Sabtu, 21 Oktober 2023

Mahfud MD dan Karakter Orang Madura

Judul: Biografi Mahfud MD, Terus Mengalir

Peulis: Rita Triana Budiarti

Penerbit: Konstitusi Press, Jakarta.

Cetakan: Pertama, Maret 2013

Tebal: xxxii+614 halaman

ISBN: 978-602-18634-8-0


Sekalipun orang Madura selalu jadi bahan lelucon dan tertawaan karena stigma negatif yang sudah berkembang, tidak sedikit putra Madura yang telah berhasil mengisi jabatan negera tingkat nasional dan sukses meniti karir di ibu kota, bahkan luar negeri.

Dari sederet tokoh nasional dari Madura, Mahfud MD orang yang paling mudah dikenali sebagai orang Madura. Saat mendengar nama Mahfud MD yang terbayang adalah pulau garam, Madura. Setidaknya ada dua ciri yang membuat nama pria kelahiran Sampang itu mudah ditebak sebagai orang Madura.

Pertama, kata 'MD' di belakang nama 'Mahfud'. Tidak jarang orang beranggapan, 'MD' adalah singkatan dari Madura. Penambahan kata 'MD' (Mahmudin, orang tua Mahfud) secara tidak sengaja oleh gurunya saat belajar di Pendidikan Guru Agama (PGA) untuk membedakan dengan siswa  lain yang juga bernama Mahfud tampaknya juga menjadi berkah tersendiri buat suku Madura.

Kedua, logat bicara khas Madura yang masih sangat kental. Sekalipun Mahfud MD besar di Yogyakarta dan berkarir di Jakarta, logat bicara tanah kelahirannya tidak berubah. Ia tidak gengsi dan merasa malu mempertahankan logat bicara bahasa ibu di depan publik.

Buku Biografi Mahfud MD, Terus Mengalir, secara implisit Rita Triana Budiarti semakin meneguhkan  Moh. Mahfud MD sebagai orang Madura. Selain dua ciri tersebut, banyak budaya, watak dan karakter orang Madura yang melekat pada diri Mahfud MD, yang tak banyak diketahui orang.

Anda yang ingin mengenali pribadi sosok yang disebut-sebut calon presiden 2014 secara lebih mendalam sekaligus mengetahui karakter orang Madura yang selalu dikesankan tempramen, kasar dan bodoh, seyogyanya membaca buku setebal 614 halaman itu.

Selain menapaktilas perjalanan hidup alumni pondok pesantren kecil di Kecamatan Waru Pamekasan, yang berhasil mengisi trias politica negeri ini, Anda yang suka dengan hukum dalam setiap lembarnya akan mendapat pelajaran ilmu hukum.

Tidak salah belajar dari pengalaman orang yang tak punya lobi dan upeti meraih kesuksesan diluar cita-citanya yang hanya ingin jadi guru. Namun, bukan lantas buku karya mantan wartawan majalah Gatra tersebut tanpa catat. Tiadanya indeks membuat buku ini kurang sempurna.

Karakter Madura

Mahfud MD memiliki karakter tatag, karakter yang mulai jarang dimiliki pemimpin negeri ini. Tatag yang diekspresikan Mahfud menggambarkan karakter asli orang Madura: berani karena benar bukan karena dibayar, apalagi membela kepentingan. Berani mempertanggung jawabkan apa yang diucapkan dan dikerjakan (Koran Madura, 24 Desember 2012).

Bukan hanya sekali Mahfud MD melontarkan statemen berani: akan berhenti dari jabatannya sebagai Ketua MK jika lembaga yang dipimpinannya terlibat korupsi. Ia buktikan bersihnya lembaga yang dipimpinnya. Berbagai tuduhan yang dialamatkan pada lembaganya sampai dirinya purna tugas, 1 April 2013, tidak ada yang terbukti.

Opini Rafly Harun berjudul "MK Masih Bersih?" di harian Kompas, 25 Oktober 2010, dengan beberapa tuduhan yang meyakinkan publik, misalnya, kebenaran tulisan tersebut tidak terbukti. Untuk membuktikan kebenaran tuduhan itu dan hasilnya objektif, MK melakukan investigasi dengan menunjuk Rafly sebagai koordinator tim investasi didampingi pakar-pakar hukum. (hlm. 445-455).

Ungkapan Mahfud MD, MK institusi bersih dari KKN tampaknya bukan pepesan kosong. Hasil tim investigasi tidak menemukan pembenaran tuduhan Rafly yang dimuat di Kompas tersebut. Ia juga pernah menantang Mensesneg Sudi Silalahi saat menyebut MK pernah melanggar undang-undang dan Ketua MA Harifin Tumpa yang mengatakan tidak ada lembaga pemerintahan yang bersih. Namun, Sudi dan Harifin tampaknya hanya gertak sambal dan tidak bisa membuktikan ucapannya ketika ditantang Mahfud.

Sikap kontroversi dan tatag Mahfud tidak menurunkan kredibilitasnya sebagai seorang pemimpin bersih yang disegani, tapi malah membuat namanya semakin melejit dan digolongkan pemimpin bernyali. Pemimpin yang dibutuhkan negeri ini.

Sikap keras orang Madura yang sering dicitrakan negatif tampaknya juga jadi watak Mahfud MD. Tanpa tedeng aling-aling, sikap keras Mahfud mudah membuncak saat melihat ketidakadilan dan pelanggaran hukum. Tak segan melontarkan kritik, kepada siapapun. Namun sekaligus lemah lembut. Keras tapi ares, watak orang Madura.

Semasa menjadi pembantu Presiden Gus Dur sebagai Menteri Pertahanan, Mahfud MD orang yang bersikeras mencegah Gus Dur mengeluarkan dekrit saat hubungan Presiden dan DPR merenggang, sebelum akhirnya Gus Dur lengser (hlm. 298-301). Mahfud MD pula yang mengungkap borok korupsi mantan Bendahara Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin (hlm. 469-480).

"Kelemahan saya adalah suka ngomong, karena suka menyerempet lembaga dan pejabat lain. Tapi, kelebihan saya adalah suka ngomong, sehingga berani mengatakan hal-hal yang orang lain rikuh atau tak berani mengatakannya. Sebab, sering ada orang yang tak mau meneriakkan kebenaran hanya karena rikuh pada pejabat lain atau takut mengemukakannya," kata Mahfud (hlm. 435-436). Sebab itulah, mungkin, ia digemari pers dan beberapa kali menerima penghargaan dari media massa.

Mahfud MD berani bersikap keras dan tatag karena memang bersih. Tidak pernah neko-neko dengan proyek. Siti Khadijah, ibu Mahfud MD, mendidik putra-putrinya sejak kecil untuk selalu berbuat jujur dan tidak meminta-minta. Meminta bukan tidak boleh tapi tidak baik (juba’). Pola tingkah juba' (buruk) dan bagus (baik) inilah yang selalu ditekankan orang tua Mahfud pada anak-anaknya.

Penolakan Mahfud MD saat menjadi menteri menerima hibah tanah 6.000 m2, satu tas uang dan dua unit apartemen dari pengusaha apartemen Hanry Leo rupanya didasarkan pada pertimbangan juba' dan bagus yang diajarkan orangtuanya di kampung. Seandainya guru besar ilmu hukum itu hanya mempertingkan dari sisi ilmu hokum, hibah tersebut sudah pasti diterima karena pada saat itu belum ada undang-undang gratifikasi.

"Pajekjek ma' sodek, bile lendu ma' ta' agundek" peribahasa Madura yang selalu dipegang teguh Mahfud MD, sampai saat ini, sehingga tak gentar dengan tuduhan-tuhan yang kerap kali dialamatkan pada lembaga dan pribadinya.

Rabu, 16 Mei 2018

Teror di Jantung NU

Jauh hari sebelum intoleransi dan politik identitas keagamaan menguat menjelang, saat, dan setelah Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2017, The Wahid Institute telah menangkap sinyal menguatnya intoleransi di Indonesia.

The Wahid Institute melaporkan pada tahun 2009 terjadi 184 peristiwa intoleran. Pada 2010 sama, yakni 184 peristiwa, pada 2011 terjadi 267 peristiwa, pada 2012 terjadi 278 peristiwa. Pada tahun 2013 sedikit menurun menjadi 245, tapi kasusnya makin menyebar.

Catatan Setara Institute, dari 264 peristiwa pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan pada tahun 2012, terdapat lima provinsi dengan tingkat pelanggaran paling tinggi, yaitu Jawa Barat dengan 76 peristiwa, Jawa Timur 42 peristiwa, Aceh (36), Jawa Tengah (30), dan Sulawesi Selatan (17).

Saat masih aktif mengkampanyekan perdamaian di kalangan remaja dan lembaga-lembaga pendidikan pada 2014-2015, saya tak begitu yakin intoleransi menguat karena belum terasa betul. Saya rasa, kegiatan kampanye damai yang kami lakukan seperti menggarami lautan. Kampanye damai di negeri yang sudah damai.

Namun setelah Pilkada DKI Jakarta 2017, menguatnya intoleransi sangat terasa. Setiap hari di jejaring sosial, netizen disuguhi ujaran kebencian, SARA, hoax, radikalisme. Yang paling mengejutkan, dalam beberapa hari terakhir publik disuguhi rentetan aksi intoleransi. Mulai dari upaya pembacokan polisi di Mako Bromob pasca rusuh. Pengeboman tiga tempat ibadah di Surabaya. Ledakan diduga berasal dari bom di sebuah rusunawa yang berlokasi di belakang Mapolsek Sepanjang Sidoarjo. Lalu penyerangan Polrestabes Surabaya dengan bom kendaraan.

Serangan bom di Surabaya sangat mengejutkan sekaligus melecehkan kami secara khusus warga Nahdliyin dan secara umum umat Islam. Sekalipun sasarannya bukan warga Nahdliyin, Surabaya sebagai tempat lahir NU yang menjunjung tinggi perdamaian ternyata tidak bebas dari tindakan teror. Ini memberi kesan tempat lahir NU sudah jadi sarang teroris.

Selain negara, NU punya tanggung jawab besar untuk membersihkan ekstremis, setidaknya dari tanah kelahirannya. Mantan anggota Jamaah Islamiah (JI), Ali Fauzi kepada media mengatakan, Jawa Timur yang merupakan lumbung NU tempat reproduksi pengantin sekaligus reproduksi bom.

Selama ini NU memang tidak diam menghadapi menguatnya intoleransi. NU perlu mengajak ormas-ormas lain yang tergabung dalam Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) bersuara lantang, sehingga NU tidak sendirian membendung arus intoleransi. Apalagi, isu terorisme menjadi salah satu pemicu lahirnya LPOI.

Langkah sederhana dan preventif yang bisa dilakukan untuk mencegah meluasnya intoleransi di tanah air adalah memperkuat ideologi paham keagamaan masing-masing agar pengikutinya tak terjangkit epidemi terorisme. Minimal menggaransi pengikut ormas masing-masing dari radikalisme.

Jihad Konstitusi
Setelah pengeboman kembali terjadi di Surabaya, banyak pihak yang kembali mendesak DPR agar segera mengesahkan RUU terorisme yang terbengkalai sejak 2016. Sebenarnya, dorongan agar RUU ini segera diselesaikan sudah muncul pascakejadian bom bunuh diri di Kampung Melayu pada 2017 lalu.

Namun, RUU terorisme tak kunjung disahkan karena belum menemukan titik temu. Pasalnya, ada dua pending issue yang menjadi perdebatan antara pemerintah dengan pihak DPR pada satu sisi, dan belum kompaknya partai politik pada sisi yang lain.

Setelah peristiwa di Surabaya, eksekutif dan legislatif terkesan saling lempar tanggung jawab di media massa. DPR salahkan pemerintah dan pemerintah salahkan DPR. Sementara sebagian partai politik menganggap tidak begitu urgen RUU terorisme. Padahal banyak pihak yang berkeyakinan revisi UU terorisme adalah salah satu solusi pemberantasan terorisme.

NU perlu meyakinkan legislatif dan eksekutif untuk segera mengesahkan RUU terorisme demi menyelamatkan rakyat. Legislatif dan eksekutif perlu segera mengakhiri perbedaan pandangan tentang termenologi teroris karena terorisnya sudah di depan rumah-rumah rakyat.

Di legislatif, NU bisa memanfaatkan kader NU yang nyaris tersebar di semua partai politik di Senayan. Forum Silaturrahim Politisi Nahdlatul Ulama (ForsiNU) punya peran penting berjihad melalui konstitusi segera menyelesaikan RUU terorisme.

Sementara di eksekutif, Rais Aam PBNU KH Maruf Amin yang dekat dengan Presiden Joko Widodo bisa meyakinkan pemerintah agar segera mengakhiri perbedaan pandangan dengan DPR terkait RUU terorisme atau segera menerbitkan Perrpu.

Tulisan ini pernah dimuat di rubrik "Suara Santri" Radar Madura, Kamis, 17 Mei 2018.

Minggu, 24 Desember 2017

Artindjo Sosok Sakera Zaman Now

Judul : Sogok Aku, Kau Kutangkap
Penulis : Haidar Musyafa
Penerbit : Penerbit Imania
Terbitan : Pertama, 2017
Tebal : 434 halaman
ISBN : 978-602-7926-36-3
Dimuat di: Radar Madura, 24 Desember 2017

Sosok Artindjo Alkostar menjadi oase di tengah masifnya KKN yang dilakukan pejabat hampir di semua lembaga negara dan tingkatan. Melalui kekuasaan yang dimiliki sebagai ‘wakil Tuhan’, ia berusaha agar hukum selalu tajam ke atas dan ke bawah. Buku ini merekonstruksi perjalanan hidup sosok pemberani berdarah Madura tersebut.

Keberanian Altindjo mewarisi keberanian leluhurnya yang menjadi tokoh leganda dan simbol karakter masyarakat Madura, Sakera. Kalau Sakera keras kepada penjajah asing, Artindjo keras kepada penjajah dari dalam negeri. Kalau Sakera ditakuti Belanda, Artidjo paling ditakuti koruptor. Sayang, penulis tidak mengeksplor lebih detail silsilah keluarga Altindjo hingga sampai ke Sakera.

Pak Durah dan Ny. Hakim (orangtua Artidjo) menanamkan karakter Sakera sejak Artidjo kecil. Setelah mendengar kisah keluhurnya yang mati di tiang gantung karena kegigihannya membela kepentingan rakyat kecil, Artidjo optimis bisa berkiprah seperti Sakera. “Pasti jika sudah besar nanti aku bisa jauh lebih hebat dari Sakera,” kata Artidjo muda (hlm. 45).

Keberpihakan Artindjo kepada rakyat kecil sudah terlihat dari pilihan ekstrakurikuler di bangku SMA. Ia memilih ekstrakurikuler pertanian sekalipun orangtuanya lebih sreg ekstrakurikuler lain. Alasan Artidjo memilih ekstrakurikuler pertanian agar kelak bisa membantu petani bercocok tanam sehingga hasil pertaniannya meningat.

Keseriusan Artidjo ingin membantu petani dilanjutkan dengan hendak mendalami ilmu pertanian di Fakultas Pertanian UGM. Namun, cita-cita tersebut tidak kesampaian sehingga terpaksa banting setir ke Fakultas Hukum UII. Mula-mula, Artidjo memang kurang sreg dengan pilihan tersebut namun akhirnya ditekuni secara serius.

Sekalipun tidak bisa membantu petani di bidang pertanian, Artidjo menggunakan pengetahuan hukum yang dimiliki untuk membantu rakyat kecil. Saat pemerintah memaksa dan mewajibkan para petani di Sumenep menanam tebu, Artidjo turut mengadvokasi warga. Artidjo sendiri sampai harus berurusan dengan hukum karena dinilai berusaha menghasut rakyat untuk melawan kebijakan pemerintah.

Keterlibatan Artidjo mendirikan dan menjadi pengurus Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta membuat kiprahnya membela rakyat kacil semakin intens, seperti membela kaum pinggiran, korban PHK, dan orang miskin yang berurusan dengan hukum (hlm. 307). Selain itu, Artidjo menangani berbagai macam kasus pelanggaran HAM seperti petrus.

Tidak puas membela rakyat kecil melalui wadah LBH, setelah purna tugas menjadi Direktur LBH Yogyakarta, Artidjo mendirikan Artidjo Alkostar and Associates. Lembaga hukum yang Artidjo dirikan turut serta menyelidiki dan memberikan pembelaan kepada para korban Insiden Santa Cruz yang terjadi di Dili, Timor Timur, di pengujung tahun 1991.

Terakhir, pembelaan Artidjo terhadap rakyat kecil terlihat melalui ketok palunya yang selalu memperberat hukuman koruptor. Artidjo berkesimpulan bahwa tidak ada satu negara pun di muka bumi ini yang tidak akan hancur jika korupsi sudah merajalela.

Haidar Musyafa mengutip pandangan Artidjo tentang korupsi. “Korupsi itu tidak hanya sebatas pada hilangnya uang negara, tapi maksud dari korupsi yang sebenarnya itu adalah suatu tindakan pelanggaran HAM. Hal itu tak lain karena dampak dari korupsi itu membuat kehdupan bernegara, utamanya bagi masyarakat bawah akan semakin menderita.” (hlm. 431).

Jika perjuangan Sakera penuh dengan darah bahkan harus mengembuskan napas secara tragis, yang diperjuangkan Artidjo tak kalah berat. Beberapa kali mau ditembak, namun nyalinya tak ciut untuk memperjuangkan rakyat kecil. Baginya, lebih baik putih tulang daripada putih mata. Lebih baik mati daripada harus menanggung rasa malu mendiamkan ketidakadilan.

Dalam setiap lembar halaman novel biografi Artidjo Alkostar ini, pembaca disuguhi karakter-karakter khas Madura. Semoga dari kisah novel setebal 434 halaman ini lahir Sakera dan Artidjo baru dari anak kandung era milenial.

Jumat, 11 Agustus 2017

Diagnosa Penyakit Hati untuk Kebahagian

Judul : Purification of the Heart
Penulis : Hamza Yusuf
Penerbit : Mizan
Terbitan : Pertama, Februari 2017
Tebal : 320 halaman
ISBN : 978-979-433-975-6
Dimuat di : Mata Madura 14-25 Juni 2017

Tidak sedikit orang yang dihinggapi penyakit hati namun tidak menyadari sedang sakit, sehingga tidak merasa perlu untuk segera mengobatinya. Penyakit batin memang tidak tampak dan terasa langsung seperti penyakit lahir namun juga bisa membinasakan jika terus dibiarkan. Jika menjaga kesehatan lahir penting untuk kebugaran, menjaga kesehatan batin tak kalah penting untuk kebahagian dan ketenangan.

Indikasi banyaknya orang yang menderita penyakit hati adalah suguhan berita yang kita terima setiap hari. Informasi yang kita konsumsi selalu tentang keserahakan, kebencian, pikiran negatif, merasa paling benar, dendam, dan cinta dunia, dls. Orang yang dihinggapi penyakit tersebut bukan karena kehendak namun karena tidak bisa menolak. Hidup penuh was-was orang yang menderita penyakit di atas bertentangan dengan jiwanya yang selalu mendambakan ketenangan.

Buku ini membantu pembaca mendiagnosa penyakit hati serta tindakan yang harus dilakukan untuk menghindar (preventif) atau mengobati (kuratif) penyakit dalam hati agar hidup diliputi ketenangan, ketentraman dan kedamaian yang menjadi impian semua orang. Penulis mengulas 25 jenis tanda, gejala, dan obat penyakit hati, baik yang bersifat teoritis maupun praktis.

Imam Mawlud memulai syairnya dengan mengulas adab (sopan santun) sebagai pintu masuk pemurnian hati. Pertama kali yang harus dilakukan oleh orang yang ingin memurnikan hati adalah harus memiliki adab kepala Tuhan. Menurutnya, adab ini hanya akan tercapai apabila seorang hamba memiliki rasa malu (haya’) dan kerendahan hati (dzul) [hlm. 28-29].

Untuk memiliki rasa malu dan rendah hati kita harus bersungguh-sungguh merenungkan pengawasan sempurna yang dilakukan Allah atas semua makhluk-Nya, berkah tak terkira yang Dia berikan, dan kemudian kita mengingat perbuatan yang kita lakukan di hadapan-Nya. Ketika kita telah melakukan hal itu secara sungguh-sungguh yang akan kita rasakan adalah kerendahan hati dan perasaan malu (hlm. 30).

Ketika kita menyadari rasa malu dan kerendahan hati muncullah kemerdekaan sejati, terhindar dari penjajahan hawa nafsu. Kemerdekaan sejati yang dimaksud, Hamza Yusuf mencontohkan, ketika situasi godaan muncul kita masih takut kepada Allah, teguh, dan memegang kendali atas tindakan kita. Sementara kebebasan semu adalah orang mengaku “bebas” namun tak bisa mengendalikan diri sendiri dari keserahakan ketika berhadapan dengan makanan (hlm. 31).

Penyakit kikir, serakah, benci, zalim, dengki, dll bersarang dalam hati akibat dari nafsu yang berkuasa. Nafsu mengandung benih buruk yang memiliki potensi untuk merusak hati. Sebagai obat dari penyakit di atas, Imam Mawlud menyarankan untuk menolak kemauan nafsu.

Imam Mawlud sangat teknis dan sederhana dalam memberikan jalan keluar, namun bukan hal mudah untuk dilakukan. Untuk mengobati penyakit kebencian (bughdh), misalnya, sang imam menyarankan untuk mendoakan orang yang kita benci, panjatkan permohonan khusus dengan menyebutkan namanya, memohon kepada Allah agar memberi orang itu kebaikan di dunia dan di akhirat (hlm. 51).

Sebelum memberikan terapi yang harus kita lakukan, sang imam menjelaskan akar dari timbulnya penyakit hati. Terkait dengan penyakit zalim, misalnya, beliau menggunakan metafor anggur yang sangat memabukkan sebagai ilustrasi. Oleh Hamza Yusuf, anggur metaforis ini dimaknai cinta kedudukan, yang mendorong sebagian orang untuk menzalimi orang lain (hlm. 55).

Sekalipun Imam Mawlud menjelaskan 25 penyakit-penyakit berdasarkan urutan abjad, namun antara yang satu dengan yang lain saling berhubungan pembahasannya. Terkait cinta kedudukan misalnya, penyebabnya karena didorong cinta dunia. Sementara cinta dunia didorong cinta pujian dan menyebabkan sombong dan pamer.

Dalam pembahasan tentang pamer, sang imam menyebut sumbernya adalah hasrat, menginginan sesuatu dari sumber selain Allah. Obatnya sama untuk sikap kompromi yang ceroboh, yaitu aktif dan tulus berusaha memurnikan hati dengan menghilangkan empat hal, cinta pujian, takut disalahkan, menginginkan keuntungan duniawi dari manusia, dan takut dirugikan manusia (hlm. 91).

Terkait dengan menginginkan keuntungan duniawi, Imam Maulud menyebut orang menggunakan agamanya sebagai alat untuk menunjang kondisi duniawinya sebagai orrng yang menderita penyakit “takut miskin”. Menurutnya, mengkompromikan agama untuk mencapai keuntungan duniawi sering kali karena takut miskin atau ketamakan (hlm. 86).

Buku ini merupakan penjabaran Hamza Yusuf, ulama kontemporer terkemuka asal Amerika Serikat, terhadap syair Imam Maulud yang pelik dipahami. Pembaca yang kesulitan mengakses atau memahami karya sang imam dan penjelasan sang ulama kontemporer, edisi bahasa Indonesia ini sangat membatu karena sedapat mungkin mempertahankan keindahan syair dan kedalaman maknanya.

Selasa, 11 April 2017

Menguji Kebenaran Informasi

Judul : Ibn Khaldun
Penulis : Syed Farid Alatas
Penerbit : Mizan
Terbitan : Pertama, Januari 2017
Tebal : 208 halaman
ISBN : 978-602-441-003-2
Dimuat di: Kabar Madura, 10 April 2017

Tingginya angka pengguna internet di Indonesia tampaknya tidak dibarengi dengan pengetahuan etika berinternet (netiket). Indikasinya, informasi palsu atau bohong (hoax) menghiasi dunia maya. Tidak sedikit pengguna internet (netizen) yang 'termakan' hoax akibat begitu masif penyebarannya.

Untuk menguji kebenaran sebuah informasi, menurut Ibn Khaldun, pertama yang harus dipastikan terlebih dahulu apakah kejadian yang dilaporkan memang mungkin atau mustahil terjadi (hlm. 64). Apabila ada sebagian tertentu dari informasi yang tidak masuk akal, keakuratan sebuah informasi patut dipertanyakan.

Ibn Khaldun menyajikan contoh laporan bahwa Nabi Musa memiliki 600.00 atau lebih prajurit dalam pasukan Israel di gurun. Kata Ibn Khaldun, sejarawan tidak mempertimbangkan apakah Mesir dan Suriah sanggup memiliki pasukan sebesar itu. Ibn Khladun juga menaksir bahwa pasukukan sebanyak itu terlalu besar untuk berbaris dan bertempur sebagai sebuah kesatuan (hlm. 49).

Contoh lain tentang absurditas informasi sejarah adalah tentang raja-raja Tubba’ dari Yaman. Pemimpin Tubba’ terakhir, As’ad Abu Karib, dilaporkan memerintahkan menyerangan ke Turki, Persia, Bizantium, dan Cina untuk merampas harta dan wilayah. Ibn Khaldun mengkritik bahwa mustahil seorang pemimpin yang ada di semenanjung Arab dapat ke Turki tanpa melewati daerah-daerah Persia dan Bizantium dan tanpa berperang dengan mereka (hlm. 50).

Ibn Khaldun mengidentifikasi, ada tujuh sumber utama kesalahan penulisan sejarah sehingga karya historis sering dikitari oleh ketidakbenaran (hlm. 62-63). Pertama, keberpihakan terhadap pendapat dan aliran tertentu (al-syiat li al-ara wa al-mazhahib).

Kedua, kepercayaan terhadap narasumber (al-tsiqah bi al-naqilin). Selain statemen narasumber perlu dipadukan dengan data lain untuk menguji kebenaran informasi yang disampaikan, perlu juga dilakukan “kritik perawi” (al-jarh wa al-ta’dil) sebagaimana menguji kesahehan sebuah sabda Nabi Muhammad.

Ketiga, kebohongan dalam informasi tidak terhindarkan karena kurangnya kesadaran penyampai informasi tentang tujuan suatu kejadian. Laporan yang hanya berdasarkan dugaan dan tafsir pribadi akan berdampak pada lemahnya kualitas laporan. Akibatnya, kebohongan bertebaran.

Keempat, anggapan yang tak berdasar terhadap kebenaran suatu peristiwa. Ini sering terjadi dan terutama akibat ketergantungan pada narasumber tanpa melakukan kroscek dan klarifikasi.

Kelima, pengabaian kesesuaian antara keadaan dan konteks kejadian yang sebenarnya (tathbiq al-ahwal ala al-waqa’i). Banyak penyampai informasi melaporkan keadaan sebagiamana ia melihatnya, tetapi ia tidak mampu menempatkan kejadian itu dalam konteks yang tepat.

Keenam, pamrih. Banyak media penyampai informasi ingin mendapatkan perhatian/keuntungan dari laporan informasinya sehingga informasi yang disampaikan yang tidak dapat dipercaya. Ketujuh, penyebab ketidakjujuran dalam penulisan informasi adalah pengabaian kondisi masyarakat.

Buku ini memperkenalkan pemikiran Ibn Khaldun. Pemikiran “ilmu masyarakat manusia” dan metodologi penulisan sejarah penting dipelajari tidak hanya bagi pembaca yang sedang belajar Sosiologi. Ibn Khaldun, menurut Geogre Sarton, pelopor bagi Machiavelli, Bodin, Vico, Comte, dan Curnot.

Pada bagian akhir, Syed Farid Alatas, profesor Sosiologi di National University of Singapura, itu menyajikan daftar karya terbaik tentang terjemah atas karya Ibn Khaldun, serta karya-karya ilmiah yang mengulas Ibn Khaldun

Minggu, 12 Februari 2017

Ahok, Rizieq, dan Persaudaraan Agama

Judul : Persaudaraan Agama-agama
Penulis : Waryono Abdul Ghafur
Penerbit : Mizan, Bandung
Terbitan : Pertama, November 2016
Tebal : 274 halaman
ISBN : 978-602-441-004-9
Dimuat di: Harian Bhirawa 10 Februari 2017. 

Pada pengujung tahun 2016, perhatian publik banyak tersedot pada isu dugaan penistaan agama yang menyeret nama Gubernur non aktif DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Muhammad Habib Rizieq Shihab.

Dugaan penistaan agama Islam oleh Ahok terkait statemennya di Kepulauan Seribu, Rabu 28 September 2016, yang menyebut ayat Al Quran, Surah Al Maidah: 51. Selain menyakiti umat Islam, Ahok dinilai melanggar Pasal 156 KUHP tentang Penistaan Agama dan Pasal 310-311 KUHP tentang Pencemaran Nama Baik Agama.

Pernyataan Ahok dalam acara sosialisasi budidaya ikan itu tampaknya ingin membendung gempuran oknum-oknum umat Islam yang mempermasahkan kepemimpinan non muslim. Menjelang Pilkada DKI Jakarta, memang makin marak seruan kepada umat Islam untuk memilih pemimpin seiman dan larangan memilih pemimpin kafir dengan berlandaskan Surah Al Maidah: 51.

Setelah Ahok giliran Rizieq Shihab yang dilaporkan menistakan agama Kristen. Ceramah Rizieq yang menyinggung "ucapan Natal" di Pondok Kelapa pada 25 Desember 2016 diduga telah melecehkan umat Kristiani. Oleh pendukung Rizieq, tudingan terhadap Rizieq itu dianggap sebagai pengalihan kasus yang menimpa “musuhnya”.

Persaudaraan Agama
Dari kutipan-kutipan pernyataannya, dua tokoh ini selalu bersitegang dan diperuncing oleh pendukung masing-masing. Padahal, kedunya bersaudara. Tidak hanya saudara setanah air Indonesia, tapi juga saudara dalam agama. Agama yang diyakini Ahok dan Rizieq pembawanya dari keturunan yang sama: Ibrahim.

Yahudi, Nasrani, Islam pembawanya merupakan keturunan biologis Ibrahim dari dua putranya, Ishaq dan Ismail, yaitu Musa, Isa, dan Muhammad. Kitab yang diajarkan juga memiliki kesamaan univesal: kalimat tauhid.

Oleh karenanya, Taurat, Injil, dan Al Qur’an adalah kitab yang integral yang semuanya harus diterima, tanpa dibedakan oleh mereka yang mengaku beriman, sebagaimana dikemukakan dalam QS. Al Maidah [5]: 66 dan 68 (hlm. 175).

Menurut Thabathaba’i (1321 H.), pluralisme millah merupakan suatu keniscayaan, karena berkaitan dengan watak kehidupan yang terus berubah. Namun, perubahan tersebut berimplikasi pada perubahan rumusan agama, sehingga berakibat pada masuknya unsur-unsur non-agama pada agama atau sebaliknya (hlm. 54). Di sinilah titik awal perbedaan antar kitab suci tersebut.

Ajaran orang Yahudi dan Nasrani saat ini, dalam pandangan Thabathaba’i, sudah terkontaminasi unsur-unsur non-agama sehingga sudah menyimpang dari agama (millah) Ibrahim, di antaranya mengenai konsep ketuhanan.

Terkait dengan keyakinan orang-orang Nasrani bahwa Isa adalah anak Allah atau Allah adalah satu dalam tiga atau tiga dalam satu, Thabathaba’i mengemukakan dua argumentasi bantahan terhadap konsep trinitas.

Pertama, Allah bukan materi yang pada umumnya membutuhkan sesuatu seperti ruang dan waktu, sehingga mustahil beranak sebagaimana Allah tegaskan dalam QS Al Ikhlas: 3. Kedua, Isa lahir dari seorang wanita dan diasuh sebagaimana layaknya anak-anak oleh ibunya. perasaan lapar dan kenyang, sehat dan sakit, senang dan susah, menunjukkan Isa adalah manusia biasa (hlm. 187).

Kendati demikian, Thabathaba’i berpendapat, dalam Taurat dan Injil sekarang masih ada kebenarannya misalnya Sepuluh Perintah Tuhan (The Ten Commandements) dengan QS. Al An’am [6]: 151, meski banyak kesalahannya (hlm. 160).

Sekalipun Yahudi dan Nasrani dikatakan menyimpang dan diklaim tidak akan rela terhadap orang beriman hingga mengikuti agama mereka, menurut Thabathaba’i, tidak semua dari mereka tidak dapat dijadikan sebagai auliya’ (pemimpin, sahabat, kawan, mitra). QS. Al Maidah [5]: 51 menjelaskan peristiwa temporal, yaitu dalam konteks historis-sosiologis daripada sebagai watak relegius.

Buku ini merekonstruksi agama Ibrahim dalam Tafsir Al Mizan. Pemikiran brilian Thabathaba’i dalam menafsirkan ayat-ayat Al Qur’an terkait Yahudi-Nasrani dan hubungannya dengan Islam begitu menyejukkan. Cocok dengan kondisi Indonesia yang plural untuk menjaga keutuhan NKRI tanpa meninggalkan syariat agama.

Buku ini sangat penting dibaca oleh segenap anak bangsa yang sedang “panas” dengan dugaan penistaan agama untuk meredam ketegangan. Namun, sebagian umat Islam masih alergi untuk mengakui pemikiran ini karena perbedaan paham keagamaan.(MK)

Jumat, 20 Januari 2017

Historiografi Televisi Indonesia

Judul: :Televisi Indonesia di Bawah Kapitalisme Global
Penulis : Ade Armando
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Terbitan : Pertama, 2016
Tebal : 288 halaman
ISBN : 978-602-412-099-3
Dimuat di: Majalah Auleea, Edisi 31 Januari 2017

Televisi yang kita tonton telah mengalami banyak perubahan, baik dari sisi teknologi, konten, maupun regulasi. Buku ini menyajikan narasi menarik, dan mungkin tak banyak orang tahu, di balik kayar TV yang kita tonton.

Stasiun TV pertama di Indonesia ialah TVRI, stasiun TV publik yang lahir pada 1962. Sebenarnya, gagasan pendirian stasiun TV telah dilontarkan sejak 1952 oleh Menteri Penerangan Maladi pada Presiden Soekarno. Sekalipun Soekarno tertarik dengan gagasan pendirian stasiun TV yang berorientasi politik tersebut namun gagal dilaksanakan karena pertimbangan biaya.

TVRI didirikan saat Presiden Soekarno sedang berambisi membangun sebuah citra Indonesia di mata dunia. TVRI mengudara pertama kali dengan siaran Asian Games di mana Indonesia menjadi tuan rumah. Liputan tersebut sebagai sarana untuk menciptakan rasa kebangsaan dan persatuan nasional yang telah kacau oleh ide federasi.

Pendirian TVRI yang tergesa-gesa (pembangunan infrastruktur hanya dalam waktu 13 bulan) pada saat itu fokus untuk penyelenggaraan Asian Games. Sepanjang Asian Games, TVRI mengudara satu setengah jam, setelahnya hanya mengudara 30 menit per hari dalam 5 hari seminggu (Sabtu-Minggu libur).

Pada 1964 TVRI mulai membentuk pusat pemberitaan dan menyajikan program berita secara rutin, bahkan melakukan siaran langsung seperti pertandingan sepak bola Indonesia melawan Swedia (hlm. 91).

Dalam 15 tahun pertama Orde Baru, TVRI masih diberi kelonggaran sebagai stasiun pemerintah dengan isi siaran yang berorientasi menyajikan hiburan dan dimungkinkan lebih mandiri dengan memperoleh pemasukan dana dari iklan. TVRI Berjaya pada masa ini. Pada 17 tahun berikutnya, TVRI menjadi media propaganda pemerintah dan pemasukan dari iklan dihentikan (hlm. 95). Sejak 1981, iklan TVRI ditiadakan untuk kelancaran program pemerintah dan menghindari akibat samping seperti mendorong perilaku konsumtif (hlm. 100).

Di tengah kesulitan TVRI yang kehilangan 55% pendapatannya, Soeharto justru membuka ruang kehadiran TV swasta. Adanya kepentingan untuk mendorong percepatan pertumbuhan kelompok masyarakat kaya diperlukan infrastruktur budaya yang mendukung gaya hidup tersebut, sementara TVRI sudah tak lagi menerima iklan. Kehadiran TV swasta tak terelakkan sekalipun tanpa cetak biru yang jelas. Pada saat yang sama TVRI makin tersudut.

Swastanisasi pertelevisian Indonesia dimulai atas inisiatif pengusaha lokal yang memiliki akses khusus kepada Presiden (hlm. 147). TV swasta yang mengudara pertama kali ialah RCTI pada 1987. Stasiun milik Peter Sondakh itu baru mendapat izin dari Soeharto setelah bermitra bisnis dengan Bambang Trihatmodho, putra Soeharto dan pemilik Bimantara Citra.

Pada 17 Januari 1990, pemerintah mengeluarkan Siaran Saluran Terbatas (SST) pada SCTV, yang didirikan Sudwikatmono (sepupu Soeharto). Dua stasiun TV swasta ini tidak bersaingan karena jangkauan siarannya terbatas. RCTI di Jakarta sedangkan SCTV di Surabaya.

Delapan bulan kemudian, 16 Agustus 1990, putri sulung Soeharto, Siti Hardiyanti Rukmana, mendirikan TPI yang berpusat di Jakarta. Stasiun TV ini mengcaukan peraturan pemerintah yang telah diberlakukan pada RCTI dan SCTV. Menurut Ade Armando, ada tiga masalah serius. Pertama, TPI diizinkan beriklan 20% dari jam siaran, sementara RCTI 15%. Kedua, tidak ada ketetapan yang jelas berapa persentase penghasilan TPI yang harus diberikan pada TVRI, sementara bagi RCTI sudah jelas (12,5%). Ketiga, karena mendompleng pada sarana transmisi TVRI, siaran TPI dapat menjangkau khalayak seluruh Indonesia (hlm. 156).

Perlakuan tidak adil ini membuat RCTI tidak tinggal diam. Pada Agustus 1990, RCTI berubah dari siaran SST menjadi Siaran Saluran Umum (SSU). Tak lama kemudian disusul oleh SCTV.

Setelah Orde Baru tumbang, pada Oktober 1999, Menteri Penerangan menetapkan izin lima stasiun baru, yaitu TransTV, DVN TV, Global TV, PR TV, dan Metro TV. Saat ini, stasiun TV nasional yang telah mendapatkan izin siaran menjadi 15 stasiun, yaitu Kompas TV, RCTI, ANTV, Indosiar, Trans 7, TV One, Rajawali TV, Net TV, RCTI, SCTV, MNC TV, Metro TV, Global TV, Trans TV, dan Berita Satu.

Menurut Ade Armando, stasiun TV di atas meleburkan masyarakat Indonesia ke dalam pusaran kapitalisme global. Sayang bukan sebagai produsen, tapi sebagai konsumen yang ramah terhadap produk-produk yang dikirim industri negara-negara maju.

Buku Televisi Indonesia di Bawah Kapitalisme Global yang diadaptasi dari disertasi ini membuat pembaca bersikap kritis terhadap produk industri TV dan tidak gampang dieksploitasi dan ‘dibodohi’ oleh penguasa modal di balik tayangan TV. (TM)

Urgensi Ijtihad Hermeneutis

Judul : Ijtihad Hermeneutis
Penulis : Damanhuri
Penerbit : IRCiSoD, Yogyakarta
Terbitan : Pertama, Agustus 2016
Tebal : 978-602-391-221-6
 Dimuat di: Majalah New Fatwa, Edisi 6 Januari-Februari 2017.

Muhammad bin Idris As-Syafii (150-204 H./767-819 M.) atau yang akrab dengan Imam Syafii memiliki pengaruh dan kontribusi besar. Mazhabnya dianut oleh mayoritas penduduk beberapa negara berbasis muslim, termasuk Indonesia (Dedi Supriyadi dan Mustofa, 2009: 207-208). Disebut memiliki kontribusi besar karena sosoknya disebut sebagai peletak dasar metodologi hukum Islam atau dikenal dengan Bapak Ushul Fiqh.

Mazhab Syafii banyak dianut umat Islam, karena ijtihadnya memiliki kerangka berpikir yang moderat dan sangat hati-hati dalam memutuskan fatwa (A. Busyro Karim, 2013: xx). Imam Syafii tidak memihak kepada salah satu dua kutub pemikiran yang sedang berpolemik pada saat itu, yaitu kalangan rasionalis (ahl al-ra’yi) dan tekstualis (ahl al-naqli).

Namun, jika menggunakan konsep epistemologi Islam Muhammad ‘Abed Al Jabiri, ijtihad Imam Syafii termasuk ijtihad bayani atau tekstualis. Demikian penelusuran Damanhuri atas berbagai karya Imam Syafii, khususnya kitab Ar-Risalah yang menjadi karya monomentalnya dan merupakan kitab ilmu ushul fiqh yang pertama ditulis dalam sejarah.

Salah satu prinsip epistemologi bayani ialah analogi. Ijtihad Imam Syafii memang memfokuskan pada qiyas (deduksi analogi) dengan menitikberatkan pada teks. Karena keyakinannya pada otoritas teks, maka segala sesuatu diukur dengan teks, dan segala sesuatu di luar teks menjadi tidak benar seperti konsep istihsan dan maslahah mursalah.

Agar mujtahid tidak melenceng dari otoritas teks, Imam Syafii membatasi peran mujtahid sebatas sebagai mustadlil (seseorang yang memutukan hukum melalui indikasi teks) atau al-qais (penganalog), bukan sebagai mustahsin (orang yang menggunakan prinsip istihasan, yaitu prinsip yang mengedepankan rasio dalam menetapkan hukum) [hlm. 111-112]. Dengan demikian, kebenaran ijtihad Imam Syafii kebenaran tekstual (hlm. 163).

Al Qur’an referensi utama hukum Islam. Untuk memperoleh makna dan pesan teks, Imam Syafii mensyaratkan mujtahid harus menguasai teks Al Qur’an, yaitu menguasai bahasa kalam Ilahi yang notabene bahasa Arab (hlm. 79). Dengan demikian, tanpa penguasaan yang baik terhadap bahasa Arab dengan segala gramatikanya, maka jangan harap dapat memahami Al Qur’an dengan baik.

Bahasa Arab dijadikan dasar penafsiran terhadap teks Al Qur’an, dan dunia Arab yang menjadi back ground lahirnya teks-teks suci umat Islam seakan mewakili semua peradaban Islam yang harus dikonversi pada segenap peradaban yang lain. Padahal, bahasa Arab banyak mengambil bentuk pandangan “dunia” Arab Badui yang masih miskin peradaban.

Di sinilah pentingnya mengembangkan metodologi ijtihad Imam Syafii untuk menjawab berbagai persoalan umat Islam yang sistem sosial, ekonomi, dan budayanya tidak selalu sama dengan Arab, seperti Indonesia. Sehingga, umat Islam tetap menjadi pemeluk agama yang taat pada satu sisi dan menjadi rakyat yang baik pada sisi yang lain.

Buku ini menawarkan dua metode untuk mengembangkan metodologi ijtihad Imam Syafii. Pertama, memahami teks tidak sebatas pada jargon teks tapi perlu dilanjutkan pada sesuatu yang dibalik teks. Untuk mencapai hal itu, mujtahid perlu mengkaji asbabun nuzul, dialog hubungan antar teks dan teks-teks modern (hlm. 176). Kedua, subjektivitas dalam memahami teks yang dalam istilah Imam Syafii lebih condong pada penggunaan rasio (hlm. 177).

Intelektual muslim Indonesia sudah ada yang melakukan ijtihad hermeneutis sebagaimana dimaksud Damanhuri, namun muslim Indonesia secara umum tampaknya belum siap menerima sehingga hasil ijtihadnya selalu menuai kontroversi, mujtahidnya dilabeli sesat, bahkan sampai dinilai halal darahnya untuk dibunuh.

Buku ini penting untuk mendewasakan umat muslim Indonesia sekaligus melahirkan mujtahid-mujtahid baru seperti Imam Syafii yang melakukan terobosan baru pada masanya. Namun, buku setebal 208 halaman ini tidak mengelaborasi teknis ijtihad dengan pendekatan hermeneutika.

Yang berbeda dari Ijtihad Hermeneutis ini, tidak seperti buku umumnya yang menjunjung tinggi Imam Syafii, buku ini mengkritisi pemikiran Imam Syafii tanpa mengabaikan kontribusi besarnya terhadap perkembangan hukum Islam. Bagaimanapun juga, Imam Syafii anak zaman yang warisan intelektualnya perlu selalu “dibaca” dan didialogkan dengan era kekinian.(MK)

Senin, 19 Desember 2016

Literasi Masyarakat Jahiliyah

Judul : Sejarah Kenabian
Penulis : Aksin Wijaya
Penerbit : Mizan
Terbitan : Pertama, Juni 2016
Tebal : 552 halaman
ISBN : 978-974-433-959-6
Dimuat di: Mata Madura, 8-18 Desember 2016

Makkah pra kenabian Muhammad dikenal dengan zaman jahiliyah. Istilah ini tidak bermakna masyarakat Makkah buta literasi. Menurut Muhammad Izzat Darwasah, masyarakat Makkah pra kenabian disebut jahiliyah bukan dalam arti jahiliyah dalam membaca dan tulis-menulis, tapi lebih kepada jahiliyah tauhid. Dalam literasi mereka sudah maju dengan beberapa indikasi.

Kemampuan baca tulis mereka tersirat dalam Al Qur’an. Ayat-ayat makkiyah menyebut beberapa alat baca dan tulis seperti qirthas, waraqun, shuhuf, dan qalam. Menurut Darwazah, tidak mungkin Al Qur’an menyinggung dan menggunakan istilah-istilah tersebut jika sasarannya tidak mampu memahami maksudnya. Dengan demikian, masyarakat jahiliyah sudah mempunyai kemampuan baca-tulis (hlm. 215-216).

Selain itu, permintaan masyarakat jahiliyah kepada Nabi Muhammad untuk mendatangkan kitab suci dalam bentuk tulisan sehingga mereka mampu membaca dan memahaminya mengindikasikan mereka telah memiliki peradaban literasi. Dan secara faktual, kemampuan baca-tulis mereka dibuktikan dengan karya-karya syair yang digantungkan di Ka’bah (hlm. 213).

Syair-syair yang ditulis pada masa itu sejalan dengan redaksi dan dimensi sastra Al Qur’an, sehingga masyarakat Makkah yang memiliki kemampuan syair menyebut Al Qur’an sebagai syair dan Nabi Muhammad sebagai penyair. Secara faktual, kata Darwazah, beberapa surah Al Qur’an makkiyah mempunyai kemiripan dengan syair dan sajak Arab (hlm. 204).

Kesamaan bahasa yang digunakan masyarakat Makkah dengan Al Qur’an yang bersifat melemahkan kepada masyarakat Arab tidak bertentangan dengan semangat Islam. Menurutnya, i’jaz Al Qur’an tidak berhubungan dengan kebahasaan, tapi pesan Al Qur’an yang bersifat spiritual (hlm. 202).

Masyarakat Makkah pra kenabian meyakini adanya pengaruh setan dan jin dibalik gubahan syairnya. Atas kesamaan susunan Al Qur’an yang dibacanakan Nabi Muhammad dengan karya mereka, yaitu sama-sama berbentuk sajak yang beresonansi dan berimbang, mereka menuduh Nabi Muhammad sebagai peramal dan dukun yang mendapat bisikan setan dan jin.

Muhammad Izzat Darwazah menelusuri peradaban masyarakat jahiliyah secara umum langsung kepada Al Qur’an. Ini yang membedakan perspektif dia dengan sejarawan lain yang hanya berpijak pada sumber sejarah murni. Dari karya-karya tafsir dan sejarah Darwazah, pembaca mengetahui sejarah sekaligus Al Qur’an. Sayang, karya-karyanya yang berjumlah puluhan mulai langka.

Buku Sejarah Kenabian: Dalam Perspektif Tafsir Nuzuli, Aksin Wijaya mendeskripsikan secara objektif pemikiran sejarawan-mufasir itu tentang sejarah kenabian. Buku ini ditulis secara serius dengan catatan kaki sebanyak 1050, namun mudah dicerna dan dipahami. (MK)

Selasa, 29 November 2016

Dialektika Nabi dan Masyarakat Arab

Judul : Sejarah Kenabian
Penulis : Aksin Wijaya
Penerbit : Mizan
Terbitan : Pertama, Juni 2016
Tebal : 552 halaman
ISBN : 978-974-433-959-6
Dimuat di: Duta Masyarakat 27 November 2016

Nabi Muhammad merupakan rasul terakhir, dan risalahnya kelanjutan dari utusan-utusan sebelumnya. Namun, tradisi masyarakat Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) yang mendominasi Madinah tidak diterima begitu saja, dan tidak semua tradisi masyarakat non-Ahli Kitab yang mendominasi Makkah dibuang begitu saja. Islam menyeleksi secara kritis tradisi masyarakat Arab.

Nabi Muhammad memulai dakwahnya di Makkah dengan audiens yang dikenal dengan istilah jahiliyah dan ummi. Istilah ini tidak dalam artian buta literasi, namun lebih kepada bodoh dalam tauhid dan belum pernah membaca kitab suci. Agama mereka mayoritas musyrik, dan sedikit sekali yang beragama Ahli Kitab.

Masyarakat Makkah pra Islam sebenarnya sudah mengenal konsep Tuhan, bahkan sudah mengetahui dan mengakui keberadaan Allah sebagai Tuhan, karena Nabi Ibrahim dan Ismail merupakan nenek moyangnya. Mereka sudah biasa mengerjakan salat di Ka’bah, puasa, zakat, haji, dan i’tikaf. Namun dalam praktiknya, mereka menyekutukan Allah dengan malaikat, jin, dan patung. Orang yang perama kali mengenalkan kemusyrikan dalam bentuk menyembah berhala adalah Amr bin Luhay (hlm. 262-263).

Risalah Nabi Muhammad pada satu sisi menolak dan meluruskan keyakinan mereka yang musyrik dengan menyeru kembali ke agama monoteis Nabi Ibrahim dan Ismail, namun pada sisi yang lain juga menerima dan melanjutkan tradisi yang benar seperti pelaksanaan salat, puasa, zakat, haji, dan i’tikaf.

Di kalangan keluarga Nabi Muhammad sendiri, muncul tiga respons terhadap risalah yang dibawa Nabi Muhammad: kelompok yang menerima dakwah seperti Siti Khadijah dan Ali, individu yang tidak menerima tapi tidak memusuhi seperti Abu Thalib, dan kelompok yang menolak dakwah dan memusihi seperti Mughirah bin Hisyam al-Mahzumi atau yang popular dengan Abu Jahal.

Kelompok yang menentang dakwah Nabi Muhammad berasal dari para pembesar dan orang-orang kaya Makkah. Menurut Izzat Darwazah, penolakan dan permusuhan para pembesar Arab terhadap dakwah Nabi Muhammad karena tiga faktor: (1) menyangkut posisi mereka sebagai elite Makkah dipatuhi, sedangkan dakwah Islam mengajarkan kesetaraan, (2) karakter dakwah Nabi Muhammad yang menghancurkan tradisi yang berbau syirik, fanatisme, pertumpahan darah, ekspolitasi anak, perempuan dan budak, (3) implikasi dari permusuhan dan jalan yang bersebrangan antara pembesar Makkah dan Nabi Muhammad (hlm. 352).

Berbeda dengan masyarakat jahiliyah Makkah yang memerangi Nabi Muhammad dan pengikutnya, respons masyarakat Ahli Kitab Makkah terhadap dakwah Nabi Muhammad, sangat apresiatif dan tidak ada tanda-tanda kekerasan. Menurut Izzat Darwazah, sikap seperti itu muncul lantaran adanya kesamaan antara Al Qur’an dan kitab suci mereka, dan kesamaan itu mendorong mereka untuk memercayai kebenaran risalah kenabian Muhammad dan Al Qur’an (hlm. 382).

Hijrah
Setelah sekitar 13 tahun berdakwah di Makkah, Nabi Muhammad pindah berdakwah di Madinah. Yatsrib (sebelum berganti nama menjadi Madinah) banyak dihuni imigran (Yahudi Israil al-Musta’ribah) dan mayoritas beragama Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani). Di sini Nabi Muhammad menghadapi Ahli Kitab dan orang munafik yang menentang sejak awal kedatangannya.

Selain menentang dakwah Nabi Muhammad yang menolak klaim mereka bahwa kaum Yahudi berada dalam penunjuk berkaitan dengan keyakinan “Uzair adalah Anak Allah”, demikian juga dengan keyakinan masyarakat Nasrani mengklaim terkait “Isa adalah Anak Allah”, Ahli Kitab songmbong, ingkar janji, dan menebar permusuhan secara terang-terangan. Beberapa kali terjadi peperangan. Karena gerakan mereka mengkhawatirkan, Nabi Muhammad mengambil tindakan pengusiran dengan tujuan menakut-nakuti dan menghukum agar tidak ditiru yang lain.

Sejarah kenabian yang dipaparkan Aksin Wijaya ini perspektif Muhammad Izzat Darwazah, cendekiawan multi disiplin ilmu kelahiran Palestina yang karya-karyanya mulai langka. Untuk menyelidiki sejarah kenabian, Izzat Darwazah melacak langsung kepada Al Qur’an. Al Qur’an dijadikan tafsir sejarah kenabian. Ini bedanya dengan kitab-kitab tarikh lainnya yang bersumber pada teks klasik yang bersifat profan.

Untuk mengumpuklan data, metode yang Izzat Darwazah lakukan dengan menyusun Al Qur’an sesuai urutan turunnya, sebuah metode tafsir yang diperkenalkan Theodor Nӧldeke. Alih-alih mengadopsi metode tafsir Nӧldeke, Izzat Darwazah memberikan banyak kiritik terhadap orientalis tersebut dan cendekiawan muslim lainnya.

Senin, 31 Oktober 2016

Ziarah Hajjah Muslimah

Judul : Ke Daudhah, Aku ‘kan Kembali
Penulis : Sari Meutia
Penerbit : Mizania
Terbitan : Pertama, Agustus 2016
Tebal : 163 halaman
ISBN : 978-602-418-057-7
Dimuat di: Majalah Suluh Madura, Edisi Oktober 2016

Telah menjadi tradisi di Madura, jemaah haji dijemput ke tempat kedatangan oleh sanak famili dan tetangga. Pemandangan ini juga terlihat saat pemberangkatan, tapi tak seramai saat kedatangan. Bahkan, sepanjang perjalanan dari tempat kedatangan hingga rumah dikawal iring-iringan (konvoi) kendaraan.

Sementara orang yang tidak menjemput biasanya melakukan ziarah (berkunjung) ke rumahnya. Perbincangan dalam ziarah tak lepas dari cerita seputar pengalaman menunaikan ibadah haji. Bagi yang telah melaksanakan ibadah haji, ziarah haji menjadi nostalgia dan berbagi pengalaman menunaikan ibadah haji. Sementara bagi yang belum merupakan ilmu.

Buku Ke Raudhah, Aku ‘kan Kembali adalah cara lain melakukan ziarah tanpa harus mendatangi rumah warga yang menunaikan ibadah haji. Dari diari haji dan umrah seorang muslimah ini, pembaca yang telah menunaikan ibadah haji dapat bernostalgia dan memutar ulang kenangan saat menunaikan ibadah haji. Sementara bagi yang belum, buku ini memberikan banyak wawasan seputar haji yang mungkin tidak disampaikan oleh pembimbing, seperti cerita penulis tentang tas.

Sari Meutia dan suaminya tidak mengenakan tas biru kecil yang dibagikan bersama koper besar beberapa hari sebelum berangkat. Ia melakukan “improvisasi” dengan membawa tas lain yang lebih besar. Padahal, tas biru kecil itu sangat penting karena merupakan identitas jamaah haji Indonesia. Di tas tersebut selain terdapat cap bendera merah putih yang menunjukkan asal negara, saku tranparan akan menjadi tempat disisipkan nomor kloter, dan data lain yang menunjukkan asal daerah, juga nomor kursi pesawat dan nomor bus (hlm. 31).

Penulis berbagi cerita sakralitas tanah suci yang juga kerap diceritakan jamaah haji di Madura. Rakan sesama jamaah haji menjelang shalat subuh berkata bahwa dia tidak ingin berdekatan dengan jemaah asal Afrika karena biasanya jorok dan badannya mengeluarkan bau tidak sedap. Rekannya ini baru saja menyaksikan seorang jamaah asal Afrika yang tidak dapat menahan buang hajatnya hingga menotori masjid.

Baru saja memasuki rakaat kedua shalat subuh, rekan penulis ini tiba-tiba saja mendapat serangan sakit perut tak tertahankan. Tentu shalat menjadi khusuk, dan sudah membayangkan bagaimana sulitnya keluar dari antrean menuju toilet. Walaupun dia berhasil tiba di toilet tepat waktu, namun sebagian najis sudah megotori bagian dalam bajunya (hlm. 42).

Dari rangkaian ritual haji, penulis mengajak pembaca banyak merenung. Bergeraknya jemaah haji ke segala arah usai melaksanakan shalat di Masjidil Haram, sehingga untuk keluar dari masjid saja menghabiskan waktu 40 menit, penulis mengajak pembaca untuk mengingat hari kiamat.

Jika jumlah jamaah haji yang berkumpul pada saat itu lebih kurang dua juta saja, keadaannya sudah berdesak-desakan, bagaimana jika seluruh umat manusia sejak manusia pertama hingga akhir zaman berkumpul di Padang Mahsyar. Ditambah lagi, konon, jarak matahari dengan kepala sangat dekat (hlm. 72).

Selebihnya, buku ini memberikan tips-tips, khususnya untuk perempuan yang lebih jelimet dibandingkan laki-laki dalam menunaikan ibadah haji, seperti mengatur suklus haid. Sehingga, datang bulan tidak menganggu rukun haji atau ibadah sunah yang ingin dilakukan. Terkait dengan masalah haid, penulis memberikan tips agar perempuan yang akan melaksanakan ibadah haji mencatat secara detail waktu-waktu haid, setidaknya enam bulan sebelum waktu keberangkatan.

Dengan mengetahui waktu-waktu haid tersebut, perempuan yang akan menunaikan ibadah haji bisa memperhitungkan apakah waktu-waktu tersebut akan mengganggu rukun haji atau tidak sehingga perlu mempersiapkan obat menahan haid atau tidak perlu dikhawatirkan sama sekali (hlm. 23).

Buku ini terbit pertama kali pada 2009 oleh Penerbit Lingkar Pena, namun terbitan kali ini lebih atraktif dengan dilengkapi ilustrasi-ilustrasi dan huruf yang berwarna-warni. Dilengkapi dengan selebaran petunjuk pelaksanaan ibadah haji. (TM)

Kamis, 27 Oktober 2016

Revolusi Mental dari dalam Keluarga

Judul : Mengasuh Anak dengan Hati
Penulis : Clarasati Prameswari
Penerbit : Saufa Yogyakarta
Terbitan : Pertama, 2016
Tebal : 180 halaman
ISBN : 978-602-391-188-2
Dimuat di: Majalah Suluh Madura, Edisi Oktober 2016

Presiden Joko Widodo memperkenalkan revolusi mental untuk mengatasi masalah yang melilit bangsa ini. Menurutnya, reformasi Indonesia hanya sebatas perombakan yang bersifat institusional. Budaya yang berkembang pada Orde Baru masih bertahan hingga saat ini karena pembangunan bangsa belum menyentuh paradigma dan mindset manusianya. Lalu dari mana kita memulainya?

Presiden menjawab dari masing-masing kita, dimulai dari dalam keluarga. Dengan demikian, orangtua memiliki peran dan tanggung jawab besar untuk melahirkan generasi bangsa berkepribadian baik. Karakter pemimpin masa depan sangat bergantung dengan pola asuh dan pendidikan orangtua saat ini. Untuk menyukseskan revolusi mental pembangunan manusia dalam lingkup rumah tanggal dapat diklasifikasikan dalam empat fase. Clarasati Prameswari menguraikannya dalam buku Mengasuh Anak dengan Hati.

Pertama, fase menikah. Pembangunan SDM harus dimulai sejak menikah. Keberhasilan orangtua mendidik anak ada korelasi erat dengan rumah tangga yang baik. Bagaimana mungkin bapak-ibu sukses mendidik anak jika suasana rumah tangganya saja tidak kondusif (hlm. 12).

Kebiasaan-kebiasaan positif seperti menerima pasangan apa adanya, apresiatif, romantis, lemah lembut, dan pujian memang terkesan sederhana. Namun jika kita tidak biasa melakukannya pada pasangan sulit nantinya untuk melaksanakan pada anak. Sedangkan hal-hal positif di atas akan mengantarkan anak menjadi juara.

Jika kita belum mampu melaksanakan Kebiasaan-kebiasan di atas kepada pasangan sebaiknya tidak perlu terburu-buru untuk memiliki anak. Apalagi motif memiliki anak karena terpaksa: tekanan orangtua atau tidak sengaja. Sehingga, kehadiran anak tidak dianggap sebagai beban tapi anugerah dan amanat yang harus dirawat dan dididik dengan baik.

Kedua, fase kandungan. Pembangunan manusia harus dimulai sejak berupa janin di alam rahim. Apa pun yang kita lakukan terhadap janin, ia memberikan respons balik. Janin turut bahagia ketika kita memberikan perlakuan menyenangkan, dan ia merasa tertekan ketika perlakuan kita tidak menyenangkan.

Menurut Yesie Aprillia, menjalankan komunikasi dengan yang masih dalam kandungan memberikan efek yang luar biasa kepada mereka mengingat hubungan batin antara ibu dengan calon anak begitu kuat. Caranya, mengelusnya dengan lembut, melantankan suara saat berdoa, dan membacakan cerita inspiratif (hlm. 97-98).

Ketiga, fase anak-anak. Rumah adalah sekolah pertama dan orangtua adalah guru pertama anak-anak. Sebelum mereka mengenal bangku sekolah, orangtua yang menanamkan pendidikan pertama kali berupa contoh konkret yang bisa dilihat secara langsung oleh anak.

Dalam fase ini pendidikan yang harus ditanamkan orangtua berupa contoh, bukan instruksi. Apa yang dilihat itulah yang akan diikuti. Keteladanan orangtua merupakan sumber pembelajaran utama dan pertama bagi anak. Hindari berteriak-teriak, mengeluarkan kata-kata kotor, dan pertengkaran di depan anak (hlm. 90).

Keempat, fase remaja. Pada masa pertumbuhan ini terdapat beragam problem yang harus dihadapi orangtua yang tidak ditemukan pada masa kanak-kanak. Misal, anak suka marah, suka menuntut, suka berbohong, atau susah bergaul.

Bagaimana jika kita sudah telanjur memiliki anak yang memiliki problem di atas? Buku 180 halaman ini memberikan solusi secara teori maupun aplikasi. Orang yang sedang mempersiapkan punya anak hingga mengatasi kenakan remaja penting membaca buku ini. Jalan keluar yang ditawarkan bukan dengan cara-cara yang kasar dan keras tapi dengan mengetuk hati anak. (MK)

Rabu, 21 September 2016

Mereka yang Layak Jadi Abdi Negara

Judul : 7 Lapis Kekuatan Diri
Penulis : Achmad Chodjim
Penerbit : Baca
Terbitan : Pertama, Juni 2016
Tebal : 244 halaman
ISBN : 978-602-74353-2-2
Dimuat di: Malang Post, 3 September 2016

Rekrutmen Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) selalu dinanti dan disambut antusias. Pendaftarnya tidak pernah sepi. Namun, semangat menjadi abdi negara saat mendaftar tidak bertahan lama. Setelah dinyatakan lulus semangatnya luntur. Akibatnya, masih sering dijumpai PNS tidak disiplin.

Orang-orang seperti apa yang layak menjadi abdi negara? Buku 7 Lapis Kekuatan Diri bisa menjadi panduan alternatif bagi panitia seleksi rekrutmen abdi negara untuk mengenal potensi tubuh lahir-batin orang, sehingga tidak salah memilih calon abdi negara.

Achmad Chodjim mengawali pemaparannya dengan menyebut lapisan-lapisan diri manusia. Mengutip hadis qudsi, lapisan terluar dalam diri manusia badan jasmani yang di dalamnya terdapat badan sadar, dalam kesadaran ada qalb, dalam qalb ada fuad, dalam fuad ada syaghaf, dalam syaghaf ada lub, dalam lub ada sir.

Badan jasmani tempat nafs al-amarah. Chodjim mengilustrasikan cara kerja nafsu ini seperti seorang anak yang masih berumur kurang dari 2 tahun kencing, maka ia akan kencing sembarangan. Jika tak ada orang yang mendidik, maka saat birahinya timbul, pasti akan disalurkan sembarangan. Inilah wilayah anak-anak berumur 1-6 tahun.

Dalam konteks pemerintahan, bila abdi negara dikuasai oleh badan sadarnya, maka operasional kerjanya berdasarkan emosi dan insting. Akibat terlewatinya masa pelatihan dan pendidikan badan sadar, sekalipun sudah dewasa dan menjadi pemimpin masih bersikap seperti kanak-kanak (hlm. 61-62).

Badan kedua adalah wilayah remaja yang berumur 7-12 rahun. Badan ketiga adalah wilayah remaja berumur 13-18 tahun. Pendidikan seseorang yang hanya sampai badan sadar (makrifat Jawa: bumi kalbu) hanya ikut-ikutan dalam hidup, hanya main klaim kebenaran. Jika berhenti pada badan qalb (makrifat Jawa: bumi jantung) hidupnya akan didominasi oleh emosi (hlm. 124).

Menurut Chodjim, sudah seharusnya mereka yang berada di pemerintahan minimal adalah orang yang kelasnya sudah hidup di badan lub (makrifat Jawa: bumi sukma). Kalau terlalu banyak yang di bawah dimensi bumi lub, isinya orang-orang yang hanya emosi. Sifat abdi negara sebagai pelayan tidak ada (hlm. 195).

Uraian lapisan-lapisan diri manusia dalam buku setebal 244 halaman ini diulas dengan referensi dan ilustrasi yang begitu kaya. Pada tiap akhir bab penulis menyertakan jenis olahraga yang dapat meningkatkan potensi tubuh hingga mencapai puncak.

Selasa, 06 September 2016

Mengenalkan Bahaya LGBT pada Remaja

Judul : Lo Gue Butuh Tau LGBT
Penulis : Sinyo
Penerbit : Gema Insani
Terbitan : Pertama, April 2016
Tebal : 124 halaman
ISBN : 978-602-250-303-3
Dimuat di: Majalah Puspa, Edisi 68 September 2016

Sebelum buku Lo Gue Butuh Tau LGBT (Gema Insani, 2016), Sinyo telah menerbitkan Anakku Bertanya tentang LGBT (Quanta, 2014). Buku kedua terbit sebelum Indonesia gempar dengan pemberitaan seputar LGBT pada tahun 2015, sedangkan yang pertama setelahnya. Tentu materi yang disampaikan berbeda.

Dari pemilihan judul pembaca bisa mereka-reka sasaran dua buku itu. Sasaran pembaca buku kedua adalah orangtua. Sedangkan buku pertama menyasar kalangan remaja sehingga penyajiannya disesuaikan dengan karakter usia anak awal baligh.

Sinyo dalam beberapa bukunya membuka tiap awal bab dengan sebuah cerita. Demikian juga dalam buku Lo Gue Butuh Tau LGBT. Melalui tokoh Bintang, penulis mengenalkan macam-macam orientasi seksual pada bab pertama.

Secara fitrah manusia memiliki orientasi seksual heteroseksual, yaitu ketertarikan seksual kepada lawan jenis. Berbagai macam orientasi seksual timbul karena ada banyak faktor yang memengaruhi, mulai dari kondisi psikologis hingga faktor lingkungan tempat tinggal. Dalam konteks Bintang karena trauma dengan laki-laki (hlm. 14).

Remaja yang notabene masih dalam pencarian jati diri dan menyukai sesuatu yang baru rentan mengalami perubahan orientasi seksual. Dalam kasus cerita Reza, ketertarikannya pada sesama jenis bermula dari penasaran akan barang baru, yaitu mengunduh aplikasi gay berdasarkan temannya (hlm. 74).

Cara orang tua menjaga fitrah anak dari perubahan orientasi seksual: pertama, dengan menjadi panutan yang baik bagi anak-anak. Sebab, perubahan orientasi seksual sangat dipengaruhi oleh salah panutan. Dalam kasus Lili, ketertarikannya pada sesama jenis bermula dari perhatian yang didapat dari temannya yang ternyata tertarik pada sesama jenis (hlm. 28).

Untuk mengatasi kondisi keluarga yang tidak lengkap, misal ayah atau ibu sudah meninggal atau bercerai, hal itu bisa diatasi dengan mengambil panutan dari keluarga terdekat seperti kakek dan paman. Kalau tidak ada carilah tetangga atau guru yang baik untuk dijadikan panutan (hlm. 76-77).

Kedua, pertegas identitas dan karakter anak. Caranya dengan memberikan pakaian dan mainan yang sesuai dengan jenis kelamin. Sah-sah saja orang tua memperkenalkan berbagai macam mainan dan permainan, namun jika sudah menyangkut kesukaan dan karakter, orang tua harus menegaskan perdebatan laki-laki dan perempuan (hlm. 80).

Ketiga, menjaga anak dari pelecehan dan kekerasan seksual. Perubahan orientasi seksual terkadang disebabkan trauma terhadap lawan jenis. Sementara Indonesia saat ini sedang darurat pelecehan seksual, sehingga orangtua perlu meningkatkan kewaspadaan.

Keempat, faktur lingkungan juga sangat mempengaruhi. Termasuk dalam konteks ini adalah media (hlm. 77). Anak-anak harus dijauhkan dari pergaulan tidak baik dan pornografi serta pornoaksi sejak ini.

Mari segera periksa anak kita untuk memastikan terhindar dari virus LGBT. Caranya dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan pada bagian akhir buku ini. Yang sangat penting dari buku ini Sinyo memberikan suplemen deteksi dini orientasi seksual.(MK)

Selasa, 30 Agustus 2016

Narasi Nabi Sulaiman dalam Al Kitab dan Al Qur'an

Judul : Sulaiman: The Word's Greatest Kingdom History
Penulis : Manshur 'Abdul Hakim
Penerbit : Mizania
Terbitan : Maret 2016
Tebal : 233 halaman
ISBN : 978-602-1337-76-9
Dimuat di: Radar Madura Minggu 21 Agustus 2016

Nabi Sulaiman diceritakan dalam banyak kitab suci. Al Qur'an mengabadikan kisahnya dalam tujuh surah. Kitab suci umat Islam ini mengulang nama Sulaiman sebanyak 17 kali. Di antara narasi hidup Nabi Sulaiman adalah kisahnya dengan Ratu Balqis.

Kisah panjang lebar Nabi Sulaiman dengan Ratu Saba' terdapat dalam Surah Al-Naml (27): 20-44 dan Kitab Raja-Raja 1. Namun, narasi Nabi Sulaiman versi Al Qur'an dan Al Kitab tidak sama.


Dalam Perjanjian Lama disebutkan bahwa Ratu Saba' (tanpa disebutkan namanya) menemui Raja Sulaiman --bangsa Yahudi hanya mengakui Sulaiman a.s. sebagai raja, bukan nabi-- setelah mendengar berita tentang dia dan kebijaksanaannya. Ratu Saba' menemui Raja Sulaiman di Jerusalem untuk membuktikan kebijaksanaannya.

"Ia (ratu negeri Syeba) datang ke Yerusalem dengan pasukan pengiring yang sangat besar, dengan unta-unta yang membawa rempah-rempah, sangat banyak emas dan batu permata yang mahal-mahal. Setelah ia sampai kepada Salomo (Nabi Sulaiman), dikatakan segala yang ada dalam hatinya kepadanya.” (Kitab Raja-Raja I [10]: 2).

Penelusuran Mansyur 'Abdul Hakim, tidak ada isyarat apa pun dalam kitab suci itu tentang hubungan Nabi Sulaiman dengan Ratu Saba'. Juga tidak disebutkan unek-unek Ratu Saba' kepada Nabi Sulaiman. Hanya disebutkan bahwa Nabi Sulaiman memiliki 700 istri dan 300 selir (hlm. 103).

Dalam Al Qur'an diceritakan Ratu Saba' menemui Nabi Sulaiman setelah Nabi Sulaiman berkirim surat via burung Hud-hud. Perintah Nabi Sulaiman kepada burung Hud-hud diabadikan dalam QS. Al-Naml (27): 28.

"Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkan kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikan apa yang mereka bicarakan."

Ahli tafsir mengilustrasikan, Hud-hud membawa surat itu dan datang ke istana Ratu Balqis dan menjatuhkan surat itu kepadanya ketika dia sedang sendiri. Kemudian Hud-hud berhenti sebentar, menunggu jawaban sang ratu atas surat tersebut. Ratu kemudian mengumpulkan para pejabat, menteri, dan semua tokoh di negerinya dalam sebuah musyawarah (hlm. 88-89).

Dalam surat itu Nabi Sulaiman memerintahkan Ratu Balqis datang kepadanya. Nabi Sulaiman mengajak masuk Islam dan datang kepada dirinya dengan patuh. Namun, Ratu Balqis hanya mengirim utusan membawa hadiah-hadiah mewah kepada Nabi Sulaiman.

Dalam Kitab Raja-Raja 1 (10): 10 disebutkan bahwa hadiah-hadiah mewah yang dibawa terdiri dari 120 talenta emas, rempah-rempah yang sangat banyak, kayu cendana, dan batu permata yang mahal-mahal.

"Raja mengerjakan kayu cendana itu menjadi langkan untuk rumah Tuhan dan untuk istana raja, dan juga menjadi kecapi dan gambus untuk para penyanyi." (Kitab Raja-Raja 1 [10]: 11)

Namun, Al Qur'an menyebutkan Nabi Sulaiman menolak mentah-mentah hadiah itu. "Kembalilah kepada mereka! Sungguh, kami pasti akan mendatangi mereka dengan bala tentara yang mereka tidak mampu melawannya, dan akan kami usir mereka dari negeri itu (Saba') secara terhina dan mereka akan menjadi (tawanan) yang hina dina." (Al Naml [27]: 37)

Sebelum Ratu Balqis datang sendiri, Nabi Sulaiman meminta di antara prajuritnya membawa singgasana Ratu Balqis. Abdullah ibn Syaddad mengatakan, saat itu Ratu Balqis berada pada jarak satu farsakh dari istana Nabi Sulaiman (hlm. 93).

Buku Sulaiman: The Word's Greatest Kingdom History menjadi menarik karena tidak hanya memberi wawasan sejarah Nabi Sulaiman dari dua kitab suci. Manshur 'Abdul Hakim menggali benda-benda peninggalan sang raja dan ratu yang masih tersisa dilengkapi dengan gambarnya. Jejak arkeologis Nabi Sulaiman dan Ratu Saba' bisa menjadi wisata sejarah baru.

Kedok Pemburu Rente Haji

Judul : Orang Jawa Naik Haji + Umrah
Penulis : Danarto
Penerbit : Diva Press
Terbitan : Pertama, Agustus 2016
Tebal : 184 halaman
ISBN : 978-602-391-223-0
Dimuat: Radar Surabaya, 29 Agustus 2016

Terungkapnya kasus korupsi dana haji yang melibatkan mantan Menteri Agama RI Suryadharma Ali, puncuk gunung es dari praktik perburuan rente haji. Secara faktual, pemburuan rente haji telah berlangsung setidaknya sejak Orde Baru.

Jamaah haji Indonesia 1983, Danarto sudah menangkap sinyal itu, jangan-jangan pemburuan rente, istilah Danarto industri kejahatan, yang melahap uang jamaah haji yang awam telah terjadi di Departemen Agama (Kementerian Agama) pada saat itu.

Hal ini didasarkan pada pengalaman pribadinya saat menunaikan ibadah haji. Setibanya di Jeddah untuk melanjutkan perjalanan ke Madinah, Danarto bergabung dengan rombongan jamaah haji sejak dari Jakarta yang merupakan majelis taklim. Ketua rombongan merupakan pimpinan majelis taklim tersebut.

Setibanya di Madinah, ketua rombongan melalui orang lain menagih uang sebesar 750 riyal pada Danarto. Kedoknya untuk pembayaran dam atau kurban, ongkos bus ziarah, kuli, dan persenan untuk sopir. Padahal, biaya semuanya hanya sekitar 250 riyal. Anehnya lagi, jamaah yang melaksanakan haji ifrad tetap ditarik (hlm. 42).

Barangkali karena ketidaktahuannya, semua anggota rombongan yang berjumlah sekitar 40 orang sudah membayar kepada sang ketua rombongan sejak di Indonesia, saat menerima uang biaya hidup sebanyak 1750 riyal dari Depag Pondok Gede, Jakarta, kecuali Danarto.

Tak berhasil dengan kedok di atas, sang ketua rombongan membuat ulah baru, anggota rombongan harus membayar 350 riyal, 200 riyal di antaranya untuk untuk bayar kemah. Padahal, kemah di Arafah atau Mina, dan makan dua sehari semua gratis, sudah termasuk di dalam Ongkos Naik Haji (ONH) [hlm. 46].

Dan ternyata, laporan dari seorang jamaah, sang ketua rombongan di Jakarta telah memungut Rp 10.000/orang untuk pembayaran surat panggilan Depag tentang pemberitahuan tanggal keberangkatan jamaah ke tanah suci, yang sebenarnya sudah jadi kewajiban Depag.

Pungutan liar sang ketua rombongan ini salah satu penggalan cerita panjang dari catatan perjalanan ruhani Danarto saat menunaikan ibadah haji dan umrah. Buku yang terbit pertama kali pada tahun 1984 oleh Grafiti Pers tetap penting dibaca, baik sebagai wawasan oleh calon jamaah haji maupun nostalgia kenangan oleh orang yang pernah menunaikan ibadah haji. (MK)

Minggu, 28 Agustus 2016

Persembahan Hidup Sang Konglomerat

Judul : Dato' Sri Prof. DR. Tahir Living Sacrifice
Penulis : Alberthiene Endah
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbitan : Pertama, 2015
Tebal : 540 halaman
ISBN : 9786020311593
Harga : Rp. 178.000
Dimuat di: Suluh Madura, Agustus 2015

Prioritas ekonomi dan sosial menyatu dalam diri Dato' Sri Prof. DR. Tahir, salah satu konglomerat Indonesia yang memiliki perusahaan Mayapada Group. Denyut kehidupan sosial sama riuhnya dengan hiruk pikuk urusan bisnis. Namun demikian, ia tak mencapuradukkan manajemen bisnis dan sosial.

Prinsip Tahir dalam mengelola bisnis banyak tak logis jika diukur dari teori ekonomi yang dipelajari di perguruan tinggi, dan bertentangan dengan pandangan ahli ekonomi. Ia tak sependapat dengan pandangan ahli ekonomi Amerika, Milton Friedman, bahwa satu-satunya tanggung jawab sosial sebuah bisnis adalah meningkatkan keuntungan semata.

Keserakahan bermula dari orientasi bisnis yang salah ini. Sehingga, martabat dan kehormatan dilacurkan dan diinjak-injak oleh nafsu keserakahan diri. Akibatnya, ngemplang pajak, monopoli, suap, dan bermacam skandal dianggap hal biasa. Serakah tak mau berbagi merupakan sebentuk energi negatif bisnis.

Tahir resah pada sejumlah catatan miring di atas yang masih menjadi image konglomerat Indonesia. Sebagai salah satu konglomerat, ia berusaha memperbaiki citra konglomerat dengan komitmen tinggi pada martabat sekaligus ingin berguna bagi orang lain. Komitmennya tidak hanya berjalan lurus dengan memenuhi kewajiban membayar pajak dan taat regulasi, tapi lebih dari itu.

Menurut Tahir, profesi hanyalah prasarana menuju hidup lebih bermanfaat kepada banyak orang. Untuk bisa mencapai itu, manusia harus bisa membentuk diri menjadi orang yang "pemberi" dan senantiasa terdorong untuk membantu orang lain (hlm. 307). Keberanian memberi merupakan sikap yang akan mengubah dunia lebih baik.

Saat ini, memberi telah menjadi titik kebahagiaan hidup Tahir. Ia begitu ringan mengeluarkan uang Rp 2,3 triliun untuk donasi kesehatan dan memberikan beasiswa sebesar tiga juta dolar karena filantropi telah menjadi hiburan sekaligus pemuas batin. Bahkan, ia siap menyerahkan separuh kekayaan yang dimiliki untuk donasi karena dalamnya keyakinan akan timbal balik ketika membantu orang lain, sekalipun dirinya tak mengharapkan hal itu.

Baginya, semakin kita banyak memberi, semakin Tuhan percaya bahwa kita pantas untuk diberi. Semakin kita bisa menolong kaum yang lemah, semakin kuat hidup kita. Semakin kita bisa menyalurkan rezeki untuk menjadi berkat bagi orang lain, semakin kukuh hidup kita (hlm. 363).

Namun tak banyak konglomerat Indonesia yang berkeyakinan seperti ini, sehingga ngemplang pajak, monopoli, dan kongkalikong masih terjadi. Seandainya semua konglomerat berbuat seperti yang dilakukan Tahir tentu bangsa ini telah menjadi negara maju dan disegani negara-negara lain.

Budaya memberi, menurut Tahir, sangat dipengaruhi oleh filosofi kehidupan yang berlaku di sebuah negara. Dalam konteks cara pandang terhadap uang, ada budaya yang sangat kontras antara Timur dan Barat. Keduanya memiliki plus minum masing-masing.

Bangsa Timur lebih tertutup dan pekerja keras. Hidup mereka dibayangi oleh kecemasan atau tuntutan untuk memburu kesejahteraan, bukan hanya untuk mereka sendiri, tapi juga untuk anak, cucu, bahkan cicit bila perlu (hlm. 387). Pendek kata, mereka lebih memikirkan hari esok daripada hari ini sehingga cenderung pelit dan serakah.

Berbeda dengan bangsa Barat yang lebih terbuka pada keuangan. Mereka mencari kesenangan hidup hari ini tanpa memikirkan hari esok, sehingga tak pelit untuk berlibur dan berbagi pada orang lain. Orang Barat tak dipusingkan menyimpan banyak uang demi anak cucu mereka. Pendidikan mengajarkan kemandirian (hlm. 388).

Uniknya lagi, orang-orang Barat merasa uang yang mereka miliki adalah uang yang sudah dikeluarkan. Dan uang yang masih disimpan bukanlah uang milik mereka. Sementara orang Timur menganggap uang yang sudah habis dibelanjakan bukanlah uang miliknya. Uang milik mereka yang belum dikeluarkan.

Tahir menyerap sisi positif dua budaya tersebut. Dari kultur Timur menyerap budaya kerja keras dan hidup sederhana, sementara dari kultur Barat menyerap keihlasan berbagi dan sikap tidak diperbudak uang. Rahasia sukses Tahir dibentuk dari kolaborasi dua budaya ini: kerja keras, sederhana, dan ikhlas berderma.

Semangat berderma Tahir cermin kedalaman iman pribadi, keberhasilan pendidikan ibunya yang punya kebiasaan menyisihkan uang untuk orang lemah, sekalipun dirinya hidup dalam kubangan kemiskinan, dan trauma masa lalunya yang terjal dan berliku supaya tak terulang.

Buku Living Sacrifice adalah buku pertama yang secara utuh memotret kehidupan Tahir. Selama ini, ia menolak dorongan banyak pihak agar mau membukukan kisah hidupnya, karena suramnya kehidupan masa lalu. Sekalipun sudah bercahaya, ketika mengingat-ingat yang pedih di masa lalu hidupnya terasa berganti jadi redup.

Namun akhirnya Tahir harus mengikhlaskan masa lalunya diangkat kembali untuk menyebarkan semangat untuk maju ke sebanyak mungkin masyarakat Indonesia yang tengah dilanda kegalauan. Melalui biografinya, ia memotivasi pembaca untuk menjadi rakyat yang kuat, yang mampu membangun ekonomi Indonesia yang mantap. Secara implisit, Tahir hendak mengatakan bahwa bukan hanya dirinya yang bisa dan layak kaya jika mau. (MK)

Bukan Jalan-jalan Biasa

Judul : Menemukan Indonesia
Penulis : Pandji Pragiwaksono
Penerbit : Bentang
Terbitan : Pertama, Maret 2016
Tebal : 282 halaman
ISBN : 978-602-291-143-2
Dimuat di: Suluh Madura, Agustus 2016

Frasa My Trip My Adventure sangat booming. Buku catatan perjalanan dan panduan wisata menghiasi rak toko buku. Pembaca tetap memburunya meskipun itu-itu saja isinya. Membaca catatan perjalanan adalah cara lain berpelesir. Pandji Pragiwaksono dalam buku Menemukan Indonesia membawa imajinasi pembaca berwisata ke empat benua.

Buku ini menjadi istimewa karena tidak hanya menarasikan eksotisme panorama dan pariwisata luar negeri. Perjalanan Pandji dalam 365 hari di 20 kota di delapan negara di empat benua bukan jalan-jalan untuk berburu belanja atau mengusir penat. Ia membawa misi agung, yaitu mengenal atau memperkanalkan Indonesia di luar negeri.

Dalam catatan perjalanan ke Singapura, Pandji memperkanalkan masakan Indonesia di negara singa putih tersebut. Di food court ION Mall ada food stall Indonesia. Makan di sana serasa makan di tanah air. Menu yang tersedia di antaranya ayam panggang, telur dadar, dan kuah kari. Sekalipun di luar negeri harganya murah (hlm. 36).

Sementara kesan yang begitu membekas dari liburan Pandji di Sydney perjumpaan tak sengaja dengan perempuan berdarah Italia. Pramusaji sebuah restoran Italia di pelabuhan Curcular Quay itu menyapa Pandji menggunakan bahasa Indonesia. Dia fasih berbahasa Indonesia. Kepada sang pacar orang Padang dia belajar bahasa Indonesia (hlm. 72).

Pandji Pragiwaksono di Leiden, Belanda, mengunjungi Leiden University. Di universitas ini ada perpustakaan dengan koleksi sejarah Indonesia terlengkap. Di area depan kampus ada satu pojokan yang mengolesi tentang Indonesia. Dari buku-buku yang ditulis zaman dulu hingga album kaset Rhoma Irama (hlm. 179).

Pandji berusaha adil dalam menceritakan Indonesia di luar negeri. Tak ada yang ditutup-tutupi. Bukan hanya yang baik-baik yang diceritakan, yang "buruk" dari Indonesia juga diungkap. Seperti penginapan mes Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapura yang memprihantinkan. Kondisinya di bawah tanah. Lorongnya gelap. Mes itu bekas kuburan (hlm. 32).

Pada bagian akhir catatan perjalanan, Pandji memberikan refleksi mengenai Indonesia. Pandji membandingkan kondisi Indonesia dengan luar negeri. Memang terkesan menjelek-jelekkan Indonesia yang masih memprihantinkan dalam berbagai sektor. Namun, gambaran situasi di luar negeri bisa dijadikan studi untuk diduplikasi di Indonesia.

Pada tahun 2014 ada 27,7 juta orang yang datang untuk berbelanja ke Hong Kong. Sedangkan Indonesia cuma 9,44 juta orang. Indonesia kalah kepada Malaysia yang mencapai sekitar 25 juta. Secara geografis, Hong Kong dan Indonesia tak jauh beda. Hongkong sejak dulu menjadi pintu masuk perdagangan di kawasan Asia Pasifik seperti Surabaya. Awalnya, Hong Kong tidak punya apa-apa, namun kini menjadi tempat belanja favorit.

Pengamatan Pandji, kekuatan Hong Kong dibanding Indonesia adalah free trade, pajak yang rendah, dan karakter kuat yang tercitra dalam berbagai macam produk budaya. Indonesia sebenarnya mempunyai semua yang Hong Kong tawarkan kecuali free trade dan pajak rendah (hlm. 60). Ini salah satu faktor Hong Kong menjadi tempat “menghabiskan” uang.

Indonesia perlu belajar terhadap Gold Coast dalam mengelola infrastuktur. Di sana trotoarnya lebar, dan tidak seperti Indonesia yang keberadaannya sama dengan tidak ada (wujuduhu ka'adamihi) karena diserobot pedagang kaki lima, bangunan pertokoan, atau pengguna kendaraan.

Namun, ada juga dari negeri ini yang perlu dipelajari oleh negara lain. Pengalaman Pandji di Los Angeles, bioskop-bioskop di sana sangat jelek. Sebenarnya tidak hanya di sana. Di banyak negara yang Pandji kunjungi juga memprihatinkan. Dalam pengelolaan bioskop, mereka perlu belajar ke Indonesia.

Indonesia telah melewati masa Orde Baru yang otoriter. Sedangkan di Singapura masih berlangsung. Informasi yang Pandji dapatkan di sana, kalau ada warga ketahuan terlibat demonstrasi dipastikan tidak akan mendapat pekerjaan (hlm. 37).

Dalam buku setebal 282 halaman ini juga diselipkan penjelasan rukun traveling. Perlengkapan yang mesti disiapkan, khususnya untuk berlibur dalam jangka waktu lama seperti yang dilakukan Pandji bersama Mesakke Bangsaku Word Tour (MBWT). (TM)

Minggu, 21 Agustus 2016

Beretika dalam Pergaulan

Judul : Etiket dan Netiket
Penulis : Marulina Pane
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Terbitan : Pertama, 2016
Tebal : 172 halaman
ISBN : 978-602- 412-010- 8
Dimuat di: Harian Nasional  Sabtu-Minggu, 20-21 Agustus 2016

Kerusuhan di Tanjung Balai, Sumatera Utara, 29 dan 30 Juli lalu, diduga berasal dari penyebaran ujaran kebencian di media sosial (medsos). Polri pun telah menangkap orang yang ditengarai menjadi penyulut kerusuhan. Namun, penyelesaian masalah melalui pendekatan hukum oleh pemerhati media sosial dinilai belum akan mengakhiri maraknya ujaran kebencian. Penindakan terhadap orang-orang yang menyabarkan ujaran kebencian hanya menyelesaikan masalah di hilir. Cara efektif untuk mengatasi masalah sampai hulu ialah literasi medsos (Kompas, 8 Agustus 2016).

Indonesia salah satu negara terbanyak pengguna internet. Menurut lembaga riset pasar e-Marketing, negeri ini menduduki peringkat ke-6 di dunia dengan jumlah populasi mencapai 83,7 juta orang pada 2014. Dan diprediksi mengalahkan Jepang yang menempati peringkat ke-5 pada tahun berikutnya (Tribun Timur, 24 November 2014).

Namun, melek teknologi belum dibarengi melek literasi internet. Asumsi kebanyakan netter bahwa dunia nyata dan dunia maya (baca: medsos) adalah dunia berbeda. Akibatnya, sopan santun di dunia nyata diabaikan di media sosial. Ekspresi kebencian dengan mudah diumbar tanpa mengindahkan sopan santun.

Memang yang dilihat di layar komputer/ponsel hanyalah huruf-huruf, gambar, atau video, namun di balik itu ada seorang manusia hidup yang berhak mendapatkan respek yang sama seperti ketika bertatap muka. Artinya, di balik setiap massage ada seorang manusia (hlm. 83).

Oleh karena itu, sopan santun yang berlaku di dunia nyata tak boleh diabaikan di medsos. Bukan karena identitas tidak diketahui etika internet (netiket) bisa diabaikan. Meskipun misalnya menggunakan nama samaran atau taktik lain untuk menyembunyikan identitas, tapi bila perlu, ada ahli yang dapat menemukan jati dirinya.

Yang juga perlu disadari bahwa yang ditulis atau diunggah di internet akan tersimpan selamanya. Sekalipun pada awalnya terasa sepele namun jika dikemudian hari menuai masalah yang berurusan dengan hukum dapat menjadi bukti atau saksi.

Dalam konteks tempat kerja, sekalipun untuk internal, dari atasan ke bawahan dan sebaliknya, dianjurkan menggunakan memo maupun komentar menggunakan bahasa yang baik dan santun untuk menghindari salah pengertian (hlm. 85).

Gunakan pula huruf kecil saat menulis. Ini memang sangat sepele dan banyak yang tidak menyadari kesan dari penggunaan huruf besar pada seluruh kalimat karena mungkin bertujuan hanya untuk gaya. Dari segi etiket, penggunaan huruf besar dianggap benar-benar marah (hlm. 87).

Buku Etiket dan Netiket ini perlu dipahami benar agar kita bisa menempatkan diri di mana pun berada. Melek etiket di media sosial akan memunculkan sikap swasensor, yaitu mempertimbangkan dampak dari perbuatan terhadap orang lain. Namun pembahasan etiket dalam buku ini hanya sepintas dan tidak mendalam. Penulis lebih banyak mengelaborasi etika dalam pergaulan dan pekerjaan.

Rabu, 10 Agustus 2016

Tadarus Bahasa Bulan Puasa

Judul: Cabe-cabean
Penulis: Encep Abdullah
Penerbit: Kubah Budaya
Terbitan: Pertama, 2015
Tebal: 95 halaman
ISBN: 978-602-70834-31
Dimuat di: Mata Madura, 27 Juni 2016

 Menjelang datangnya bulan puasa, ucapan selamat menunaikan rukun Islam yang empat bertebaran, baik dalam bentuk spanduk di ruang publik maupun melalui iklan di media massa. Bahkan, beberapa media massa menyajikan rubrik khusus pernak pernik bulan puasa.

Seperti penentuan awal dan akhir puasa yang selalu tidak sama, penulis bulan kesembilan tahun hijriyah itu juga tidak seragam. Media massa yang notabene pemegang teguh bahasa Indonesia yang baik dan benar ada yang menulis kata ramadan, ramadhan, dan ramadlan, namun yang terakhir jarang dipakai.

Pemimpin Redaksi NU Online Mukafi Niam mengungkapkan, penulisan ramadhan berdasarkan argumentasi penyesuaian pengucapan dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia. PBNU dalam pengumuman resmi selalu menggunakan penulisan ramadlan.

Sedangkan penulisan ramadhan, sebagaimana dikutip dari kolom Sudjoko di Rubrik Bahasa Kompas (22/11/2013), mungkin dipengaruhi pengejaan kata-kata dari bahasa Sansekerta dan Jawa kuno. Sisipan /h/ dinilai memiliki kesan lebih penting, lebih berharga, lebih tinggi, dan lebih terhormat, seperti penulis lahir bathin dan dharma wanita.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menggunakan penulisan ramadan. Malaysia juga menggunakan penulisan ini. Menurut Encep Abdullah, penulisan ramadan yang paling benar di antara penulisan yang lain. Kehadiran fonim /h/ atau /l/ dikelompokkan fonim "hantu" (hlm. 41).

Encep berargumen proses serapan kata ramadan dilakukan dengan cara adaptasi, yakni menyesuaikan dengan Ejaan yang Disempurnakan (EYD): ramadhan menjadi ramadan, seperti halnya kata shalat menjadi salat.

Argumen lainnya, serapan bahasa Arab yang ditulis dalam bahasa Indonesia tidak harus ditulis sesuai dengan ejaan aslinya. Ia menepis argumen bahwa serapan bahasa Arab yang ditulis dalam bahasa Indonesia harus disesuaikan dengan aslinya karena dapat mengubah makna. Ia mencontohkan kata kursi yang berasal dari bahasa Arab: kursiyyun (hlm. 41).

Penulis sadar persoalan bahasa tidak akan pernah selesai hingga anak cucu. Namun, satu-satunya cara menyelamatkan anak cucu dari kesalahan berbahasa adalah dengan menyampaikannya sedari kecil sehingga mereka tak tak tabu dengan perdebatan seperti ini. Orangtua dan guru memiliki peran penting dalam konteks ini.

Ulasan kata ramadan salah satu dari 28 ulasan bahasa yang terkompilasi dalam buku Cabe-cabean. Buku ini menjadi penting karena bahasa yang diulas kasus kejanggalan bahasa yang akrab dalam kehidupan sehari-hari namun terkadang tidak disadari pemakainya. Jika bahasa menunjukkan karakter bangsa, maka buku ini pegangannya.