kementerian Urusan Haji dan Umrah Arab Saudi mencatat, pada tahun 2012, jumlah jemaah haji saja yang mendatangi dua kota tersebut sekitar 2,9 juta orang. Rilis tersebut meningkat drastis dari tahun-tahun sebelumnya. Jemaah umrah lebih tinggi lagi. Selama bulan Ramadhan 1433 H saja mencapai 4,8 juta (hal. 117).

Banyaknya pengunjung dari berbagai belahan dunia memberikan berkah ekonomis pada pemerintah dan warga yang tinggal di Mekah, Madinah dan sekitarnya seperti Jeddah. Dalam kurun waktu 2004-2005 saja, Kepala Komisi Transportasi, Kamar dan Industri Arab Saudi menyebutkan angka sekitar 30,6 miliar Riyal (Rp. 76,5 triliun) devisa yang diperoleh dalam kurun waktu 2004-2005. Dalam setiap tahunnya, devisa yang masuk terus meningkat (hal. 118).

Hal ini tentu tidak lepas dari doa yang dipanjatkan Nabi Ibrahim saat melepas istri dan putranya, Siti Hajar dan Ismail, di tanah yang tidak memiliki tanam-tanaman itu. Allah mengabadikan doa Nabi Ibrahim dalam Al Qur'an Surah Ibrahim (14): 37.

Untuk meningkatkan pelayanan jemaah haji dan umrah yang terus membludak dibutuhkan banyak investasi. Guru besar ekonomi Saudi Fahd al-Andeejani menyatakan, investasi di bidang jasa akan lebih banyak lagi menyerap tenaga kerja. Saat ini yang sudah berjalan layanan penyediaan air Zamzam (hal. 119).

Arab News mencatat, sektor jasa penyediaan air Zamzam menyerap ribuan tenaga kerja. Belum lagi sektor jasa lainnya seperti menginapan dan katering yang menghasilkan keuntungan hingga 3 miliar riyal atau sekitar Rp7,5 trilian. Sementara sektor transportasi diperkirakan meraup keuntungan hingga 5 miliar Riyal atau Rp. 12,5 triliun. Belum lagi suvenir seperti sajadah, karpet, parfum dan perhiasan (hal. 119-120).

Peluang besar ini tampaknya terendus hingga ke Indonesia. Hingga saat ini, masyarakat yang kesulitan mengakses pekerjaan di negeri ini menjadikan Arab Saudi sebagai negara tujuan utama mencari nafkah, sekalipun ada banyak TKW yang mengalami perlakuan tidak manusiawi. Pemilihan negeri para nabi sebagai tempat TKI terbanyak selain Malaysia bukan semata karena upah.

Selain karena upah yang lumayan besar, tenaga kerja lebih memilih Arab Saudi sebagai tempat mencari nafkah karena keuntungan yang diperoleh tidak semata berorientasi dunia. TKI tidak hanya memperoleh uang tapi sekaligus bisa menyempurnakan rukun Islam yang kelima, menunaikan umrah atau haji, yang tidak ditemukan di negara lain.

Buku Sejarah Ka'bah yang ditulis Guru Besar Sejarah Islam Universitas 'Ain Shams, Kairo, Mesir, Prof. Dr. Ali Husni al-Kharbuthli, menjawab 1001 pertanyaan seluk beluk bangunan Ka'bah, dari masa ke masa.

Dengan bahasa bertutur yang cukup baik, tidak seperti literatur sejarah pada umumnya yang cenderung menoton dan membosankan, dalam buku setebal 361 itu dikupas aspek agama, politik, ekonomi dan sosial yang mengiringi bangunan Ka'bah yang tetap berdiri kokoh tak lapuk dimakan zaman.

Penerbit Turos Pustaka menyisipkan hasil kajian ilmiah tentang Ka’bah. Juga dilengkapi panduan haji dan umrah. Wallahu a’lam.

Senin, 25 November 2013

Jangan Lupakan Sejarah

Judul: Kutukan Seorang Ibu
Penulis: Syarif Yahya
Penerbit: Marja', Bandung
Terbitan: Pertama, Juni 2013
Tebal: 139 halaman ISBN: 979245762-3
Dimuat di: Kedaulatan Rakyat, 24 November 2013

Al Qur'an banyak memuat sejarah umat-umat terdahulu. Jumlah ayatnya mencapai ratusan. Hal ini menandakan bahwa sejarah sangat penting untuk diketahui. Peristiwa masa lampau bukan hanya sekadar dokumentasi, namun bagaimana umat setelahnya bisa mengambil inspirasi (QS. Yusuf: 111).

Dari saking dianggap pentingnya, hampir setiap bangsa memiliki pustaka hikayat yang diwariskan secara turun temurun dan menjadi asupan pelajaran pertama bagi anak-anak sejak dalam timangan ibunya. Menyebut segelintir contoh, Irak populer dengan Alfu Laila wa Laila (Seribu Satu Malam), Persia terkenal dengan Shahnamah, dan India masyhur dengan Mahabrata dan Ramayana (hlm. 8).  

Kutukan Seorang Ibu adalah buku himpunan kisah-kisah bijaksana nan super inspiratif yang disusun Syarif Yahya dari beberapa literatur yang masih relevan untuk diambil hikmah. Dalam buku setebal 138 halaman itu terdapat 30 kisah yang terbagi dalam tiga bagian.

Salah satu cerita yang sangat menarik adalah tentang Lukman Hakim saat mengajari ilmu kepada anaknya dengan melakukan perjalanan dari satu desa ke desa yang lain. Di desa pertama Lukman menjadi gunjingan masyarakat setempat karena dirinya mengendarai keledai semenatara anaknya berjalan. Ia dinilai tidak punya belas kasihan. Di desa berikutnya, giliran anaknya yang mengendarai keledai dan Lukman yang berjalan kaki. Hal itu juga menjadi perbincangan karena anak Lukman dinilai tidak punya sopan santun kepada orangtua.

Perjalanan terus berlanjut. Di desa ketiga Lukman dan anaknya sama-sama mengendarai keledai. Namun, perbuatan tersebut kembali menuai reaksi dari masyarakat yang melihatnya. Lukman dan anaknya dinilai tidak punya belas kasihan kepada hewan yang ditunggangi. Memasuki desa berikutnya, Lukman dan putranya sama-sama berjalan kaki. Tapi aksinya kembali mendapat sorotan. Mereka dinilai bodoh karena hewan yang dibawa tidak ditunggangi.

Apa pelajaran yang bisa diambil dari kisah singkat tersebut? Kata Lukman Hakim: Wahai anakku, jika kau mengarungi dunia ini tanpa prinsip matang di hatimu, niscaya engkau akan terombang-ambing oleh ucapan manusia (hlm. 23).

Sangat menarik kisah-kisah dalam buku tersebut, namun penulis tak menyertakan sumber rujukan, sehingga otentisitas beberapa cerita masih dipertanyakan, apalagi ada sebagian cerita israiliyat (cerita tentang atau yang diriwayatkan oleh Bani Israil).