Kamis, 02 Januari 2014

Kemesraan Soekarno dan NU

Judul: Soekarno dan NU: Titik Temu Nasionalisme
Penulis: Zainal Abidin Amir dan Imam Anshori Saleh
Penerbit: LKiS Yogyakarta
Terbitan: Pertama, 2013
Tebal: 162 halaman
ISBN: 602-17575-6-4
Dimuat di: Koran Madura, Jumat 27 Desember 2013

Pada memilihan umum Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur kemarin, hampir saja PDI Perjuangan dan PKB berkoalisi. Sempat mengemuka pasangan Cagub-Cawagub Khafifah Indar Parawansa-MH Said Abdullah. Sekalipun koalisi "buah semangka" tidak terlaksana, tidak menutup kemungkinan pada pilpres 2014 mendatang keduanya berkoalisi.

Jika melacak hubungan partai politik pelestari ajaran Soekarno tersebut dengan kendaraan politik warga NU, pada pemilu presiden 1999 keduanya telah sukses mengantarkan KH. Abdurrahman Wahid, cucu pendiri NU KH. Hasyim Asy'ari, sebagai presiden RI ke-4 dan Megawati Soekarnoputri, putri Soekarno, sebagai wakilnya.

Sekalipun berasal dari akar yang berbeda, PKB yang menjadi "sayap politik" NU dan PDI Perjuangan yang menjadi penerus perjuangan Soekarno dalam bidang politik menampakkan kemesraan yang cukup harmonis. Barangkali hal itu genealogi dari hubungan Soekarno dan NU yang telah lama dirajut dalam memperjuangan dan mengisi kemerdekaan.

Sejarah telah mencatat bagaimana hubungan baik PNI, parpol yang didirikan Soekarno, dengan Partai NU sebelum akhirnya kembali ke khittah. Pasca kemerdekaan, tepatnya pada tahun 1953, NU tumbuh berkembang menjadi sekutu Soekarno dalam relasi politik dalam mengisi kemerdekaan. (hlm. 116).

Kemesraan antara Soekarno dan NU sebenarnya sudah dimulai sejak era sebelum kemerdekaan. Hal itu ditandai dengan perkenalan Soekarno muda dengan KH. Wahab Hasbullah, kiai progresif yang menjadi motor utama berdirinya NU. Dari interaksi dua tokoh inilah, kekuatan menghadapi pemerintah kolonial semakin kuat (hal. 89).

Kedekatan Soekarno dan NU dipertemukan oleh rasa nasionalisme terhadap tanah air. Semangat Soekarno yang anti imperealisme dan kolonialisme senafas dengan perjuangan NU, sekalipun didasarkan pada rujukan yang berbeda. Dua kekuatan besar ini disatukan untuk mengusir penjajah, sehingga kita saat ini menikmati iklim kemerdekaan.

Kesamaan gagasan tentang nasionalisme membuat keduanya kemudian saling mengapresiasi. Pengakuan Soekarno atas kontribusi NU dikemukakan pada penutupan Muktamar NU di Sala, 29 Desember 1962, melalui pidato berjudul: Saya Cinta Sekali pada NU (hlm. 107). Dan apresiasi NU kepada Soekarno bisa dilihat dari konferensi para ulama di Cipanas Jawa Barat dengan memberikan gelar waliyul amri dharuri bis syaukati (pemerintah yang sah) kepada Soekarno (hlm. 116).

Kemesraan keduanya hubungan yang saling menguntungkan. KH. Wahab Hasbullah mengatakan: Soekarno tanpa NO (Nahdlatul Oelama) akan menjadi sukar (susah) menjalankan program politiknya. Demikian juga NO tanpa Soekarno akan menjadi bongkar (didongkel orang).

Zainal Abidin Amir dan Imam Anshori Saleh dalam buku setebal 162 halaman menelusuri kedekatan Soekarno dengan NU. Selama ini, literatur yang mengungkapkan kedekatan Soekarno dengan NU belum banyak bahkan hanya menjadi serpihan dari sejarah dinamika NU. Dalam buku terbitan LKiS itu juga terungkap kenapa Soekarno lebih populer sebagai tokoh nasionalis-sekuler daripada nasionalis-relegius.

Namun tak ada gading yang tak retak. Buku tersebut juga memiliki beberapa kekurangan yang menghambat keasyikan pembaca menikmati keintiman Soekarno dengan NU, seperti salah ketik dan kata tidak baku di beberapa halaman. Serta tidak dilengkapi indeks. Wallahu a'lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar