Senin, 19 Desember 2016

Literasi Masyarakat Jahiliyah

Judul : Sejarah Kenabian
Penulis : Aksin Wijaya
Penerbit : Mizan
Terbitan : Pertama, Juni 2016
Tebal : 552 halaman
ISBN : 978-974-433-959-6
Dimuat di: Mata Madura, 8-18 Desember 2016

Makkah pra kenabian Muhammad dikenal dengan zaman jahiliyah. Istilah ini tidak bermakna masyarakat Makkah buta literasi. Menurut Muhammad Izzat Darwasah, masyarakat Makkah pra kenabian disebut jahiliyah bukan dalam arti jahiliyah dalam membaca dan tulis-menulis, tapi lebih kepada jahiliyah tauhid. Dalam literasi mereka sudah maju dengan beberapa indikasi.

Kemampuan baca tulis mereka tersirat dalam Al Qur’an. Ayat-ayat makkiyah menyebut beberapa alat baca dan tulis seperti qirthas, waraqun, shuhuf, dan qalam. Menurut Darwazah, tidak mungkin Al Qur’an menyinggung dan menggunakan istilah-istilah tersebut jika sasarannya tidak mampu memahami maksudnya. Dengan demikian, masyarakat jahiliyah sudah mempunyai kemampuan baca-tulis (hlm. 215-216).

Selain itu, permintaan masyarakat jahiliyah kepada Nabi Muhammad untuk mendatangkan kitab suci dalam bentuk tulisan sehingga mereka mampu membaca dan memahaminya mengindikasikan mereka telah memiliki peradaban literasi. Dan secara faktual, kemampuan baca-tulis mereka dibuktikan dengan karya-karya syair yang digantungkan di Ka’bah (hlm. 213).

Syair-syair yang ditulis pada masa itu sejalan dengan redaksi dan dimensi sastra Al Qur’an, sehingga masyarakat Makkah yang memiliki kemampuan syair menyebut Al Qur’an sebagai syair dan Nabi Muhammad sebagai penyair. Secara faktual, kata Darwazah, beberapa surah Al Qur’an makkiyah mempunyai kemiripan dengan syair dan sajak Arab (hlm. 204).

Kesamaan bahasa yang digunakan masyarakat Makkah dengan Al Qur’an yang bersifat melemahkan kepada masyarakat Arab tidak bertentangan dengan semangat Islam. Menurutnya, i’jaz Al Qur’an tidak berhubungan dengan kebahasaan, tapi pesan Al Qur’an yang bersifat spiritual (hlm. 202).

Masyarakat Makkah pra kenabian meyakini adanya pengaruh setan dan jin dibalik gubahan syairnya. Atas kesamaan susunan Al Qur’an yang dibacanakan Nabi Muhammad dengan karya mereka, yaitu sama-sama berbentuk sajak yang beresonansi dan berimbang, mereka menuduh Nabi Muhammad sebagai peramal dan dukun yang mendapat bisikan setan dan jin.

Muhammad Izzat Darwazah menelusuri peradaban masyarakat jahiliyah secara umum langsung kepada Al Qur’an. Ini yang membedakan perspektif dia dengan sejarawan lain yang hanya berpijak pada sumber sejarah murni. Dari karya-karya tafsir dan sejarah Darwazah, pembaca mengetahui sejarah sekaligus Al Qur’an. Sayang, karya-karyanya yang berjumlah puluhan mulai langka.

Buku Sejarah Kenabian: Dalam Perspektif Tafsir Nuzuli, Aksin Wijaya mendeskripsikan secara objektif pemikiran sejarawan-mufasir itu tentang sejarah kenabian. Buku ini ditulis secara serius dengan catatan kaki sebanyak 1050, namun mudah dicerna dan dipahami. (MK)

Selasa, 29 November 2016

Dialektika Nabi dan Masyarakat Arab

Judul : Sejarah Kenabian
Penulis : Aksin Wijaya
Penerbit : Mizan
Terbitan : Pertama, Juni 2016
Tebal : 552 halaman
ISBN : 978-974-433-959-6
Dimuat di: Duta Masyarakat 27 November 2016

Nabi Muhammad merupakan rasul terakhir, dan risalahnya kelanjutan dari utusan-utusan sebelumnya. Namun, tradisi masyarakat Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) yang mendominasi Madinah tidak diterima begitu saja, dan tidak semua tradisi masyarakat non-Ahli Kitab yang mendominasi Makkah dibuang begitu saja. Islam menyeleksi secara kritis tradisi masyarakat Arab.

Nabi Muhammad memulai dakwahnya di Makkah dengan audiens yang dikenal dengan istilah jahiliyah dan ummi. Istilah ini tidak dalam artian buta literasi, namun lebih kepada bodoh dalam tauhid dan belum pernah membaca kitab suci. Agama mereka mayoritas musyrik, dan sedikit sekali yang beragama Ahli Kitab.

Masyarakat Makkah pra Islam sebenarnya sudah mengenal konsep Tuhan, bahkan sudah mengetahui dan mengakui keberadaan Allah sebagai Tuhan, karena Nabi Ibrahim dan Ismail merupakan nenek moyangnya. Mereka sudah biasa mengerjakan salat di Ka’bah, puasa, zakat, haji, dan i’tikaf. Namun dalam praktiknya, mereka menyekutukan Allah dengan malaikat, jin, dan patung. Orang yang perama kali mengenalkan kemusyrikan dalam bentuk menyembah berhala adalah Amr bin Luhay (hlm. 262-263).

Risalah Nabi Muhammad pada satu sisi menolak dan meluruskan keyakinan mereka yang musyrik dengan menyeru kembali ke agama monoteis Nabi Ibrahim dan Ismail, namun pada sisi yang lain juga menerima dan melanjutkan tradisi yang benar seperti pelaksanaan salat, puasa, zakat, haji, dan i’tikaf.

Di kalangan keluarga Nabi Muhammad sendiri, muncul tiga respons terhadap risalah yang dibawa Nabi Muhammad: kelompok yang menerima dakwah seperti Siti Khadijah dan Ali, individu yang tidak menerima tapi tidak memusuhi seperti Abu Thalib, dan kelompok yang menolak dakwah dan memusihi seperti Mughirah bin Hisyam al-Mahzumi atau yang popular dengan Abu Jahal.

Kelompok yang menentang dakwah Nabi Muhammad berasal dari para pembesar dan orang-orang kaya Makkah. Menurut Izzat Darwazah, penolakan dan permusuhan para pembesar Arab terhadap dakwah Nabi Muhammad karena tiga faktor: (1) menyangkut posisi mereka sebagai elite Makkah dipatuhi, sedangkan dakwah Islam mengajarkan kesetaraan, (2) karakter dakwah Nabi Muhammad yang menghancurkan tradisi yang berbau syirik, fanatisme, pertumpahan darah, ekspolitasi anak, perempuan dan budak, (3) implikasi dari permusuhan dan jalan yang bersebrangan antara pembesar Makkah dan Nabi Muhammad (hlm. 352).

Berbeda dengan masyarakat jahiliyah Makkah yang memerangi Nabi Muhammad dan pengikutnya, respons masyarakat Ahli Kitab Makkah terhadap dakwah Nabi Muhammad, sangat apresiatif dan tidak ada tanda-tanda kekerasan. Menurut Izzat Darwazah, sikap seperti itu muncul lantaran adanya kesamaan antara Al Qur’an dan kitab suci mereka, dan kesamaan itu mendorong mereka untuk memercayai kebenaran risalah kenabian Muhammad dan Al Qur’an (hlm. 382).

Hijrah
Setelah sekitar 13 tahun berdakwah di Makkah, Nabi Muhammad pindah berdakwah di Madinah. Yatsrib (sebelum berganti nama menjadi Madinah) banyak dihuni imigran (Yahudi Israil al-Musta’ribah) dan mayoritas beragama Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani). Di sini Nabi Muhammad menghadapi Ahli Kitab dan orang munafik yang menentang sejak awal kedatangannya.

Selain menentang dakwah Nabi Muhammad yang menolak klaim mereka bahwa kaum Yahudi berada dalam penunjuk berkaitan dengan keyakinan “Uzair adalah Anak Allah”, demikian juga dengan keyakinan masyarakat Nasrani mengklaim terkait “Isa adalah Anak Allah”, Ahli Kitab songmbong, ingkar janji, dan menebar permusuhan secara terang-terangan. Beberapa kali terjadi peperangan. Karena gerakan mereka mengkhawatirkan, Nabi Muhammad mengambil tindakan pengusiran dengan tujuan menakut-nakuti dan menghukum agar tidak ditiru yang lain.

Sejarah kenabian yang dipaparkan Aksin Wijaya ini perspektif Muhammad Izzat Darwazah, cendekiawan multi disiplin ilmu kelahiran Palestina yang karya-karyanya mulai langka. Untuk menyelidiki sejarah kenabian, Izzat Darwazah melacak langsung kepada Al Qur’an. Al Qur’an dijadikan tafsir sejarah kenabian. Ini bedanya dengan kitab-kitab tarikh lainnya yang bersumber pada teks klasik yang bersifat profan.

Untuk mengumpuklan data, metode yang Izzat Darwazah lakukan dengan menyusun Al Qur’an sesuai urutan turunnya, sebuah metode tafsir yang diperkenalkan Theodor Nӧldeke. Alih-alih mengadopsi metode tafsir Nӧldeke, Izzat Darwazah memberikan banyak kiritik terhadap orientalis tersebut dan cendekiawan muslim lainnya.

Senin, 31 Oktober 2016

Ziarah Hajjah Muslimah

Judul : Ke Daudhah, Aku ‘kan Kembali
Penulis : Sari Meutia
Penerbit : Mizania
Terbitan : Pertama, Agustus 2016
Tebal : 163 halaman
ISBN : 978-602-418-057-7
Dimuat di: Majalah Suluh Madura, Edisi Oktober 2016

Telah menjadi tradisi di Madura, jemaah haji dijemput ke tempat kedatangan oleh sanak famili dan tetangga. Pemandangan ini juga terlihat saat pemberangkatan, tapi tak seramai saat kedatangan. Bahkan, sepanjang perjalanan dari tempat kedatangan hingga rumah dikawal iring-iringan (konvoi) kendaraan.

Sementara orang yang tidak menjemput biasanya melakukan ziarah (berkunjung) ke rumahnya. Perbincangan dalam ziarah tak lepas dari cerita seputar pengalaman menunaikan ibadah haji. Bagi yang telah melaksanakan ibadah haji, ziarah haji menjadi nostalgia dan berbagi pengalaman menunaikan ibadah haji. Sementara bagi yang belum merupakan ilmu.

Buku Ke Raudhah, Aku ‘kan Kembali adalah cara lain melakukan ziarah tanpa harus mendatangi rumah warga yang menunaikan ibadah haji. Dari diari haji dan umrah seorang muslimah ini, pembaca yang telah menunaikan ibadah haji dapat bernostalgia dan memutar ulang kenangan saat menunaikan ibadah haji. Sementara bagi yang belum, buku ini memberikan banyak wawasan seputar haji yang mungkin tidak disampaikan oleh pembimbing, seperti cerita penulis tentang tas.

Sari Meutia dan suaminya tidak mengenakan tas biru kecil yang dibagikan bersama koper besar beberapa hari sebelum berangkat. Ia melakukan “improvisasi” dengan membawa tas lain yang lebih besar. Padahal, tas biru kecil itu sangat penting karena merupakan identitas jamaah haji Indonesia. Di tas tersebut selain terdapat cap bendera merah putih yang menunjukkan asal negara, saku tranparan akan menjadi tempat disisipkan nomor kloter, dan data lain yang menunjukkan asal daerah, juga nomor kursi pesawat dan nomor bus (hlm. 31).

Penulis berbagi cerita sakralitas tanah suci yang juga kerap diceritakan jamaah haji di Madura. Rakan sesama jamaah haji menjelang shalat subuh berkata bahwa dia tidak ingin berdekatan dengan jemaah asal Afrika karena biasanya jorok dan badannya mengeluarkan bau tidak sedap. Rekannya ini baru saja menyaksikan seorang jamaah asal Afrika yang tidak dapat menahan buang hajatnya hingga menotori masjid.

Baru saja memasuki rakaat kedua shalat subuh, rekan penulis ini tiba-tiba saja mendapat serangan sakit perut tak tertahankan. Tentu shalat menjadi khusuk, dan sudah membayangkan bagaimana sulitnya keluar dari antrean menuju toilet. Walaupun dia berhasil tiba di toilet tepat waktu, namun sebagian najis sudah megotori bagian dalam bajunya (hlm. 42).

Dari rangkaian ritual haji, penulis mengajak pembaca banyak merenung. Bergeraknya jemaah haji ke segala arah usai melaksanakan shalat di Masjidil Haram, sehingga untuk keluar dari masjid saja menghabiskan waktu 40 menit, penulis mengajak pembaca untuk mengingat hari kiamat.

Jika jumlah jamaah haji yang berkumpul pada saat itu lebih kurang dua juta saja, keadaannya sudah berdesak-desakan, bagaimana jika seluruh umat manusia sejak manusia pertama hingga akhir zaman berkumpul di Padang Mahsyar. Ditambah lagi, konon, jarak matahari dengan kepala sangat dekat (hlm. 72).

Selebihnya, buku ini memberikan tips-tips, khususnya untuk perempuan yang lebih jelimet dibandingkan laki-laki dalam menunaikan ibadah haji, seperti mengatur suklus haid. Sehingga, datang bulan tidak menganggu rukun haji atau ibadah sunah yang ingin dilakukan. Terkait dengan masalah haid, penulis memberikan tips agar perempuan yang akan melaksanakan ibadah haji mencatat secara detail waktu-waktu haid, setidaknya enam bulan sebelum waktu keberangkatan.

Dengan mengetahui waktu-waktu haid tersebut, perempuan yang akan menunaikan ibadah haji bisa memperhitungkan apakah waktu-waktu tersebut akan mengganggu rukun haji atau tidak sehingga perlu mempersiapkan obat menahan haid atau tidak perlu dikhawatirkan sama sekali (hlm. 23).

Buku ini terbit pertama kali pada 2009 oleh Penerbit Lingkar Pena, namun terbitan kali ini lebih atraktif dengan dilengkapi ilustrasi-ilustrasi dan huruf yang berwarna-warni. Dilengkapi dengan selebaran petunjuk pelaksanaan ibadah haji. (TM)

Kamis, 27 Oktober 2016

Revolusi Mental dari dalam Keluarga

Judul : Mengasuh Anak dengan Hati
Penulis : Clarasati Prameswari
Penerbit : Saufa Yogyakarta
Terbitan : Pertama, 2016
Tebal : 180 halaman
ISBN : 978-602-391-188-2
Dimuat di: Majalah Suluh Madura, Edisi Oktober 2016

Presiden Joko Widodo memperkenalkan revolusi mental untuk mengatasi masalah yang melilit bangsa ini. Menurutnya, reformasi Indonesia hanya sebatas perombakan yang bersifat institusional. Budaya yang berkembang pada Orde Baru masih bertahan hingga saat ini karena pembangunan bangsa belum menyentuh paradigma dan mindset manusianya. Lalu dari mana kita memulainya?

Presiden menjawab dari masing-masing kita, dimulai dari dalam keluarga. Dengan demikian, orangtua memiliki peran dan tanggung jawab besar untuk melahirkan generasi bangsa berkepribadian baik. Karakter pemimpin masa depan sangat bergantung dengan pola asuh dan pendidikan orangtua saat ini. Untuk menyukseskan revolusi mental pembangunan manusia dalam lingkup rumah tanggal dapat diklasifikasikan dalam empat fase. Clarasati Prameswari menguraikannya dalam buku Mengasuh Anak dengan Hati.

Pertama, fase menikah. Pembangunan SDM harus dimulai sejak menikah. Keberhasilan orangtua mendidik anak ada korelasi erat dengan rumah tangga yang baik. Bagaimana mungkin bapak-ibu sukses mendidik anak jika suasana rumah tangganya saja tidak kondusif (hlm. 12).

Kebiasaan-kebiasaan positif seperti menerima pasangan apa adanya, apresiatif, romantis, lemah lembut, dan pujian memang terkesan sederhana. Namun jika kita tidak biasa melakukannya pada pasangan sulit nantinya untuk melaksanakan pada anak. Sedangkan hal-hal positif di atas akan mengantarkan anak menjadi juara.

Jika kita belum mampu melaksanakan Kebiasaan-kebiasan di atas kepada pasangan sebaiknya tidak perlu terburu-buru untuk memiliki anak. Apalagi motif memiliki anak karena terpaksa: tekanan orangtua atau tidak sengaja. Sehingga, kehadiran anak tidak dianggap sebagai beban tapi anugerah dan amanat yang harus dirawat dan dididik dengan baik.

Kedua, fase kandungan. Pembangunan manusia harus dimulai sejak berupa janin di alam rahim. Apa pun yang kita lakukan terhadap janin, ia memberikan respons balik. Janin turut bahagia ketika kita memberikan perlakuan menyenangkan, dan ia merasa tertekan ketika perlakuan kita tidak menyenangkan.

Menurut Yesie Aprillia, menjalankan komunikasi dengan yang masih dalam kandungan memberikan efek yang luar biasa kepada mereka mengingat hubungan batin antara ibu dengan calon anak begitu kuat. Caranya, mengelusnya dengan lembut, melantankan suara saat berdoa, dan membacakan cerita inspiratif (hlm. 97-98).

Ketiga, fase anak-anak. Rumah adalah sekolah pertama dan orangtua adalah guru pertama anak-anak. Sebelum mereka mengenal bangku sekolah, orangtua yang menanamkan pendidikan pertama kali berupa contoh konkret yang bisa dilihat secara langsung oleh anak.

Dalam fase ini pendidikan yang harus ditanamkan orangtua berupa contoh, bukan instruksi. Apa yang dilihat itulah yang akan diikuti. Keteladanan orangtua merupakan sumber pembelajaran utama dan pertama bagi anak. Hindari berteriak-teriak, mengeluarkan kata-kata kotor, dan pertengkaran di depan anak (hlm. 90).

Keempat, fase remaja. Pada masa pertumbuhan ini terdapat beragam problem yang harus dihadapi orangtua yang tidak ditemukan pada masa kanak-kanak. Misal, anak suka marah, suka menuntut, suka berbohong, atau susah bergaul.

Bagaimana jika kita sudah telanjur memiliki anak yang memiliki problem di atas? Buku 180 halaman ini memberikan solusi secara teori maupun aplikasi. Orang yang sedang mempersiapkan punya anak hingga mengatasi kenakan remaja penting membaca buku ini. Jalan keluar yang ditawarkan bukan dengan cara-cara yang kasar dan keras tapi dengan mengetuk hati anak. (MK)

Rabu, 21 September 2016

Mereka yang Layak Jadi Abdi Negara

Judul : 7 Lapis Kekuatan Diri
Penulis : Achmad Chodjim
Penerbit : Baca
Terbitan : Pertama, Juni 2016
Tebal : 244 halaman
ISBN : 978-602-74353-2-2
Dimuat di: Malang Post, 3 September 2016

Rekrutmen Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) selalu dinanti dan disambut antusias. Pendaftarnya tidak pernah sepi. Namun, semangat menjadi abdi negara saat mendaftar tidak bertahan lama. Setelah dinyatakan lulus semangatnya luntur. Akibatnya, masih sering dijumpai PNS tidak disiplin.

Orang-orang seperti apa yang layak menjadi abdi negara? Buku 7 Lapis Kekuatan Diri bisa menjadi panduan alternatif bagi panitia seleksi rekrutmen abdi negara untuk mengenal potensi tubuh lahir-batin orang, sehingga tidak salah memilih calon abdi negara.

Achmad Chodjim mengawali pemaparannya dengan menyebut lapisan-lapisan diri manusia. Mengutip hadis qudsi, lapisan terluar dalam diri manusia badan jasmani yang di dalamnya terdapat badan sadar, dalam kesadaran ada qalb, dalam qalb ada fuad, dalam fuad ada syaghaf, dalam syaghaf ada lub, dalam lub ada sir.

Badan jasmani tempat nafs al-amarah. Chodjim mengilustrasikan cara kerja nafsu ini seperti seorang anak yang masih berumur kurang dari 2 tahun kencing, maka ia akan kencing sembarangan. Jika tak ada orang yang mendidik, maka saat birahinya timbul, pasti akan disalurkan sembarangan. Inilah wilayah anak-anak berumur 1-6 tahun.

Dalam konteks pemerintahan, bila abdi negara dikuasai oleh badan sadarnya, maka operasional kerjanya berdasarkan emosi dan insting. Akibat terlewatinya masa pelatihan dan pendidikan badan sadar, sekalipun sudah dewasa dan menjadi pemimpin masih bersikap seperti kanak-kanak (hlm. 61-62).

Badan kedua adalah wilayah remaja yang berumur 7-12 rahun. Badan ketiga adalah wilayah remaja berumur 13-18 tahun. Pendidikan seseorang yang hanya sampai badan sadar (makrifat Jawa: bumi kalbu) hanya ikut-ikutan dalam hidup, hanya main klaim kebenaran. Jika berhenti pada badan qalb (makrifat Jawa: bumi jantung) hidupnya akan didominasi oleh emosi (hlm. 124).

Menurut Chodjim, sudah seharusnya mereka yang berada di pemerintahan minimal adalah orang yang kelasnya sudah hidup di badan lub (makrifat Jawa: bumi sukma). Kalau terlalu banyak yang di bawah dimensi bumi lub, isinya orang-orang yang hanya emosi. Sifat abdi negara sebagai pelayan tidak ada (hlm. 195).

Uraian lapisan-lapisan diri manusia dalam buku setebal 244 halaman ini diulas dengan referensi dan ilustrasi yang begitu kaya. Pada tiap akhir bab penulis menyertakan jenis olahraga yang dapat meningkatkan potensi tubuh hingga mencapai puncak.

Selasa, 06 September 2016

Mengenalkan Bahaya LGBT pada Remaja

Judul : Lo Gue Butuh Tau LGBT
Penulis : Sinyo
Penerbit : Gema Insani
Terbitan : Pertama, April 2016
Tebal : 124 halaman
ISBN : 978-602-250-303-3
Dimuat di: Majalah Puspa, Edisi 68 September 2016

Sebelum buku Lo Gue Butuh Tau LGBT (Gema Insani, 2016), Sinyo telah menerbitkan Anakku Bertanya tentang LGBT (Quanta, 2014). Buku kedua terbit sebelum Indonesia gempar dengan pemberitaan seputar LGBT pada tahun 2015, sedangkan yang pertama setelahnya. Tentu materi yang disampaikan berbeda.

Dari pemilihan judul pembaca bisa mereka-reka sasaran dua buku itu. Sasaran pembaca buku kedua adalah orangtua. Sedangkan buku pertama menyasar kalangan remaja sehingga penyajiannya disesuaikan dengan karakter usia anak awal baligh.

Sinyo dalam beberapa bukunya membuka tiap awal bab dengan sebuah cerita. Demikian juga dalam buku Lo Gue Butuh Tau LGBT. Melalui tokoh Bintang, penulis mengenalkan macam-macam orientasi seksual pada bab pertama.

Secara fitrah manusia memiliki orientasi seksual heteroseksual, yaitu ketertarikan seksual kepada lawan jenis. Berbagai macam orientasi seksual timbul karena ada banyak faktor yang memengaruhi, mulai dari kondisi psikologis hingga faktor lingkungan tempat tinggal. Dalam konteks Bintang karena trauma dengan laki-laki (hlm. 14).

Remaja yang notabene masih dalam pencarian jati diri dan menyukai sesuatu yang baru rentan mengalami perubahan orientasi seksual. Dalam kasus cerita Reza, ketertarikannya pada sesama jenis bermula dari penasaran akan barang baru, yaitu mengunduh aplikasi gay berdasarkan temannya (hlm. 74).

Cara orang tua menjaga fitrah anak dari perubahan orientasi seksual: pertama, dengan menjadi panutan yang baik bagi anak-anak. Sebab, perubahan orientasi seksual sangat dipengaruhi oleh salah panutan. Dalam kasus Lili, ketertarikannya pada sesama jenis bermula dari perhatian yang didapat dari temannya yang ternyata tertarik pada sesama jenis (hlm. 28).

Untuk mengatasi kondisi keluarga yang tidak lengkap, misal ayah atau ibu sudah meninggal atau bercerai, hal itu bisa diatasi dengan mengambil panutan dari keluarga terdekat seperti kakek dan paman. Kalau tidak ada carilah tetangga atau guru yang baik untuk dijadikan panutan (hlm. 76-77).

Kedua, pertegas identitas dan karakter anak. Caranya dengan memberikan pakaian dan mainan yang sesuai dengan jenis kelamin. Sah-sah saja orang tua memperkenalkan berbagai macam mainan dan permainan, namun jika sudah menyangkut kesukaan dan karakter, orang tua harus menegaskan perdebatan laki-laki dan perempuan (hlm. 80).

Ketiga, menjaga anak dari pelecehan dan kekerasan seksual. Perubahan orientasi seksual terkadang disebabkan trauma terhadap lawan jenis. Sementara Indonesia saat ini sedang darurat pelecehan seksual, sehingga orangtua perlu meningkatkan kewaspadaan.

Keempat, faktur lingkungan juga sangat mempengaruhi. Termasuk dalam konteks ini adalah media (hlm. 77). Anak-anak harus dijauhkan dari pergaulan tidak baik dan pornografi serta pornoaksi sejak ini.

Mari segera periksa anak kita untuk memastikan terhindar dari virus LGBT. Caranya dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan pada bagian akhir buku ini. Yang sangat penting dari buku ini Sinyo memberikan suplemen deteksi dini orientasi seksual.(MK)

Selasa, 30 Agustus 2016

Narasi Nabi Sulaiman dalam Al Kitab dan Al Qur'an

Judul : Sulaiman: The Word's Greatest Kingdom History
Penulis : Manshur 'Abdul Hakim
Penerbit : Mizania
Terbitan : Maret 2016
Tebal : 233 halaman
ISBN : 978-602-1337-76-9
Dimuat di: Radar Madura Minggu 21 Agustus 2016

Nabi Sulaiman diceritakan dalam banyak kitab suci. Al Qur'an mengabadikan kisahnya dalam tujuh surah. Kitab suci umat Islam ini mengulang nama Sulaiman sebanyak 17 kali. Di antara narasi hidup Nabi Sulaiman adalah kisahnya dengan Ratu Balqis.

Kisah panjang lebar Nabi Sulaiman dengan Ratu Saba' terdapat dalam Surah Al-Naml (27): 20-44 dan Kitab Raja-Raja 1. Namun, narasi Nabi Sulaiman versi Al Qur'an dan Al Kitab tidak sama.


Dalam Perjanjian Lama disebutkan bahwa Ratu Saba' (tanpa disebutkan namanya) menemui Raja Sulaiman --bangsa Yahudi hanya mengakui Sulaiman a.s. sebagai raja, bukan nabi-- setelah mendengar berita tentang dia dan kebijaksanaannya. Ratu Saba' menemui Raja Sulaiman di Jerusalem untuk membuktikan kebijaksanaannya.

"Ia (ratu negeri Syeba) datang ke Yerusalem dengan pasukan pengiring yang sangat besar, dengan unta-unta yang membawa rempah-rempah, sangat banyak emas dan batu permata yang mahal-mahal. Setelah ia sampai kepada Salomo (Nabi Sulaiman), dikatakan segala yang ada dalam hatinya kepadanya.” (Kitab Raja-Raja I [10]: 2).

Penelusuran Mansyur 'Abdul Hakim, tidak ada isyarat apa pun dalam kitab suci itu tentang hubungan Nabi Sulaiman dengan Ratu Saba'. Juga tidak disebutkan unek-unek Ratu Saba' kepada Nabi Sulaiman. Hanya disebutkan bahwa Nabi Sulaiman memiliki 700 istri dan 300 selir (hlm. 103).

Dalam Al Qur'an diceritakan Ratu Saba' menemui Nabi Sulaiman setelah Nabi Sulaiman berkirim surat via burung Hud-hud. Perintah Nabi Sulaiman kepada burung Hud-hud diabadikan dalam QS. Al-Naml (27): 28.

"Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkan kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikan apa yang mereka bicarakan."

Ahli tafsir mengilustrasikan, Hud-hud membawa surat itu dan datang ke istana Ratu Balqis dan menjatuhkan surat itu kepadanya ketika dia sedang sendiri. Kemudian Hud-hud berhenti sebentar, menunggu jawaban sang ratu atas surat tersebut. Ratu kemudian mengumpulkan para pejabat, menteri, dan semua tokoh di negerinya dalam sebuah musyawarah (hlm. 88-89).

Dalam surat itu Nabi Sulaiman memerintahkan Ratu Balqis datang kepadanya. Nabi Sulaiman mengajak masuk Islam dan datang kepada dirinya dengan patuh. Namun, Ratu Balqis hanya mengirim utusan membawa hadiah-hadiah mewah kepada Nabi Sulaiman.

Dalam Kitab Raja-Raja 1 (10): 10 disebutkan bahwa hadiah-hadiah mewah yang dibawa terdiri dari 120 talenta emas, rempah-rempah yang sangat banyak, kayu cendana, dan batu permata yang mahal-mahal.

"Raja mengerjakan kayu cendana itu menjadi langkan untuk rumah Tuhan dan untuk istana raja, dan juga menjadi kecapi dan gambus untuk para penyanyi." (Kitab Raja-Raja 1 [10]: 11)

Namun, Al Qur'an menyebutkan Nabi Sulaiman menolak mentah-mentah hadiah itu. "Kembalilah kepada mereka! Sungguh, kami pasti akan mendatangi mereka dengan bala tentara yang mereka tidak mampu melawannya, dan akan kami usir mereka dari negeri itu (Saba') secara terhina dan mereka akan menjadi (tawanan) yang hina dina." (Al Naml [27]: 37)

Sebelum Ratu Balqis datang sendiri, Nabi Sulaiman meminta di antara prajuritnya membawa singgasana Ratu Balqis. Abdullah ibn Syaddad mengatakan, saat itu Ratu Balqis berada pada jarak satu farsakh dari istana Nabi Sulaiman (hlm. 93).

Buku Sulaiman: The Word's Greatest Kingdom History menjadi menarik karena tidak hanya memberi wawasan sejarah Nabi Sulaiman dari dua kitab suci. Manshur 'Abdul Hakim menggali benda-benda peninggalan sang raja dan ratu yang masih tersisa dilengkapi dengan gambarnya. Jejak arkeologis Nabi Sulaiman dan Ratu Saba' bisa menjadi wisata sejarah baru.

Kedok Pemburu Rente Haji

Judul : Orang Jawa Naik Haji + Umrah
Penulis : Danarto
Penerbit : Diva Press
Terbitan : Pertama, Agustus 2016
Tebal : 184 halaman
ISBN : 978-602-391-223-0
Dimuat: Radar Surabaya, 29 Agustus 2016

Terungkapnya kasus korupsi dana haji yang melibatkan mantan Menteri Agama RI Suryadharma Ali, puncuk gunung es dari praktik perburuan rente haji. Secara faktual, pemburuan rente haji telah berlangsung setidaknya sejak Orde Baru.

Jamaah haji Indonesia 1983, Danarto sudah menangkap sinyal itu, jangan-jangan pemburuan rente, istilah Danarto industri kejahatan, yang melahap uang jamaah haji yang awam telah terjadi di Departemen Agama (Kementerian Agama) pada saat itu.

Hal ini didasarkan pada pengalaman pribadinya saat menunaikan ibadah haji. Setibanya di Jeddah untuk melanjutkan perjalanan ke Madinah, Danarto bergabung dengan rombongan jamaah haji sejak dari Jakarta yang merupakan majelis taklim. Ketua rombongan merupakan pimpinan majelis taklim tersebut.

Setibanya di Madinah, ketua rombongan melalui orang lain menagih uang sebesar 750 riyal pada Danarto. Kedoknya untuk pembayaran dam atau kurban, ongkos bus ziarah, kuli, dan persenan untuk sopir. Padahal, biaya semuanya hanya sekitar 250 riyal. Anehnya lagi, jamaah yang melaksanakan haji ifrad tetap ditarik (hlm. 42).

Barangkali karena ketidaktahuannya, semua anggota rombongan yang berjumlah sekitar 40 orang sudah membayar kepada sang ketua rombongan sejak di Indonesia, saat menerima uang biaya hidup sebanyak 1750 riyal dari Depag Pondok Gede, Jakarta, kecuali Danarto.

Tak berhasil dengan kedok di atas, sang ketua rombongan membuat ulah baru, anggota rombongan harus membayar 350 riyal, 200 riyal di antaranya untuk untuk bayar kemah. Padahal, kemah di Arafah atau Mina, dan makan dua sehari semua gratis, sudah termasuk di dalam Ongkos Naik Haji (ONH) [hlm. 46].

Dan ternyata, laporan dari seorang jamaah, sang ketua rombongan di Jakarta telah memungut Rp 10.000/orang untuk pembayaran surat panggilan Depag tentang pemberitahuan tanggal keberangkatan jamaah ke tanah suci, yang sebenarnya sudah jadi kewajiban Depag.

Pungutan liar sang ketua rombongan ini salah satu penggalan cerita panjang dari catatan perjalanan ruhani Danarto saat menunaikan ibadah haji dan umrah. Buku yang terbit pertama kali pada tahun 1984 oleh Grafiti Pers tetap penting dibaca, baik sebagai wawasan oleh calon jamaah haji maupun nostalgia kenangan oleh orang yang pernah menunaikan ibadah haji. (MK)

Minggu, 28 Agustus 2016

Persembahan Hidup Sang Konglomerat

Judul : Dato' Sri Prof. DR. Tahir Living Sacrifice
Penulis : Alberthiene Endah
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbitan : Pertama, 2015
Tebal : 540 halaman
ISBN : 9786020311593
Harga : Rp. 178.000
Dimuat di: Suluh Madura, Agustus 2015

Prioritas ekonomi dan sosial menyatu dalam diri Dato' Sri Prof. DR. Tahir, salah satu konglomerat Indonesia yang memiliki perusahaan Mayapada Group. Denyut kehidupan sosial sama riuhnya dengan hiruk pikuk urusan bisnis. Namun demikian, ia tak mencapuradukkan manajemen bisnis dan sosial.

Prinsip Tahir dalam mengelola bisnis banyak tak logis jika diukur dari teori ekonomi yang dipelajari di perguruan tinggi, dan bertentangan dengan pandangan ahli ekonomi. Ia tak sependapat dengan pandangan ahli ekonomi Amerika, Milton Friedman, bahwa satu-satunya tanggung jawab sosial sebuah bisnis adalah meningkatkan keuntungan semata.

Keserakahan bermula dari orientasi bisnis yang salah ini. Sehingga, martabat dan kehormatan dilacurkan dan diinjak-injak oleh nafsu keserakahan diri. Akibatnya, ngemplang pajak, monopoli, suap, dan bermacam skandal dianggap hal biasa. Serakah tak mau berbagi merupakan sebentuk energi negatif bisnis.

Tahir resah pada sejumlah catatan miring di atas yang masih menjadi image konglomerat Indonesia. Sebagai salah satu konglomerat, ia berusaha memperbaiki citra konglomerat dengan komitmen tinggi pada martabat sekaligus ingin berguna bagi orang lain. Komitmennya tidak hanya berjalan lurus dengan memenuhi kewajiban membayar pajak dan taat regulasi, tapi lebih dari itu.

Menurut Tahir, profesi hanyalah prasarana menuju hidup lebih bermanfaat kepada banyak orang. Untuk bisa mencapai itu, manusia harus bisa membentuk diri menjadi orang yang "pemberi" dan senantiasa terdorong untuk membantu orang lain (hlm. 307). Keberanian memberi merupakan sikap yang akan mengubah dunia lebih baik.

Saat ini, memberi telah menjadi titik kebahagiaan hidup Tahir. Ia begitu ringan mengeluarkan uang Rp 2,3 triliun untuk donasi kesehatan dan memberikan beasiswa sebesar tiga juta dolar karena filantropi telah menjadi hiburan sekaligus pemuas batin. Bahkan, ia siap menyerahkan separuh kekayaan yang dimiliki untuk donasi karena dalamnya keyakinan akan timbal balik ketika membantu orang lain, sekalipun dirinya tak mengharapkan hal itu.

Baginya, semakin kita banyak memberi, semakin Tuhan percaya bahwa kita pantas untuk diberi. Semakin kita bisa menolong kaum yang lemah, semakin kuat hidup kita. Semakin kita bisa menyalurkan rezeki untuk menjadi berkat bagi orang lain, semakin kukuh hidup kita (hlm. 363).

Namun tak banyak konglomerat Indonesia yang berkeyakinan seperti ini, sehingga ngemplang pajak, monopoli, dan kongkalikong masih terjadi. Seandainya semua konglomerat berbuat seperti yang dilakukan Tahir tentu bangsa ini telah menjadi negara maju dan disegani negara-negara lain.

Budaya memberi, menurut Tahir, sangat dipengaruhi oleh filosofi kehidupan yang berlaku di sebuah negara. Dalam konteks cara pandang terhadap uang, ada budaya yang sangat kontras antara Timur dan Barat. Keduanya memiliki plus minum masing-masing.

Bangsa Timur lebih tertutup dan pekerja keras. Hidup mereka dibayangi oleh kecemasan atau tuntutan untuk memburu kesejahteraan, bukan hanya untuk mereka sendiri, tapi juga untuk anak, cucu, bahkan cicit bila perlu (hlm. 387). Pendek kata, mereka lebih memikirkan hari esok daripada hari ini sehingga cenderung pelit dan serakah.

Berbeda dengan bangsa Barat yang lebih terbuka pada keuangan. Mereka mencari kesenangan hidup hari ini tanpa memikirkan hari esok, sehingga tak pelit untuk berlibur dan berbagi pada orang lain. Orang Barat tak dipusingkan menyimpan banyak uang demi anak cucu mereka. Pendidikan mengajarkan kemandirian (hlm. 388).

Uniknya lagi, orang-orang Barat merasa uang yang mereka miliki adalah uang yang sudah dikeluarkan. Dan uang yang masih disimpan bukanlah uang milik mereka. Sementara orang Timur menganggap uang yang sudah habis dibelanjakan bukanlah uang miliknya. Uang milik mereka yang belum dikeluarkan.

Tahir menyerap sisi positif dua budaya tersebut. Dari kultur Timur menyerap budaya kerja keras dan hidup sederhana, sementara dari kultur Barat menyerap keihlasan berbagi dan sikap tidak diperbudak uang. Rahasia sukses Tahir dibentuk dari kolaborasi dua budaya ini: kerja keras, sederhana, dan ikhlas berderma.

Semangat berderma Tahir cermin kedalaman iman pribadi, keberhasilan pendidikan ibunya yang punya kebiasaan menyisihkan uang untuk orang lemah, sekalipun dirinya hidup dalam kubangan kemiskinan, dan trauma masa lalunya yang terjal dan berliku supaya tak terulang.

Buku Living Sacrifice adalah buku pertama yang secara utuh memotret kehidupan Tahir. Selama ini, ia menolak dorongan banyak pihak agar mau membukukan kisah hidupnya, karena suramnya kehidupan masa lalu. Sekalipun sudah bercahaya, ketika mengingat-ingat yang pedih di masa lalu hidupnya terasa berganti jadi redup.

Namun akhirnya Tahir harus mengikhlaskan masa lalunya diangkat kembali untuk menyebarkan semangat untuk maju ke sebanyak mungkin masyarakat Indonesia yang tengah dilanda kegalauan. Melalui biografinya, ia memotivasi pembaca untuk menjadi rakyat yang kuat, yang mampu membangun ekonomi Indonesia yang mantap. Secara implisit, Tahir hendak mengatakan bahwa bukan hanya dirinya yang bisa dan layak kaya jika mau. (MK)

Bukan Jalan-jalan Biasa

Judul : Menemukan Indonesia
Penulis : Pandji Pragiwaksono
Penerbit : Bentang
Terbitan : Pertama, Maret 2016
Tebal : 282 halaman
ISBN : 978-602-291-143-2
Dimuat di: Suluh Madura, Agustus 2016

Frasa My Trip My Adventure sangat booming. Buku catatan perjalanan dan panduan wisata menghiasi rak toko buku. Pembaca tetap memburunya meskipun itu-itu saja isinya. Membaca catatan perjalanan adalah cara lain berpelesir. Pandji Pragiwaksono dalam buku Menemukan Indonesia membawa imajinasi pembaca berwisata ke empat benua.

Buku ini menjadi istimewa karena tidak hanya menarasikan eksotisme panorama dan pariwisata luar negeri. Perjalanan Pandji dalam 365 hari di 20 kota di delapan negara di empat benua bukan jalan-jalan untuk berburu belanja atau mengusir penat. Ia membawa misi agung, yaitu mengenal atau memperkanalkan Indonesia di luar negeri.

Dalam catatan perjalanan ke Singapura, Pandji memperkanalkan masakan Indonesia di negara singa putih tersebut. Di food court ION Mall ada food stall Indonesia. Makan di sana serasa makan di tanah air. Menu yang tersedia di antaranya ayam panggang, telur dadar, dan kuah kari. Sekalipun di luar negeri harganya murah (hlm. 36).

Sementara kesan yang begitu membekas dari liburan Pandji di Sydney perjumpaan tak sengaja dengan perempuan berdarah Italia. Pramusaji sebuah restoran Italia di pelabuhan Curcular Quay itu menyapa Pandji menggunakan bahasa Indonesia. Dia fasih berbahasa Indonesia. Kepada sang pacar orang Padang dia belajar bahasa Indonesia (hlm. 72).

Pandji Pragiwaksono di Leiden, Belanda, mengunjungi Leiden University. Di universitas ini ada perpustakaan dengan koleksi sejarah Indonesia terlengkap. Di area depan kampus ada satu pojokan yang mengolesi tentang Indonesia. Dari buku-buku yang ditulis zaman dulu hingga album kaset Rhoma Irama (hlm. 179).

Pandji berusaha adil dalam menceritakan Indonesia di luar negeri. Tak ada yang ditutup-tutupi. Bukan hanya yang baik-baik yang diceritakan, yang "buruk" dari Indonesia juga diungkap. Seperti penginapan mes Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapura yang memprihantinkan. Kondisinya di bawah tanah. Lorongnya gelap. Mes itu bekas kuburan (hlm. 32).

Pada bagian akhir catatan perjalanan, Pandji memberikan refleksi mengenai Indonesia. Pandji membandingkan kondisi Indonesia dengan luar negeri. Memang terkesan menjelek-jelekkan Indonesia yang masih memprihantinkan dalam berbagai sektor. Namun, gambaran situasi di luar negeri bisa dijadikan studi untuk diduplikasi di Indonesia.

Pada tahun 2014 ada 27,7 juta orang yang datang untuk berbelanja ke Hong Kong. Sedangkan Indonesia cuma 9,44 juta orang. Indonesia kalah kepada Malaysia yang mencapai sekitar 25 juta. Secara geografis, Hong Kong dan Indonesia tak jauh beda. Hongkong sejak dulu menjadi pintu masuk perdagangan di kawasan Asia Pasifik seperti Surabaya. Awalnya, Hong Kong tidak punya apa-apa, namun kini menjadi tempat belanja favorit.

Pengamatan Pandji, kekuatan Hong Kong dibanding Indonesia adalah free trade, pajak yang rendah, dan karakter kuat yang tercitra dalam berbagai macam produk budaya. Indonesia sebenarnya mempunyai semua yang Hong Kong tawarkan kecuali free trade dan pajak rendah (hlm. 60). Ini salah satu faktor Hong Kong menjadi tempat “menghabiskan” uang.

Indonesia perlu belajar terhadap Gold Coast dalam mengelola infrastuktur. Di sana trotoarnya lebar, dan tidak seperti Indonesia yang keberadaannya sama dengan tidak ada (wujuduhu ka'adamihi) karena diserobot pedagang kaki lima, bangunan pertokoan, atau pengguna kendaraan.

Namun, ada juga dari negeri ini yang perlu dipelajari oleh negara lain. Pengalaman Pandji di Los Angeles, bioskop-bioskop di sana sangat jelek. Sebenarnya tidak hanya di sana. Di banyak negara yang Pandji kunjungi juga memprihatinkan. Dalam pengelolaan bioskop, mereka perlu belajar ke Indonesia.

Indonesia telah melewati masa Orde Baru yang otoriter. Sedangkan di Singapura masih berlangsung. Informasi yang Pandji dapatkan di sana, kalau ada warga ketahuan terlibat demonstrasi dipastikan tidak akan mendapat pekerjaan (hlm. 37).

Dalam buku setebal 282 halaman ini juga diselipkan penjelasan rukun traveling. Perlengkapan yang mesti disiapkan, khususnya untuk berlibur dalam jangka waktu lama seperti yang dilakukan Pandji bersama Mesakke Bangsaku Word Tour (MBWT). (TM)

Minggu, 21 Agustus 2016

Beretika dalam Pergaulan

Judul : Etiket dan Netiket
Penulis : Marulina Pane
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Terbitan : Pertama, 2016
Tebal : 172 halaman
ISBN : 978-602- 412-010- 8
Dimuat di: Harian Nasional  Sabtu-Minggu, 20-21 Agustus 2016

Kerusuhan di Tanjung Balai, Sumatera Utara, 29 dan 30 Juli lalu, diduga berasal dari penyebaran ujaran kebencian di media sosial (medsos). Polri pun telah menangkap orang yang ditengarai menjadi penyulut kerusuhan. Namun, penyelesaian masalah melalui pendekatan hukum oleh pemerhati media sosial dinilai belum akan mengakhiri maraknya ujaran kebencian. Penindakan terhadap orang-orang yang menyabarkan ujaran kebencian hanya menyelesaikan masalah di hilir. Cara efektif untuk mengatasi masalah sampai hulu ialah literasi medsos (Kompas, 8 Agustus 2016).

Indonesia salah satu negara terbanyak pengguna internet. Menurut lembaga riset pasar e-Marketing, negeri ini menduduki peringkat ke-6 di dunia dengan jumlah populasi mencapai 83,7 juta orang pada 2014. Dan diprediksi mengalahkan Jepang yang menempati peringkat ke-5 pada tahun berikutnya (Tribun Timur, 24 November 2014).

Namun, melek teknologi belum dibarengi melek literasi internet. Asumsi kebanyakan netter bahwa dunia nyata dan dunia maya (baca: medsos) adalah dunia berbeda. Akibatnya, sopan santun di dunia nyata diabaikan di media sosial. Ekspresi kebencian dengan mudah diumbar tanpa mengindahkan sopan santun.

Memang yang dilihat di layar komputer/ponsel hanyalah huruf-huruf, gambar, atau video, namun di balik itu ada seorang manusia hidup yang berhak mendapatkan respek yang sama seperti ketika bertatap muka. Artinya, di balik setiap massage ada seorang manusia (hlm. 83).

Oleh karena itu, sopan santun yang berlaku di dunia nyata tak boleh diabaikan di medsos. Bukan karena identitas tidak diketahui etika internet (netiket) bisa diabaikan. Meskipun misalnya menggunakan nama samaran atau taktik lain untuk menyembunyikan identitas, tapi bila perlu, ada ahli yang dapat menemukan jati dirinya.

Yang juga perlu disadari bahwa yang ditulis atau diunggah di internet akan tersimpan selamanya. Sekalipun pada awalnya terasa sepele namun jika dikemudian hari menuai masalah yang berurusan dengan hukum dapat menjadi bukti atau saksi.

Dalam konteks tempat kerja, sekalipun untuk internal, dari atasan ke bawahan dan sebaliknya, dianjurkan menggunakan memo maupun komentar menggunakan bahasa yang baik dan santun untuk menghindari salah pengertian (hlm. 85).

Gunakan pula huruf kecil saat menulis. Ini memang sangat sepele dan banyak yang tidak menyadari kesan dari penggunaan huruf besar pada seluruh kalimat karena mungkin bertujuan hanya untuk gaya. Dari segi etiket, penggunaan huruf besar dianggap benar-benar marah (hlm. 87).

Buku Etiket dan Netiket ini perlu dipahami benar agar kita bisa menempatkan diri di mana pun berada. Melek etiket di media sosial akan memunculkan sikap swasensor, yaitu mempertimbangkan dampak dari perbuatan terhadap orang lain. Namun pembahasan etiket dalam buku ini hanya sepintas dan tidak mendalam. Penulis lebih banyak mengelaborasi etika dalam pergaulan dan pekerjaan.

Rabu, 10 Agustus 2016

Tadarus Bahasa Bulan Puasa

Judul: Cabe-cabean
Penulis: Encep Abdullah
Penerbit: Kubah Budaya
Terbitan: Pertama, 2015
Tebal: 95 halaman
ISBN: 978-602-70834-31
Dimuat di: Mata Madura, 27 Juni 2016

 Menjelang datangnya bulan puasa, ucapan selamat menunaikan rukun Islam yang empat bertebaran, baik dalam bentuk spanduk di ruang publik maupun melalui iklan di media massa. Bahkan, beberapa media massa menyajikan rubrik khusus pernak pernik bulan puasa.

Seperti penentuan awal dan akhir puasa yang selalu tidak sama, penulis bulan kesembilan tahun hijriyah itu juga tidak seragam. Media massa yang notabene pemegang teguh bahasa Indonesia yang baik dan benar ada yang menulis kata ramadan, ramadhan, dan ramadlan, namun yang terakhir jarang dipakai.

Pemimpin Redaksi NU Online Mukafi Niam mengungkapkan, penulisan ramadhan berdasarkan argumentasi penyesuaian pengucapan dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia. PBNU dalam pengumuman resmi selalu menggunakan penulisan ramadlan.

Sedangkan penulisan ramadhan, sebagaimana dikutip dari kolom Sudjoko di Rubrik Bahasa Kompas (22/11/2013), mungkin dipengaruhi pengejaan kata-kata dari bahasa Sansekerta dan Jawa kuno. Sisipan /h/ dinilai memiliki kesan lebih penting, lebih berharga, lebih tinggi, dan lebih terhormat, seperti penulis lahir bathin dan dharma wanita.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menggunakan penulisan ramadan. Malaysia juga menggunakan penulisan ini. Menurut Encep Abdullah, penulisan ramadan yang paling benar di antara penulisan yang lain. Kehadiran fonim /h/ atau /l/ dikelompokkan fonim "hantu" (hlm. 41).

Encep berargumen proses serapan kata ramadan dilakukan dengan cara adaptasi, yakni menyesuaikan dengan Ejaan yang Disempurnakan (EYD): ramadhan menjadi ramadan, seperti halnya kata shalat menjadi salat.

Argumen lainnya, serapan bahasa Arab yang ditulis dalam bahasa Indonesia tidak harus ditulis sesuai dengan ejaan aslinya. Ia menepis argumen bahwa serapan bahasa Arab yang ditulis dalam bahasa Indonesia harus disesuaikan dengan aslinya karena dapat mengubah makna. Ia mencontohkan kata kursi yang berasal dari bahasa Arab: kursiyyun (hlm. 41).

Penulis sadar persoalan bahasa tidak akan pernah selesai hingga anak cucu. Namun, satu-satunya cara menyelamatkan anak cucu dari kesalahan berbahasa adalah dengan menyampaikannya sedari kecil sehingga mereka tak tak tabu dengan perdebatan seperti ini. Orangtua dan guru memiliki peran penting dalam konteks ini.

Ulasan kata ramadan salah satu dari 28 ulasan bahasa yang terkompilasi dalam buku Cabe-cabean. Buku ini menjadi penting karena bahasa yang diulas kasus kejanggalan bahasa yang akrab dalam kehidupan sehari-hari namun terkadang tidak disadari pemakainya. Jika bahasa menunjukkan karakter bangsa, maka buku ini pegangannya.

Minggu, 31 Juli 2016

Jangan Takut Ditanya "Kapan Nikah?"

Judul: Bersahabat dengan Tuhan
Penulis:  Ahmad Rifa'i Rif'an
Penerbit: Mizania
Cetakan: Pertama, Mei 2016
Tebal: 135 halaman
ISBN: 978-502-418-021-8
Dimuat di: Radar Madura 31 Juli 2016

Muslim Indonesia memiliki tradisi mudik. Pulang ke kampung halaman menjelang Lebaran bagi orang yang hidup di rantau. Momen ini kesempatan istimewa untuk melepas kangen sekaligus istirahat sejenak dari hiruk-pikuk di rantau dengan menghabiskan waktu di tanah kelahiran bersama orang-orang tercinta yang telah sekian lama tak berjumpa.

Pada hari Lebaran, muslim Indonesia memiliki kebiasaan silaturahmi ke rumah famili dan tetangga. Pada momen ini juga, baik yang digagas oleh sekolah maupun alumni biasanya digelar reuni alumni. Teman sekolah yang saat ini sudah menyebar dan sibuk dengan aktivitas masing-masing berkumpul kembali seperti saat masih sekolah dulu.

Dalam silaturahmi Lebaran atau reuni alumni biasanya muncul pertanyaan-pertanyaan seperti sudah lulus kuliah? Sudah nikah? Sudah punya momongan? Sudah kerja? Dan sederet pertanyaan lainnya.

Maksud orang yang bertanya memang baik sebagai bentuk perhatian. Namun, yang ditanya terkadang merasa tersinggung.

Menjelang Lebaran, di jejaring sosial beredar meme: dilarang tanya kapan nikah atau wisuda. Meme itu disebarluaskan oleh mahasiswa yang tak kelar-kelar kuliah, jomblo yang tidak kunjung bertemu jodohnya, pengangguran intelektual yang belum terserap tenaga kerja. Entah meme di atas dianggap sebagai protes atau sekadar lucu-lucuan.

Yang lebih tragis, karena khawatir menerima pertanyaan-pertanyaan ”sensitif” itu, ada beberapa orang yang enggan silaturahmi pada hari Lebaran, tidak mau datang ke acara reuni. Ahmad Rifa’i Rif’an dalam buku Bersahabat dengan Tuhan mengajak pembaca merenung.

Menurut Ahmad Rifa’i Rif’an, kenapa harus malu dengan pertanyaan: kapan nikah? Bukankah jodoh di tangan Allah? Lantas mengapa harus malu dengan apa yang belum Allah pertemukan? Bukankah momongan adalah urusan Tuhan? Apa pantas malu dengan sesuatu yang belum Allah amanahkan? (hlm. 128).

Ahmad Rifa’i Rif’an memotivasi pembaca untuk tidak malu hadir reuni dan silaturahmi Lebaran hanya karena alasan kuliah molor, belum menikah, kerja belum mapan, belum mendapat momongan. Jangan risaukan pertanyaan-pertanyaan di atas.

Ulasan tema di atas berjudul Pertanyaan Sensitif saat Reuni yang terkompilasi dalam buku setebal 136 terbitan Mizania. Paparan buku ini dibagi tiga tema besar. Pertama, membahas tentang usaha dalam mendekati Allah. Kedua, membahas tentang ikhtiar mendamaikan hati. Ketiga, membahas tentang hubungan antarmanusia.

Senin, 25 Juli 2016

Mendulang Rezeki dengan Filantropi

Judul : 7 Cara Akselarasi Rezeki
Penulis : Akhmad Muhaimin Azzet
Penerbit : Diva Press, Yogyakarta
Terbitan : Pertama, Agustus 2016
Tebal : 240 halaman
ISBN : 978-602-391-217-9
Dimuat di: Malang Post, 17 Juli 2016

Para konglomerat Barat yang tidak mengenal konsep sedekah, zakat, amal jariyah, dan infak, telah membuktikan dahsyatnya "tangan di atas". Filantropi tidak hanya menentramkan, tapi sekaligus mendatangkan kekayaan yang lebih melimpah. Dalam logika bisnis, memberi artinya berkurang, namun dalam hal ini justru menambah.

Dalam perhitungan matematika sepuluh dikurangi satu sama dengan sembilan (10-1=9), namun dalam perhitungan filantropi sepuluh dikurangi satu (10-1) hasilnya akan makin besar hingga 100 kali lipat karena satu yang diberikan itu tidak berkurang tetapi justru bertambah (hlm. 182-183).

Islam telah mengenalkan konsep sedekah sebelum mereka mengenal istilah filantropi. Tangan di atas lebih baik dan terhormat daripada tangan di bawah. Al Qur'an mengilustrasikan, satu pemberian yang murni tanpa embel-embel CSR, charity, atau penggalangan dana lainnya seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji (QS. Al Baqarah [2]: 261). Kata Nabi, sedekat tidak akan mengurangi harta (HR. Muslim).

Namun, implementasi ajaran Islam di atas lemah di Indonesia, negeri muslim terbesar. Kesadaran membayar zakat masyarakat Indonesia masih sangat rendah. Bahkan, dari seluruh umat Islam yang ada, yang menunaikan kewajiban membayar zakat hanya berkisar 10 persen. Paling banyak tidak melaksanakan perintah zakat harta (Koran Madura, 28 Juni 2016).

Sifat kikir dan keserakahan orang Indonesia barangkali ada kaitannya dengan filosofi kehidupan yang berlaku di sebuah negara. Orang Timur dan Barat beda dalam melihat uang. Masyarakat Timur cenderung pelit untuk mengeluarkan uang sekalipun untuk dirinya sendiri, sedangkan masyarakat Barat lebih boros.

Bangsa Timur dibayangi oleh kecemasan untuk memburu kesejahteraan hingga anak cucu. Mereka bekerja sangat keras dan menabung untuk masa depan keturunan mereka, hingga tidak menikmati hartanya untuk dirinya sendiri. Sedangkan masyarakat Barat tidak dipusingkan untuk menyimpan banyak uang demi anak cucu, sehingga mereka leluasa mengeluarkan uang termasuk untuk berderma (Alberthiene Endah: 2015: 387-388).

Buku ini hadir dari kegelisahan penulis melihat kenyataan di atas. Sebagian orang bekerja siang dan malam untuk mencari rezeki agar terus bertambah namun yang dikejarnya semakin menjauh. Sebaliknya, sebagian orang biasa-biasa saja dalam bekerja namun hasilnya selalu melimpah. Rahasianya, yang satu rajin menemui Sang Pemberi Rezeki dan tidak kikir untuk bagi-bagi kepada yang Punya sedangkan yang lain tidak.

Penulis menyajikan petunjuk Al Qur'an dan hadis agar rezeki selalu bertambah dan tentu bernilai berkah. Pertumbuhan dan keberkahan rezeki tidak dapat dipisahkan agar yang menerima tidak jauh dari yang memberi. Orang yang kikir berbagi adalah orang yang tidak menyadari hakikat siapa yang memberi rezeki. Sedangkan orang yang jauh dari Tuhan tentu rezeki yang diterima tidak berkah.

Kenapa Harus Filantropi?
Kegiatan filantropi adalah salah satu langkah yang Akhmad Muhaimin Azzet persembahkan agar rezeki bertambah dan berkah. Dalam buku ini disitir ayat-ayat Al Qur'an dan hadis Nabi yang memotivasi pembaca rajin berderma, dan dikuatkan dengan kisah-kisah orang telah membuktikan kekuatan memberi.

Hemat saya, memberi harta kepada orang lain cara paling cepat mengakselarasi rezeki. Pertama, dengan bersedekah berarti mensyukuri karunia Tuhan. Dalam Al Qur'an disebutkan karunia Tuhan yang disyukuri akan ditambah (QS. Ibrahim [14]: 7). Dan dalam bagian terakhir buku ini, Akhmad Muhaimin Azzet menyebut syukur sebagai salah satu cara mempercepat datangnya rezeki.

Kedua, filantropi membahagiakan orang lain. Dengan meringankan beban orang lain, selain Tuhan akan membalas kebahagiaan kepada yang memberi, orang yang menerima sedekah akan membalas setidaknya dengan doa. Sedangkan doa orang yang ditimpa kesusahan mustajabah. Ada sebuah riwayat terkait hal ini.

Minggu, 24 Juli 2016

Pergulatan Idealisme dan Pragmatisme

Judul : Orang-orang Proyek
Penulis : Ahmad Tohari
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbitan : Ketiga, April 2016
Tebal : 256 halaman
ISBN : 978-602-03-2059-5
 Dimuat di: Rakyat Sumbar, 16 Juli 2016

Buku Orang-Orang Proyek mengisahkan perang batin seorang kepala pelaksana proyek. Idealisme versus pragmatisme bertarung begitu dahsyat. Jiwanya memberontak, namun tidak bisa menolak. Pembangunan telanjur menjadi bancakan secara masif, terstruktur, dan sistematis. Mulai dari pejabat paling atas hingga masyarakat awam.

Novel yang terbit pertama kali pada tahun 2002 ini berlatar tahun 1991 dengan pemimpin tunggal Orde Baru. Namun, suasana dalam novel ini masih terasa hingga kini. Pejabatnya korup, rakyatnya melarat. Sementara aktivis kampus yang dulu lantang membela rakyat dan teriak anti korupsi, setelah lulus dan memangku jabatan malah bukan hanya bungkam tapi korupsi juga.

Adalah Ir. Kabul yang setiap saat batinnya selalu dipenuhi suasana tegang. Idealisme yang disiram dan dipupuk selama menjadi aktifis di bangku kuliah malah dibabat habis budaya pragmatisme di dunia kerja. Teori pembangunan yang dipelajari di kampus tak lebih dari sekadar retorika ketika berhadapan dengan dunia nyata.

Ia menginginkan proyek pembangunan jembatan di sebuah desa yang ditangani dilaksanakan secara baik dengan mutu bangunan berkualitas. Namun, manajer proyek mengabaikannya. Prinsip pemborong, makin banyak infrastruktur rusak makin banyak yang bisa diborong.

Proyek itu sejak dari sono-nya memang sudah menyimpang. Tujuan pembangunan jembatan untuk kepentingan meraup suara partai penguasa pada pemilu. Preses lelang penuh kolusi dan korupsi, bahkan mulai tingkat prakualifikasi. Penentuan awal pekerjaan menyalahi rekomendasi para perancang.

Pemborong sudah tahu, dalam perhitungan yang wajar rekanan proyek tidak mungkin untung, bahkan minus. Namun, karena bisa bermain, perusahaan tetap jalan, bahkan makin kaya. Triknya, kuantitas dan kualitas barang yang dibeli untuk proyek dikurangi di sana-sini.

Kabul sebagai insinyur tahu betul dampak dari permainan. Mutu proyek akan menjadi taruhan. Padahal, bila mutu proyek dipermainkan, masyarakatlah yang nanti menanggung akibat buruknya. Bagi Kabul, hal ini adalah pengkhianatan terhadap derajat keinsinyurannya.

Atasannya menganggap Kabul hidup di awang-awang. “Pijaklah bumi dan lihatlah sekeliling. Seperti sudah pernah kukatakan, orang proyek seperti kita harus pandai-pandai bermain,” ajak kompromi Ir. Dalkijo, sang manajer proyek (hlm. 30).

Kabul makin tidak kerasan di dunia proyek. Kebocoran proyek makin menganga. Pelakunya bukan hanya Dalkijo. Mandor yang mencatat penerimaan material pun pandai bermain. DPRD minta jatah. Partai penguasa minta setoran untuk biaya pelaksanaan HUT. Panitia pembangunan masjid minta bahan proyek. Dan rakyat ikut-ikutan mengambil bahan proyek dengan menyuap.

Namun, mundur bukan solusi bijak. Selain penghasilan Kabul untuk menghidupi ibu dan terutama kedua adiknya yang masih kuliah, jika pelaksana proyek dipasrahkan kepada orang lain bukan lantas penyimpangan akan berakhir, malah bisa semakin masif. Yang bisa Kabul lakukan adalah bertahan dengan berupaya meminimalisasi penyimpangan.

Ahmad Tohari menutup cerita dengan kemenangan Kabul merawat idealismenya, dan kekalahan menghentikan kebejatan atasannya. Kabul berhenti dari proyek yang hanya berumur satu tahun itu bebeberapa hari sebelum diresmikan oleh wakil presiden.

Cerita fiksi ini makin menguatkan ungkapan bahwa kebenaran yang tak terorganisir akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir. Kabul sebagai simbol kebenaran yang hanya berjuang seorang diri menegakkan kejujuran terkalahkan oleh Dalkijo yang memiliki banyak jaringan pertemanan yang sealiran: korup.

Ahmad Tohari mengemas alur cerita secara sederhana dengan latar pedesaan, namun pembaca dibuat tak sabar ingin segera tahu episode cerita selanjutnya. Kisah percintaan Kabul dan Wati menjadi selingan, sehingga alur cerita tidak monoton hanya tentang dunia gelap proyek.

Rabu, 20 Juli 2016

Membanguun Harmoni Berbasis Qurani

Judul : Al Qur’an Bukan Kitab Teror
Penulis : Dr. H. Imam Taufiq, M.Ag
Penerbit : Bentang, Yogyakarta
Terbitan : Pertama, Februari 2016
Tebal : 284 halaman
ISBN : 978-602-7888-99-9
Dimuat di: Koran Madura 1 Juli 2016  

Mengaji Al Qur’an pada bulan Ramadan begitu semarak, menggema di tempat-tempat ibadah. Pada bulan istimewa ini kitab suci umat Islam diturunkan ke dunia. Dalam sebuah riwayat disebutkan, setiap datang Ramadan Nabi Muhammad tadarus di hadapan Malaikat Jibril. Umatnya meneruskan dengan tradisi tadarus usai salat tarawih.

Semangat ini perlu ditingkatkan dengan mengkaji kandungannya, tidak hanya pada bulan puasa. Sehingga, Al Qur’an cakap merespons perubahan zaman dan permasalahan dunia seperti ekstremisme dan terorisme yang selalu dikait-kaitkan dengan doktrin jihad Al Qur’an. Selain menyerukan jihad dan perang, Al Qur’an juga mengajak hidup harmoni.

Bahkan hasil temuan Dr. Imam Taufiq dalam penelitian disertasinya ini, Al Qur’an tidak hanya menyerukan perdamaian tapi merumuskan strategi perdamaian. Strategi membangun perdamaian berbasis Al Qur’an telah dipraktikkan Nabi Muhammad dalam menciptakan tatanan masyarakat yang sejuk, damai, dan toleran.

Nabi Muhammad menjalankan secara penuh dan konsisten terhadap Islam, iman, dan ihsan secara sekaligus. Penghayatan serta pengamalan tiga pilar tersebut menjadi modal utama bagi terciptanya ketentraman, keharmonisan, dan keadilan. Di atas tiga pilar tersebut perdamaian Islam dibangun.

Strategi perdamaian yang ditawarkan Al Qur’an dengan memenuhi kebutuhan dan hak-hak dasar kehidupan manusia. Menurut Johan Galtung, ada empat jenis kebutuhan manusia, yaitu kesejahteraan (well-being), kebebasan (freedom), keamanan (security), dan identitas (identity) [hlm. 33].

Pemberian rasa aman diwujudkan dengan mengucapkan salah saat bertemu. Salam simbol suatu janji kedamaian dan keamanan dari orang yang mengucapkan kepada orang yang diberi salam. Menurut Rasyid Ridha, orang yang mengucapkan salam berarti ia telah menjamin rasa aman orang tersebut dan apabila kemudian ia menyakitinya, sesungguhnya ia telah berkhianat dan mengingkari janjinya (hlm. 206).

Ulama berbeda opini terkait ucapan salam kepada dan/atau dari non muslim. Kelompok pertama mengatakan haram mengucapkan salam dan hanya boleh menjawab dengan redaksi tertentu sebagaimana yang dipraktikkan Nabi Muhamad. Dalam pandangan Imam Taufiq, penafsiran semacam ini disemangati oleh hubungan antaragama yang penuh kecurian.

Ibnu Qayyim Al-Jauzi menegaskan, hadis larangan menjawab dan mengucapkan salam terhadap nonmuslim terjadi dalam konteks khusus, yaitu kelompok Yahudi mengucapkan salam as-samu ‘alaikum dan hadis yang lainnya dalam konteks Nabi Muhammad pergi ke kelompok Yahudi yang tidak bersabar dengan umat Islam (hlm. 208). Dengan demikian, boleh menjawab dan mengucapkan salam dalam konteks berbeda.

Pemenuhan kesejahteraan merupakan salah satu strategi perdamaian qurani dalam ranah sosial-ekonomi. Keadilan dan kebajikan (‘adl wa ihsan) untuk mengurangi terjadinya konflik dan sengketa. Pandangan Ashgar Engineer, konsep keadilan dan kebajikan dibangun di atas dasar transparasi, keadilan, kebajikan, dan kesejahteraan sosial (hlm. 238).

Al Qur’an tidak membenarkan pemusatan kekayaan yang berdampak pada ketidakseimbangan sosial, kesenjangan ekonomi, dan berpotensi memicu konflik. Pembangunan ekonomi berbasis ‘adl wa ihsan merupakan strategi Al Qur’an mencegah konflik.

Gagasan-gagasan buku ini patut dipertimbangkan pengambil kebijakanan dan pegiat perdamaian dalam memutus mata rantai radikalisme dan terorisme, dan mengampanyekan perdamaian di negeri yang majmuk ini. Buku ini selain mengelaborasi penafsiran Al Qur’an klasik dan kontemporer juga melacak implementasi nilai-nilai damai dalam kehidupan Nabi Muhammad. Rumah setiap jiwa yang merindukan kedamaian perlu dihiasi buku Al Qur’an Bukan Kitab Teror.

Selasa, 28 Juni 2016

Mengenal Seluk Beluk Badan Usaha

Judul : Super Komplet Panduan Mendirikan PT, CV, dan Badan Usaha Lainnya
Penulis : Dicky Rahmansyah
Penerbit : Laksana
Terbitan : Pertama, 2016
Tebal : 172 halaman
ISBN : 978-602-391-112-7
Dimuat di: Kabar Madura, 21 Juni 2016

Di Indonesia terdapat enam jenis badan usaha yang lazim berdiri, yaitu PT, CV, UD, firma, koperasi, dan yayasan. Jenis badan usaha biasanya dicantumkan sebelum nama perusahaan. Kita sering melihat atau mendengarnya, tapi tahukah perbedaan dan karakter masing-masing badan usaha tersebut?

Perseroan Terbatas (PT) adalah persekutuan untuk menjalankan usaha bersama dengan modal yang terdiri atas saham-saham. Modal berbentuk saham diperoleh dari pemilik modal (pemegang saham) [hlm. 18]. PT merupakan badan usaha berskala besar dengan modal dasar sekurang-kurangnya Rp. 50.000.000.

Jenis PT di Indonesia ada lima perusahaan terbatas, yaitu PT tertutup seperti PT. Gudang Garam, PT terbuka seperti PT. Bank Mandiri Tbk. dan PT. Bank Central Asia Tbk., PT kosong seperti PT. Adam Air, PT asing seperti PT. Unilever Indonesia Tbk., dan PT domestik seperti PT. Bank Niaga.

Sementara Persekutuan Komanditer (CV) adalah badan usaha yang didirikan dan dimiliki oleh dua orang atau lebih dengan tingkat keterlibatan yang berbeda di antara para pemilknya. Sekalipun berbentuk persekutuan, CV berbeda dengan PT. CV dijalankan oleh pemilik aktif (sekutu komplementer) dan pemilik pasif (sekutu Komanditer) [hlm. 39].

Ada lima jenis CV di Indonesia, yaitu CV murni seperti CV Mitra Mandiri, CV campuran seperti CV Tani Makmur, CV bersaham seperti CV Gerbang Usaha Sukses, CV diam-diam seperti CV Rent Car Persada, CV terang-terangan seperti CV purnama bantul.

Setara dengan CV ialah badan usaha firma (Fa). Firma adalah jenis badan usaha yang dimiliki oleh dua orang atau lebih dengan segala tanggung jawab berada di tangan para pemilik. Proses pendirian firma melibatkan orang-orang yang bersekutu dan masing-masing menyerahkan uang untuk modal sebagaimana tercantum dalam akta pendirian (hlm. 81).

Ada dua jenis firma di Indonesia, yaitu firma dagang dengan kegiatan usaha utama memproduksi, membeli, atau menjual barang-barang kepada distributor atau agen, dan firma jasa dengan kegiatan utama memberikan pelayanan.

Di bawah CV dan firma ada Usaha Dagang (UD). Berbeda dengan badan usaha di atas, UD adalah jenis badan usaha perorangan atau dimiliki oleh pribadi, bukan persekutuan. Pemilik UD bertindak sendiri sebagai penanggung jawab penuh maju tidaknya perusahaan.

Jenis-jenis UD ada dua, yaitu UD grosir dan UD retail (eceran). UD grosir adalah jenis usaha dagang yang melakukan pendistribusian barang-barang hasil produksi kepada pedagang eceran. Sedangkan UD grosir adalah jenis usaha dagang yang langsung menjual habis barang dagangan.

Badan usaha lainnya yang ada di Indonesia adalah koperasi. Koperasi dimiliki atau dijalankan oleh orang-orang yang menjadi anggota demi kepentingan bersama (hlm. 99). Jenis koperasi ada koperasi produsen, koperasi konsumen, koperasi simpan pinjam, dan koperasi pemasaran.

Masing-masing badan usaha memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Misalnya, UD memiliki kelemahan tidak bisa mengikuti tender proyek, namun proses pendirinya tidak berbelit-belit seperti badan usaha persekutuan.

Buku ini bisa menjadi panduan orang yang baru merintis usaha. Dicky Rahmansyah memberikan panduan prosedur pengurusan dokumen yang dibutuhkan dalam mendirikan badan usaha serta contoh dokumen. Sekalas juga disinggung tips memenangkan tender proyek.

Selasa, 14 Juni 2016

Keselamatan untuk Semua

Judul : Islam dan Keselamatan Penemuk Agama Lain
Penulis : Muhammad Hassan Khalil
Penerbit : Mizan (Bandung)
Terbitan : Pertama, April 2016
Tebal : 292 halaman
ISBN : 978-979-433-939-8
Dimuat di: Majalah Gatra, 8 Juni 2016

Tema keselamatan manusia setelah mati yang menyita perhatian ulama klasik tak pernah basi menjadi bahan diskusi hingga kini. Baru-baru ini, tulisan di jejaring sosial Dosen Ilmu Komunikasi UI Ade Armando bahwa tak logis kalau surga diperuntukkan bagi satu umat beragama saja menuai kontroversi. Respons yang muncul dapat dikelompokkan menjadi kontra (menolak), pro (menerima), dan di antara keduanya.

Pertama, eksklusivis menolak pendapat keselamatan pemeluk agama di luar Islam. Hanya tafsir keagamaan merekalah yang mampu memberikan keselamatan sehingga penganut kepercayaan lain akan berakhir di neraka. Paradigma tersebut dibagun atas dasar perintah memerangi ahli kitab (QS. 9: 29), mencela orang Yahudi yang memuja para nabi mereka sebagai tuhan (QS. 9: 30-31), Islam unggul di atas agama lain (QS. 9: 33, QS. 2:90-91, QS. 2: 106, QS. 5:3, QS. 3: 19, QS. 3: 85).

Kedua, pluralis mengakui keselamatan pemeluk agama non-muslim. Bagi mereka, ada banyak tradisi dan tafsir keagamaan yang mampu dan setara memberi keselamatan terhadap seluruh pemeluk agama. Hal ini didasarkan pada ayat bahwa Tuhan tidak pernah bermaksud menggiring manusia menjadi satu umat (QS. 5: 48), keselamatan bagi orang Yahudi dan Nasrani yang iman dan beramal baik (QS. 2: 62, QS. 5: 69).

Ketiga, di antara ekstrem kiri dan kanan ada inklusivis. Keyakinan mereka adalah jalan keselamatan (faiz) melalui Islam, namun umat lain yang tidak pernah terserap dakwah Islam akan memperoleh pengapunan (najah). Tuhan tidak akan mengazab manusia tak beriman sebelum diutus Rasul (QS. 17: 15).

Buku ini menyajikan pandangan inklusivis terkait keselamatan pemeluk agama lain dengan mengkaji pemikiran Al Ghazali, Ibnu Arabi, Ibnu Taimiyah, dan Rasyid Ridha. Sekalipun pandangan-pandangan Ibnu Arabi dalam banyak hal cenderung pluralis dan Ibnu Taimiyah cenderung eksklusif, namun dalam konteks ini mereka inklusif.

Al Ghazali mengelompokkan non-muslim dalam empat kategori. (1) mereka yang belum pernah mendengar Nabi, (2) mereka yang mengetahui karakter Nabi tapi ingkar terhadap risalah Islam, (3) mereka yang hanya mendengar hal-hal negatif tentang Nabi, (4) mereka yang aktif menggali lebih dalam tentang risalah Islam, meski sudah berjumpa dengan risalah yang benar namun tetap berada di luar Islam. Menurutnya, hanya kategori kedua yang dikutuk (baca: masuk neraka) [hlm. 62].

Namun, Ibnu Taimiyah hanya mengakui non-muslim kategori pertama yang akan mendapatkan pengampunan. Keselamatan non-muslim kategori keempat Al Ghazali tidak diakui Ibnu Taimiyah. Menurutnya, siapa saja yang berakal dari orang-orang yang telah terjangkau risalah namun tidak menerima, maka mereka telah menampakkan kekafiran dan layak berada di neraka (hlm. 134).

Sementara itu, Ibnu Arabi menyetarakan non-muslim tulus yang belum menerima "bukti nyata" kebenaran risalah Islam dengan muslim sejati, meskipun sebagian keyakinan mereka tidak sebangun dengan pesan Nabi, seperti dalam kasus Trinitas Nasrani. Menurutnya, Al Qur'an menyebut orang-orang kafir di kalangan penyembah berhala (pagan) dan Ahli Kitab mendapat laknat hanya setelah mereka menerima al-bayyinah (hlm. 103-104).

Rasyid Ridha mengatakan "agama sejati" adalah islâm (kepasrahan terhadap Tuhan), dan tidak secara khusus mengacu pada agama yang secara resmi disebut Islam. Oleh karena itu, non-muslim yang mampu meniti jalan risalah yang diemban Nabi, mereka layak dianggap muslim, meski mereka tidak menjadi orang Islam (hlm. 201-203).

Al Ghazali mengatakan azab non-muslim di neraka kekal. Sebab, tidak ada kebaikan yang bisa diharapkan lagi dari mereka setelah binasa. Sedangkan menurut Ibnu Arabi, neraka kekal, namun tidak demikian dengan azab yang ada di dalamnya. Ketika mereka sudah patuh dan tunduk kepada Tuhan secara sadar, maka neraka akan menjadi dingin seperti api yang menjilat Nabi Ibrahim.

Pandangan Ibnu Taimiyah lebih berani dari Ibnu Arabi dan keluar dari konsensus ulama. Menurutnya, neraka tidak kekal. Ketika azab terhadap kesesatan non-muslim sudah dirasa cukup, maka mereka akan diangkat dari neraka dan dipindah ke surga. Namun, pandangan Ibnu Taimiyah ini disangkal fansnya: Wahabi. Sementara komentar Rasyid Ridha terkait hal ini memilih berdiri di fonasi yang aman, yakni menyerahkan perkara itu kepada Allah.

Pemikiran tentang keselamatan liyan (the other) oleh empat ulama ini belum banyak diungkap penggemar-penggemarnya di Indonesia, padahal sangat penting sebagai landasan sikap rendah hati menilai iman sesama anak negeri yang plural ini.

Minggu, 12 Juni 2016

Kisah Hidup Andy F. Noya

Judul : Andy Noya: Kisah Hidupku
Penulis : Robert Adhi Kusumaputra
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Terbitan : XIII, Desember 2015
Tebal : 418 halaman
ISBN : 978-979-709-954-1
Dimuat di: Koran Madura  13 Mei 2016

Nama Andy F. Noya sangat populer. Parasnya mudah dikenali. Orangnya selalu menghiasi layar kaca memandu tayangan Kick Andy di Metro TV. Namun tak banyak publik yang tahu kisah hidupnya. Buku biografi setebal 418 halaman ini adalah buku pertama yang secara lengkap menceritakan lika-liku kehidupannya.

Andy lahir di Surabaya. Di tempat ini tak ada kenangan indah kecuali penderitaan. Hidup serba kekurangan memaksa pria kelahiran 6 November 1960 ini pindah dari satu kontrakan ke kontrakan lainnya. Yang tidak berubah dari berbagai kontrakan adalah kamar sempit dan pengap.

Perpindahannya ke Jalan Cisadane Surabaya memperkenalkan Andy pada Geng Robur. Kesibukan ibunya bekerja untuk memperbaiki perekonomian keluarga membuat pergaulan anak yang sedang masa puber ini kurang terkontrol. Bergaul dengan geng nakal dan mulai hidup di jalanan. Andy sering ikut mereka mencuri. Di antara sekian kenangan kenakalan Andy adalah mencuri burung dara.

Andy insaf dan keluar dari geng sebelum pindah ke Malang. Namun, sifatnya masih terbawa hingga di tempat baru. Kelas empat ia pindah ke Kota Apel ini. Di kota ini bertemu guru yang kelak menginspirasi kariernya. Kamu punya talenta dalam menulis. Kalau kamu kembangkan, suatu hari kamu bisa jadi wartawan, motivasi seorang guru yang menginspirasi Andy (hlm. 122).

Setahun di Malang kemudian pindah ke Jayapura. Andy besar di kota ini. Tinggal bersama ayah yang berprofesi montir mesin ketik tak mengubah gaya hidupnya. Hidup di satu kamar kontrakan. Seakan sudah menjadi takdirku, dari kecil sampai dewasa, aku selalu tinggal di sebuah kamar bersama orang-orang yang aku cintai, Andy menggambarkan keprihatinan hidupnya di Jayapura (hlm. 157).

Kelas tiga STM, Andy pindah ke Jakarta. Kepergian ayahnya memaksa Andy tinggal bersama saudaranya di Jakarta. Di tempat ini kariernya dimulai. Andy yang dulu di Surabaya nakal dan sempat tidak naik kelas, di Kota Metropolitan ini menjadi siswa rajin dan lulus terbaik. Ia mendapat tawaran beasiswa dengan ikatan dinas ke IKIP Padang, Sumatera Barat.

Sayang, Andy tak menerima beasiswa tersebut dan memilih kuliah di Sekolah Tinggi Publistik (STP). Sekalipun lulusan terbaik, masuk STP bukan tanpa perjuangan. Lulusan STM tidak bisa masuk STP. Andy membuktikan kepandaiannya, sehingga ia tak dikeluarkan dari kampus sesuai kesepakatan awal.

Pada tahun 1985 Andy mulai terjun ke dunia kewartawanan. Kariernya dimulai dengan menjadi reporter paruh waktu di proyek penerbitan buku Apa & Siapa Orang Indonesia. Ada kenangan berkesan Andy bisa menjadi reporter di sini.

Papan pengumuman lowongan kerja yang ditempel di papan pengumuman kampus menggegerkan mahasiswa. Andy enggan ikut mendaftar karena faktor uang. Surat lamaran harus diantar sendiri ke kantor penerbit. Syarat ini membuatku gamang. Pergi ke Pasar Senen tentu memakan ongkos yang tidak sedikit. Belum lagi peluangnya juga kecil mengingat animo mahasiswa yang melamar cukup tinggi, suasana batin Andy pada saat itu (hlm. 205).

Seminggu setelah pengumuman, Andy diajak temannya menemani menyerahkan tulisan hasil penugasan. Disambut seorang sekretaris direksi yang kelak menjadi ibu tiga putra Andy. Pendaftaran pada saat itu sudah ditutup, namun Andy diberi keringanan sehingga masih bisa mendaftar. Pada saat itu juga, Andy melakukan wawancara dan menuliskannya untuk menjadi bahan penilaian. Andy lulus sementara temannya tidak.

Kisah Andy membangkitkan semangat dan pantang putus asa. Pelajaran berharga yang dapat dipetik bahwa kesuksesan adalah hak setiap orang yang mau berjuang, tanpa pandang latar sosial dan ekonomi. Yang tak kalah penting dari buku ini adalah menyerap seni kepemimpinannya dalam mengelola media massa. Separuh terakhir dari buku ini berkisah karier Andy.

Selasa, 07 Juni 2016

Non Muslim di Mata Muslim Indonesia

Judul : Fatwa Hubungan Antaragama di Indonesia
Penulis : Rumadi Ahmad
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbitan : Pertama, Maret 2016
Tebal : 310 halaman
ISBN : 978-602–03-2502-6
Dimuat di: Koran Madura 3 Juni 2016

Relasi antar umat beragama di Indonesia masih memprihatinkan. Letupan-letupan konflik tiap tahunnya masih terjadi. Catatan Wahid Institute, meski jumlahnya dari tahun ke tahun menurun, tapi kasusnya makin menyebar. Menjelang Pilkada DKI Jakarta, isu sektarian kembali menyeruak.

Panas-dingin relasi antar umat beragama sebenarnya sudah berlangsung lama. Embrionya bisa dilacak pada perdebatan tentang sila pertama Pancasila yang hingga saat ini masih membuka tafsir. Namun pada masa Orde Baru, perseteruan berbasis agama dapat diredam sedemikian rupa atas nama stabilitas sosial-politik dan kelanggengan kekuasaan (hlm. 73).

Sekalipun pada masa Orde Baru nyaris tak ada perseteruan fisik antar umat beragama, namun dalam bentuk wacana tetap terjadi. Hal ini bisa dilihat dari fatwa-fatwa yang memperuncing hubungan antar umat beragama yang diproduksi Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) selama 32 tahun Soeharto menjadi presiden.

Dari sekian fatwa yang menyangkut relasi antar umat beragama, fatwa pernikahan beda agama menjadi salah satu sorotan utama tiga lembaga ini. Secara umum, sekalipun metodologi pengambilan keputusan hukum (istinbath ahkam) NU, Muhammadiyah, dan MUI berbeda, namun karakternya kurang lebih sama, yaitu cenderung defensif dan eksklusif (hlm. 243).

Metodologi pengambilan keputusan hukum tiga lembaga ini memang terfokus pada teks. Kalaupun realitas faktual disebut dalam menetapkan hukum, hal itu tidak menjadi pertimbangan penting. Bahkan, realitas faktual harus tunduk pada teks. Karena sifatnya yang low in book oriented, hukum Islam terkadang menjadi kurang cakap merespons perubahan zaman (hlm. 60-62).

Namun, menurut Rumadi Ahmad, fatwa-fatwa yang memperuncing hubungan antar umat beragama tidak semata-mata dilihat dari wacana hukum Islam dengan menguji metode yang digunakan, tapi ada suasana ketegangan psikologis-historis yang turut memengaruhi. Memang ada persepsi sebagian besar umat Islam tentang agama lain sebagai ancaman. Fatwa-fatwa di atas sebagai upaya untuk melindungi umat Islam dari kerusuhan akidah (hlm. 244).

Implikasi dari fatwa di atas melanggengkan ketegangan hubungan antar umat beragama dalam masyarakat. Bahkan, fatwa-fatwa tertentu bisa mengeruhkan kehidupan masyarakat yang semula tentram. Fatwa larangan menghadiri perayaan Natal Bersama dan larangan mengucapkan “Selamat Natal” oleh MUI contoh konkret fatwa yang menimbulkan petaka terhadap bangunan kerukunan dan persatuan Indonesia (hlm. 274).

Dulu sebelum ada fatwa ini, umat Islam dan Kristen sudah biasa menghadiri perayaan Natal Bersama dan mengucapkan “Selamat Natal”. Setelah adanya fatwa tersebut, wabil khusus akhir-akhir ini di jejaring sosial, tiap menjelang 25 Desember umat Islam selalu ribut dengan kontroversi hukum mengucapkan “Selamat Natal”.

Buku ini menelaah secara kritis hasil Bahsul Masail NU, fatwa Majelis Tarjih Muhammadiyah, dan Fatwa MUI terkait hubungan antar umat agama. Rumadi Ahmad tak hanya mengkaji materi fatwa, tapi juga suasana batin dan konteksnya. Hasilnya, sekalipun NU dan Muhammadiyah dikenal moderat dan toleran, namun belum tercermin dalam fatwa-fatwanya ketika menyangkut non muslim.

Hasil penelitian ini memberikan masukan penting untuk memutus mata rantai terorisme. Terorisme lahir dari radikalisme. Sedangkan fatwa-fatwa relasi antar umat beragama turut menyuburkan radikalisme. Kampanye Islam damai dan toleran yang dilakukan NU dan Muhammadiyah mestinya dimulai dari fatwa-fatwa yang diproduksi.

Senin, 06 Juni 2016

Kesalahan Berbahasa di Sekitar Kita

Judul : Kesalahan Berbahasa: Teori dan Aplikasi
Penulis : Dr. H. Syamsul Ghufron, M.Si
Penerbit : Penerbit Ombak, Yogyakarta
Terbitan : Pertama, 2015
Tebal : 198 halaman
ISBN : 978-602-258-345-5
Dimuat di: Harian Nasional  4-5 Juni 2016

Pelaksanaan ujian nasional (UN) 2013 lalu menarik untuk dicermati. Hasil nilai pelajaran Bahasa Indonesia terendah dari semua pelajaran lainnya. Uniknya, nilai Bahasa Indonesia yang diperoleh siswa Jurusan Bahasa SMA ternyata lebih rendah daripada yang diperoleh siswa Jurusan IPA dan IPS (Republika, 24/5/2013).

Fakta ini menunjukkan bahwa menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar bukan hal sederhana. Sekalipun di antara kita sering berkomunikasi secara lisan maupun tulisan menggunakan bahasa resmi negara tersebut, patut diduga belum sepenuhnya benar. Dan memang tak sulit menemukan kesalahan berbahasa yang hal itu bukan hanya dilakukan oleh orang awam.

Kesalahan penggunaan bahasa Indonesia bisa dibilang sudah masif, mulai dari kesalahan fonologis, morfologis, sintaksis, leksikal dan semantis. Anehnya, kesalahan-kesalahan berbahasa ditiru orang yang tidak melek bahasa, karena yang memproduksi kesalahan bukan orang biasa. Mulai dari pejabat negara hingga media massa.

Tanpa terasa kita sering mendengar/menyaksikan atau bahkan melakukan kesalahan dalam berbahasa Indonesia. Namun, karena tidak ada penilaian seperti siswa yang mengikuti UN tampak biasa-biasa saja. Kita tak sadar ada yang salah dalam pemakaian bahasa Indonesia.

Kesalahan pelafalan yang mudah ditemukan dalam pemakaian bahasa Indonesia di antaranya pelafalan sufiks -kan dilafalkan dengan -kәn. Seperti memuaskan dilafalkan memuaskәn. Pelafalan seperti itu jelas tidak tepat dalam bahasa Indonesia (hlm. 97).

Demikian juga fonem /g/ sering dilafalkan /kh/ atau /j/ seperti energi dilafalkan enerkhi atau enerji, fonem /c/ dilafalkan /k/ seperti pasca dilafalkan paska, dan angka 0 yang berarti "tidak ada apa-apanya" dilafalkan dengan kosong. Dalam Bahasa Indonesia, kesalahan tersebut digolongkan kesalahan fonologis.

Kesalahan fonologis tidak hanya terjadi dalam bahasa lisan tapi juga tulis, seperti asas ditulis azaz, izin ditulis ijin, November ditulis Nopember, dan olahraga ditulis olah raga. Kesalahan juga banyak dijumpai pada pemakaian huruf kapital, preposisi, klitika, dan singkatan.

Sementara kesalahan morfologis yang mudah kita jumpai adalah kesalahan penentuan bentuk awal seperti ubah bentuk asalnya dianggap rubah sehingga ketika mendapat imbuhan me- menjadi merubah. Demikian juga dengan kata terap, kelola, anjur, dan antar bentuk asalnya dianggap trap, lola, lanjur, dan lantar (hlm. 111).

Dalam sintaksis, kita sering menemukan kesalahan penempatan preposisi di, ke, dari, seperti kepada bapak disebut ke bapak, pada guru disebut di guru. Demikian juga pemisahan persona dari verba, seperti saya belum selesaikan mestinya belum saya selesaikan, kita harus pikirkan mestinya harus kita pikirkan (hlm. 135).

Protokol acara (MC) sering mempersilakan dengan mengucapkan kalimat kepada pembicara waktu dan tempat dipersilakan. Kalimat tersebut tidak logis. Kalimat tersebut bisa diubah menjadi kalimat kepada pembicara waktu dan tempat disediakan. Demikian juga dengan ungkapan untuk mempersingkat waktu, acara segera dimulai. Kalimat yang logis adalah untuk mempersingkat acara, diskusi segera dimulai (hlm. 147).

Kesalahan semantis yang mudah kita jumpai /sy/ diganti dengan /s/ atau sebaliknya, seperti syarat ditulis sarat, dan /p/ diganti dengan /f/, seperti polio dijadikan folio. Kesalahan ini disebabkan gejala hiperkorek, yaitu menghendaki kerapian atau kesempurnaan yang berlebih-lebihan.

Minggu, 05 Juni 2016

Penghancur Pahala Puasa di Medsos

Judul : Tetap Gaul Tapi Syar’i
Penulis : Tethy Ezokanto & Sinyo
Penerbit : Tiga Ananda
Terbitan : Pertama, Februari 2016
Tebal : 168 halaman
ISBN : 978-602-366-120-6
Dimuat di: Radar Madura, 5 Juni 2016

Netizen dengan mudah --dan terkadang tanpa disadari-- mengunggah dan menyebarluaskan fitnah atau ghaibah di media sosial (medsos) melalui fitur send atau share, seperti yang diilustrasi dengan tokoh Anita dalam buku Tetap Gaul Tapi Syar'i.

Diceritakan bahwa pada suatu siang Anita hendak membeli es cendol di seberang kompleks. Di tengah jalan memergoki Sofia, teman kelasnya yang alim dan anti pacaran sedang berduaan dengan laki-laki. Anita seketika mengambil kamera dan memotretnya.

Secepat kilat tanpa minta klarifikasi kepada yang bersangkutan, Anita mengunggahnya di Facebook dengan caption: Guys! Lihat, nih, Sofia yang sok alim tapi ternyata pacaran!!, dan menyebarluaskan kepada teman-teman sekelasnya melalui BBM dan Line.

Foto yang menggegerkan jagat maya itu akhirnya sampai kepada Sofia. Sofia memberi klarifikasi bahwa laki-laki yang ada di gambar itu adalah kakaknya yang kuliah di Jerman. Anita menyesali perbuatannya dan meminta maaf pada Sofia.

Namun, sekalipun Anita telah meminta maaf bahkan statusnya dihapus, foto yang telah beredar luas di media sosial tak mungkin bisa dihapus. Memencet tombol send atau share dalam hitungan detik berakibat dosa beranak-pinak.

Fenomena tersebut sangat berbahaya khususnya bagi netizen yang sedang menjalankan ibadah puasa. Setetes ghaibah di dunia maya bisa menghapus sebelanga pahala puasa di dunia nyata. Netizen perlu tahu segala bentuk perbuatan yang dapat menghapus pahala puasa di era kontemporer.

Netizen perlu berupuasa membicarakan kejelekan orang lain di medsos, walaupun itu benar karena termasuk ghaibah. Kalau berita bohong (hoax) namanya fitnah (hlm. 30). Jika tangan selalu “gatal” menulis dan membagi kejelekan orang lain, selama Ramadan ada baiknya puasa dulu dari berselancar di medsos.

Mumpung ada malam seribu bulan mending, daripada sibuk bergosip mending diganti dengan memperbanyak ibadah, zikir, dan perkataan baik. Jika kita sibuk dengan ibadah dan perbuatan baik, tak ada waktu lagi untuk bergosip.

Buku ini memberi panduan menjadi anak gaul dengan perilaku khas anak muda tanpa harus menggadaikan nilai-nilai agama. Pembahasannya dikemas dengan bahasa sederhana dan dilengkapi dengan ilustrasi dan tips-tips, namun digali dari sumber-sumber otentik.

Selasa, 19 April 2016

Kontroversi Kerudung Cut Nyak Dien

Judul : Cut Nyak Dien: Sebuah Novel Epik Perang Aceh
Penulis : Sayf Muhammad Isa
Penerbit : Qanita
Terbitan : Pertama, April 2015
Tebal : 789 halaman
ISBN : 978-602-1637-65-4
Dimuat di: Kabar Madura, 7 April 2016

Gambar pejuang dari Aceh, Cut Nyak Dien, tanpa kerudung dalam mata uang rupiah pecahan 10.000 yang dikeluarkan pada tahun 1998 dan foto yang tersebar dalam buku-buku sejarah menuai kontroversi. Sebagian pihak menuding hal itu sebagai penyelewengan sejarah, karena dalam kesehariannya Cut Nyak Dien berkerudung.

Sebuah foto perempuan berkerudung sedang duduk di atas kursi dengan kedua tangan diletakkan di atas paha yang diklaim sebagai foto asli Cut Nyak Dien diunggah di internet untuk membuktikannya. Namun, dalam laman Koninklijk Instituut voor Taal Land'en Volkenhunde Universitas Leiden, Belanda, foto perempuan perkerudung itu dikatakan istri Panglima Polem dari Sigli, bukan Cut Nyak Dien (tribunnews.com).

Memang selama ini, tidak banyak cerita tentang Cut Nyak Dien kecuali hanya sepintas saja. Sayf Muhammad Isa tampaknya hendak mengakhiri kontroversi ini dengan menyingkap kehidupan sehari-hari dan perjuangan Cut Nyak Dien. Dalam Novel Cut Nyak Dien: Sebuah Novel Epik Perang Aceh, Cut Nyak Dien digambarkan sebagai perempuan taat agama yang selalu memakai kerudung.

Sayf Muhammad Isa menyebut dua kali Cut Nyak Dien berkerudung. Pertama, dalam persiapan perang. Dia digambarkan sangat gagah mengenakan baju zirah dengan persenjataan lengkap dan menutup kepala. Rencong terselip di perut dan bedil di punggungnya.

"... Dia memakai baju kurung panjang berwarna putih yang ujung-ujung celana panjangnya terlihat di mata kakinya. Rambutnya tertutup kain kerudung panjang yang dijepitkan dengan ulee ceumara (perhiasan rambut khas Aceh) di rambutnya." (hlm. 140)

Kedua, saat Cut Nyak Dien menerima kedatangan Pang La'ot dengan beberapa orang prajurit Aceh untuk memberikan kabar kematian suami yang kedua, yaitu Teuku Umar. Sebelum membuka pintu, Cut Nyak Dien terlebih dahulu memakai kerudung. "Cut Nyak Dien bergegas keluar setelah mengenakan kerudungnya dan memakai mantel panjangnya." (hlm. 761)

Selebihnya dari itu, dalam kesehariannya Cut Nyak Dien digambarkan sebagai sosok perempuan relegius, patuh pada orangtua, dan taat suami. Kemantapan imannya tidak hanya diekspresikan dengan rajin melaksanakan salat, berdoa, mengaji, dan berzikir, tapi juga mengangkat senjata membela negara. Cinta tanah air bagian dari iman.

Di mata Belanda, Cut Nyak Dien dianggap orang berbahaya. Hingga usia senjanya dengan kondisi buta dan rapuh, dia tetap keras dan pantang menyerah pada Belanda. Tetap gagah memegang rencong. Namun pada akhirnya tak berdaya ditangkap prajurit Belanda dan dibuang ke Sumedang hingga akhir hayatnya.

Cut Nyak Dien bersama Sultan Alaiddin Muhammad Daud Shah adalah orang yang ditangkap dan dibuang ke luar Aceh, bukan dibunuh seperti yang lain. Dua orang itu memang dilarang untuk dibunuh oleh pimpinan Belanda. Hal ini mengindikasikan, posisi Cut Nyak Dien oleh Belanda disejajarkan dengan sultan Aceh.

Namun, Sayf Muhammad Isa tak banyak mengeksplorasi perjuangan Cut Nyak Dien melawan Belanda, selain sebagai pasukan penembak di Kuta Pohama. Pada pertempuran di Muntassik, sekalipun Cut Nyak Dien ikut turun ke medan perang, namun sebelum menyerang menyingkir ke Keumala atas saran ayahnya.

Dalam novel setebal 789 halaman ini yang lebih banyak berperan menyusun strategi dan terjun ke medan perang adalah ayahnya, Teuku Nanta Setia, dan kedua suaminya. Cut Nyak Dien hanya terlibat membantu warga mengungsi dari satu tempat ke tempat lain. Kisah novel ini tak spesifik menarasikan pembelaan Cut Nyak Dien pada Aceh.

Cut Nyak Dien secara pribadi sosok romantis. Dalam suasana genting disela-sela mengawasi kedatangan Belanda di puncak menara Kuta Pohama, Cut Nyak Dien masih sempat melontarkan kata-kata romantis pada suami pertamanya, yaitu Ibrahim. Ketegangan di antara mereka pun mencair.

Ibrahim menyodorkan teropong kepada Cut Nyak Dien untuk melihat langsung bahwa pasukan Belanda belum terlihat di lautan, namun Cut Nyak Dien menggeleng sambil tersenyum bilang tak mau. ""Mengapa tak mau?" Ibrahim meneropong lautan lagi. "Sebab kau telah jadi mataku." Cut Nyak Dien menyentuh tangan Ibrahim yang menggenggam pagar menara pengawas." (hlm. 167)