Minggu, 27 Desember 2015

Misi Luhur Bisnis Blake dan Tahir

Judul : Dari Sepatu Membangun Dunia
Penulis : Blake Mycoskie
Penerbit : Bentang, Yogyakarta
Terbitan : Pertama, Mei 2015
Tebal : XII+224 halaman
ISBN : 978-602-291-091-6

Judul : Dato' Sri Prof. DR. Tahir Living Sacrifice
Penulis : Alberthiene Endah
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbitan : Pertama, 2015
Tebal : 540 halaman
ISBN : 9786020311593

Dimuat di: Media Kilas Fakta, 4-17  Desember 2015

Buku Dari Sepatu Membangun Dunia dan Living Sacrifice sebuah oase di tengah ramainya pemberitaan keserakahan serta image miring pengusaha. Terakhir, hingga memakan korban jiwa di Lumajang, Jawa Timur.

Sekalipun banyak orang kaya miskin kemanusiaan, ternyata masih ada yang peduli dan berkomitmen pada kemanusiaan. Di antara mereka adalah Blake Mycoskie dan Dato' Sri Prof. DR. Tahir. Bahkan, mereka memosisikan kemanusiaan di atas segala kepentingan pragmatis.

Misi dan orientasi bisnis Blake dan Tahir tidak melulu demi mendulang kekayaan pribadi, tapi sarana untuk kesinambungan membantu aksi-aksi kemanusiaan secara luas. Mereka mengemas filantropi secara terhormat tanpa menengadahkan tangan pada siapa pun melalui wirausaha.

Semangat menggebu-gebu Blake untuk membantu warga Argentina, Amerika Selatan, yang kerap telanjang kaki ke mana-mana karena tak punya materi untuk membeli alas kaki menjadi cikal bakal perusahaan sepatu TOMS Shoes. TOMS Shoes adalah wadah Blake membantu warga tak mampu memperoleh sepatu.

Pada awalnya, Blake berpikiran memulai usaha amal berbasis sepatu. Namun setelah dipikir panjang, rencana ini hanya akan bertahan selama dirinya bisa menemukan donor. Memang dirinya punya keluarga besar dan banyak teman untuk membantu usaha amalnya, namun jaringannya akan habis, cepat atau lambat. Sementara banyak orang sudah bergantung pada dirinya (Dari Sepatu Membangun Dunia, hlm. 3).

Sebuah ide pun terlintas: menciptakan bisnis untuk menyediakan sepatu bagi warga tak mampu. Solusi masalah ini bukan mengandalkan donasi, melainkan bisnis. Dari ini Blake memulai perusahaan pembuatan sepatu alpargata (sepatu nasional Argentina) jenis baru. Ia namai TOMS Shoes atau Tomorrow's Shoes.

Dari perusahaan ini Blake meluncurkan program one for one, yaitu dari setiap penjualan sepasang sepatu mendonasikan sepasang sepatu. Dalam sembilan bulan sejak bisnis produksi sepatu diluncurkan, Blake memberikan 10.000 pasang sepatu baru (Dari Sepatu Membangun Dunia, hlm. 14). Dan dalam lima tahun telah membagikan lebih dari satu juta pasang sepatu (Dari Sepatu Membangun Dunia, hlm. 19).

Setali tiga uang dengan Tahir. Katanya, ide mendirikan Mayapada Hospital karena sedemikian lekat dirinya dengan gerakan pertolongan pada orang-orang sakit (Living Sacrifice, hlm. 308). Rumah sakit bertaraf Singapura ini dimaksudkan untuk memangkas biaya berobat orang Indonesia ke Singapura yang tak semuanya berasal dari keluarga kaya.

Sekalipun Mayapada Hospital telah mengobati banyak orang sakit secara gratis, manajemennya dikelola secara bisnis. Menurutnya, sangat mustahil sebuah rumah sakit bisa menunjukkan performa yang berkualitas dan berkelas jika hanya murni menjalankan manajemen kemanusiaan (Living Sacrifice, hlm. 310).

Tahir juga mengembangkan bisnis media, sekalipun cuaca bisnisnya tidak bagus. Dari surat kabar Guo Ji Ra Bao, majalah Forbes, dan televisi berbayar Topas TV, ia tidak berharap banyak penghasilan, sekalipun tentu bekerja keras untuk bisa mendapatkan keuntungan sehingga roda bisnis tetap bisa survive (Living Sacrifice, hlm. 312).

Ia merambah bisnis media karena menyukai dunia pendidikan. "Lewat media saya bisa menyalurkan hal-hal baik yang ingin saya sampaikan. Saya sangat termotivasi untuk menyebarkan semangat hidup. Memberikan motivasi positif untuk menyejahterakan kehidupan dan menjadi inspirasi bagi sekitar" (Living Sacrifice, hlm. 313).

Dua buku ini mengupas lapis demi lapis kehidupan Tahir berikut suka duka bisnisnya dan bisnis sepatu Blake. Keduanya memberikan kiat-kiat sukses dalam menjalankan entrepreneurship.

Minggu, 20 Desember 2015

Menjadi Orangtua Ramah Anak

Judul : Orangtuanya Manusia
Penulis : Munif Chatib
Penerbit : Kaifa
Terbitan Edisi Baru: I, Mei 2015
Tebal : 212 halaman
ISBN : 978-602-7870-92-5
Dimua di: Radar Madura, 20 Desember 2015

Mungkin berlebihan jika dikatakan mendidik anak lebih sulit daripada memproduksinya. Namun faktanya, banyak orangtua tidak tahu cara mendidik anak dengan baik sekalipun telah memiliki banyak keturunan. Mendidik anak hanya didasarkan pada tradisi turun temurun.

Akibatnya, banyak orangtua tidak ramah dalam mendidik anak. Minimnya pengetahuan pengasuhan anak membuat orangtua sering melancarkan kekerasan fisik (berupa cubitan, pukulan, atau tendangan) maupun kekerasan psikis (berupa omelan, cap negatif, atau bentakan) untuk membujuk anak melakukan atau meninggalkan sesuatu.

Cara-cara kasar memang cukup ampuh untuk jangka pendek, namun berbahaya terhadap masa depan anak. Perkembangan psikologis anak akan terbangun konsep diri yang negatif jika dididik dengan cara demikian. Dan pada akhirnya mentalnya rapuh, penakut, mudah putus asa.

Orangtua perlu mengetahui fase status dan fase ruang lingkup anak agar lebih ramah dalam memperlakukan anak. Sebagaimana disitir dari sabda Nabi Muhammad bahwa anak pada usia tujuh tahun pertama adalah raja, pada tujuh tahun kedua adalah pembantu, dan pada fase tujuh tahun ketiga adalah wazir atau (hlm. 20).

Anak pada usia 0-7 tahun adalah raja dalam ruang lingkup bermain. Sementara orangtua adalah rakyat yang harus mengikuti kemauannya. Dengan demikian, anak tak perlu dimarahi dan dicap "nakal" apabila pada usia tersebut senang bermain karena memang kerajaannya, selama tidak membahayakan. Ketika anak memasuki tujuh tahun berikutnya status tersebut akan berakhir.

Pada usia 7-14 anak adalah pembantu dalam ruang lingkup pendidikan dan pembelajaran. Sedangkan orangtua adalah tuan. Artinya, apabila pembantu melakukan kesalahan, orangtua sebagai tuan berwenang untuk mendidik dan membimbingnya. Dengan kata lain, pada usia tersebut anak berhak mendapat pendidikan dan bimbingan (hlm. 21).

Dan pada usia 14-21 anak adalah wazir dalam ruang lingkup kewenangan musyarawah dan bersama menjalankan tugas. Pada usia tersebut, orangtua dengan kapasitasnya sebagai raja mestinya mulai melibatkan aspirasi anak sebagai wazir dalam bermusyawarah dan mengambil keputusan.

Tahapan demi tahapan di atas sangat mempengaruhi kesukesan dan keberhasilan anak saat dewasa. Fenomena orangtua yang kurang bersabar menghadapi perilaku aktif anak pada usia tujuh tahun pertama dengan membentak dan mencubit, maka akan mengalami kesulitan komunikasi dengan anak pada tahap tujuh tahun kedua (hlm. 22).

Sedangkan orangtua yang mengalami hambatan komunikasi dengan anak tak akan bisa memberikan pendidikan dan bimbingan saat anak melakukan kesalahan. Akhirnya, pada usia tujuh tahun ketiga, anak tumbuh menjadi pribadi yang kehilangan kepercayaan dan moral.

Jika tiga tahapan di atas telah dijalankan dengan baik, orangtua tak akan menemukan begitu banyak kendala untuk kemudian mengenali kecenderungan kecerdasan, minat, bakat, dan gaya belajar anak. Kalau semuanya telah dikenali, tentu orangtua tak perlu bersikap memaksa untuk mengantarkan anak pada gerbang kesukesan.

Buku Orangtuanya Manusia membimbing orangtua mengenali dan menyelami seluk beluk dunia anak sejak dalam kandungan. Buku setebal 212 halaman memberikan panduan praktis bagi orangtua yang ingin belajar menjadi orangtua yang ramah dalam mendidik anak. Buku yang sangat kontekstual untuk era saat ini.

Munif Chatib dalam buku terbitan Kaifa tersebut juga banyak menyertakan kisah nyata yang dialami dirinya maupun orangtua yang meminta bantuan untuk mengatasi masalah buah hatinya. Isi buku dijabarkan dengan bahasa sederhana sehingga mudah dipahami semua kalangan namun cukup dalam dan padat.

Selasa, 15 Desember 2015

Berbisnis ala Kaum Sarungan

Judul: Ketika Santri Berbisnis
Penulis: Afik Canggih
Penerbit: Gramedia
Terbitan: Pertama, 2015
Tebal: 149 halaman
ISBN: 978-602-03-2012-0
Dimuat di: Harian Nasional 12-13 Desember 2015

Sebagian kalangan membedakan pendidikan pesantren dan non pesantren secara simplistik. Pesantren dicirikan dengan tempat berlatih ibadah, mencari pahala, dan hal-hal yang bersinggungan dengan akhirat. Sementara institusi pendidikan non pesantren dicirikan dengan sarana mencari uang, jabatan, bisnis, dan hal-hal yang bersinggungan dengan urusan dunia.

Karena orientasi pendidikan pesantren semata-mata mengumpulkan bekal akhirat, mengobrol soal uang, bisnis, dan kaya menjadi tabu. Santri tidak perlu memikirkan dan membincang apalagi sampai berkeinginan menjadi orang kaya. Ditambah lagi pemahaman bahwa banyak harta sama dengan cinta dunia (hubbun dunya).

Pemahaman sempit dan kaku seperti di atas digambarkan dengan tokoh bernama Alfi, santri penghafal Al Qur'an yang awam ilmu bisnis. Obrolan Alfi dengan Afik, santri pengusaha yang awam ilmu agama, di sebuah mal membuat Alfi sadar bahwa urusan dunia ternyata ada hubungannya dengan akhirat. Harta tidak selamanya jahat dan orang yang banyak harta belum tentu cinta dunia. Alfi menjadi sadar bahwa santri bukan hanya tak boleh miskin, tapi harus kaya setelah melaksanakan shalat.

Afik lalau mengusahkan pemilik waralaba "Ayam Bakar Mas Mono". Agus Pramono atau yang akrab dipanggil Mas Mono. Mas Mono menerapkan peraturan kalau ada karyawan yang tidak shalat dhuha, dianggap tidak hadir (hlm. 53).

Sejak saat itu, Alfi antusias belajar bisnis kepada Afik. Afli semakin semangat menjadi pengusaha kaya setelah mengetahui ternyata para ulama tempo dulu telah mencontohkan. Disela-sela kesibukannya berdakwah, mengajar, dan membimbing umat, mereka menjalankan bisnis. Hidup mereka mandiri dengan berbisnis, tak bergantung pada orang lain apalagi uluran tangan pemerintah.

KH. Hasyim Asyari yang oleh publik dikenal sebagai pendiri Nahdlatul Ulama adalah pengusaha batik. Sementara KH. Ahmad Dahlan yang dikenal sebagai pendiri Muhammadiyah adalah pengusaha properti (hlm. 20). Namun, tak banyak santri dan jamaah dua organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia ini yang mengikuti jejak pendiri NU dan Muhammadiyah.

Bisnis yang dibuat untuk memberi manfaat maka rezeki akan datang dengan sendirinya (hlm. 42). Ini dicontohkan dalam kisah pengusaha properti Mas Elang Gumilang. Berbeda dengan pengusaha properti lainnya, ia tidak pasang target pasar atas dan tidak pula berpikir bisa ambil untung banyak sekalipun bisa saja melakukannya. Mas Elang berempati memikirkan orang miskin yang rata-rata tinggal di gerobak. Bisnis propertinya dikhususkan untuk mereka. Efeknya sekarang omzetnya miliaran.

Afik berkeyakinan bahwa Allah akan memberikan keuntungan kepada orang yang memudahkan urusan orang lain. Jika ingin sukses dalam bisnis maka jangan sekadar menumpuk materi tapi harus berbagi. Alfi menimpali mengutip ayat Al Qur'an: in tanshurullah yansurkum, jika kamu menolong Allah maka Dia akan menolongmu (hlm. 44).

Alfi juga diingatkan untuk tidak memusuhi kompetitor. Menurut Afik, kompetitor membawa berkah. Foto polaroid pada tahun 90-an gagal memenuhi pasar tentang pentingnya foto instan karena minusnya pesaing yang sebenarnya bisa jadi mitra dalam memengaruhi pasar akan pentingnya foto instan (hlm. 19).

Buku Ketika Santri Berbisnis menyuntikkan semangat betapa pentingnya orang pesantren melakukan wirausaha, apalagi tidak lama lagi akan menghadapi MEA. Dikemas dengan cerita ringan dan santai melalui obrolan Afik dan Alfi namun begitu menyentuh dan "menampar" umat Islam.

Senin, 14 Desember 2015

Hasyiah Pemikiran Syafii Maarif

Judul : Muazin Bangsa dari Makkah Darat
Penulis : Mun'im Sirry, dkk.
Editor : Ahmad Najib Burhani, dkk.
Penerbit : Serambi dan Maarif Institute
Terbitan : Pertama, Juni 2015
Tebal : 429 halaman
ISBN : 978-602-290-047-4
Dimuat di: Kabar Madura, 25 November 2015

 Buku Muazin Bangsa dari Makkah Darat semacam hasyiah pemikiran guru bangsa Ahmad Syafii Maarif (ASM). Sebagaimana tulisan jenis hasyiah dalam kitab fiqih, kumpulan tulisan ini memberikan ta'liq (komentar) dan mulahazhat (catatan) secara kritis terhadap pemikiran sang guru bangsa.

Di tengah usianya yang mulai senja, ASM sampai saat ini masih aktif-produktif membuat karya jenis matan, yaitu berupa komentar singkat terhadap peristiwa dan fenomena mutakhir. Kita mudah menjumpai karya matan ASM dalam bentuk tulisan artikel-opini mapun statemen hasil wawancara di media massa.

ASM juga rajin mengulas pemikirannya secara panjang dan mendalam dalam bentuk buku dan berbicara dalam banyak forum. Menurut Ahmad-Norma Permata, jika matan ASM di media massa kadang terlihat simplistik, namun ketika membaca syarh ASM pandangannya sangat dalam didasarkan pada filsafat dan sejarah (hlm. 193).

Sebanyak 13 penulis buku ini memberikan hasyiah terhadap berbagai pemikiran ASM sesuai spesialisasi keahlian masing-masing dengan menyandingkan dengan pemikir lain, memberikan konteks dan tafsir, mengulas perkembangan pemikiran, apresiasi terhadap konsistensi perilaku, dan kontribusinya terhadap Indonesia dan Islam.

Satu Tarikan Nafas
Hasil pembacaan secara cermat 13 penulis terhadap beragam tema tulisan-tulisan dan statemen ASM, muara dan inti gagasan ASM terkait dengan etika (Islam), kemanusiaan (keadilan), dan kebangsaan (Indonesia). Tiga hal di atas diletakkan dalam satu tarikan nafas untuk membangun peradaban Islam nusantara yang berkemajuan.

Dalam hematnya, fondasi moral yang rapuh merupakan sebab utama mengapa setengah 70 tahun kita merdeka, budaya korupsi, penyelewengan, kongkalikong, dan yang sejenisnya tampaknya belum mencapai titik jenuh atau bahkan tambah parah (hlm. 357). Jika pada Orde Baru pelakunya oleh oknum, saat ini dilakukan secara berjemaah.

Sedangkan komentar ASM terkait persoalan lingkungan, menurutnya, kerusuhan alam terjadi karena manusia yang tunamoral dan perilaku korupsi pemimpin dan masyarakatnya. Banjir dan longsor terjadi karena manusia menzalimi hutan dan lingkungan. Menurut Rahmawati Husein, ungkapan tersebut sejalan dengan pemikiran Sonny Keraf (hlm. 197).

Sementara komentarnya melihat kesenjangan kesehatan yang dialami masyarakat sebagai dampak dari kemiskinan dan kesenjangan ekonomi, disebabkan oleh ketidakadilan sosial. ASM menegaskan bahwa ajaran-ajaran Islam yang diyakini sangat menekankan penguatan keadilan manusia tanpa memandang ras, suku, agama, dan golongan (hlm. 238).

ASM menyerukan fungsi negara hadir, pengurus publik tidak puas dengan laporan hasil capaian di atas kertas apalagi hanya sibuk dengan kepentingan pribadi dan golongan. Ia lantang mengingatkan apa yang benar dan salah, apa yang baik dan buruk dalam kehidupan politik dan pengelolaan kekuasaan. Namun seruan moral yang disampaikan tidak dalam rangka mencari kambing hitam atau menyalahkan kondisi. ASM mempraktikkan moralisme inklusif, yaitu evaluasi moralis yang tetap normatif namun tidak simplistik dengan memahami akar sosial-historis sebuah sistem politik (hlm. 193).

Karena bukan tipikal moralis patruler, ASM memandang dasar dan perangkat aturan negara sudah sangat cukup untuk menjadi negara yang baik (baldatun toyyibatun), hanya tinggal kesanggupan orang-orangnya menjalankan dengan baik dan benar. Oleh karena, perubahan konstitusi negara dianggap sesuatu yang berlebihan. Bangsa Indonesia tak perlu menjadi negara Islam untuk mencapai kemajuan, kemakmuran, dan keadilan.

ASM mengajak umat Islam Indonesia selalu mendukung nation-state karena ideologi Pancasila mencerminkan nilai-nilai Islam, seperti prinsip keadaan (QS. 5:8), prinsip syuro (QS. 3: 159, QS. 42: 38), kebebasan bersuara dan berpendapat (QS. 27: 64, QS. 16: 125), prinsip persamaan (QS. 49. 13), dan pertanggungjawaban pemimpin (QS. 3: 104) [hlm. 89].

Selain lantang menyerukan agar Indonesia segera siuman, ASM tak jarang turun langsung seperti pada kisruh KPK dan Polri. Bahkan, ASM berpihak menentang arogansi oknum jenderal polisi yang dipandangnya membuat kisruh hubungan dua lembaga penegakan hukum tersebut.

Agar Indonesia tak disesaki dan dikendalikan oleh politisi dan birokrat rabun yang tunamoral, gagasan-gagasan ASM mendesak dikampanyekan secara masif. Setidaknya, pada satu abad Indonesia nanti negeri ini sudah siuman dan tunas bangsa tidak hanya mengagumi dan mengidolakan ASM, tapi meneruskan dan mengembangkan peran menegakkan seruan moral sang guru bangsa.

Sekalipun tidak substantif, penulisan rujukan referensi perlu diseragamkan demi kenyamanan bersama. Pada tulisan 11 kontributor menggunakan cacatan kaki sedangkan dua tulisan lainnya menggunakan catatan perut.

Minggu, 29 November 2015

Kritik Nasr pada Sains Modern

Judul : Seyyed Hossein Nasr
Penulis : Dr. Ach. Maimun, M.Ag
Penerbit : IRCiSoD, Yogyakarta
Terbitan : Pertama, Agustus 2015
Tebal : 300 halaman
ISBN : 978-602-255-955-9
Dimuat di: Koran Madura, 27 November 2015

Seyyed Hossien Nasr (lahir 1933) memberikan kritik cukup keras terhadap sains modern, sekalipun ia tak membantah kontribusi yang diberikannya. Krisis multi dimensional, lebih spesifik lagi krisis ekologi, yang sedang melanda dunia dituding ulah dari kesalahan sains modern.

Menurut Nasr, sains modern yang semata berpijak pada meterialisme sebagai metode tunggal untuk mencapai kebenaran dan menyingkirkan segala hal yang bersifat metafisik adalah kesalahan mendasar epistemologinya (hlm. 167). Hal ini menyebabkan manusia hanya berkutat di pinggir lingkaran dan tidak bisa menembus pusat lingkaran.

Ketidakmampuan menembus pusat lingkaran menyebabkan manusia miskin kesadaran terhadap Yang Hakiki. Pada giliran berikutnya manusia tidak lagi memiliki rasa takjub pada diri sendiri dan alam raya yang merupakan teofani Yang Hakiki. Sehingga, sains dan teknologi digunakan untuk mengeksploitasi alam demi kepentingan material sesaat.

Memang secara ontologis, sains modern membuat manusia cenderung serakah, tidak bertanggung jawab, dan hanya mendasarkan tujuan pada materi. Hal ini, menurut Nasr, karena sains modern hanya berorientasi untuk menguasai dan mengeksploitasi alam melalui teknologi (hlm. 168).

Untuk memulihkan kondisi alam yang telah mencapai titik nadir, Nasr menawarkan perombakan paradigma sains modern. Menurut Maimun, lebih tepatnya menyempurnakan kelemahan mendasar sains modern yang disebut sains Kisah Lama. Tanpa hal itu, sains modern tidak akan bisa memenuhi janji-janjinya untuk membangun masyarakat baru yang sejahtera.

Sebenarnya, tokoh-tokoh sebelum Nasr telah merasa gelisah terhadap kerusakan lingkungan akibat sains modern, namun jawaban yang diberikan lebih kepada etika sains yang hanya bersifat kuratif. Ijtihad Nasr lebih bersifat rehabilitatif melalui paradigma kosmologi alternatif yang disebut dengan sains Kisah Baru.

Nasr menolak materialisme serta metode tunggal untuk mencapai kebenaran, karena materialisme tidak bisa berbicara banyak tentang realitas yang kompleks. Pemaksaan paradigma itu hanya akan melahirkan reduksi dunia nonmaterial ke ranah material yang hanya akan melahirkan kerancuan. Juga akan berakibat pada simplifikasi realitas yang tak sederhana (hlm. 172).

Ia menawarkan perluasan metode untuk mencapai kebenaran yang selama ini tak diakui materialisme, yaitu metafisika. Menurut Maimun, dalam konteks ini, metafisika dipahami sebagai realitas di balik realitas fisik (hlm. 173).

Gagasan kosmologi metafisika Nasr terbangun dari ajaran-ajaran tradisional agama-agama dunia yang mendapat penjelasan lebih lanjut dari filsafat (hlm. 134). Ia berusaha mengangkat kembali metafisika yang bersumber dari agama menjadi paragidma sains untuk merumuskan solusi krisis secara mendasar.

Nasr juga menawarkan penggabungan berbagai sumber pengetahuan sebagai cara memperoleh kebenaran. Sains Kisah Baru Nasr mengakui kebenaran dari sumber lain yang banyak mewarnai kehidupan namun tak diakui sains Kisah Lama yang berparadigma materialisme-empiris, seperti agama dan seni.

Buku yang diadaptasi dari disertasi doktoral Ach Maimun ini penting dihadirkan di tengah krisis modernitas yang sedang banyak dibicarakan oleh para tokoh. Buku Seyyed Hossein Nasr membaca lebih jauh pemikiran Nasr dalam bidang yang belum banyak tersentuh, yaitu kosmologi.

Alih-alih mengungkap kelemahan sains Kisah Lama dan menjabarkan kelebihan sains Kisah Baru, Maimun pada beberapa bagian memberikan kritik terhadap paradigma kosmologi alternatif Nasr. Buku ini dijabarkan dengan bahasa agak rumit, sehingga butuh konsentrasi penuh dalam menelaah pemikiran Nasr.

Pancasila, Sunan Gunung Jati, dan Syafii Maarif

Judul: Jalan Hidup Sunan Gunung Jati
Penulis: Eman Suryaman
Penerbit: Nuansa Cendekia
Terbitan: Pertama, Juni 2015
Tebal: 220 halaman
ISBN: 978-602-350-022-2

Judul: Muazin Bangsa dari Makkah Darat
Editor: Ahmad Najib Burhani, dkk.
Penerbit: Serambi
Terbitan: Pertama, Juni 2015
Tebal: 429 halaman
ISBN: 978-602-290-047-4

Dimuat di: Media Kilas Fakta, 22 Oktober 2015

Sunan Gunung Jati dan Ahmad Syafii Maarif adalah dua tokoh beda generasi. Keduanya memberikan kontribusi besar terhadap peradaban Indonesia. Buku Jalan Hidup Sunan Gunung Jati mengulas kontribusi pemikiran dan gerakan sang sunan, sedangkan Muazin Bangsa dari Makkah Darat mengular kontribusi pemikiran dan gerakan Ahmad Syafii Maarif.

Kontribusi konkret Sunan Gunung Jati bisa dilihat dari corak tradisi dan budaya Cirebon saat ini, misalnya sakatenan dan slametan. Upacara ini selain sarat dengan simbol-simbol bernafaskan Islam, juga melambangkan pengayoman seorang pemimpin terhadap rakyatnya dengan membagi berkah melalui sedekah (Jalan Hidup Sunan Gunung Jati, hlm. 151).

Penelitian Eman Suryaman menemukan, gerakan dan pemikiran Sunan Gunung Jati di atas selaras dengan Pancasila. Sila pertama tercakup dalam ajaran ketakwaan dan keimanan; sila kedua tercakup dalam ajaran kesopanan dan tatakrama; sila ketiga terangkum dalam ajaran kedisiplinan; sila keempat serta sila kelima tercakup dalam ajaran kearifan dan kebijakanan (Jalan Hidup Sunan Gunung Jati, hlm. 166).

Temuan ini membuktikan bahwa sila-sila dalam Pancasila digali dari budaya bangsa, dan tidak menutup kemungkinan salah satunya adalah dari pemikiran Sunan Gunung Jati. Namun, anak bangsa sudah mulai banyak yang menjauh dari Pancasila. Pancasila seakan tak lagi sakti. Akibat ditinggalkannya warisan nenek moyang, Indonesia saat ini jatuh sakit.

Beberapa waktu lalu saat terjadi kisruh Polri dan KPK, Syafii Maarif lantang menentang arogansi oknum jenderal polisi yang dipandang menjadi penyebab kisruh, bahkan menyerukan pimpinan tertinggi Polri untuk mencopot jenderal tersebut (Muazin Bangsa dari Makkah Darat, hlm. 19-20).

Ini bukti keseriusan Syafii Maarif menjaga keutuhan bangsa sebagaimana tertuang dalam sila ketiga dalam Pancasila. Semantara terkait krisis lingkungan dan mewabahnya korupsi, menurut Syafii Maarif, hal itu terjadi karena penyelenggara negara dan rakyatnya tunamoral (baca: sila pertama dalam Pancasila tidak diamalkan) [Muazin Bangsa dari Makkah Darat, hlm. 197]. Sementara rendahnya kesehatan masyarakat disebabkan keadilan sosial (baca: sila kelima dalam Pancasila) yang tidak tegak lurus (Muazin Bangsa dari Makkah Darat, hlm. 238).

Kehadiran dua buku tersebut penting untuk meneguhkan komitmen kebangsaan. Penjabaran buku Jalan Hidup Sunan Gunung Jati yang merupakan hasil penelitian disertasi dikemas secara dalam tapi sempit, sementara penjabaran buku Muazin Bangsa dari Makkah Darat yang merupakan kumpulan tulisan dari beberapa tokoh dikemas secara lebar tapi dangkal.

Rabu, 11 November 2015

Gusti Noeroel Teguh Tidak Mau Dimadu

Judul : Gusti Noeroel Streven Naar Geluk
Penulis : Ully Hermono
Penerbit : Kompas
Terbit : 2014
Tebal : XII+284 halaman
ISBN : 978-979-709-812-4
Dimuat di: Koran Jakarta 12 Juni 2014

Tak banyak publik yang mengenal Gusti Noeroel, tak seperti RA Kartini. Memang dedikasinya tak seberapa dibanding Kartini. Namanya tak ada dalam teks buku pelajaran sejarah. Noeroel banyak menyedot perhatian kaum Adam.

Kecantikannya menggetarkan hati banyak pria terhormat, di antaranya Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Sutan Sjahrir, dan kabarnya juga Soekarno. Siapa sebenarnya sosok perempuan yang pernah bersemayam di hati laki-laki hebat tersebut? Pemilik nama lengkap Gusti Raden Ajeng Siti Noeroel Kamaril Ngasarati Koesoemawardhani ini salah satu putri Pura Mangkunagaran, Solo.

Gusti Noeroel, demikian akrab dipanggil di lingkungan Pura, satu-satunya buah hati Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Mangkoenagoro VII dengan permaisuri (garwa padmi) Gusti Kanjeng Ratu Timoer. Lahir pada Sabtu legi, 17 September 1921.

Lahir dan besar di lingkungan istana yang kental dengan adat istiadat Jawa tak membuat Gusti Noeroel terkungkung. Dalam busana, dia tak hanya memakai kain dan kebaya, tapi juga akrab dengan celana panjang, rok pendek, dan blus. Sekalipun istilah kesetaraan gender belum terdengar, Gusti Noeroel sejak kecil sudah biasa olah raga berkuda dan bermain tenis.

Dalam memilih pasangan hidup, Gusti Noeroel mendobrak tembok tradisi pura berupa poligami. Dia enggan dipermaisuri raja karena tak ingin seperti ibunya, yang kebahagiaannya sedikit terampas kehadiran selir-selir Mangkoenagoro VII. Dia menolak dimadu.

"Nduk, mugo-mugo suk kowe ojo dimadu," kata Gusti Timoer yang selalu dipegang (Nak, mudahan-mudahan nanti kamu jangan dimadu). Gusti Noeroel bertekad bila berumah tangga tidak akan pernah mau dimadu (hal 32-33). Hingga menikah dengan Raden Mas Soerjosoerarso (Letkol TNI AD), dia benar-benar menepati janji.

Sebelumnya, Gusti Noeroel sempat ingin disunting Sri Sultan Hamengku Buwono IX serta pangeran dari Karaton Surakarta. Namun, dia selalu menolak karena tak mau dimadu. "Aku takut tidak bisa tidur karena dimadu," kata Gusti Noeroel kepada Sultan saat ditanya alasan penolakan (hal 158).

Gusti Noeroel juga tak mungkin minta Sultan menceraikan garwa ampil-nya karena akan menyakiti perempuan lain. Bagaimanapun mereka juga kaumnya. Wanita mana yang mau diceraikan begitu saja karena suami akan menikah lagi? Gusti Noeroel menyadari itu.

Diam-diam juga ada pria lain mendekati Gusti Noeroel. Dia bukan dari bangsawan Jawa, yaitu Sutan Sjahrir. Setiap rapat kabinet digelar di Yogyakarta, dia selalu mengutus sekretaris pribadinya ke Pura Mangkunagaran khusus mengantarkan hadiah yang dibeli di Jakarta.

"Aku tak lagi ingat apa saja yang pernah dibicarakan dengan Sjahrir, tapi aku masih ingat Sjahrir pernah membelai pipi dan daguku. Aku diam saja," kenang Gusti Noeroel. Namun, hubungannya kandas karena masalah partai. Sebagai tokoh Partai Sosialis Indonesia, Sjahrir tak mungkin menikah dengan putri bangsawan yang dianggap feodal (hal 160).

Kabarnya, Bung Karno juga menaruh bersimpati, sekalipun tak pernah mengatakan langsung dan hanya mendengar dari Bu Hartini, istrinya. Setelah Gusti Noeroel menikah, Bung Karno hanya selalu mengatakan, "Aku kalah cepat dengan suamimu" (hal 160).

Namun kedekatan keduanya sangat erat. Saat revolusi selesai, Bung Karno mengundangnya ke Istana Cipanas. Di kamar kerja presiden di Istana Cipanas terpasang lukisan Gusti Noeroel yang dibuat Basuki Abdullah.

Itulah sebagian kecil perjalanan hidup Gusti Noeroel yang mencicipi kepemimpinan Presiden Soekarno hingga Susilo Bambang Yudhoyono. Dengan gaya bertutur langsung, seolah Gusti Noeroel menyampaikan sendiri pemikiran, pengalaman, dan pilihan hidupnya. Buku juga menyajikan foto-foto di tiap alur cerita.

Minggu, 08 November 2015

Indonesia dalam Ensiklopedia Tokoh Muslim Dunia

Judul : Ensiklopedia Tokoh Muslim
Penulis : Ahmad Rofi’ Usmani
Penerbit : Mizan
Terbitan : Pertama, Februari 2015
Tebal : 678 halaman
ISBN : 978-979-433-869-8
Dimuat di: Koran Madura, 16 Oktober 2015

Sebanyak 126 nama tokoh muslim Indonesia termaktub dalam Ensiklopedia Tokoh Muslim, sebuah buku yang memotret perjalanan hidup muslim terkemuka dari zaman klasik hingga kontemporer. Namun masih banyak muslim terkemuka Indonesia lainnya yang belum tercover, misalnya, KH. Ma'ruf Amin, KH. Said Aqil Siraj, KH. Hasyim Muzadi, dan Din Syamsuddin.

Ahmad Rofi' Usmani menyadari memang tidak mudah menetukan siapa saja tokoh-tokoh yang paling layak untuk dihadirkan, apalagi buku setebal 678 halaman itu disusun sendirian. Menurutnya, nama-nama tokoh yang dihadirkan hanya didasarkan pada nama-nama yang kerap hadir dalam pelbagai ensiklopedi, dengan sedikit sentuhan tambahan tokoh yang selama ini belum tercover.

Nama-nama tokoh muslim nusantara yang dihadirkan dalam buku terbitan Mizan tersebut terdiri dari pejuang, ulama, ilmuwan, pemikir, akademisi, birokrat, seniman, dokter, arsitek, sastrawan, budayakan, penulis, aktivis, ahli/pakar, dan pengusaha. Mereka disandingkan dengan tokoh muslim dari seluruh belahan dunia.

Dari sekitar 1.100 entry nama tokoh muslim dari berbagai belahan dunia, penulis tidak membatasi sekte atau mazhab tertentu. Bahkan, nama Mirza Ghulam Ahmad pun dihadirkan. Ia disebut sebagai pendiri Gerakan Ahmadiyah pada Sabtu, 21 Rajab 1306 H./ 23 Meret 1889 M., dan menganggap dirinya sebagai Al-Masih dan Al-Mahdi yang dinantikan (hlm. 436).

Tampaknya penulis berusaha menghindar sebagai "hakim" yang menetapkan benar salahnya sebuah aliran keagamaan. Dengan demikian, dari buku tersebut kita bisa memahami kontribusi mereka masing-masing di bidang yang mereka geluti dan tekuni tentu dengan segala plus dan minus, kelebihan dan kekurangan.

Ahmad Rofi' Usmani menyajikan dua pananggalan terkait peristiwa, yaitu hijriah dan masehi. Menurutnya kepada saya, situs "gregorian-hegira converter" dipilih sebagai alat verifikasi akhir. Namun sayang, buku tersebut tak ada sepatah katapun pengantar, baik dari penulis maupun dari penerbit. Demikian juga profil singkat penulis dan daftar rujukan tulisan.

Minggu, 11 Oktober 2015

Spiritual sebagai Solusi Krisis Kemanusiaan


Judul: Gus Dur: Mengarungi Jagat Spiritual Sang Guru Bangsa
Penulis: Dr. Abdul Wahid Hasan 
Penerbit: IRCiSoD, Yogyakarta 
Terbitan: Pertama, Agustus 2015 
Tebal: 252 halaman 
ISBN: 978-602-255-956-6

Judul: Seyyed Hossein Nasr 
Penulis: Dr. Ach. Maimun, M.Ag 
Penerbit: IRCiSoD, Yogyakarta 
Terbitan: Pertama, Agustus 2015 
Tebal: 300 halaman 
ISBN : 978-602-255-955-9

Dimuat di: Koran Sindo,11 Oktober 2015

Berbagai upaya dan pendekatan telah ditempuh untuk mengatasi krisis multidimensional yang melanda dunia secara umum dan Indonesia secara khusus. Namun, belum tampak memberikan solusi nyata. Terakhir, melalui pendekatan spiritual sebagai jalan keluar atas krisis kemanusiaan dan alam.

Para tokoh menuding tragedi kemanusiaan dan alam akibat krisis spiritual dalam hati manusia. Kata Abdul Wahid Hasan, spiritualitas adalah pusat kendali semua gerak anggota tubuh manusia. Jika ia baik maka gerak dan aktivitas anggota tubuh lain baik pula. Namun jika sebaliknya, gerak dan aktivitas anggota tubuh lain juga jelek (Gus Dur , hlm. 21).

Orang yang memiliki spiritualitas tinggi diyakini tak akan tega menyakiti manusia dan merusak alam karena spirit agama adalah penyebaran cinta dan kasih sayang kepada makhluk Tuhan yang lain. Manusia spiritual tak akan sempat menyakiti orang lain karena mencintai, mengayomi, dan memberdayakan manusia adalah sebentuk pengabdian kepada Tuhan, seperti yang dilakukan Gus Dur semasa hidupnya.

Kedalaman spiritual KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur mengantarkannya menjadi sosok yang humanis, yaitu individu yang meletakkan kemanusiaan sebagai tujuan inti dalam setiap gerakan dan perjuangannya.

Baginya, menjunjung tinggi martabat manusia bagian dari upaya meninggikan martabat agama (Gus Dur, hlm. 144-145).

Spritual humanis Gus Dur ini didasarkan pada teladan yang Tuhan contohkan. Karena Tuhan menghormati kemanusiaan, Gus Dur berusaha menjadikan agama dekat dengan kemanusiaan melalui pelayanan-pelayanan yang diberikan tanpa memandang kelas, ras, agama, atau golongan (Gus Dur, hlm. 146).

Kesibukan Gus Dur mencintai, mengayomi, dan memberdayakan semua orang hingga tak ada ruang di hatinya untuk menaruh benci pada orang lain, sekalipun secara manusiawi, pribadi, dan islami, bisa saja merasa jengkel dan marah. Pembelaan Gus Dur pada orang-orang kontroversial tampaknya karena di hatinya sudah diliputi kasih dan sayang.

Kaitannya dengan masih maraknya aksi-aksi anarkistis berbasis SARA di Indonesia, tampaknya karena negeri ini tak banyak dihuni manusia-manusia spiritual. Indonesia hanya dihuni manusia religi yang, kata Stephen Bigger, masih mungkin tampil menjadi orang yang zalim dan tak beretika (Gus Dur, hlm. 23).

Ramah Lingkungan
Demikian juga dalam memperlakukan alam, orang yang telah mencapai titik pusat spiritual akan bersikap ramah terhadap lingkungan. Sebagaimana diyakini Seyyed Hossein Nasr, karena alam bukan realitas tunggal, melainkan satu aspek dari realitas secara keseluruhan (Seyyed Hossein Nasr, hlm. 122).

Pemahaman ini berasal dari keyakinan bahwa realitas kosmik pada eksistensinya merupakan teofani (pancaran, perwujudan, atau manifestasi) dari Tuhan. Dengan demikian, seluruh benda di jagat raya perlu dirawat karena merupakan simbol yang bisa menjadi bahan kontemplasi (Seyyed Hossein Nasr, hlm. 123-124).

Hal ini sesuai dengan tujuan Tuhan menciptakan alam untuk dibaca oleh manusia, bukan dieksploitasi secara berlebihan, sehingga bisa mentransedensikan diri menuju Tuhan. Menurut Nasr, dengan ini manusia akan mendapat kebijaksanaan sebagai pengetahuan tertinggi dan dapat memosisikan diri dalam realitas kosmik sebagaimana mestinya (Seyyed Hossein Nasr, hlm. 125).

Dua buku dosen Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Sumenep ini yang diadaptasi dari disertasi doktoralnya mengkaji spiritualitas Gus Dur melalui pemikiran dan sepak terjangnya, dan pemikiran kosmologi Seyyed Hossein Nasr yang sangat dipengaruhi oleh kedalaman spiritualitasnya.

Gagasan-gagasan Gus Dur dan Seyyed Hossein Nasr sangat berguna untuk mengatasi krisis kemanusiaan dan alam. Dr. Abdul Wahid Hasan mampu mengurai tema spiritualitas yang abstrak secara sederhana namun mendalam. Sedangkan, Dr Ach Maimun sangat kaya wawasan dalam menjelaskan pemikiran kosmologi Nasr, namun dengan bahasa sedikit rumit.

Kamis, 01 Oktober 2015

Mahabbah Gus Dur

Judul : Gus Dur: Mengarungi Jagat Spiritual Sang Guru Bangsa
Penulis : Dr. Abdul Wahid Hasan
Penerbit : IRCISoD, Yogyakarta
Terbitan : Pertama, Agustus 2015
Tebal : 252 halaman
ISBN : 978-602-255-956-6
Dimuat di: Koran Tempo, 27 September 2015

Buku tentang Gus Dur yang secara khusus mengulas sisi spiritualitasnya secara mendalam masih terbilang langka. Jadi, sekalipun teman-teman Gus Dur mengatakan bahwa beliau memiliki guru spiritual, hingga saat ini nama-namanya masih menjadi misteri. Putri-putrinya pun tak mengetahui.

Jika mencermati pemikiran dan sepak terjang Gus Dur, spiritualitasnya tak jauh beda dengan spiritualitas Rabiah Al-Adawiyah (94-185 H.), sufi perempuan yang memperkenalkan konsep ajaran mahabbah (cinta) kepada Tuhan. Namun, sekalipun konsep spiritualitasnya sama, pendekatan yang dilakukan dalam mengekspresikan rasa cintanya kepada Tuhan berbeda.

Menurut Prof. Dr. Abd A'la yang menjadi pembeda antara spiritualitas keduanya, Rabiah Al-Adawiyah mabuk dalam kesunyian dan keintiman bersama Tuhan, sementara Gus Dur mabuk di tengah “hiruk-pikuk umat” dengan mencurahkan setiap ruang dan waktu untuk melayani hamba Tuhan sebagai perwujudan cinta kepada Tuhannya (hlm. 13).

Kemesraan Rabiah Al-Adawiyah bersama Tuhan membuatnya tak sempat mengurus hal-hal yang bersifat duniawi, sehingga sepanjang hayatnya hidup menjomblo. Tak jauh beda dengan Gus Dur, kesibukannya melayani umat hingga tak sempat mengurus diri, termasuk terlibat aktif ritual formal. Akibatnya, sempat berembus kabar bahwa Gus Dur adalah orang yang melanggar syariat Islam karena jarang --untuk tidak mengatakan tidak- terlihat melaksanakan shalat.

Pengamatan KH. Kholil Bisri, ritual shalat, puasa, wiridan, dan mengaji Gus Dur tidak jauh beda dengan dirinya, bahkan dengan orang pada kebanyakan. Namun, dalam hal kemanusiaan, Gus Dur harus diacungi jempol. Dalam bahasanya, Gus Dur lebih memilih amal yang pahalanya besar dan berdampak langsung terhadap kemanusiaan (hlm. 151). Abdul Wahid Hasan menyebut “spiritual humanis”.

Landasan spiritual humanis Gus Dur dapat dilacak dalam tulisannya yang mengatakan bahwa "kehadiran agama untuk kepentingan manusia, bukan atas kepentingan Tuhan karena memang Tuhan tidak butuh bantuan manusia." Dengan demikian, menjunjung tinggi martabat hamba Tuhan dengan memberikan perlindungan, rasa aman, dan nyaman bagian dari upaya meningkatkan martabat agama (hlm. 145-155).

Pembelaan Gus Dur terhadap Salman Rushdie, Idul Daratista, H.B. Yassin, Ulil Abshar Abdalla, orang-orang termarginalkan dan terzalimi lainnya, tampaknya didasarkan pada spiritualitas ini, sekalipun secara pribadi dan islami belum tentu setuju. Karena Tuhan menghormati kemanusiaan, Gus Dur berusaha menghadirkan agama dekat dengan kemanusiaan, yaitu melalui pembelaannya saat yang lain menghujat.

Spiritual humanis ini, menurut A'la, mengantarkan Gus Dur menjadi sosok yang iklusif dan pluralis. Penolakan Gus Dur terhadap keinginan sebagian pihak untuk mendirikan negara Islam (khilafah islamiyah) didasarkan pada iklusifitas dan kosmopolitan Islam, selain akan menimbulkan konflik berkepanjangan di Indonesia (hlm. 177-178).

Spiritual humanis dan iklusif-kosmopolit Gus Dur tidak lepas dari kesadaran akan peran yang disandangnya sebagai "wakil Tuhan", yaitu memajukan pemikiran, peradaban, dan kebudayaan manusia. Sikap dinamis-progresif harus selalu dikedepankan sehingga agama yang diturunkan untuk menusia sesuai dengan perkembangan zaman, senantiasa membumi dalam setiap ruang dan waktu (hlm. 191).

Puncak dari semua itu Gus Dur menjadi “sosok wali” yang menuai banyak anugerah (karamah) dari Tuhan. Salah satunya berupa pengakuan dan kekaguman manusia dari lintas keyakinan dan golongan hingga detik ini, sehingga setiap saat makamnya tak pernah sepi dari peziarah. Menurut KH. A. Mustofa Bisri, orang begitu mencintai Gus Dur karena Gus Dur mencintai manusia.

Buku yang diadaptasi dari disertasi penulisnya di UIN Sunan Ampel Surabaya ini berhasil merumuskan model spiritualitas Gus Dur. Sekalipun materi kajiannya abstrak dan rumit, Abdul Wahid Hasan mampu mengemas pemaparan spiritualitas Gus Dur dengan bahasa yang sederhana namun cukup mendalam.

Dalam konteks pendidikan Indonesia yang hingga saat ini masih mencari format paling ideal dengan penekanan pada karakter, dosen tetap pascasarjana Instika Sumenep ini menjelaskan kontribusi spiritualitas Gus Dur terhadap pengembangan pendidikan tanah air. Pendidikan spiritual Gus Dur dapat menyirami kegersangan moralitas anak bangsa.

Senin, 28 September 2015

Panduan Praktis Menulis Buku

Judul : Kitab Writerpreneur
Penulis : Sofie Beatrix
Penerbit : Gramedia
Terbitan : Kedua, Februari 2015
Tebal : 156 halaman
ISBN : 978-602-03-1381-8
Dimuat di: Jawa Pos Radar Madura, 28 September 2015

Saat ini nyaris tak ada anak muda yang tidak bisa menulis. Kecuali buta aksara. Indikasinya, kita belum pernah mendengar cerita orang kesulitan update status di jejaring sosial. Dengan demikian, setiap orang memiliki takaran potensi yang sama untuk menjadi penulis. Namun masalahnya, menulis buku tak sesederhana menulis status di jejaring sosial.

Tak semua orang yang bisa dan terbiasa menulis status di jejaring sosial dapat menulis buku karena, setidaknya, dalam menulis sebuah buku butuh kata berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus halaman, sementara menulis status hanya butuh ratusan karakter kata, sekalipun isinya sama-sama berasal dari satu ide. Buku Kitab Writerpreneur bisa menjadi panduan menulis bagi orang yang mengalami kesulitan mengolah dan mengembangkan ide.

Alat bantu yang bisa digunakan untuk mengembangkan ide tulisan adalah melakukan mind mapping, yaitu mengeluarkan semua hal yang berkaitan dengan tema yang akan ditulis. Ada lima pertanyaan dasar yang bisa menjadi acuan dalam merangsang keluarnya ide, yaitu rumus 5W+1H (who, what, when, where, why, dan how) [hlm. 47].

Namun, tak semua jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas harus dituangkan menjadi kata-kata. Ide yang tidak dibutuhkan dalam tulisan perlu dicoret. Sehingga, sebelum memulai menulis setelah melakukan mind mapping perlu memilih dan menyusun mana saja yang mau diceritakan, kemudian dituangkan dalam bentuk sinopsis (hlm. 47).

Sofie Beatrix memberikan rumus penyusunan sinopsis. Alur untuk tulisan non fiksi hanya terdiri dari tiga bagian utama, yaitu why-what-how. Why terdiri dari sebuah pendahuluan yang menjadi latar belakang penulisan buku yang biasanya dilatari oleh masalah. What mengurai definisi dan atau batasan yang menjadi pintu masuk menuju jawaban (how). Sementara how bisa berisi tips, kiat, kesimpulan, dan penemuan (hlm. 50).

Sementara cara menyusun sinopsis untuk buku fiksi terdiri dari lima alur, yaitu awal-masalah-perjuangan-penyelesaian-akhir. Penulisan buku fiksi biasanya diawali dari pengenalan tokoh dan latar, masalah yang dialami tokoh, perjuangan yang dilakukan untuk menyelesaikan masalah, penyelesaian memuat hasil perjuangan berupa keberhasilan atau kegagalan, dan diakhiri dengan hal yang dilakukan oleh tokoh setelah perjuangan berakhir dan mencapai penyelesaian (hlm. 55).

Langkah berikutnya, pecahkan sinopsis menjadi bab-bab dalam buku. Ada orang berkata, jika ini semua telah dilakukan separuh tulisan telah selesai. Dengan mengikuti langkah-langkah ini secara tertib maka tak akan pernah kering ide dan miskin perbendaharaan kata. Jika ide sudah buntu tinggal merujuk pada daftar isi yang telah dibuat untuk melanjutkan pada bab berikutnya.

Sofie memaparkan sangat praktis proses penyusunan kerangka tulisan dengan mencontohkan proses pembuatan mind mapping, sinopsis, dan daftar isi penulisan buku Kitab Writerpreneur hingga menjadi sebuah buku utuh setebal 156 halaman. Selain dilengkapi dengan contoh-contoh, tiap akhir bab pembaca diberi tantangan. Jika semu tantangan dilakukan, setelah membaca buku terbitan Gramedia ini akan menyelesaikan satu buah buku.

Pembahasan buku yang telah naik cetak dua kali ini dimulai dengan cara memperoleh ide dan batas waktu agenda kerja penyusunan buku sehingga bisa selesai sesuai dengan tenggat waktu. Dan diparipurnai dengan cara mengirimkan naskah ke penerbit agar cepat mendapat respons, dan tips menulis buku laris.

Secara umum, buku ini tidak hanya penting bagi orang yang sedang belajar menulis buku tapi juga untuk siswa dan mahasiswa yang masih kerepotan menulis makalah, paper, dan skripsi.

Selasa, 22 September 2015

Kerancuan Ajaran Wahabi

Judul: Sejarah Wahabi & Salafi
Penulis: Khaled Abou El Fadl
Penerbit: Serambi
Terbitan: Pertama, Februari 2015
Tebal: 142 halaman
ISBN: 978-602-290-019-1
Dimuat di: Kabar Madura, 16 September 2015

Wahabi adalah gerakan keagamaan Islam yang dikembangkan oleh seorang teolog muslim abad ke-18, yaitu Muhammad ibn Abdul Wahab (w. 1206 H./1792 M.). Gerakan ini mengundang perhatian banyak negara muslim karena metode dakwahnya ekstrem dan ajarannya rancu.

Ciri Wahabi memperlihatkan kebencian yang luar biasa terhadap semua bentuk intelektualisme, mistitisme, dan sektarianisme di dalam Islam, dengan memandang semua itu sebagai inovasi yang menyimpang yang telah masuk ke dalam Islam karena adanya pengaruh-pengaruh dari luar Islam (hlm. 9).

Ibn Abdul Wahab meyakini, ajaran tasawuf, doktrin perantara (tawasul), rasionalisme, ajaran Syiah, serta banyak praktik lain merusak Islam. Dan perusak Islam (baca: pelaku bidah) halal darahnya dengan mengacu pada kejadian ketika Abu Bakar membakar orang-orang munafik hingga mati. Argumen ini yang digunakan bahwa para pendukungnya dibenarkan menyiksa lawan-lawan mereka (hlm. 23).

Ia mengajak kembali kepada sumber primer Islam, yaitu Al Qur'an dan hadits. Namun di balik jargon dan cita-cita kembali pada Al Qur'an dan hadits, ajaran Wahabi pada tataran praktis rancu. Inkonsistensi ideologis tersebut hingga saat ini belum bisa didamaikan atau dipecahkan.

Pertama, semangat Ibn Abdul Wahab menjaga kemurnian Islam dari praktik budaya luar yang dinilai telah mencemari Islam, justru terjebak pada budaya Arab --lebih tepatnya, budaya Badui Arab. Yaitu, daerah di wilayah Najd di negara Saudi. Ia telah membuat blunder antara budaya Arab dengan ajaran Islam yang universal (hlm. 20).

Menurut Khaled Abou El Fadl, pada abad 18 saat Wahabi mulai diperkenalkan, Najd termasuk wilayah paling tribal, kurang berkembang, dan dihuni oleh kelompok masyarakat yang kurang beragam. Budaya masyarakat setempat yang diagung-agungkan Ibn Abdul Wahab dan diklaim sebagai ajaran Islam yang murni (hlm. 34).

Kedua, Ibn Abdul Wahab menolak tunduk pada mazhab pemikiran yurisprudensi yang sudah mapan. Hal itu dinilai sebagai perbuatan bidah. Namun, Ibn Abdul Wahab pada akhirnya menegaskan bahkan memerintah taqlid dalam bentuk yang berbeda.

Kata Abou El Fadl, Wahabi melarang praktik taqlid sejauh terkait dengan ahli hukum yang tidak disukainya, namun memerintahkan umat Islam mengikuti pemikiran Wahabi secara buta dan tidak kritis (hlm. 29).

Ketiga, Ibn Abdul Wahab sangat fanatik membenci kaum nonmuslim. Ia menegaskan bahwa umat Islam harus tidak bersahabat, menjalin aliansi, atau meniru kaum non muslim atau kaum muslim pelaku bidah (hlm. 15).

Namun pada sisi yang lain, Wahabi menjali aliansi dengan dengan Kerajaan Arab Saudi dan Inggris dalam memerangi Turki untuk mengubah wajah Semenanjung Arab (hlm. 37).

Buku Sejarah Wahabi & Salafi penting dibaca, khususnya kaum nahdliyin. Dalam konteks Indonesia, gerakan Wahabi di Arab Saudi melahirkan berdirinya Nahdlatul Ulama pada 31 Januari 1926.

Khaled Abou El Fadl cukup menguasai sejarah dan perkembangan Wahabi. Dari buku terbitan Serambi setebal 142 halaman itu pembaca bisa mewaspadai gerakan Wahabi masa kini yang telah merasuk di segala lini.

Minggu, 20 September 2015

Menghadirkan Sejarah Indonesia Lebih Islami

Judul: K. H. R. As'ad Syamsul Arifin
Penulis: Ahmad Sufiatur Rahman
Penerbit: Tinta Medina, Solo
Terbitan: Pertama, Mei 2015
Tebal: XXXVIII+210 halaman
ISBN: 978-602-72129-7-8
Dimuat di: Rakyat Sumbar, 12 September 2015

Jika hanya mengandalkan kekuatan tenaga dan senjata yang dimiliki para pejuang Indonesia, sulit sekali melawan apalagi mengalahkan penjajah. Andalan senjata para gerilyawan masih tradisional sementara senjata musuh sudah cangguh dan modern. Beruntung ada kekuatan supranatural yang membantu memukul mundur Belanda. Itulah ilmu kanuragan.

Namun peran ilmu kanuragan tidak banyak tercover --untuk mengatakan tidak ada sama sekali-- dalam buku sejarah. Secara ilmiah memang tidak logis tapi empiris. Perjuangan ulama dalam mengusir kolonialisme tidak hanya dalam bentuk produksi fatwa sebagai motivasi agama dan terjun langsung memimpin perang, tapi juga memberikan amalan kekebalan kepada para pelaku sejarah agar terhindar dari serangan dan mampu menyerang dengan kekuatan luar biasa.

Fakta tersebut sangat nyata dalam perjuangan K. H. R. As'ad Syamsul Arifin dalam merebut senjata di gudang mesiu Desa Dabasan, Bondowoso, Jawa Timur, pada tahun 1947. Kiai As'ad dan para Pelopor berhasil "mencuri" senjata modern Belanda berkat mengamalkan ilmu kanuragan yang diberikan Kiai As'ad.

Beberapa santri pernah melihat dengan mata telanjang Kiai As'ad menghilang. Kiai As'ad memang dikenal memiliki ilmu mecah diri. Bahkan, pesawat yang hendak mengebom Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah meledak terlebih dahulu karena pesantren dikelilingi pagar gaib, berupa pasir yang telah di-jaza' (dijampi-jampi) dengan asma', hizib, dan aurad oleh santri yang telah menjalani riyadhah. Ilmu tersebut oleh Kiai As'ad digunakan untuk memperjuangan kemerdekaan Indonesia.

Sebelum Kiai As'ad dan Pelopor berangkat mengambil senjata Belanda, mereka oleh Kiai As'ad diberi azimat di dalam air yang dipercikkan ke tubuh mereka agar kebal peluru (hlm. 109). Perantara azimat tersebut, mereka selamat selama perjalanan, sekalipun sempat diserang warga. Di antara mereka hanya mengalami robek pakaian akibat sabetan celurit (hlm. 129).

Setibanya di tempat gudang mesiu, Kiai As'ad memberi azimat kepada orang-orang yang akan masuk ke dalam gudang agar mudah menyelinap karena gudang dalam penjagaan ketat pasukan Belanda, termasuk memberi minyak "kidung kencana" agar kebal terhadap senjata api dan senjata tajam (hlm. 135).

Berkat pemberian sepotong lidi dari Kiai As'ad, anggota Pelopor lolos dari pasukan Belanda yang mondar-mandir dan melongo saat terdengar bunyi gemerisik daun kering yang terinjak Pelopor. Kiai As'ad juga memberi azimat untuk membuka kunci gembok gudang mesiu, sekaligus untuk menidurkan pasukan Belanda yang berjaga (hlm. 136).

Selain Kiai As'ad, ilmu kanuragan juga pernah dilakukan para kiai ketika melindungi gedung RRI (Radio Republik Indonesia) di Surabaya yang masih utuh ketika digempur pesawat pengebom Inggris (hlm. 118). Sayangnya, penulisan sejarah Indonesia terlalu sekuler, sehingga kekuatan supranatural melalui berbagai pendekatan dan riyadhah kepada Pemilik Jagad Raya oleh ulama tak tercover dalam buku sejarah.

Ahmad Sufiatur Rahman dalam buku K. H. R. As'ad Syamsul Arifin, Kesantria Kuda Putih Santri Pejuang, menghadirkan sejarah "pencurian" senjata secara lebih islami dengan bahasa yang enak dibaca. Jauh dari kata-kata kaku dan membosankan layaknya buku sejarah pada umumnya, karena dikemas dalam bentuk fiksi tanpa menghilangkan fakta yang sesungguhnya.

Untuk memperkuat karakter dan dan memperkaya ilustrasi, penulis menyusuri medan berat 100 desa yang dilintasi Kiai As'ad dan para Pelopor saat mengambil senjata Belanda. Penulis merasakan letihnya perjalanan, aroma kayu basah, dan bunyi tonggerek hutan. Namun penulis menyadari perjalanannya tidak akan persis sama dengan Kiai As’ad. Perjalanan Kiai As'ad lebih rumit dan sulit dari sekadar tapak tilas, karena dalam kondisi perang.

Selasa, 08 September 2015

Jalan Terjal Para Mualaf

Judul: Mualaf: Kisah Para Penjemput Hidayah
Penulis: Steven Indra Wibowo
Penerbit: Tinta Medina, Solo
Terbitan: Pertama, April 2015
Tebal: XII+148 halaman
ISBN: 978-979-045-801-7
Dimuat di: Kabar Madura, 1 September 2015

Faktor keislaman para mualaf yang dikisahkan dalam buku Mualaf: Kisah Para Penjemput Hidayah karena menemukan sejuknya ajaran Islam. Mereka ingin hidup tenang dan damai sebagaimana kehidupan umat Islam yang mereka lihat. Namun setelah mengikrarkan dua kalimat syahadat sebagai tanda keislamannya, ketentraman tak sepenuhnya terbit terang.

Keislaman para mualaf, utamanya yang telah menjadi elite agama, kerap mendapat pertentangan, baik dari orangtua, keluarga, dan pengikutnya. Bahkan, ancaman, intimidasi, dan kekerasan fisik maupun psikis kerap menimpanya akibat rasa kecewa luar biasa karena dinilai telah melecehkan agama yang ditinggalkan.

Steven Indra Wibowo, misalnya. Mantan penginjil itu ditampar ayahnya hingga kepalanya terbentur kaca. Akibatnya, ia harus mendapatkan tujuh jahitan di bagian dahinya di Rumah Sakit Atmajaya. Selain itu, sang ayah tega mengusir Steven setelah dipaksa harus menandatangi surat pernyataan di hadapan notaris tentang pelepasan haknya sebagai salah satu pewaris dalam keluarganya (hlm. 7).

Pengalaman lebih tragis menimpa Ahmad Dzulkifli Mandey. Mantan pendeta tersebut nyaris mati. Ada sekelompok pemuda gereja di Tanjung Priok yang bertekad menghabisi nyawanya karena dianggapnya telah murtad dan mempermalukan gereja.

Prajurit TNI-AD tersebut juga menghadapi persoalan yang mengangkut tugasnya di TNI-AD. Dewan Gereja Indonesia mengirim surat ke Bintal TNI-AD meminta agar ia dipecat dari kedinasan di jajaran TNI dan agar mempertanggungjawabkan perbuatannya itu di hadapan majelis gereja (hlm. 23).

Hidup susah setelah memeluk Islam juga dialami Abdullah Anas. Pria berusaha 19 tahun yang dibesarkan di Medan dalam keluarga Kristen Protestan. Putra pendeta itu dipaksa harus angkat kaki dari rumahnya tanpa membawa barang-barang yang orangtuanya berikan (hlm. 67).

Ia harus keluar dari zona nyaman demi mempertahankan keyakinan. Anas harus tidur di pinggir toko, tanpa alas dan selimut. Hidupnya berpindah-pindah hingga berbulan-bulan. Untuk mempertahankan kehidupannya, ia sempat bekerja menjadi kuli panggul di pasar (hlm. 68-89).

Berbeda dengan Silvia Lenteri, gadis keturunan Berawi-China yang terlahir dari keluarga penganut Buddha. Keislamannya tak mendapat persoalan berarti dari keluarganya, namun dilema tak sirna dari benaknya. Pasalnya, Silvia kesulitan menjauh dari keempat ekor anjing peliharaannya. Dalam Islam, anjing tidak boleh disentuh karena termasuk hewan najis berat (hlm. 52).

Namun, hidayah Allah yang begitu kuat tak mengoyahkan keimanannya. Mereka rela kehilangan harta, tahta, pekerjaan, bahkan diintimidasi demi mempertahankan sesuatu yang diyakini. Sekalipun mereka tergolong orang baru, umat Islam tak salah belajar dari mereka dalam mempertahankan keimanan saat dalam situasi sulit.

Buku kisah nyata tersebut sangat penting menjadi pengokoh iman di tengah tergerusnya keyakinan ditukar dengan sesuatu yang bersifat duniawi dan sementara. Bahasanya sederhana namun sangat menyentuh.

Kamis, 03 September 2015

Bejalar Manajemen Sekolah dari Athirah

Judul: Pemimpin Cinta: Mengelola Sekolah, Guru, dan Siswa dengan Pendekatan Cinta
Penulis: Edi Sutarto
Penerbit: Kaifa (PT Mizan Pustaka)
Terbitan: I Februari 2015
Tebal: 377 halaman
ISBN: 978-979-433-873-5
Dimuat di: Malang Post, 23 Agustus 2015

Kemajuan sebuah pendidikan sangat ditentukan oleh tiga elemen, yaitu guru, wali, dan siswa. Sekalipun ketiganya memiliki tugas tak sama tapi harus sinergi dan saling menopang. Ibarat sebuah becak, jika di antara ketiganya ada yang tak kompak, jalannya akan terseok bahkan tak akan bisa mencapai tujuan.

Pembenahan tiga elemen tersebut program awal dan utama yang dilakukan Edi Sutarto setelah terpilih sebagai Direktur Sekolah Islam Athirah, Sulawesi Selatan, pada tahun 2011. Sekalipun yang diubah manusia dan karakternya, karena dilakukan dengan cinta dalam waktu cepat menuai keberhasilan.

Awal mula memimpin Sekolah Islam Athirah, 1 April 2011, Edi mengamati sekolah dan perilaku manusianya kurang mencerminkan visi sekolah sebagai lembaga pendidikan unggulan berciri Islam, berjiwa nasional, dan berwawasan global. Sampah berserakan, coretan vandalitas di mana-mana, dan orang-orang terlambat masuk kerja atau sekolah.

Dalam satu hari, di satuan pendidikan Sekolah Islam Athirah, siswa yang telat hadir ke sekolah sebanyak 92 orang dan durasi yang paling lama adalah telat tiga jam. Pada hari kedua 86 orang. Hari-hari berikutnya selama sebulan kondisinya tak membaik. Bahkan, mereka juga senang bolos (hlm. 214).

Konsep aksi perubahan untuk mengubah perilaku tersebut melalui melihat, mengerjakan, dan merasakan atau yang oleh Edi Sutarto diberi nama see-do-get. Prinsip konsep ini: Pertama , apa yang dilihat akan mempengaruhi apa yang akan dilakukan dan apa yang dilakukan akan menjadi apa yang didapatkan.

Kedua, untuk meraih kesuksesan siswa, sikap dan perilaku yang ditampilkan guru semestinya menunjukkan upaya penguatan. Ketiga, pemimpin di sekolah harus menjadi model dan teladan utama bagi guru, karyawan, dan siswa (hlm. 152).

Dari prinsip yang ketiga, Edi sebagai rule model. tak gengsi memungut sampah meski memakai jas dan dasi sejauh mata masih bisa menjangkau. Daripada menginstruksikan guru dan karyawan menegur siswa yang melakukan coretan vandalitas, ia lebih memilih mengajak teknisi dan terlibat langsung mengecat kembali. Saat ini, hal itu semua telah dilakukan dan menjadi kesadaran siswa sendiri.

Untuk memberi contoh kedisiplinan, sebelum pukul 06.30 WITa, Edi telah siap menyalami kedatangan orang-orang di sekolah. Tindakan tersebut lalu diikuti guru dan karyawan. Namun pada awalnya menuai resistensi dari para guru karena kebijakan harus sudah tiba di sekolah pada pukul 06.45 WITa dipandang sangat menzalimi.

Dalam satu semester sejak kebijakan tersebut diterapkan, tak ada lagi guru dan karyawan yang datang terlambat. Dan pada tahun kedua, para guru dan karyawan berkomitmen duduk bersama di ruang guru pukul 06.30 WITa. Selama lima belas menit menunggu masuk kelas, pada hari Senin-Kamis, mereka menghafal Al Qur'an, maksimal menghafal tiga ayat dalam satu hari. Pada hari Jumat tadabur terhadap ayat yang dihafal (hlm. 161).

Aktivitas menghafal Al Qur'an tersebut kemudian menjadi program unggulan sebagai strategi pembentukan karakter siswa. Targetnya, untuk siswa TK mampu membaca dan menghafal surat-surat pendek, SD mampu membaca dengan tartil dan menghafal juz 30, SMP menghafal dan mentadaburi juz 29, SMA menghafal dan mendataburi juz 28 (hlm. 224-225).

Kepada para wali siswa, Edi memberi pelatihan-pelatihan dan kegiatan yang menyentuh langsung untuk lebih peduli dan memberi perhatian special kepada putra-putrinya. Program yang sangat nyata yaitu Sehari Bersama Ayah dan Sehari Bersama Orangtua.

Perubahan tiga elemen tersebut dalam beberapa tahun kemudian sangat mempengaruhi kecerdasan intelektual dengan indikator dalam satu tahun pelajaran Sekolah Islam Athirah berhasil menyabet 81 lomba akademik dan non akademik dari tingkat kota hingga internasional.

Indikator kecerdasan spiritual siswa tercermin dari kesadaran menjalankan sunah Rasul berupa menjaga wudu, salah berjemaah, salat tahiyatul masjid, salat sunah sunah qabliyah dan bakdiyah, salah dhuha, salat tahajud, tadarus harian, sedekah, puasa Senin dan Kamis, dan puasa tiga hari pertengahan bulan.

Kuatnya kecerdasan emosional siswa dapat dirasakan dari kesadaran siswa menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan. Bahkan, pelaksanaan ujian tak perlu diawasi guru, sepenuhnya dipasrahkan kepada siswa.

Buku Pemimpin Cinta merangkum strategi, dinamika, dan prestasi buah dari seni kepemimpinan Edi Sutarto menjadi Direktur Sekolah Islam Athirah. Membaca buku setebal 377 halaman mengajak imajinasi pembaca menikmati setiap sudut ruangan sekolah Athirah.

Dari membaca buku terbitan Kaifa, pembaca memperoleh wawasan seperti melakukan studi komparatif langsung ke Sekolah Islam Athirah. Dilengkapi pula beberapa lampiran penilaian program yang bisa diadopsi di sekolah lain. Buku kaya pengetahuan yang perlu dibaca pengelola sekolah dan guru.

Selasa, 01 September 2015

Berguru pada Perempuan Penggetar Surga

Judul: Perempuan yang Menggetarkan Surga
Penulis: Haris Priyatna & Lisdy Rahayu
Penerbit: Mizania
Terbitan: Pertama, Februari 2015
Tebal: 257 halaman
ISBN: 978-602-1337-32-5
Dimuat di: Majalah Puspa Edisi 56, September 2015

Nabi Muhammad saat melakukan mikraj oleh Malaikat Jibril sempat dibawa mengunjungi neraka. Sebagaimana diriwayatkan Muslim, beliau mendapati penghuni neraka didominasi kaum perempuan daripada laki-laki. Beliau sangat prihatin sehingga tiap kali teringan pemandangan tersebut selalu menitikkan air mata.

Namun dalam sabda Nabi Muhammad pada kesempatan lain, perempuan disebut manusia paling mudah dan simpel untuk masuk surga. Untuk memperoleh tiket masuk surga tak serumit dan sejelimet kaum laki-laki. Betapa mulya kedudukan perempuan.

Sabda Nabi Muhammad: Perempuan apabila shalat lima waktu, puasa bulan Ramadhan, memelihara kehormatannya, dan taat kepada suaminya, maka masuklah dia dari pintu surga mana saja yang dia kehendaki (HR. Ibnu Hibban).

Dari paparan dua hadits di atas tampak jelas bahwa yang menjadi penyebab masuk neraka bukan terletak pada jenis kelaminnya, namun lebih kepada sifat dan karakter pribadi yang mencerminkan penduduk neraka. Dengan demikian tidak benar jika hadits tersebut dituduhkan bias gender.

Memang dalam realitasnya, perempuan cenderung lebih mudah tergelincir dalam perbuatan dosa. Dengan daya pikatnya di depan laki-laki, perempuan cenderung jatuh pada kubang kemaksiatan. Demikian pula dalam mengontrol hawa nafsu, baik nafsu amarah maupun nafsu menumpuk harta (hlm. 2).

Perempuan tempo dulu cukup menjadi contoh perempuan masa kini dalam menjalani kehidupan. Apakah akan meniru perilaku Khadijah binti Khuwalid, Fatimah Az-Zahra, Asiyah binti Muzahim, Aisyah binti Abu Bakar, Maryam binti Imran, atau mau meniru Hindun istri Abu Lahab, Zulaikha sang penggoda Nabi Yusuf, istri Nabi Nuh, atau istri Nabi Luth?

Tentu semuanya ada dampak dan konsekuensi masing-masing. Jika meniru perilaku Khadijah dkk., tentu yang diperoleh kemuliaan dan kebahagiaan hakiki. Sebaliknya, jika mengikuti perilaku Hindun dkk., tentu yang diperoleh kehinaan di dunia plus penderitaan kelak di akhirat (hlm. 6).

Dari dua pilihan di atas, sudah barang tentu semua perempuan memilih kelompok yang pertama. Siapa yang tidak ingin kebahagiaan, ketenangan, ketentaraan, dan ketika orangnya telah tiada namanya dikenang baik. Dari ini, perempuan perlu berguru kepada para perempuan penggetar surga.

Nama mereka sampai saat ini tetap harum karena kuatnya pengaruh iman kepada Allah, bakti kepada orangtua, patuh pada suami, gemar ibadah, menjaga kehormatan dan lisan, menutup aurat, dan gemar berzikir (hlm. 19-40).

Buku Perempuan yang Menggetarkan Surga berkisah kehidupan sehari-hari Khadijah binti Khuwalid, Maryam binti Imran, Asiyah binti Muzahim, Fatimah binti Muhammad, Aisyah binti Abu Bakar, Ummu Sulaim, dan Asma' binti Khubath.

Dari kisah inspiratif mereka, perempuan bisa meniru dan memetik hikmah untuk diamalkan dalam kehidupan sekarang. Dengan membaca buku setebal 257 akan selalu termotivasi untuk selalu beramal baik.

Senin, 31 Agustus 2015

Menengok MOS Sekolah Athirah

Judul: Pemimpin Cinta: Mengelola Sekolah, Guru, dan Siswa dengan Pendekatan Cinta
Penulis: Edi Sutarto
Penerbit: Kaifa (PT Mizan Pustaka)
Terbitan: I Februari 2015
Tebal: 377 halaman
ISBN: 978-979-433-873-5
Dimuat di: Koran Madura 7 Agustus 2015 

Pelaksanaan Masa Orientasi Siswa (MOS) tahun ini masih diwarnai perpeloncoan, sekalipun Mendikbud Anies Baswedan telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor 59389/MPK/PD/Tahun 2015 tentang Larangan Praktik Perpeloncoan, Pelecehan, dan Kekerasan. Bahkan, Evan Christopher Situmorang (12), siswa SMP Flora, Pondok Ungu Permai, Kota Bekasi, dilaporkan meninggal dunia setelah mengikuti MOS.

Perpeloncoan merusak tujuan MOS untuk memberikan informasi dan pengetahuan tentang seluk-beluk sekolah dan budayanya. Bahkan, hanya sebagai ajang legitimasi bulliying, ajang meluapkan dendam senior kepada yuniar. Mestinya, MOS memperjelas orientasi tentang sekolah yang dipilih.

Atas kesadaran di atas sejak tahun 2012 pelaksanaan MOS di Sekolah Islam Athirah, Sulawesi Selatan, mengalami perubahan signifikan. Tak ada lagi panitia super galak dengan instruksinya yang melengking-lengking. Atribut yang tak mencerminkan sekolah ditinggalkan.

Semua panitia MOS Athirah telah melunakkan bahasa dan sikapnya. Pedoman pelaksanaan MOS 6S (senyum, salam, sapa, semangat, sabar, dan syukur). Peserta berpakaian seragam sekolah sesuai jenjangnya. Mereka juga tak mendapat tugas membawa barang-barang tak logis (hlm. 227).

Bagi siswa baru, pelaksanaan MOS ajang untuk kebolehan keterampilan berbahaya dan kreativitas dalam seni pertunjukan. Sementara bagi panitia ajang latihan berbicara dan percaya diri di depan publik karena panitia berfungsi sebagai mentor dan fasilitator orientasi bagi adik kelasnya yang baru masuk sekolah. Mereka diberi pelatihan TOT oleh para guru pendamping.

Materinya sendiri berkisar tentang profil sekolah, anti bulliying, anti narkoba, anti seks bebas, karakter siswa Athirah, budaya belajar, keorganisasian, kepemimpinan, melawan vandalitas (hlm. 227).

Sejak saat itu, pelaksanaan MOS menjadi kegiatan yang menyenangkan. MOS Athirah menjadi bentuk penyambutan kepada siswa baru agar dapat memasuki sekolah dengan gembira dan optimis. Sehingga, sekolah menjadi rumah kedua bagi siswa.

Pelaksanaan MOS menjadi menyenangkan salah satu perubahan besar yang dilakukan Edi Sutarto sejak dilantik menjadi Direktur Sekolah Islam Athirah pada 2011. Ada banyak perubahan di Athirah sejak lima tahun lalu, baik untuk siswa, wali siswa, dan guru maupun karyawan.

Pelaksanaan MOS Sekolah Islam Athirah perlu diadopsi sekolah lain sesuai dengan kearifan lokal daerah masing-masing. Dalam buku Pemimpin Cinta dilampirkan pedoman MOS Sekolah Islam Athirah.

Minggu, 30 Agustus 2015

Seruan Moral Syafii Maarif

Judul: Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan
Penulis: Ahmad Syafii Maarif
Penerbit: Mizan
Edisi/Terbitan: II/ Pertama, April 2015
Tebal: 405 halaman
Dimuat di: Radar Surabaya, 30 Agustus 2015

Buku Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan sebenarnya buku lama yang dicetak ulang. Namun refleksinya tetap signifikan dan aktual dengan kondisi Indonesia saat ini. Seruan-serual moralnya penting disimak dan diikuti.

Jika setiap masa memiliki penyeru moral, Ahmad Syafii Maarif adalah penyeru moral yang dimiliki Indonesia saat ini setelah ditinggal Cak Nur dan Gus Dur. Tulisan dalam buku setebal 405 halaman ini merupakan suara hati sang guru bangsa melihat kondisi Indonesia yang belum sedewasa usianya.

Syafii Maarif gerah melihat korupsi yang seakan telah menggurita, hukum yang tajam ke bawah namun tumpal ke atas, kemiskinan yang belum teratasi, kerusuhan lingkungan akibat ulah oknum serakah, dan menguatnya gerakan ekstrem-radikal yang merongrong keutuhan bangsa ini dan hendak mengganti dengan sistem lain. Anehnya, fenomena ini terjadi di Indonesia yang notabene berpenduduk mayoritas muslim. Antara ucapan sebagai muslim dengan perilaku sehari-hari berbanding terbalik. Nilai-nilai Islam yang diyakini Syafii Maarif tidak demikian. Islam menjunjung tinggi keadilan, kenyamanan, keamanan, dan perlindungan semua orang (hlm. 17).

Ia mengajak segenap warga bangsa, khususnya umat Islam sebagai mayoritas, untuk menjadi warga negara yang baik dengan mendukung dan memajukan demokrasi. Sudah bukan saatnya lagi mempertentangkan Islam dan demokrasi. Demokrasi adalah realisasi prinsip-prinsip yang diajarkan Al Qur'an (hlm. 148).

Namun demokrasi Indonesia belum terlaksana secara ideal seperti yang dicita-citakan para pendiri bangsa. Sederet persoalan di negeri ini indikasi nyata masih pasang surutnya demokrasi, dan hal ini terkait erat dengan laku para elite politik.

Lemahnyanya kultur kenegarawanan yang diidap sebagian besar politisi Indonesia membuat negeri ini saat ini sakit. Andai visi mereka jauh melampaui kepentingan terbatas, Indonesia yang masih memiliki SDM melimpah, tentu sudah terbang melambung tinggi dan dihormati negara-negara lain (hlm. 161).

Syafii Maarif optimis Indonesia pada saatnya nanti akan siuman. Sebagaimana dikatakan Hatta, demokrasi tidak mungkin tersungkur selama-lamanya di Indonesia harus kita pegang sebagai sebuah kebenaran politik (hlm. 162). Gagasan-gagasan Syafii Maarif tentang moralitas, keadilan, dan kebangsaan dalam buku ini penting disosialisasikan secara masif untuk menyiapkan lahirnya negarawan dan guru bangsa baru di tengah usia sang guru bangsa yang sudah senja.