Kamis, 27 Oktober 2016

Revolusi Mental dari dalam Keluarga

Judul : Mengasuh Anak dengan Hati
Penulis : Clarasati Prameswari
Penerbit : Saufa Yogyakarta
Terbitan : Pertama, 2016
Tebal : 180 halaman
ISBN : 978-602-391-188-2
Dimuat di: Majalah Suluh Madura, Edisi Oktober 2016

Presiden Joko Widodo memperkenalkan revolusi mental untuk mengatasi masalah yang melilit bangsa ini. Menurutnya, reformasi Indonesia hanya sebatas perombakan yang bersifat institusional. Budaya yang berkembang pada Orde Baru masih bertahan hingga saat ini karena pembangunan bangsa belum menyentuh paradigma dan mindset manusianya. Lalu dari mana kita memulainya?

Presiden menjawab dari masing-masing kita, dimulai dari dalam keluarga. Dengan demikian, orangtua memiliki peran dan tanggung jawab besar untuk melahirkan generasi bangsa berkepribadian baik. Karakter pemimpin masa depan sangat bergantung dengan pola asuh dan pendidikan orangtua saat ini. Untuk menyukseskan revolusi mental pembangunan manusia dalam lingkup rumah tanggal dapat diklasifikasikan dalam empat fase. Clarasati Prameswari menguraikannya dalam buku Mengasuh Anak dengan Hati.

Pertama, fase menikah. Pembangunan SDM harus dimulai sejak menikah. Keberhasilan orangtua mendidik anak ada korelasi erat dengan rumah tangga yang baik. Bagaimana mungkin bapak-ibu sukses mendidik anak jika suasana rumah tangganya saja tidak kondusif (hlm. 12).

Kebiasaan-kebiasaan positif seperti menerima pasangan apa adanya, apresiatif, romantis, lemah lembut, dan pujian memang terkesan sederhana. Namun jika kita tidak biasa melakukannya pada pasangan sulit nantinya untuk melaksanakan pada anak. Sedangkan hal-hal positif di atas akan mengantarkan anak menjadi juara.

Jika kita belum mampu melaksanakan Kebiasaan-kebiasan di atas kepada pasangan sebaiknya tidak perlu terburu-buru untuk memiliki anak. Apalagi motif memiliki anak karena terpaksa: tekanan orangtua atau tidak sengaja. Sehingga, kehadiran anak tidak dianggap sebagai beban tapi anugerah dan amanat yang harus dirawat dan dididik dengan baik.

Kedua, fase kandungan. Pembangunan manusia harus dimulai sejak berupa janin di alam rahim. Apa pun yang kita lakukan terhadap janin, ia memberikan respons balik. Janin turut bahagia ketika kita memberikan perlakuan menyenangkan, dan ia merasa tertekan ketika perlakuan kita tidak menyenangkan.

Menurut Yesie Aprillia, menjalankan komunikasi dengan yang masih dalam kandungan memberikan efek yang luar biasa kepada mereka mengingat hubungan batin antara ibu dengan calon anak begitu kuat. Caranya, mengelusnya dengan lembut, melantankan suara saat berdoa, dan membacakan cerita inspiratif (hlm. 97-98).

Ketiga, fase anak-anak. Rumah adalah sekolah pertama dan orangtua adalah guru pertama anak-anak. Sebelum mereka mengenal bangku sekolah, orangtua yang menanamkan pendidikan pertama kali berupa contoh konkret yang bisa dilihat secara langsung oleh anak.

Dalam fase ini pendidikan yang harus ditanamkan orangtua berupa contoh, bukan instruksi. Apa yang dilihat itulah yang akan diikuti. Keteladanan orangtua merupakan sumber pembelajaran utama dan pertama bagi anak. Hindari berteriak-teriak, mengeluarkan kata-kata kotor, dan pertengkaran di depan anak (hlm. 90).

Keempat, fase remaja. Pada masa pertumbuhan ini terdapat beragam problem yang harus dihadapi orangtua yang tidak ditemukan pada masa kanak-kanak. Misal, anak suka marah, suka menuntut, suka berbohong, atau susah bergaul.

Bagaimana jika kita sudah telanjur memiliki anak yang memiliki problem di atas? Buku 180 halaman ini memberikan solusi secara teori maupun aplikasi. Orang yang sedang mempersiapkan punya anak hingga mengatasi kenakan remaja penting membaca buku ini. Jalan keluar yang ditawarkan bukan dengan cara-cara yang kasar dan keras tapi dengan mengetuk hati anak. (MK)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar